OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 244 : KEMBALI KE RUMAH


__ADS_3

"Whaatt... berani cip ok belum halal?" pancing Gita.


"Siapa takut?" Gilang sudah pindah dari depan Gita jadi kesamping tubuhnya dempet.


"Ini serius mau nyosor. Abis ngopi lho ini A." Gita agak inscure saat Gilang sudah duduk di sampingnya.


"Ya udah Aa seruput kopi lagi aja kalo rasanya sama." Gilang hanya mencubit hidung Gita.


"Yaaah cubit hidung doang... beneran di cip oklah A." Canda Gita agak genit.


"Stt.. kalo ketahuan pak bos Agi bisa dipecat lho."


"Apa hubungannya. Orangnya ga ada ini."


"Lelaki itu kalo udah janji, walau ga di liat, tetap tidak akan ingkar."


"Maksudnya?"


"Sebelumnya pak bos lama Apeldoorn. Sebagai kakakmu, dia udah titip eneng sama Agi."


Flashback on


"Gilang ke ruangan saya." perintah Kevin saat senggang sepulang mereka dari perjalanan dinas ke Singapura.


"Siap pak." Jawab Gilang tergopoh-gopoh memasuki ruangan Kevin.


"Ada tugas apa ya pa?" tanya Gilang sopan.


Kevin menyodorkan ponselnya, yang sudah terpampang fotonya berpelukan dengan Gita tidur dalam selimut yang sama.


"Bisa jelaskan apa hubungan kalian berdua?" tanya Kevin.


"Oh.. itu. Anu pa. Anu... kami ketiduran saat menunggu bapak dan ibu pulang dari pesta."


"Oke... tapi ga tidur bersama juga kan tugasnya?"


"Iya pa. Tugas kami jaga Aydan."


"Tapi kalian malah pelukan. Kalian pacaran?"


"Tidak pa."


"Pacar bukan, istri juga lain kok tidurnya sudah kaya gitu?"


"Khilaf pa. Sama sama ketiduran jadi gitu."


"Dosa bukan?"

__ADS_1


"Dosa."


"Yakin ga ngapa-ngapain Gita?"


"Lilahita'ala pa. Sumpah tidur bareng saja. Ga ngapa-ngapain."


"Kamu suka dia?" Gilang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tumben bosnya menantakan hal pribadi dengannya.


"Suka?" ulang Kevin.


"Benget."


"Pacaran?"


"Tidak."


"Kenapa?"


"Masih mikir dan menilai saja. Dia wanita baik-baik atau tidak."


"Enak saja kamu mau dapat wanita baik-baik. Cewek tidur aja main peluk tanpa ikatan gitu." Kevin bersuara dingin.


"Jangan-jangan semua wanita kamu perlalukan sama?"


"Tidak lah pa. Tidur bareng cuma sama Neng Gita saja. Itu juga cuma tidur beneran tidur, ga ngapa-ngapain pa."


"Saran saja ya. Kalau memang suka mending di sampaikan. Mana tau dia sudah punya kekasih dan sejenisnya. Dengan kalian dekat, apa tidak memperkeruh hubungannya dengan kekasihnya. Atau misalkan dia tidak punya kekasih, dengan kedekatan kalian begitu. Sesungguhnya kamu sudah menutup jalannya mendapatkan jodohnya."


"Mau kamu itu tulang punggung, tulang rawan, tulang lunak sekalipun. Wanita yang akan kamu ajak serius itu ya di ajak bicara baik-baik lah. Ya... kalau jadian aja mikir, gimana mau ngajak bicara."


"Ya... ngumpulin keyakinan dululah pak. Itu cewek mau di ajak berjuang dari nol atau tidak." Gilang masih keukeh.


"Mau berjuang dari nol atau berapapun semua di bicarakan. Asal kamu tau, Gita itu adik saya. Kami beda ibu satu ayah."


"Heeem...?" Gilang mendengus agak terkejut.


"Urusan dia menyembunyikan identitasnya. Dia punya misi tersendiri, tolong hargai dan biarkan dia lakukan itu sampai masa ia sendiri yang mengakuinya. Jika kamu serius dengannya. Jaga, hormati dan sayangi dia sebagaimana kamu memperlakukan ibu dan kakak perempuanmu. Mamanya sedang berjuang melawan penyakit hatinya. Sehingga ia perlu dukungan dan sokongan orang di dekatnya." Kevin berbicara dengan kapasitasnya sebagai kakak laki-laki Gita.


"Si... siap pa." Gilang tergugu.


"Dia pernah gagal memilih calon teman hidupnya. Sebagak kakak lelakinya, saya titip Gita padamu. Jangan kecewakan saya dan jangan sakiti hatinya dalam bentuk apapun juga. Jauhi saja dari sekarang jika hati yang kamu tawarkan itu palsu."


"Insyaallah... saya amanah dengan titipan yang pak Kevin pinta."


"Oke... saya pegang janjimu sebagai lak-laki. Saya orang pertama yang kamu hadapi jika berani macam-macam dengan dia." Ancam Kevin serius.


Flashback Off

__ADS_1


Gita sudah sampai kostnya. Merebahkan diri di atas kasur empuknya. Setelah mandi juga sudah menyiapkan semua keperluannya untuk besok berangkat ke Cisarua. Dan selalu terngiang dengan cerita yang Gilang sampaikan padanya tadi.


Gita sungguh terharu. Kevin yang ia lihat cuek dan dingin terhadapnya dan kedekatannya pada Gilang selama ini, ternyata justru sudah mengunci Gilanh dalam sebuah komitmen tanpa ia tau.


Sungguh Gita tidak tau harus senang atau marah, sebab Kevin yang telah ikut membuka identitasnya pada Gilang. Tapi ada untungnya juga sih, dengan begitu Gilang tidak begitu luka saat di awal tau dia sodaraan. Jadi, Gilang benar-benar tampak menerima saja alasan Gita menutup identitasnya selama ini.


Sementara di kediaman Kevin sudah seperti pasar tumpah part dua. Sejak siang tadi baby Naya sudah pulang kerumah. Sudah berada di kamarnya yang di dominasi warna kalem khas cewek banget.


Kali ini Kevin tidak secerewet seperti baru punya Aydan. Sudah tidak tanya-tanya kapan boleh unboxing part kesekian lagi. Sebab ia sudah jadi papap dari dua anak.


"Ka Ay... malam ini kita bobo bareng mamam dan ade Naya ya. Tapi janji jangan kaya helikopter yang suka muter-muter. Nanti kena de Naya."


"Oce ciap, omes papap." Girangnya Aydan tau akan tidur bersama Muna lagi.


Tampak seperti keluarga sempurna pemandangan tidur mereka malam itu.


Di sisi kiri ada Muna yang terlihat nempel dengan Naya, di sebelahnya ada Aydan yang dekat dengan Kevin.


Benar saja mulai malam itu Kevin yabg menbacakan buku cerita untuk Aydan sesuai janjinya. Belum sampai 30 menit buku itu di bacakan, Aydan sudah terlelap saja. Sama seperti Naya yang selama Kevin membaca juga sibuk menghisap air sumber kehidupannya.


Kevin mengangkat pelan Naya untuk di letakkan di dalam boxnya. Bukan takut di rusuh Aydan, tapi juga menjaga kebersihan tempat tidur bayi yang baru tiga hari itu.


"Mam..."


"Hm..."


"Makasih sudah jadi ibu dari dua anakku. Makin cinta kamu sayang." Cium Kevin di kening Muna.


"Terima kasih juga selalu menjadi lelaki yang kuat mendampingiku pap. Pitak ga sih pap? kena jambak pas de Naya on proses?" Kekeh Muna mengelus kepala Kevin.


"Apa lah arti jambakan itu sayang di bandingkan deritamu. Tapi sayang ga jera buat nambah lagi kan?"


"Asal ga mabok parah kaya awal hamil aja pap."


"Masa lebih jera di masa ngidam di bandingkan masa lahiran yang?"


"Ya lahiran kan sakitnya cuma hitungan jam saja pap. Kalo ngidam kan, papap aja sampe berapa bulan ngalah, ga ngantor. Ga bangkrutkan?"


"Bangkrut apaan. Kata bini abang rejeki sudah Allah yang aturkan. Alhamdulilah besok mereka akan meninjau lokasi pabrik yang baru lagi. Jadi... kita bisa buka lahan pekerjaan baru lagi buat masyarakat di sekitarnya yang."


"Alhamdulilah. Tetap rendah hati ya pap. Supaya Allah tetap percaya nitipin kita rejeki yang banyak."


"Amiin. Tetap lah jadi istri yang sabar untuk menyeimbangi abang ya sayang."


"Selalu papap Ay dan Nay." Peluk Muna pada Kevin.


Bersambung...

__ADS_1


Balik dulu ke Muna


Takut keluar jalur🙄


__ADS_2