OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 50 : NAIK LEVEL


__ADS_3

Muna tersenyum bahagia melihat ketiga masakannya selesai. Menatap Bitterbellen alias kroket, Stammpot yang bagi Muna seolah perkedel kentang di bubuhi sosis dan Breine boon soup yang lebih mudah di sebut dengan sup kacang merah.


Namun kesenangan Muna tiba-tiba hilang, saat semua pekerjaan itu selesai. Ia bermaksud menghirup udara segar dari balkon apartemen Kevin, dan baru menyadari jika diluar telah turun hujan dengan derasnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, Muna ingin pulang walau belum bertemu dengan Kevin seharian ini. Tetapi hujan membuat ia mengurungkan niatnya untuk beranjak, masih dengan pakaian rumahan yang Kevin belikan untuknya.


Berselonjor kaki,


berlenyeh-lenyeh membaca novel favoritnya di atas sofa, pada ruang tengah apartemen Kevin, justru sukses mengantarkan Muna untuk terlelap. Masuk dalan dunia bawah sadarnya, seolah melepas semua keletihannya sepanjang hari.


Kevin sengaja tidak menghubungi Muna perihal keberadaannya dan pukul berapa ia akan pulang. Kini ia sudah tampak berdiri di ambang pintu apartemennya. Memandang senang pada sosok gadis yang terlihat tidur nyenyak di atas sofa.


Kevin datang tidak dengan tangan kosong, ia membawa sebuah buket bunga krisan serba putih yang rencananya akan ia berikan pada Muna saat ia sedang sibuk memasak di dapur. Memeluk tubuh itu dari belakang dan menghujaninya dengan kata cinta.



Namun, rencana tinggal rencana. Kevin justru di beri pemandangan indah oleh Muna. Jantung Kevin berdebar lebih kencang, saat memandang Muna yang dalam benaknya seolah bak seorang istri yang sedang menunggui kepulangan suaminya bekerja. So sweet.


Kevin mendekati Muna, mencuri kecupan pada kening dan pipi Muna. Lalu berdiri untuk menghindar, mungkin saja nalurinya akan meminta lebih di area lain. Sadar Muna tidak bergeming, Kevin pun melangkah memeriksa pekerjaan Muna.


"Sempurna." Gumam Kevin tersenyum sendiri.


Melipat kedua tangan bajunya, kemudian mencuci tangan dan wajahnya. Menarik salah satu kuntum bunga krisan pada buket yang dia bawakan tadi, memainkannya sembari menunggui Muna bangun. Lalu sengaja duduk di ujung kaki Muna. Menatap dalam pada gadis yang masih belum sadar akan kehadirannya.



Sontak, hal itu mampu membangunkan Muna. Segera ia terduduk. Mandapati tatapan Kevin yang sulit di artikan.


"Abang... sejak kapan di situ...?"


"Sejak Mae mengigau menyebut nama abang. Kenapa?? Kangen abang ya...sini peluk abang." Goda Kevin membuat Muna salah tingkah.


"Kagak mungkin Muna ngigo... mimpi aje kagak." Bela Muna pada dirinya.


"Niih bunga buat gadis cantik penunggu apartemen abang hari ini." Kevin menyodorkan buket bunga pada Muna.


"Ciiieee... abang romantis. Mau naik level yak...?" ucap Muna menerima buket tersebut dengan senyum manisnya.


"Ya iyalah... Mae, kalau di perusahaanku waktu training seharusnya 2 minggu. Giliran Mae yang masuk, cuma sehari doang sudah naik. Masa giliran abang yang di training sampe 3 bulan, ga adil kan."


Muna hanya tersenyum.

__ADS_1


"Abang sudah makan di mana?" mengalihkan topik.


"Belum tadi sarapan saja jam 9." Jawab Kevin dengan santai.


"Ya ampun... kenapa kagak ada makan siang nye. Muna siapin makannye dulu." Muna sebenarnya kikuk. Untung masih punya alasan pergi dari tatapan mata Kevin yang bagai menelanjanginya itu.


Kevin pergi ke kamarnya, berganti pakaian dengan t-shirt rumahan dan celana pendek.


Semua masakan Muna sudah tertata dengan sempurna di atas meja makan, tak lupa Muna buatkan kopi kesukaan Kevin untuk pelengkap menu buatannya.


Kevin tersenyum melihat sajian yang semua adalah olahan Muna. "Waaah... ada sup. Cocok niih di makan pas hujan begini." Komen Kevin saat sudah duduk di kursi siap menyantap makanan tersebut. Dan mulai mencicipi semuanya.


Dengan serius Kevin satu-satu menikmatinya, sambil memejamkan matanya untuk lebih fokus akan rasa yang ia nilai.


"Bitterbalennya agak beda, mungkin dagingnya kurang. Tapi tetap enak. Stammpotnya benar, hampir mirip dengan buatan mami. Sopnya, oke. Anggap saja ini menu andalanmu yang akan selalu aku minta tiap hujan turun." Kevin berkomentar sambil terus menghabiskan stammpot di depannya.


Sementara Muna seolah harap harap cemas menunggu masakannya di nilai oleh Kevin.


"Mae tidak makan...?"


"Sudah, tadi aye makan sopnya. Muna suka." Kevin mengangguk-angguk.


"Abang..."


"Jadi, masakan aye kagak ada yang sama rasanye kayak maminya abang?" kata itu terdengar seperti kecewa sendiri.


"Sini abang bilangin." Kevin memberi kode agar Muna mendekat pada tubuhnya.


"Iya bilang aja dari situ ngapa?"


"Sini...atau mau abang bilangnya di kamar." ancam Kevin.


Sheeeet darah Muna berdesir antara mau dan takut mendengar ancaman Kevin. Maka dengan gontai ia pun berdiri, dan melangkah mendekati Kevin yang sudah menghabiskan stammpotnya.


Seperdetik setelah tubuh Muna mendekat pada posisi Kevin. Tubuh Muna pun sudah bertengger di atas pangkuan Kevin.


"Abang jangan gini."


"Abang janji tidak macam-macam, gini aja. Abang kangen Mae." Pinta Kevin setengah berbisik sambil terus melingkarkan tangannya pada perut Muna.


Muna tidak dapat menolak posisi itu, otaknya bilang kalau itu masih wajar dan tidak melanggar norma susila.

__ADS_1


"Abang bilangin ya Mae. Sampai kapan pun, masakan mami tidak akan pernah sama dengan hasil masakanmu. Tapi, bukan berarti tidak enak. Sebab di buat oleh orang yang berbeda tetapi sama-sama abang cintai."


Gubraaaak, Kevin mulai mengeluarkan jurusan rayuan mautnya niih.


"Ingat berbeda bukan berarti tidak enak. Justru ini semua enak di lidah abang. Apa lagi mami sudah tidak akan pernah bisa buatkan lagi untuk abang. Jadi, abang hanya menyimpulkan bahwa Mae adalah malaikat kedua yang Tuhan kirim kan untuk menemani abang hingga tutup usia. Mae... abang boleh naik level yaa...?" pinta Kevin melemah dan mulai mengendus area leher Muna.


"Abang jangan gini..." Muna menepis dan agak memberi jarak namun tetap di pangkuan Kevin.


"Gini doang, abang udah cinta sama Mae. Cukup percaya saja, abang serius akan menjaga Mae." Ucap Kevin sambil menggeser tubuh Muna kehadapannya dan memegang kepala Muna dengan kedua tangannya.


Muna tidak dapat menjawab, kesal sendiri dengan dirinya yang di mulut bang jangan, tapi tubuhnya suka saja duduk di atas pangkuan Kevin. Muna sudah lupa kalau Kevin seorang bos mesum.


"Terima kasih sudah menyelesaikan PRmu dengan sempurna ya. Waktunya abang kasih hadiahnya." Kevin dengan tulus mengutarakan hal itu. Kemudian sudah tidak bisa menahan gejolaknya untuk menyantap makanan penutup di depan hidungnya.


Mbleeeeph


Kevin main nyosor saja pada bibir baby pink yang sudah lama di incarnya selama ini.


Muna ingin mendorong tubuh kevin dengan tangannya. Tetapi tangan Kevin sudah langsung menangkap kedua tangan Muna, dan meletakannya di belakang tubuh Muna membuat posisi terkunci di sana.


Bibir Muna dalam posisi terbuka, mudah bagi Kevin untuk menyerang wilayah itu dengan tarian lidahnya yang tentu telah sangat mahir ia lakukan. Dan Muna tidak memiliki alasan untuk menolak, sebab ia baru merasakan betapa lembut serangan itu mengepung rongga mulutnya, ia baru tau belitan lidah itu, ternyata mampu menghadirkan bayangan kupu-kupu beterbangan dalam pikirannya. Menakjubkan.


Kevin melepas ciumannya, lalu betanya.


"First kiss beibp...?"


Bersambung...


Eng ...ing...eng


ciee ciee pagi-pagi ada yang baper.


Kiss kiss boleh yaa


nyak kagak tahan 🀭


Happy reading yaah


nyak mau beberes lagi😁


Lopeh-lopeh buat kalian semua

__ADS_1


β€οΈβ€οΈβ€οΈπŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜πŸ˜πŸ˜


__ADS_2