
Kevin sudah berjanji akan memprioritas Muna dalam hidupnya. Tapi babe benar, hidup tidak hanya melulu soal cinta. Makan tuh cinta, apa kabar dengan isian pundi-pundi keuangan mereka jika yang dilakukan hanya melingker kaya ulat keket di atas tempat tidur tanpa usaha. Walau uang Kevin sebanyak apa? Setinggi gunung? Pun akan runtuh juga jika tidak adanya keseimbangan antara pemasukam dan pengeluaran.
Walaupun sejauh ini Muna adalah istri yang luar biasa hemat. Hampir tidak pernah terdengar merengek minta di belikan ini dan itu pada suaminya, atau belum saja? Entah atau author memang tidak pernah mengekspos saat mereka berbelanja. Sengaja menghindari ke sirikan yang mungkin saja timbul dari pihak manapun.
Kali ini Kevin sengaja tidak memberitahukan pada istrinya bahwa ia akan datang. Dalam obrolan mereka tak pernah saling berkata rindu. Sebab sebelumnya mereka telah berjanji tidak usah menyebut kata itu, jika masih saling berjauhan.
Rindu...,
Semakin di ucap semakin menggebu.
Saling memadang wajah lewat benda pipih canggih masing-masing pun, sesungguhnya justru mengundang rasa itu makin menyerang. Akhirnya keduanya bersepakat tidak pernah mengucapkan kata itu melalui sambungan telepon dalam bentuk apapun.
Isi obrolan hanya seputar kabar, kegiatan sehari-hari dan sahutan kata cinta yang saling beradu.
Ah... Mereka selalu punya cara unik untuk saling jatuh cinta dan mempertahankan rasa itu agar selalu pada tempatnya.
Verbal itu tak pernah keluar nyata dari bibir Muna, namun dari sudut mata Muna, suaminya tau istrinya menyimpan rindu dendam sepertinya. Kevin pun kadang hanya mengalihkan fokus pada pekerjaannya. Sehingga ia selalu berusaha menyingkat waktu untuk memporsir tenaganya agar segera bisa bertolak ke Belanda kembali.
Muna terbelalak kaget saat sore itu waktu setempat, ketika ia baru pulang kampus sudah mendapati suaminya berada di dalam apartemennya. Ya, tentu saja Kevin memiliki akses untuk masuk ke rumah kotak tersebut.
"Asalamualaikum suami..." Sapa Muna dengan semangatnya langsung menghambur kepelukan Kevin.
"Walaikumsallam istriku sayang." Jawab Kevin langsung mendaratkan kecupan di kening Muna agak lama.
"Abang datang ga bilang-bilang iih. Muna suka."
"Kejutan lebih romantis kayaknya Mae."
"Pukul berapa tiba?"
"Dua jam yang lalu."
"Sudah makan?"
"Sudah abang habiskan semua sisa sarapan ala mahasiswi di meja makan itu."
"Salah sendiri datang ga bilang-bilang. Hari ini Muna jadwalnya sampe sore jadi siang Muna makan di luar yang."
"Ga papa. Dzuhuran yuk yang. Udah bersihkan?"
"Ya iyalaah. Udah seminggu ini bersihnya bang." Jawaban Muna yang sesuai ekspektasi Kevin. Huft jangan kasih kendor, kali ini harus jadi Kevin junior.
Keduanya tampak telah selesai menjalankan ibadahnya. Salim takzim dan kecupan hikmad di kening Muna pun sudah mendarat sempurna.
"Mau lanjut ibadah atau jalan-jalan dulu nih?" Tawar Kevin pada Muna.
"Jalan dulu boleh yang? Susu pra hamil Muna habis, stok bahan makanan juga hampir habis. Lagian, Muna takut abang di laknanti Allah, kalo pinternya cuma ngasih nafkah batin, dan tidak seimbang dengan nafkah lahir bang."
"Eeh asem ni anak. Itu gajihmu sebagai dewan komisaris kapan di bobol bu?"
__ADS_1
"Beda sensasi dong pak. Rasanya lebih bahagia tuh kalo di kasih uang cash gitu dari tangan ini, di sambut dangan tangan ini. Lalu kita doakan bersama agar uang itu bisa kita gunakan untuk hal yang benar penting, syukur-syukur bisa di untuk sedekah dan sisanya di tabung, yang."
"Oke mulai bulan ini ya. Mau berapa uang bulanannya? 10jt, 20jt atau 50jt...?"
"Iish... Suami sultan gitu amat yaah?"
"Masalahnya istri abang ratu Belanda. Di kasih dikit di kira miskin, ngasih banyak abang yang jadinya beneran miskin..."
"Sesuai gajih UMR aje bang. Istri abang mahasiswi ini. Buat jajan aja yang." Tepis Muna manja.
Cup
Bibir itu sudah nemplok aja di bibir Muna.
"Istri abang irit apa pelit sih?" 5jt buat jajan aja. Di luar belanja bulanan dan lain-lain."
"Kebanyakan."
"Jangam buat abang jadi suami yang di laknati Allah. Kan harus seimbang sama nafkah batin yang." Kevin ahli dalam urusan negosiasi.
"Oke deal, tapi jangan lupa. Harus uang cash. Biar dompet Muna tebel."
"Siap nyonya Kevin. Bikin tambah gemesh deh." Kevin sudah meraup tubuh itu dan mencumbunya.
"Katanya mau jalan dulu, kita ga punya makanan buat malam lho pap."
Muna terbuai, mana sanggup menolak perlakuan mesra dari sang suami. Muna pun sudah terlatih melucuti pakaian yang tentu menganggunya mengeksplor rasa rindunya pada sang suami.
Namun aktivitas itu tak sempat memanas. Baru masuk ranah menghangat saja. Kevin sudah menghentikan serangannya.
"Ngape bang?"
"Itu cuma kata pengantar. Isinya lanjut ntar malam saja sayang."
"Iiissh... Abang tanggung ini."
"Ciee... Cie yang selama ini nahan rindu tapi pura-pura kuat." Ledek Kevin pada Muna dengan gokil.
"Abang iih ga jelas deh." Semburat merah malu menyampir pipi Muna.
"Kita kencan dulu. Belanja dan makan. Abang ga mau pas udah on, harus terganggu dengan hal-hal kecil dalam bentuk apapun." Ujar Kevin yang justru langsung berlalu masuk kamar mandi untuk membersihkan diri dan akan bersiap akan keluar bersama Muna
Sumpah Muna melongo saat sudah mulai on tapi di hentikan sendiri oleh Kevin. Rasanya tuh kayak di tinggal pas lagi sayang-sayangnya, ngenes tau. Kesal Muna yang memang telah candu dengan sentuhan suaminya.
"Hah.. bahkan kulit dadaku udah tatoan gini, si abang masih bisa aja ngerem. Buseeet dah." Umpat Muna ngedumel sendiri. (Konak ya bu)
Namun kekesalan Muna sirna begitu saja, saat sudah berada di tempat belanja. Muna gadis sederhana, wajahnya justru lebih berbinar saat suaminya mengajaknya di area bahan makanan ketimbang di etalase tas atau sepatu bermerk dan mahal.
Keduanya telah sampai kembali ke apartemen, buru-buru melaksanakan sholat isya yang telah sampai waktunya.
__ADS_1
Selanjutnya Muna dengan penuh semangat menyusun kembali semua belanjaannya pada lemari pendingin. Tampak wajah puas tersampir di wajah cantik itu.
"Seneng bener bini abang..."
"Iye niih, rasanya kaya waktu ngisi lemari es waktu di pantry. Hmm... Masa itu, sangat menyenangkan bang."
"Apanya yang bikin senang waktu itu Mae?"
"Bisa ngirit uang makan, asal mau masak buat CEO arogan dan mesum. Eh, ternyata sekarang malah jadi laki aye."
"Hah... Dulu tuh Mae. Kalo udah liat kopi di meja kerja abang tuh rasanya udah kaya liat wajah kamu aja di tiap serupan kopi buatan mu."
"Uuwwaaaaw, segitunye abang jatuh cinta ame aye."
"Hmm... Mata Mae ngandung magnet. Bikin abang ke seret untuk selalu mau nempel sama Mae." Ujar Kevin yang sudah tak sabar menunggu Muna menyelesaikan urusannya di depan kulkas 4 pintu tadi.
"Cie... Ciee... Laki aye yang ude jadi bucin." goda Muna pada Kevin genit.
"Biarin sama bini sendiri ini, kan itu di sukai Allah yang." Kevin sudah menggendong Muna menuju kamar tidur mereka. Menciumnya dengan kecupan bertubi-tubi pada bagaian mana saja yang dapat bibirnya tempeli.
"Muna bersih-bersih dulu yang, habis pegang belanjaan tadi." Pamit Muna yang segera turun dari gendongan posesif sang suami.
"Allahumma janibnasyaithana wa janibnisyathanamarazaqna.β Rafal Kevin malam itu sebelum memulai aktivitas memberikan nafkah batin untuk istrinya.
Sungguh kali ini Kevin sangat berharap usaha mereka berhasil. Maka tidak ada permainan hot jelotot yang ia persembahkan untuk istrinya, walau si otong tentu meminta lebih. Lanjut donk, kurang lama, berasa sebentar, ekstra part yaaah. Persis permintaan readers pas liat kata bersambung di sisi kiri pojok bawah narasi ini.π€
"Udah... Terima kasih istri ku. Sini abang peluk sampai pagi."
"Bentar-bentar... Ini yakin satu part aje bang?"
"Kenapa, kurang?"
"Ya ... Kagak biasa aje."
"Mau lagi... Ayook"
"Jangan-jangan. Jangan brenti." Kekeh Muna antara percaya dengan tidak.
Kevin duduk dan mengambil bantal lalu meletakannya di bawah pan tat Muna, seolah mengganjalnya di sana.
"Jangan gerak lagi, abang beneran mau ini jadi anak kita. Tidur gih, sebelum otong berubah pikiran." Kecupnya pada kening Muna penuh sayang.
Bersambung...
So sweetnya babang Kevin
Buntingin nyak... Bang wkwkwkk
πππ
__ADS_1