OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 213 : PESTA


__ADS_3

Gita dan Gilang sudah berada di kamar masing-masing. Merebahkan tubuh lelah dengan pikiran yang beraneka tema.


Bohong saja jika Gilang tidak bergetar dengan kata-kata Gita walau di kemas penuh canda. Hanya Gilang yang tau, jantungnya tadi susah di kendalikan, berdebar, bergetar, hampir ga bisa menjaga hati agar tetap dalam kestabilan, seolah tak ada kerusuhan di dalamnya.


Apalagi Gita, ia hampir gila memflashback semua kalimat yang ia keluarkan tadi. Sumpah, sebenarnya Gita ga pernah seberani itu kasih efek sekeras tadi. Jangan tanya hatinya, sejak kenal Gilang hatinya sudah lumer kayak coklat batangan di steam. Awalnya karena Gilang tampan, ke sininya ya karena Gilang cerdas, sopan juga, pas makin dekat. Tau bagaimana keseharian Gilang dan kisah hidupnya, ya fix kemana-mana Gilang menang banyaklah dari Baskoro. Tapi Gita masih ingat, dia cewek. Ga mau dong lebih agresif, mana Gita masuknya bohong lagi. Bisa saja itu nanti akan jadi halangan mereka jadian. Jalani saja lah dulu.


Pagi menyapa, celotehan Aydan sudah rame. Aydan mulai pintar menambah pekerjaan Muna si mama muda. Untunglah Aydan anak sultan, semalam Kevin sudah membeli box besar berisi bola dan mainan lainnya agar di ruangan tengah itu bisa di eksplor Aydan untuk bermain. Mirip ruang playgroup.


"Pagi anak papap.... sepi ya main sendiri."


"Maksudnya apa tuuh?" tukas Munsa sambil merapikan dasi dan pakain Kevin setelah sarapannya selesai.


"Tuuh box mainannya banyak ruang kosong, mestinya ada 2 atau 3 bayi di situ, biar ramai." Kekeh Kevin sambil mencium kening Muna.


"Iya... kosong banget ya pap. Ntar Muna cari info di luar, kali punya anak seusia Ay biar main bareng di sini."


"MAE...!!!"


"Iyaaa... aye di depan ini, kagak usah nyolot juga kali bang."


"Huum. Ay papap kerja dulu ya sayang di rumah jangan nakal. Mamamu harus masak enak untuk papap pulang nanti. Muuaach." Pamit Kevin pada Aydan.


"Gita... temani mereka di sini saja ya. Urusan dinas, Gilang saja cukup."


"Baiklah." Jawab Gita senang.


"Sayang... berangkat dulu ya. Assalamualaikum bini abang." Cup kening itu di cium Kevin lagi.


"Walaikumsallam, hati-hati laki aye." Jawab Muna melepas pelukan singkatnya.


"Rumah tangga kakak so sweet banget ya... jadi ngiri deh."


"Jangan ngiri... nganan maju aja Git. Tuh, Gilang kayaknya baik. Ilmu agamanya juga oke." Kekeh Muna.


"Sulit kakak... Gita bohong sejak awal sih."


"Kalo gitu akhiri saja bohongnya."


"Tapi masih asyik gini."


"Bohong kok asyik ada-ada aja kamu Git."

__ADS_1


"Belom jelas juga dianya mau atau ga sama Gita kak."


"Benernya geli tau... Muna di panggil kak. Gita kan tua 3 tahun dari Muna."


"Terus Gita harus panggil Muna gitu?? ga sopan, bisa di semprot kak Kevin akunya."


"Yaah nasib jadi istri muda."


"Bisa ae. Nikah muda seru ya kayaknya?"


"Seru apanya... uji nyali terus bawaannya Git."


"Tapi, ku lihat rumah tangga kalian selalu manis dan mesra."


"Itu yang kalian lihat saja. Aslinya mana ada rumah tangga yang tanpa ujian di dalamnya. Tergantung cara menyelesaikan masalah saja Git."


"Huum, semoga besok aku juga begitu. Dapat suami yang mapan dan setia. Ga seperti mama yang awalnya cuma jadi wanita penggoda lalu jadi istri kedua."


"Jangan menyesali takdir Git. Jodoh papi sama mami Beatrix segitu aja, Alhamdulilah ketemu mama mu. Dan sepertinya cukup bertahan dan lama kan."


"Bertahan itu, karena mama aja yang kuat, menjalani hidup dengan tegar penuh air mata, karena ia harus bertanggung jawab dengan pilihannya, mencintai papi dengan segenap jiwa dan raganya." Gita mengenang.


"Tidak semua wanita sekuat mama mu. Ambil hikmahnya saja, bahwa yang sabar pasti menang, selingkuhan hanya akan lengket di saat sehat dan kaya raya saja. Giliran sudah habis manisnya juga akan rontok sendiri."


"Itu sudah muncul di awal kenal Git, bahkan aku kenal dia saat ada wanita di atas tubuhnya." Muna kembali ke masa lalu.


"Whaaatt... dan kaka tetap memilih dan menerima dia jadi suami? luar biasa."


"Ada Allah Git, bilang saja apapun yang kamu mau, imani, yakini dengan sungguh. Maka, walau hal menyedihkan pun yang kita hadapi, kita tetap bisa bersyukur setelahnya."


"Huum... aku tau mengapa seorang cassanova setingkat kak Kevin bisa jadi bucin akut. Kak Muna panjang sabar. OTW ngekor aah."


"Jangan cuma ngekor, nyalip juga boleh, asal jangan nikung." Goda Muna pada Gita akrab.


Hari-hari berlalu. Benar saja mereka jalani masa liburan semester yang tiba-tiba di jalani dengan bermukim di negara Singa itupun berjalan stabil. Walau ada Gilang dan Gita. Pasangan suami istri beranak satu itu, tetap bisa beraktivitas dengan baik, layaknya rumah tangga pada umumnya.


Tidak ada drama kerempongan menjaga Aydan atau rasa bosan saat menjalani perannya sebagai ibu rumah tangga. Muna benar sangat menikmati liburan semesternya dengan kegiatan rumahan.


Malam pesta ulang tahun kolega bisnis Kevin pun tiba. Gilang dan Gita sudah siap lahir batin menjaga anak bos mereka tersebut. Sehingga Pasutri itu tidak akan resah dalam urusan menitipkan Aydan.


Muna terbalut dalam gaun pesta sedikit seksi dengan busana yang sangat melekat agak ketat di tubuh indahnya. Menggunakan pakaian berleher sabrina mengekspos leher dan bagian dadanya yang terlihat berisi dengan ukuran cukup menggiurkan. Busana itu pilihan Kevin, ia bangga saja memandang tubuh istrinya sangat terlihat memukau saat dengan tampilan itu, seolah lupa jika di pesta nanti akan banyak mata yang ikut menikmatinya.

__ADS_1


Acara itu cukup mewah, di laksanakan di atas sebuah kapal pesiar yang berlayar tidak jauh dari dermaga. Sehingga suasana elegan memang tak bisa lepas dari acara tersebut.


Awalnya ketika di tempat acara tangan Kevin selalu melingkar di pinggang Muna. Namun, karena panggilan kolega lainnya, membuat Kevin terpisah. Dan Muna lebih memilih ingin menikmati makanan di sisi kapal sembari menikmati semilir angin yang bersilir-silir mengusik rambutnya dalam kesendiriannya.


"Haii... boleh kenalan? Saya Yosa Witama. Yang ulang tahun itu papa dan mama saya." Tiba-tiba seorang lelaki tampan dan gagah mendekati Muna dan mengajak berkenalan dan menyodorkan tangannya.


"Huum Maaf. Saya Muna." Jawab Muna mempertemukan kedua telapaknya di depan dada, pertanda tak ingin bersalaman.


"Dari tampangnya ... kamu masih kuliah ya?" tebaknya asal.


"Iya.. masih mau masuk semester 7."


"Waaw udah mau selesai dong. Jurusan apa?"


"Managemen perhotelan dan rumah sakit."


"Naah... boleh tuh ntar ngelamar di perusahaan yang di rintis papaku. Perusahannya bergerak di bidang pengadaan alat medis. Cocok dong."


"Lulus dulu kali ya... baru mikir kerjaan." jawab Muna.


"Dari sekarang juga ga salah lho. Daripada lama nganggur, nunggu yang negri jaman ini bagai mencari jarum dalam jerami. Banyak saingan."


"Iya juga siih."


"Di dunia perusahaan juga saling bersaing. Coba kamu lihat dari sini. Tuh... kumpulan orang-orang berdasi di sana, mereka tampak akrab ceria tertawa bersama. Padahal aslinya saling sikut untuk memenangkan tender, supaya dapat proyek besar." urai Yosa menunjuk ke arah meja bundar dan ada suaminya juga di sana.


"Oh ya... bukankan mereka terlihat akrab?"


"Hah... itu hanya penampakan luarnya saja. Mereka masing-masing akan memainkan triknya untuk mendapatkan yang mereka inginkan."


"Bersaing itu kan hal yang wajar. Selama itu tidak membahayakan."


"Yang namanya ambisi seseorang siapa yang tau sih. Ya... walau ga semua yang begitu. Seperti satu perusahaan yang di pegang seorang pengusaha di Bandung. Dia paling jarang mengejar tender, tapi selalu dapat proyek besar dari rumah sakit swasta di Jakarta. Makanya papa sangat senang malam ini, beliau bisa hadir. Tuh... yang itu tuh." Tunjuk Yosa ke arah Kevin yang sedang di dekati wanita berbusana minim dan seksi, yang punggungnya di pegangi oleh seorang pria paruh baya.


"Yang mana?" tanya Muna memastikan.


"Itu tuh, yang sedang bersalaman dengan cewek itu. Dia adikku, sepertinya papa ingin memperkenalkan mereka berdua. Maklum lah, pengusaha itu tidak pernah terdengar dekat dengan wanita. Kabarnya sih sudah menikah, tapi entahlah. Mungkin hanya isu agar tidak mendapat gangguan." Terang Yosa blong tanpa rem.


Bersambung...


Ha...ha... belum tau dia๐Ÿค”

__ADS_1


Yuk lanjuuut


๐Ÿ‘โœŒ๏ธ๐Ÿ™


__ADS_2