OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 143 : HILDIMAR HEROLD


__ADS_3

Muna terkesiap akan pemandangan yang hanya pernah di lihatnya di layar pipih canggih melalui sambungan internet. Kadang juga dapat ia lihat di beberapa lembar kalender yang terpampang di dinding sebagian tempat yang pernah ia kunjungi.


Baginya hamparan di depannya bagai sebuah mimpi. Tetapi...


Heii... Tangan kirinya terasa sakit, saat tangan kanannya mencubit hingga kulit nya memutih akibat kerasnya cubitan itu.


"Ya Allah... Aye kagak mimpi pan." Selorohnya dalam hati yang sesunggunya girang tak karuan. Menyadari bahwa kini ia sudah berada negeri orang.


"Allhamdulliah" gumamnya dalam hati.


"Assalamualaikum. Nyak... Babe. Muna ude sampe dengan selamat di negeri orang. Doa in Muna cepet balik ya, buat babe cepet pulih. Muna sayang babe dan nyak. Jangan lupa, ingetin Siska jangan keceplosan bilang bilang ame abang. Oke ? Makasih nyak, be." Muna sadar akan perbedaan waktu antara Belanda dan Indonesia. Juga khawatir ada Kevin di sekitar nyak dan babe. Maka Muna memilih untuk mengirim pesan saja untuk kedua orang tua angkatnya itu.


Muna banyak diam, tertegun sendiri akan pemandangan indah yang memanjakan matanya.


Raga Muna telah di Belanda, tapi tidak dengan hatinya.


Seandainya Muna bisa memilih jalan hidupnya. Ia tentu hanya ingin menjadi Muna Hidayatullah, menjadi anak tunggal pasangan Betawi yang sangat baik padanya. Tetapi kenyataan merujuk ke hal lain, ia bahkan di perhadapkan dengan suatu kenyataan bahwa ternyata ia adalah anak kandung dari pasangan Sunda - Belanda yang juga hanya memilikinya. Bahkan kaya raya, tajir melintir. Egoiskah Muna, tiba-tiba ingin mengikuti saran babe untuk berbagi kebahagian pada Rona dan Dadang.


Muna hanya merasa perlu membereskan urusan tentang keluarganya terlebih dahulu hingga tuntas, sebab setelah menikah nanti bukan nyak babe, juga bukan mama dan abah yang memilikinya. Tetapi suaminya.


Sederhana sekali pikiran Muna, yang hanya bermaksud mementingkan keluarga terlebih dahulu. Bahkan tidak peduli ada hati tang hampir gila memikirkan keberadaannya.


Sisi lain Muna tiba-tiba penasaran bagaimana rasanya menjadi anak orang kaya, untuk menebus waktu selama ini, tumbuh besar menjadi anak yang di asuh oleh orang tua, yang bahkan tak sanggup untuk membiayai kuliahnya sekalipun?


Parahnya... Kini Muna menomorduakan urusan cintanya. Ia masih kagok dengan asal usulnya. Bukan hal yang mudah baginya menemukan identitas baru juga keluarga baru. Yang juga harus ia kasihani, orang tua kandung. Yang tentu akan menuntunnya mendapat tempat terindah di sorga kelak.


Bohong saja Muna tak rindu pada Kevin, namun kini fokusnya belum bisa pecah merujuk ke nama pria itu. Kini Muna justru lebih tegang saat mobil hitam panjang yang mereka tumpangi sudah berhenti di sebuah pelataran rumah mewah...ups bukan rumah tetapi lebih tepatnya istana.


Muna pernah di ajak Kevin masuk ke rumah mewahnya, dan sempat lalat hampir masuk ke mulutnya akibat ia ternganga udik, akan kemewahan rumah keluarga Mahesa. Tetapi, woow. Ini bahkan berlipat kali ganda lebih mewah dan megah dari rumah Kevin.


Muna bertingkah sewajarnya, seolah dadanya tak bergemuruh ramai, bagai suasana club malam yang hingar bingar membuncah pecah dalam hatinya. Ia mampu menahan emosi jiwanya yang meronta tuk bilang "Ya Allah mama dan abah aye ternyata sekaya ini yak?" Muna keder sesungguhnya, namun berusaha diam so' anggun menutup perasaan yang sesungguhnya.


Rumah itu terdiri dari 7 lantai, yang di dalamnya ada fasilitas lengkap, kolam renang, bar mini, lift juga satu ruang persis kamar rawat inap rumah sakit. Kalian sebut saja apa nama jenis peralatan medis semua ada dalam ruangan itu, bahkan mirip sebuah ICU.

__ADS_1


Selalu ada 1 dokter jaga dan 3 perawat berganti ganti yang bertugas di sana. Untuk merawat pria tua berusia hampir 80 tahun yang tergolek lemah, sakit dalam keadaan penyesalan berkepanjangan. Akibat ulah dan perbuatannya sendiri. Pernah ingin membuang cucu darah dagingnya, yang bahkan hanya pernah di lahirkan sekali itu saja dari rahim keturunan Hildimar.


Penyakit beliau sangat berhubungan dengan sarafnya. Yang terkadang membuatnya harus di beri suntikan penenang, sebab jika pikirannya tiba-tiba tergangu, ia bahkan bisa mengamuk dan ingin bunuh diri.


Terkadang seharian waktunya ia habiskan untuk termenung, seperti memikirkan sesuatu. Namun, mulutnya terkunci rapat. Tak mau bicara apapun pada siapapun.


Jika Rona datang menjenguk, kata yang keluar dari mulutnya hanya pertanyaan tentang keberadaan cucunya.


"Dokter... Bagaimana keadaan papa?" tanya Rona segera pada dokter yang sedang jaga siang itu. Saat mereka telah tiba di kediaman Hildimar Herold.


"Tekanan darahnya sudah stabil. Kemarin beliau sempat mengamuk lagi nyonya. Hal itulah yang membuat fisiknya melemah dan tekanan darahnya naik, serta sedikit sesak nafas. Dan... Jantungnya sempat drop semalam. Saya khawatir jika hal ini berulang, mungkin kita sudah saatnya memikirkan kemungkinan terburuk beliau." Jelas dokter pada Rona.


"Apakah sekarang papa sudah boleh di jenguk?" tanya Rona yang sudah mengebu ingin segera mempertemukan anaknya pada sang kakek.


"Boleh, tapi jika beliau tidur sebaiknya jangan di bangunkan. Biarkan beliau bangun dengan sendirinya. Untuk menghindari kejut jantungnya." Saran dokter pada mereka yang tampak telah siap masuk ke kamar kakek.


Mereka masuk dengan perlahan, Rona memasang jari telunjuknya di depan bibirnya, meminta pada yang lain agar tidak berisik.


Muna terenyuh melihat tubuh ringkih, tua tak berdaya terbaring di atas bed pesakitan di depannya. Pandangan mata Muna berpendar, tertegun melihat semua alat bantu pendukung agar napas kakek itu tetap tersambung.


Muna mendekat, memberanikan diri ikut menjamah tangan dingin pucat didepannya. Meraba, mengelus ke atas dan kebawah tak beraturan namun dengan lembut dan sangat lambat.


Sesungguhnya Muna tidak tau bagaimana bersikap dengan pria tua yang tergolek lemah di depannya itu.


Apakah ia harus marah? Tetapi apa haknya?


Apakah harus memaafkan? Namun, kesal itu masih mengganjal.


Sebentar... Bukankah jika pria tua ini tidak mengancam untuk membuangnya, ia tidak akan pernah bertemu dengan babe dan nyak yang begitu luar biasa menyayanginya?


Tes


Airmata Muna luruh lagi bahkan sukses jatuh pada permukaan kulit keriput yang sedang dipegangnya sedari tadi.

__ADS_1


Sontak mata pria tua itu terbuka, memicingkan mata ke arah Rona dan Muna yang memang berdiri bersebelahan.


1 detik


2 detik


3 detik


Netra birunya sama seperti yang di miliki Rona dan Muna. Masih memandang lekat bergantian pada keduanya.


"Paaa... Ini cucumu." Tukas Rona dengan nada selembut mungkin


Mata pria itu terbelalak, mendadak tangannya memegang dada di mana jantungnya berada.


Nafasnya tertahan, dengan posisi mulut terbuka namun tak dapat bersuara. Kemudian terkulai lemah, pinsan.


Rona histeris memanggil dokter yang berada di luar kamar itu.


Dokter dengan sigap berlari mendekat, menghampiri pasien khusus, sumber mata uangnya. Betapa tidak, uang mengalir sempurna ke rekening mereka. Tanpa susah payah seperti dokter pada umumnya yang sibuk bekerja dari rumah sakit satu ke rumah sakit lainnya.


"Bagaimana keadaan papa dokter?" tangis Rona menjadi-jadi saat melihat ekspresi dokter itu hanya mampu menaikkan kedua alisnya, mengeryit seolah tak paham dengan reaksi keadaan pasiennya tersebut.


Bersambung...


Sabar yaaak, kita road show di Belanda dulu.


Harap tenang beberapa bab kedepan masih mengandung bawang.


Mawar kopi selalu nyak nanti


nyak Lope kalian semua😍


Hildimar Herold

__ADS_1



__ADS_2