
Fajar mulai menyingsing, sayup suara adzan telah berkumandang Walau semalam pukul 2 dini hari Muna baru dapat memejamkan matanya. Seperti biasa ia tetap bangun sepagi mungkin untuk melaksanakan kewajibannya.
Untuk merontokkan dosa-dosa yang telah ia perbuat semalam. Berharap Allah dapat mengampuni, dan akan berusaha sekuat tenaga dan upaya untuk tidak terjerumus dengan godaan setan-setan mesum itu.
Kemudian Muna dan Siska segera keluar menuju bibir pantai mencari tempat yang paling tepat untuk mereka dapat memandangi pemandangan indahnya saat matahari terbit. Yang tentu akan lebih cantik dari biasanya. Sebab kadang, Muna hanya melihat sembulan mentari itu hanya dari celah-celah atap perumahan yang berjejeran di komplek tempat tinggalnya.
Jadwal pagi ini sebelum pulang adalah memancing di perairan laut Jawa menggunakan yacth yang sudah di siapkan. Memang tidak jauh berlayar, hanya bergerak agak ke tengah untuk memudahkan mereka mendapatlan ikan.
Sebenarnya Muna ingin melakukan segala aktivitas di laut itu. Tetapi ia tidak membawa kelengkapan renang, terutama pakaian. Walau ada di sediakan, tetapi Muna berpikir 2 kali untuk mengenakannya. Pertama karena terlalu terbuka. Kedua, bisa saja itu menjadi peluang untuk mengundang setan mesum menghinggapi otaknya dan Kevin kembali.
Semua pegawai perusahaan yang masih memilih untuk bertahan di tempat itu pun masih mendapat fasilitas gratis alias di tanggung oleh kantor. Entah apa benar hanya karena perpisahan saja atau memang untuk merayakan lamaran yang di terima semalam.
Yang pasti semua karyawan tampak sangat menikmati rangkaian acara dan semua fasilitas tersebut, secara cuma-cuma.
Vera, Monik dan Koco tak terkecuali juga tentu hadir pada kesempatan langka ini. Tak usah di bahas betapa hati mereka serasa di remas-remas. Melihat kesuksesan Muna yang bahkan telah di lamar di depan khalayak ramai, dengan spektakuler seperti semalam. Bagaimanapun Muna adalah teman mereka sesama OB, bahkan lebih mirip sebagai tukang masak mereka saat masih dalam satu unit kerja.
Ingin menyesal pun tiada guna. Mendukungpun, seolah menjadi manusia penjilat. Sehingga ketiganya hanya saling menyimpan perasaan dan doanya masing-masing di dalam hati saja.
Kevin sudah berada atas yatch. Menanti hadirnya kekasih hati yang akan menemaninya memancing di atas yatch tersebut. Balutan senyum tampannya, tak pernah lepas dari wajah seorang Kevin. Saat melihat kini gadisnya telah berjalan mendekat ke arahnya.
Kevin tidak keberatan jika lagi-lagi Siska bagai bayangan Muna. Sebab, ia pun tidak ingin khilaf dan berbuat terlalu jauh dengan gadisnya.
Restu orang tua semua telah di kantonginya, bahkan mulut Muna sendiri pun sudah sangat jelas menyatakan kesiapannya untuk menikah. Lalu, apa yang dapat Kevin lakukan pada Muna. Kecuali sabar dan mempersiapkan pernikahan mereka secara bersama-sama.
Diam-diam ternyata Kevin memiliki bakat memancing, terbukti dari hasil pancingnya yang tidak mengecewakan. Berbeda dengan Muna, yang beberapa kali melempar kail, hanya dapat ikan buntal.
Maka Muna lebih memilih menyiapkan alat panggang saja. Sebab ikan yang baru di tangkap tentu memiliki rasa yang lebih segar dan lezat.
Muna selalu cekatan dalam hal mengolah makanan, bahkan koki hanya sekali menunjukan bumbu yang tersedia di sana. Kini Muna sudah menguasai semuanya dengan luwes. Siska dan Kevin tidak heran untuk ketrampilan memasak Muna itu.
Berbeda dengan Bara. Ia hampir tidak bisa menyembunyikan kekagumannya akan keahlian Muna dalam urusan menaklukan masakan, walau dalam keadaan dadakan sekalipun.
"Luar biasa, cewek ini paket komplit banget. Sudah cantik, baikp, pintar masak lagi. Pantas saja si bos klepek-klepek. Aku mungkin hanya terlambat bertemu niih. Seandainya aku lebih cepat muncul. Mungkin sekarang bos Kevin itu yang sedang di landa cemburu karena Muna itu milikku. Nasib...nasib." Bara hanya berani bermonolog dalam hatinya.
Meruntuki akan pembagian hidup yang telah di tetapkan Tuhan untuknya. Sembari berharap agar suatu saat akan mendapatkan tipe-tipe wanita sesempurna Muna
"Oh Tuhan mataku." Batin Bara saat melihat dua insan di mabuk cinta itu kini sudah terlihat saling bersuapan makanan yang baru Muna masak.
"Serasi... ya mereka memang serasi sekali. Otak, hati dan pikiran pliiis. Muna bukan untukmu." Bara terus saja menguatkan hatinya.
Mencoba menerima keadaan. Bahwa bahkan nanti akan di perhadapkan dengan adegan yang lebih syur lagi, jika mereka telah menikah nanti.
__ADS_1
"Siska itu siih enak. Dapat dengan tabah dan terlihat biasa saja duduk di antara mereka. Karena ia tidak menaruh hati pada Kevin. Tapi aku. Huh!! Pake main hati segala lagi." Bara masih saja sibuk ngedumel ria melihat sekelilingnya.
Mereka sudah bersepakat akan pulang saat matahari telah tenggelam, kembali keperaduan untuk memyambut malam yang senantiasa menjanjikan hari esok yang lebih cerah dan manis dari hari ini.
Mungkin Kevin sengaja, tetapi ia memang seorang penguasa. Sehingga dengan cueknya ia memerintahkan Bara untuk menjadi supir mereka saat harus mengantar Muna dan Siska pulang ke rumah.
Kini mereka berempat sudah berada dalam mobil yang sama, dengan formasi Bara sebagai supir dan Siska di sebelahnya. Pasangan calon pengantin tentu saja duduk berdua di belakang dengan pertautan tangan yang tak bisa terlepas sedari tadi.
"Siska..." Tegur Kevin
"Iya pak." Jawab Siska sambil menoleh ke arah belakang.
"Tolong nyalakan musik, radio atau apa. Agar telinga kalian tidak tercemar dengan obrolan kami di belakang." Perintah Kevin.
"Baiiik." Jawab Siska dan mulai menyalakan radio pada mobil tersebut.
Mungkin 'ku harus pergi untuk melupakannya
Dalam hati berkata takkan sanggup pergi, wow-wow-wow
Tuhan, tolong, aku ingin dirinya
Rindu padanya, memikirkannya
Namun mengapa saat jatuh cinta?
Sayang, sayang, dia ada yang punya
Tetapi selalu aku merindu lagi, oh
Oh, mengapa 'ku tak bisa
'Ku tak bisa, 'ku tak bisa
Tuhan, tolong, aku ingin dirinya
Rindu padanya, memikirkannya
Namun mengapa saat jatuh cinta?
Sayang, sayang, dia ada yang punya
__ADS_1
Tuhan, tolong, tolong aku
Jatuh cinta pada kekasih orang
Ingin lupa 'ku tak bisa
Sayang, sayang, dia ada yang punya
Tuhan, tolong, aku ingin dirinya
Rindu padanya, memikirkannya
Namun mengapa saat jatuh cinta?
Sayang, sayang, dia ada yang punya
Sayang, sayang, dia ada yang punya
Sayang, sayang, dia ada yang punya, wow-wow
Tanpa ijin juga tanpa rekayasa tiba-tiba lirik Lagu Merindu Lagi dari Yovie and Nuno, mengudara di indra dengar mereka yang ada di dalam mobil tersebut.
Tau dong siapa yang klepar-kleper saat mendengar lagu yang terdengar sarat akan sindiran ini.
Kevin terkekeh dalam hatinya, bahkan akan berniat memberikan hadiah untuk Siska yang sangat pandai mencari gelombang frekuensi radio tadi. Syair lagu yang sangat tepat sasaran.
"Aseeem!!! Sudah jadi supir, nyaksiin mereka mesra-mesraan dari semalam. Kesindir lagu ini pulak. Ruwat... kayaknya aku butuh ritual mandi buang sial deh. Karena Muna si gadis kemarim sore." Batin Bara dengan tetap memasang wajah cool seolah tidak terjadi tsunami dalam dadanya saat ini.
Bersambung...
Gimana-gimana ngerjain Baranya cukup atau di tambahin lagi niih?
Jangan Minta nyak jodohin Bara sama Siska ye.
Nyak ude punya calon sendiri buat Siska.
Sabaaaar.
Kita bereskan urusan penikahan KeMun dulu baru Siska. Okeeh😘
Lope buat semua
__ADS_1
❤️🙏😘