
Sailendra agak terkejut dengan pertanyaan Gita di depannya. Mereka memang telah sama-sama menghabiskan makan siang mereka. Juga dengan obrolan hangat, serta sedikit canda yang ternyata memang tidak garing dan kaku. Mereka tampak nyambung membahas apa saja yang menjadi topik pembicaraannya.
Apalagi soal jodoh dan hubungan mereka ke depan.
"Tuan putri..."
"Iih panggil Gita aja, geli dengernya."
"Oke.... Gita. Tadi ijin pulang ga bareng mas. Maunya pulang sama siapa?"
"Sama calon suami." Jujur Gita.
"Alhamdulilah. Gita sudah punya calon suami?"
"Beneran syukur atau kesel nih?" tanya Gita agak bercanda.
"Seneng lah. Jujur, saat mama mau kenalin mas sama kamu, mas dongkol lho."
"Kenapa?"
"Mas juga udah punya calon. Tapi belum selesai studinya di London. Yaah... ibu-ibu asal kita udah punya kerjaan aja udah di buru-buru untuk nikah. Ntar giliran nikah belum cukup main dan bersantai, udah harus tanggung jawab sama anak dan istri. Santai dulu kenapa yaa?"
"Oh... pandangan pria yang belum siap nikah gitu ya? Harus bener tuntas gitu mainnya selagi bujangan."
"Mas siih gitu. Mending main pas bujangan kan, daripada pas udah nikah."
"Iya juga."
"Terus Gita udah punya calon. Kenapa ga nolak pas mas ajak jalan ini?"
"Ya kan makan siang saja, sekedar kenalan nambah teman. Ga masalah kan?"
Sailendra mengulurkan tangannya pada Gita.
"Deal. Setuju. Kenalan kan ga harus jadian juga, mulai sekarang kita temen ya Git."
"Oke siap." Gita menyambut uluran tangan itu.
"Ga salah sih, mama kenalin anak temennya. Cantik, baik ga sombong juga. Tapi... kita ga jodoh kali ya."
"Ga jodoh juga ga harus musuhan kan." Senyum Gita mengembang ke arah Sailendra.
"Permisi." Gilang sudah berdiri saja di samping kursi yang di duduki Gita di depan Sailendra.
"Eh... Agi udah sampe. Ini calon suami Gita." Dengan penuh percaya diri Gita memperkenalkan Gilang pada Sailendra.
"Gilang." Sapa Gilang mengulurkan tangan ke arah Sailendra.
"Endra. Sailendra Mahardika. Maaf, calonnya di bawa makan siang mas." Sahut Endra ramah.
"Ga papa, di ajak makan saja kan, bukan di ajak nikah." Kekeh Gilang sambil duduk di sebelah Gita.
"Ga cocok maharnya tadi." Jawab Endra tak kalah bercanda.
"A'a mau makan?" tawar Gita perhatian.
"Ga Neng. A'a udah makan tadi sebelum ke kantor yang kesiangan."
"Oh... gitu. Besok jadi berangkat ke Cisarua?"
"Insyaallah."
"Ponakannya ga papa di tinggal?"
"Aman... besok udah boleh rawat jalan."
"Alhamdulilah."
"Echeeem. Kok saya kaya obat nyamuk ya di sini. Boleh ijin permisi pulang duluan?" Pamit Endra.
"Eh.. maaf. Ya udah kita sama-sama pulang saja. Berkas yang kita bawa besok belum siap A'."
__ADS_1
"Oh... sekantor? Cinlok nih ceritanya?" Kepo Endra menelisik.
"Ya gitu deh mas. Si eneng mah cantik pisan euy." Puji Gilang menatap penuh kekaguman pada Gita
"Hmm... kayaknya mas Endra niih yang duluan dapat undangan pernikahan kalian." Ucap Endra menatap keduanya bergantian.
"Amiiin." Jawab Gilang dan Gita bersamaan.
"Mantap... kasih kabar ya."
"Okaay." jawab Gita melepas kepergian Sailendra.
"Ke kantor atau di sini saja? Masih ada waktu 30 menit sih." tawar Gilang.
"Kantor aja, beneran berkas belum beres A."
"Siap." Jawab Gilang menggulurkan tangannya untuk digenggam Gita.
"Ciiieee... yang baru jadian, keparkiran aja pegangan." Gita sengaja meledek hubungan mereka.
"Takut di ambil orang neng."
"So sweetnya pacar Nenggi." Puji Gita senang.
Wajah Gilang biasa saja, tampak tenang keluar dari tempat makam itu dengan menggandeng tangan kekasih barunya Gita. Padahal itu hatinya juga cenat cenut, berdebar-debar tak karuan, kesenangan cintanya selama ini tidak bertepuk sebelah tangan.
Keduanya telah berada di kantor, kembali berkutat dengan beberapa pekerjaan. Terutama persiapan mereka yang akan berangkat ke Cisarua. Cukup banyak yang berangkat ada 5 orang dari divisi pemasaran termasuk Sita, 3 dari divisi produksi di tambah Gita dari bidang unum atau sekretaris dan juga Gilang sebagai perwakilan Kevin.
"Nenggi pulang bareng ya." ada notes kecil yang di tempel Gilang di layar monitor kerja Gita saat dia pura-pura mengambil surat tugas yang akan di bagi untuk karyawan yang akan berangkat.
Gita sempat membacanya saat Gilang masih berdiri merapikan berkas yang di ambilnya. Sehingga Gita terlihat langsung mengangguk sebagai tanda setuju dan memberikan simbol jari telunjuk yang di tempel dengan ibu jari agak menyilang. Sarange katanya tanpa suara.
"Nenggi mau langsung di anter ke kost atau mau nongkrong dulu nih?"
"Kalo nongkrong di mana?"
"Coba kali ini neng yang tentukan, biasanya kan Agi terus nih yang ajak."
Sampai di tempat nongkrong itu keduanya duduk berhadapan dan tak bosan saling pandang, tersipu-sipu satu sama lain.
"Kenapa liatin Agi kaya gitu?"
"Ga... masih ga percaya aja. Atau Nenggi sekarang cuma halu ya, udah jadian sama Agi."
"Kok halu."
"Ya... ga berasa gitu A."
"Mungkin perlu pake ciuman di kening kali ya baru neng nyadar udah jadi kekasih hatinya Agi."
"Ciiiee... rusuh-rusuh hati eneng A. Tapi, serius kita jadian karena Agi suka atau hanya mau menghindari Sita saja, mohon di jawab serius A."
"Kayaknya pilihan kedua deh. Agi lelah di uber Sita Neng."
"Ya Tuhan. Malunya eneng, A. Boleh ngilang ga...? ga sanggup ngelanjutin hidup ini lagi akunya." Sedih Gita, ga jelas sih serius sedih atau cuma akting, soalnya jawaban Gilang memang tak jelas beraroma kebenaran atau bercanda.
Gilang meraih tangan kanan Gita lalu menepuknya.
"Kaya baru kenal kemaren aja sama Agi. Bercanda tadi. Lama kok Agi nyimpan rasa suka ke eneng. Sampe-sampe rasa sukanya udah kelewatan neng."
"Gimana?"
"Iya... awalnya cuma suka. Eh, lama-lama kok jadi sayang ya. Tapi, takut di tolak sama eneng."
"Hahaha...ngapain di tolak. Cowok semanis dan sebaik Agi tuh, terlalu kedondong untuk di tolak."
"Eh... asem dong."
"A... kenapa lama baru mau jadiin eneng?"
"Karena ada yang meledak-ledak tapi bukan kompor."
__ADS_1
"Ciiee... apa tuh?"
"Perasaan Agi lah."
"Hm... udah lama banget ya sukanya?"
"Lumayan sejak kita baru kenal malah."
"Iih... kok baru bilang sekarang?"
"Masih ragu aja. Karena rencana sih Agi ga mau pacaran sama eneng."
"Laah maunya apaan?"
"Nikah lah."
"Lemees Eneng A."
"Nanti Agi gendong."
"Iih kurma banget sih calon imamku. Serius nanya kenapa sempat ragu sama Neng?"
"Kerena kita tuh aslinya kan beda kasta neng. Takut aja ntar setelah jalan nasib Agi kayak lagu Buih Jadi Pemadani. Remuk kan hati Agi ntar."
"Maksudnya beda kasta apaan?"
"Neng... mau sampe kapan nyembungiin nama Mahesa yang sama dengan pa Kevin?"
"Gimana?"
"Agi sudah tau dari awal kok, eneng itu sodara sama pak bos. Ya tadinya sih mengira nama itu hanya kesamaan belaka saja. Tapi, Agi buka CVnya eneng. Eh, lulusan Inggris. Terus tuh, Agi nemu foto umroh kalian di sosmednya Siska. Ya makin yakinlah Agi kalo Gita itu Putri Mahesa yang sama dengan Kevin Sebastian Mahesa." terang Gilang lugas.
"Oh... Agi tau. Maafin Neng ya A. Eneng ga maksud bohong sedalam itu. Eneng hanya mau jadi diri sendiri, lepas dari embel-embel nama besar itu. Maaf, cari calon teman hidup yang tulus itu sulit jika tau pasangannya dari keluarga kaya. Bisa jadi mau morotin kaya Baskoro. Neng udah trauma. Maaf ya A."
"Nenggi ga salah. Hanya hati Agi yang salah, berani jatuh ke Nenggi."
"Segitunya. Eneng kali A yang udah lama nyimpen juga perasaan ke Agi."
"Kenapa di simpen aja, ga di ungkapin?"
"Malu dong A. Kan eneng cewe, si Aa di kode-kode juga ga peka. Bikin gregetan tau ga. Mana ada Sita segala lagi."
"Hah... emang Agi ga inscure apa? tau eneng akan di jodohin sama akuntan yang jelas memiliki semua kelebihan yang ga Agi punya terutama hal kemapanan finansial itu?"
"Cemburu?"
"Boleh?"
"Boleh... kan Agi calon imam Nenggi sekarang."
"Heeem. Yakin terima Agi?"
"Yakin dong."
"Motor Agi biasa lho bukan motor gede kayak punya dia tadi."
"Jangan banding-bandingin harta orang A. Bagi eneng, Agi ga marah sama kebohongan eneng selama ini aja udah bahagia benget."
"Mau sih marah, kecewa juga. Tapi Agi terlanjur cinta kayaknya ke eneng."
"Butuh oksigen A. Mendadak eneng merasa kaya di ruang hampa udara."
"Oh... mau di cip ok ya neng?"
Bersambung...
Deeeuuuh khilaf ni nyak nulisnya ke banyakan
Happy reading ya
Sarange.
__ADS_1