OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 214 : BIBIT KEMBAR


__ADS_3

Muna dapat menangkap dengan jelas walau dari kejauhan jika kini suaminya tampak asyik bercengkrama di meja khusus, terpisah dari kumpulan kolega lainnya, bersama wanita yang kata Yosa adalah adiknya.


Sederhana pikiran Muna, mungkin saja Kevin di kenalkan selanjutnya akan di jodoh-jodohkan dengan anak dari kolega bisnisnya.


Muna beranjak masuk dan hendak mendekati suaminya lebih dekat, sadar memiliki peluang untuk menunjukan diri sesekali di hadapan kolega bisnis suaminya, takut di kira bujangan.


"Kemana?" tanya Yosa pada Muna.


"Mau mengambil minuman." Bohong Muna.


"Nanti aku yang ambilkan."


"Ah tidak usah, aku sekalian mau duduk. Susah terlalu lama berdiri." Alasan Muna yang terus melangkah menuju meja Kevin di ikuti Yosa.


"Haaiii." Sapa Muna tersenyum manis pada Kevin dan menepuk pundaknya. Membuat wanita di depan mereka agak cemberut.


Kevin berdiri lalu menarik kursi agar Muna duduk di sampingnya. Mengecup bibir Muna sebentar, tanpa malu walau di hadapan beberapa orang di sana.


"Sayang kemana aja sih, papap tunggu dari tadi."


"Di sana pap. Menikmati angin, seger lhoo di atas." Tunjuk Muna ke arah ia berada tadi.


Obrolan itu tentu dapat di tangkap dengan jelas oleh Yosa dan wanita di depannya yang speachlees dengan panggilan keduanya.


"Oh iya... Yosi. Ini istri saya. Susah nih, bisa ajak dia ke acara begini. Maklum masih mahasiswi, kalo tidak sedang libur semester mana bisa di ganggu gugat." Kevin memperkenalkan Muna pada wanita bernama Yosi itu.


"Oh haaiii... masih mahasiswi yaa?" renyah Yosi saat menyambut uluran tangan Muna.


"Iya.. mahasiswi yang ngejar gelar saja. Kalo urusan pekerjaan, beliau ini direktur Hospital Hildimar di Jakarta Selatan." Ujar Kevin semakin memgeratkan pelukannya.


"Oh... istrinya pak Kevin?" Direktur rumah sakit juga?" tanya Yosa sedikit tergugu, takjub.


"Pap ini Yosa. Katanya di anak yang punya hajat acara ulang tahun ini." Wajah Muna di buat senyum semanis mungkin, sadar jika Yosa hampir kehabisan nafas setelah tau siapa lawan bicaranya tadi


"Oh... Yosa dan Yosi. Kalian bersaudara?"


"Kembar." Jawab keduanya bersamaan.


"Waaah... keren ya. Mam, besok kita program deh. Bikin kembar gitu buat adiknya Ay. Pasti rumah kita tambah seru yang." Dengan mesranya Kevin meminta sambil mengecup pipi Muna, masih dengan posisi di hadapan si kembar Yosa dan Yosi.


"Huummm... ntar ya. Selesai kuliah dulu kita programnya yang." Jawab Muna memeluk pinggang suaminya.


"Iih kalian mesra banget siih." Kekeh Yosa yang aslinya mencelos dan jelous melihat pemandangan itu.


"Biasa saja bang Yos. Okeh... boleh kami permisi. Kebetulan kapal sudah merapat. Maklumlah LDRan, bikin kami malas terganggu lama dengan kegiatan di luar. Bawaannya kangen saja." Gurau Kevin yang sudah kembali menautkan tangannya posesif di pinggang Muna.


"Ciiie... ciieee, yang mau di kenalin sama anak kolega bisnisnya." Ledek Muna saat mereka sudah masuk mobil masih di area basement parkiran yang gelap.


"Apaan siih."


"Eh... untung Muna cepet dateng, kalo ga... bisa berlanjut tuh ke hubungan selanjutnya."


"Cemburu niih."


"Bening gitu." cemberut Muna.

__ADS_1


"Beningan istriku." Bela Kevin.


"Haaah... di depan Muna aja bilangnya ke gitu. Ngapain pake duduk misah kayak tadi. Bukannya awalnya duduk bareng yang cowok semua."


"Waaahh... nalar bini kalo lagi cemburu bener ngalahin tim buser Polda Metro Jaya yah."


"Ada bini aja berani ke gitu, gimana kalo aye kagak ade bang?" Betawi Muna kumat kalo dalam mode marah.


"Kalo bini kagak ada ya, abang kaga bakalan datang ke acara begituan lah." Kekeh Kevin.


"Hah... mang aye percaya?"


"Jangan buang waktu berharga kita hanya dengan bertengkar Mae."


"Iya abang... susah nolak ya ama yang bening-bening."


"Sayang... cemburu itu hanya milik orang yang ga percaya diri. Buktinya bini abang juga di ekorin lelaki single kan tadi. Ngaku...?"


"Ya... kan dia yang deketin bukan Muna yang nyamperin."


"Tapi kan ngobrol. Mang abang ga mantau dari jauh, bini abang sinarnya nyaingi bulan gitu, ya terangnya kemana-mana lah, penuh pesona walau sudah beranak satu."


"Abang iiih. Mau bilang bodynya jelek ya setelah melahirkan?"


"Sayang... kaya tespack ya? sensitif banget."


'Jiiiaaaah... pengalaman." Ujar Muna yang kemudian tak bersuara saat Kevin sudah mendudukannya di atas pahanya, dan memundurkan kursi kemudi agar tidak sesak.


Ya Tuhan, bagaimana prosesnya. Celana Kevin sudah melorot semua, janjian dengan dalaman Muna yang sudah terlepas dari tempat yang sebenarnya.


Otong sudah nancap saja ke dalam rumah Mumun, naluriah sekali pinggang itu tanpa perintah meliuk-liuk menikam, menjepit terasa terisap-isaplah kepala otong di dalam sana oleh ulah mumun.


"Bawa pengaman ga siih?" tanya Muna, ngos-ngosan seksi, di sela cumbuan Kevin yang sudah membuat dada itu bagai koran baru di cetak. Penuh ukiran gaiiiis.


"Ada... di laci." Jawab Kevin dengan seraknya menahan sesuatu yang serasa ingin segera keluar.


"Bentar..." Muna menghentikan gerakannya, melepas kemudian memasang helm di kepala otong.


"Takut bener bocor. Abang tanggung jawab kok." Kekeh Kevin.


"Iya tau... tapi Besok mulai nyicil skripsi yang." Rengek Muna.


"Aaaaccckkkhh... " Mana sempat obrolan itu berlanjut. Jika si otong dan mumun sudah bagai duet maut bergoyang gergaji, patah-patah sampai goyang ngebor di bawah sana.


Selesailah sudah mobil itu tempat keduanya bermesum ria. Setelahnya, mereka baru menengok kiri dan kanan kearah luar, berharap tak ada yang melihat, mungkin saja mobil itu tampak goncang dalam sepersekian menit, saat penyatuan dadakan yang mereka lakukan.


"Eh buseet... kok kita bisa semesum ini sih bang." ujar Muna yang memilih menyandarkan kepalanya di bahu Kevin.


"Ga papa mesum sama istri sendiri."


"Tapi kok rasanya lebih berdebar ya pap. Takut ketahuan."


"Asyiik kali ya, main sama istri rasa selingkuhan."


"Jiiaah kaya pernah selingkuh saja si papap."

__ADS_1


"Apalah aku, hanya sebagai korban." Kekeh Kevin mengelus rambut Muna dan mengecup mana saja yang di dekat bibirnya.


"Korban... korban apaan?"


"Korban kenikmatan lah. Terima kasih istriku, selalu menghidangkan sajian lezat untuk suamimu ini."


"Pahala... bang. Pahala." Kekeh Muna senang.


"Eh bentar. Kenapa tuh helm otong ada di laci mobil ini? Selalu ada atau emang niat main di sini sih?"


"Baru abang beli, ga sempat di bawa kerumah. Kan katanya kemarin waktunya habis. Ya abang siapin lah. Katanya istriku takut hamil sekarang."


"Bukan takut. Di tunda dulu, setahun lagi kelar, sabar ya pak suami."


"Iya ibu negara." Kecup Kevin basah di bibir Muna.


"Eeeh... mana tadi, kantong es keronya?"


"Tuh udah di box sampah."


Muna membuka box kecil di samping mereka, lalu berkata : "Uh...uuh...uh.... kasian kebuang, jangan jangan ini bibit kembar niih. Jangan sering di buang-buang lagi deh pap. Takut habis stok. Udah sering kebuang tuh, bisa jadi mereka ada yang calon dokter, calon pilot, calon CEO juga. Sayang kan, tiba giliran kita mau jadiin, eeh. Cuma kebagian ibu rumah tangga doang yang jadi."


"Biarin. Ibu rumah tangga tapi lakinya sultan kan ga masalah." kekeh Kevin.


"Laki aye pinter ngeles deh kaya bajai. Pulang yuk hampir tengah malam ini. Kasian Gilang sama Gita jaga Aydan kelamaan."


"Iya let's go."


"Abang setuju ga sih Gilang sama Gita?"


"Harus ya abang mikirin jodoh orang?"


"Ya kan Gita adik abang..."


"Adik juga... bukan berarti abang yang harus ngatur jodohnya."


"Bukan ngatur... cuma tanya. Abang suka ga mereka berdua jadian."


"Ga ada efeknya juga mereka jadian atau ga Mae."


"Iih abang rese iih." Sebel Muna.


"Rese apanya. Mae tu yang hobby banget ngurus jodoh orang. Mae... inget pesen babe deh. Kalo jodoh itu ga bakalan kemana-mana."


"Iya... dan saingan juga ada di mana-mana, bang."


"Terus hubungannya sama kita apaan? Akhirnya mereka berdualah yang akan memperjuangkan rasa yang mereka miliki. Abang dulu aja ga ada yang bantu berjuang pertahankan kamu, selain Allah. Yang mau di perjuangkan oleng melulu."


"Jiiiaaaah nostalgia dianya. Oke, pengaman masih ada kan. Entar di kamar sekali lagi deh, bonus part." goda Muna mencolek pinggang suaminya.


"Segala bonus part, bilang aja candu. Hahahaaa...ha". Kevin menang banyak malam ini.


Bersambung...


Bikin hati readers senang itu termasuk pahala juga kan yaa🙏

__ADS_1


Happy reading yaah💗


__ADS_2