
Kevin benar bagai baru mendapat ide briliant akan kelanjutan hubungan adiknya. Namun tak bisa disalahkan juga. sakitnya ibu Gilang bertepatan dengan kondisi buruk mertuanya yang juga tentu membuat semuanya tak semulus rencana.
"Assalamulaikum pi." salam Kevin menghubungi Diendra.
"Walaikumsalam Vin. Apa kabar?"
"Alhamdulilah kabar kami baik. Hanya ada sedikit yang mengganjal di pikiran Kevin."
"Ada apa?" Diendra penasaran.
"Rencana 5 hari lagi kami akan melakukan perjalanan dinas ke Swiss. Dan itu di ikuti oleh Gita juga Gilang. Bagaimana menurut papi. Apa kita biarkan saja mereka berangkat bersama saat belum sah?"
"Astagafirullahalazim. Apa kita minta mereka segera melaksanakan akad dulu seperti yang mereka mau selama ini saja Vin?"
"Nah, untuk itulah Kevin menghubungi papi. Bukan kita mau sudzon pada mereka. Hanya, dengan berangkat bersama justru mereka bisa sekalian berbulan madu."
"Hmm... bukan ide dan saran yang buruk. Baiklah nanti papi akan hubungi Gilang atau Gita dulu. Mengenai kesiapan mereka."
"Pi... bagaimana jika Gilang saja. Kita buat surprise saja untuk Gita." saran Kevin agak gokil.
"Hah... kamu ada-ada saja Vin. Tugasmu mengkondisikan pelayanan kamar untuk pasangan pengantin baru nanti di sana, bagaimana?" semangat Diendra yang akan punya mantu idamannya.
"Urusan gampang itu pi." kekeh Kevin. Kemudian mengakhiri panggilan telepon tersebut.
Diendra senyum sumringah setelah mendapat saran dari Kevin. Dan kemudian menekan tombol panggil pada nama Gilang di ponselnya.
"Assalamualaikum pak." Sapa Gilang sedikit terkejut melihat wajah yang terpampang pada kontaknya gawainya.
"Walaikumsallam, Lang. Apa kabar ibumu?" sahut Diendra berbasa-basi sebelum masuk ke topik utama.
"Ibu baik pak. Alhamdulilah semakin pulih dan sehat." Gilang selalu sopan.
"Alhamdulilah kalau begitu. Begini Lang. Papi mau tanya, tentang kesiapan surat menyurat akad nikah kalian yang mestinya di lakukan 3 minggu lalu. Itu apa memang sudah selsai?"
"Sudah pak. Kemarin memang sudah siap cetak pak, hanya karena saya segera menghubungi pihak KUA masalah penundaan sehingga di pending." Jelas Gilang.
"Lalu penundaan itu kira-kira kapan akan di lanjutkan?" tanyanya membuat Gilang merasa seperti sedang di interogasi.
__ADS_1
"Kesepakatan kami berdua sih, biar awal tahun saja. Sekalian langsung di laksanakan resepsi sederhana." Jawab Gilang sungguh-sungguh.
"Awal tahun itu 1,5 bulan lagi Lang. Kamu yakin masih bisa menjaga syahwat. Apalagi papi dengar kalian akan pergi dalam perjalanan dinas bersama."
"Insyaallah pak."
"Hah. Papi pernah muda Lang. Papi tidak mengijinkan kalian pergi jauh dalam waktu yang lama tanpa ikatan pernikahan." Tegas Diendra mengarahkan pembicaraan.
"Maksud bapak?" polos Gilang.
"Tiga hari lagi papi tunggu kalian di Jakarta untuk melaksanakan akad nikah. Papi tidak mau tau sesibuk apa kalian membagu waktu. Papi ingin meminimalkan dosa kalian, jika nanti akan bertindak ceroboh selama perjalanan." ini tuh bagai titah raja yang dosa kalo di langgar.
"Hah...?" Gilang takjub dengan perintah calon mertuanya.
"Kenapa tidak siap? bukankah pihak KUA bisa kamu hubungi untuk memastikan tanggal pelaksanaan akad kalian? Papi setuju hanya akad. Pulang dari Swiss atau tahun depan silahkan kalian langsungkan resepsinya." perintah itu terdengar otoriter tidak bisa di tawar lagi.
"Ii... ya pak. Nanti saya bilang Neng Gita terlebih dahulu." Gilang masih ingin berdemokrasi dengan wanita idamannya itu.
"Tidak perlu. Kamu kemas sendiri ini, agar jadi kejutan untuknya. Pakaian dan sebagainya ada di mana?" kepo Diendra pada Gilang
"Pak ... puk.. pak ... puk. Papi Gilang... panggil papi, kamu akan jadi menantuku. Panggillah sama seperti yang lain." gertaknya geregetan dengan calon menantu yang masih terdengar sangat sungkan padanya.
"Ii... iya Ppi." Gagu Gilang yang belum terbiasa.
"Berikan alamat butiqe dan mungkin salon atau apapun yang pernah kalian hubungi untuk acara akad kemarin. Nanti semua mama Indira dan papi yang handel. Tugas mu hanya mengajak ibu, saudara mu juga Gita ke Jakarta. Segala sesuatunya akan papi siapkan."
"Tapi itu akan merepotkan papi juga mama Indira." Tolak Gilang secara halus.
"Gilang... tolonglah untuk kali ini, biarkan papi dan mama sedikit repot. Agar benar merasakan indahnya mendapat menantu." pinta Diendra pada Gilang.
"Baiklah... tapi. Maaf pi. Jangan sampai kerepotan dan sampai sakit ya. Nanti Gilang akan menghubungi KUA juga WO yang akan membantu menyiapkan semuanya. Ijin mungkin tetap akan kita adakan syukuran kecil-kecilan di rumah, atau di mesjid saja? Kemudian kita akan makan siang bersama?" tanya Gilang yang ternyata sudah punya bayangan sendiri untuk akadnya.
"Kita laksanakan semuanya di rumah keluarga Mahesa saja. Minta penghulu dan petugas KUAnya datang ke rumah. Dan langsung acara selamatnya. Bagaimana?" tanya Diendra lagi.
"Baiklah. Siap laksanakan." Jawab Gilang penuh hormat.
"Jangan lupa.... rahasiakan saja dari Gita. Papi penasaran bagaimana ekspersi terkejutnya nanti." Diendra tersenyum membayangkan hal itu.
__ADS_1
"Apa harus begitu?" Gilang sedikit ragu dengan ide calon mertuanya tersebut.
"Sudah ikuti saja. Ibumu bisa hari ini saja kamu antar ke sini. Minta supir mengantarnya. Agar kesehatannya tidak terganggu dan tidak kecapean. Langsung antar ke rumah papi saja, biar lebih akrab." Lagi-lagi Diendra mengatur Gilang.
"Baiklah... nanti akan Gilang sampaikan pada ibu."
"Ya sudah... selamat menghapalkan kalimat qobul ya Lang. Semua doa dan harapan terbaik papi untuk kelancaran rencana kita kedepan." Diendra yang sudah tidak sabar memiliki menantu baik seperti Gilang.
"Amiin. Terima kasih pi."
"Sama-sama. Assalamualaikum." tutup Diendra pada obrolan itu.
"Walaikumsallam." Jawab Gilang yang sesungguhnya speacless dengan apa yang baru saja du dengarnya.
Tapi, Gilang bahkan hampir tidak punya waktu untuk melamun untuk sekedar memikirkan apa yang baru di dengarnya.
Maka ia pun bergegas menghubungi Arum untuk mempersiapkan ibu dan juga dia dan anak-anaknya untuk bersiap ke Jakarta siang ini, jika memungkinkan.
"Maaf ya bu. Gilang ga bisa ikut antar ibu ke Jakarta. Sebab pekerjaan Gilang masih ada yang belum beres. Gilang nyusul pas hari H aja. Ibu jaga kesehatan, jangan capek. Doakan pelaksananaan akad Gilang dan Gita lancar ya bu." ucap Gilang saat menemui ibunya di kamar, saat ibunya benar harus akan pergi ke Jakarta.
"Amin. Pasti ibu doakan yang terbaik untukmu. Bukan hanya untuk kelancaran pelaksanaan akad kalian. Tapi untuk kelangsungan hidup kalian seterusnya, agar tuntung pandang, ruhuy rahayi, samawa." Peluk ibu Gilang pada putra yang selalu jadi andalannya ini.
"Mohon doa restu, dan ampuni salah khilaf Gilang ya. Ibu akan tetap menjadi priotitas dalam hidup Gilang walau telah beristri nanti." Janji Gilang pada sang ibu.
"Jadilah suami yang bisa melindungi, memuliakan dan mengantar istri le surga nak. Istrimu yang utama, wajib kamu bahagiakan. Ibu sudah bahagia, pernah melahirkan anak laki-laki bertanggung jawab, penyayang dan baik sepertimu. Ini, mas kawin dari ayahmu dulu untuk ibu. Tolong lanjutkan ini untuk istrimu. Ibu tak punya barang berharga lain untuk mengungkapkan rasa senang ibu, memiliki menantu sebaik Gita." tukasnya menyerahkan satu set berlian yang bernilai mahal. Tentu saja, sebab dulu ayah Gilang termasuk dalam katergori kaya, namun sayang harus mati muda.
Bersambung...
Sorry ya reader
Efek vaksin boster tangan nyak rada berat ngetik.
Angkat lengan sendiri berasa angkat barbel 25kg. Jadi seharian lenyeh-lenyeh aja kayak ager-ager.
Apppaaahh coba🤭
Happy reading yaak❤️
__ADS_1