OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
EKSTRA PART : DI LUAR SKENARIO


__ADS_3

Gilang takjub melihat kotak perhiasan yang berkilaian dan memang tampak sederhana namun elegan. Yang ibu sodorkan untuknya.


“Maaf bu. Ini milik ibu yang paling berharga dari ayah, sebaiknya ibu simpan saja sebagai kenangan ibu dan ayah. Gilang merasa tidak pantas jika Neng Gita yang nanti akan memilikinya. Mengapa ibu tidak berika untuk teh Arum saja, dia anak perempuan ibu, dan nanti jika rindu masih bisa lihat dengan teteh.” Tolak Gilang.


“Selama ini hidup kita memang susah, mas kawin ibu memang sudah lama terjual untuk menyokong hidup selama ini. Tapi tidak dengan perhiasan berlian ini. Tetehmu saat menikah juga sudah ibu berikan satu set perhiasan tapi tidak sebesar ini. Itu ibu miliki saat masih menikah dengan ayahmu. Kalau ini memang di berikan bersamaan dengan mas kawin ibu dulu.” Terang ibu dengan pelan.


“Tapi Gilang rasa ini berlebihan bu?” Gilang masih keukeh untuk menolak pemberian itu.


“Tolong sampaikan saja, ibu percaya Gita orang yang tepat untuk menjadi pendamping hidupmu. Jika kamu menganggap ini adalah pemberian ibu, silahkan kamu tambah mas kawin yang memang kamu beli dari hasil keringatmu sendiri. Bagaimanapun, mahar adalah satu kewajiban pertama suami pada istri, bukan hadiah atau seserahan semata. Berilah sesuai dengan kemampuan, bukan suatu paksaan melainkan di penuhi dengan suatu kerelaan. Dan ibu dengan sangat rela memberikan ini untuk calon istrimu.” Bijaksana sekali ibu Gilang memaparkan pada anaknya.


“Alhamdulilah. Ini Gilang terima ya bu. Terima kasih banyak untuk restu dan dukungan ibu.”


“Sudahlah… seperti dengan siapa saja.” Ibu dan Gilang pun lagi-lagi saling berpelukan hampir ngalah-ngalahin teletubies gaes, mestinya suasananya haru, tapi kali ini ga cuma haru tapi biru juga, sebab pikiran ibu Gilang justru melayang pada saat manisnya hari-hari menuju akad nikahnya 34 tahun yang lalu.


Gilang terpaksa menghubungi Kevin untuk berkonsultasi, mengingat bos sekaligus calon kakak iparnya tersebut berada di Jakarta sehingga menurut hematnya ia bisa memastikan, calon mertuanya tidak akan terlalu sibuk untuk menyiapkan semuanya untuk mereka. Namun, bukan hanya kemudahan yang Gilang dapat, melaiankan justru ibu Gilang sudah Muna dan Kevin tunggu di rumah kediaman Hildimar di Jakarta Selatan. Sesungguhnya Gilang malah merasa tidak enak. Tapi, memang nasib mujur selalu berpihak pada Gilang.


Sebelum berangkat Gilang menitipkan beberapa gepok uang pada Arum, agar kakaknya tersebut menyiapkan seserahan untuk Gita. Ya walau mungkin tidak cocok dengan selera Gita, tapi setidaknya dari Ninik, Gilang sudah mengetahui secara detail parfum, dan prodak kosmetik apa saja yang di gunakan calon istrinya selama ini. Sehingga kira-kira Insyaallah, Gita akan suka saat menerimanya.


Saat ibu dan Arum sudah tiba di Jakarta di hari Rabu, rencana hari H adalah Jumat pukul 10 pagi. Maka Gilang harus mencari alasan untuk mengajak Gita dengan alami untuk pergi ke Jakarta. Agar dia tidak curiga. Sebab Sabtu siang jadwal mereka akan berangkat Ke Swiss lewat Jakarta.


Akhirnya Gilang memang harus bekerjasama dengan Danu yang di tugaskan dalam hal membeli tiket dari Bandung ke Jakarta. Maka mereka beralasan tentang tiket keberangkatan yang hanya cukup untuk 17 orang saja, sehingga mereka mengorbankan 3 orang untuk berangkat dari bandara lain. Dan sebagai seorang wakil CEO yang baik, ceritanya Gilang dan Gita terpaksa akan berangkat dari Jakarta saja.


“Neng… biar kita ngalah lewat darat saja ke Jakartanya ya Neng. Biar kita bisa lebih lama di jalannya.”


“Ini bukan modus kan A’a. Mau lama-lama aja ama eneng.” Tebak Gita asal.


“Ya… sambil menyelam minum air juga sih neng.”


“Iya… eneng mah. Nurut aja sama A’a. Berarti neng bawa ransel satu lagi, untuk di tinggal di Jakarta. Neng juga kangen tidur di kamar neng di Jakarta.” Gita sudah membayangkan kamar pribadi yang lama ia tinggalkan.


“Yakin kangen tidur di kamar sendiri neng?”

__ADS_1


“Gimana?”


“Kali mau di temenin bobo di kamar yang udah lama ga di tiduri itu.”


“Hahahaa…. Halalin eneng dulu A.” Kekeh Gita sambil memencet hidung Gilang gemesh.


“Wajib yaah… di Singapura kita ga pake halal juga udah tidur bareng kan?”


“Ya kan kita Cuma tidur a’a.” seloroh Gita.


“Emang a’a ada bilang kita ngapain. Kan emamg tentang bobo bareng aja dari tadi neng.” Merah meronalah itu pipi Gita malu, ketahuan deh dia sesungguhnya sudah ngebayangin ber iya-iya saja dengan pria yang selalu gagal membuatnya waras dalam hal berpikir jernih.


“A’a… malu niih.” Jujur Gita menutup wajahnya dengan dua telapak tangannya.


“Maaf Neng. Eh, kita berangkatnya besok sore aja ya neng. Jumat pagi a’a ada pertemuan dengan calon kolega bisnis di Jakarta.” Gilang mulai mengarahkan tujuan pembicaraan.


“Masa… kok ga lewat eneng janjiannya, bukannya eneng sekretaris a’a?” curiga Gita.


“Ini baru aja ngechat, kebetulan teman A’a kuliah yang sekarang memulai bisnisnya di Jakarta.” Alasan Gilang.


Gilang merasa lega dan kemudian menyampaikan kabar terkini tersebut pada Kevin yang memang di buat agak repot karena idenya sendiri. Di sisi lain Muna justru sangat senang dengan kehadiran ibu Gilang, Arum dan dua anaknya. Diendra sebenarnya agak keberatan setelah tau calob besannya tidak menginap di rumahnya, tetapi Kevin dan Muna selalu punya alasan untuk memberi alasan yang masuk akalnya. Sehingga menerima keputusan itu.


Kamis tiba, Gilang sudah tampak komat kamit berdiri di depan cermin untuk berlatih melafalkan kalimat qobul yang besok pagi akan ia ucapkan sembari berjabat tangan dengan Diendra ayah kandung Gita. Calon mertua yang sudah berni ia panggil dengan sebutan papi. Setelah merasa semuanya sudah ia hafalkan, ia pun segera bersiap untuk pergi ke kantor. Hari ini adalah hari terakhirnya ke kantor sebagai pria lajang. Sebab sepulang dari perjalanan dinas nanti statusnya sudah akan berubah dan tidak perjaka lagi. Hmm…


Saat adzan memanggil, Gilang sudah menepikan kendaraan roda empatnya setelah melewati 3 ruas jalan tol yakni Tol Jakarta Cikampek, Tol Cipularang dan Tol Padaleunyi. Sebab mereka berangkat kurang lebih pukul 3 lewat, sehingga saat magrib mereka baru tiba masih di pinggiran luar kota Jakarta. Dan setelah melaksanakan sholat mereka berdua memuituskan untuk makan malam terlebih dahulu.


“Neng… pulang ini a’a langsung antar ke rumah?”


“Ya iyalah A’…”


“A’a… tidur dimana neng?”

__ADS_1


“Terserah a’a. Ke sini kan mau ketemu temennya a’a. Ya sama dia aja kali a’…” saran Gita pada kekasih yang pasti tidak akan mengijinkannya membawa Gilang untuk menginap sebelum sah menjadi suaminya.


“Huum… iya juga sih. Orang tua neng udah tau neng mau datang?” pancing Gilang agar Gita menghubungi orang tuanya.


“Belum sih. Tapi biasanya mereka kalo keluar kota atau keluar negeri sih pasti bilang.”


“Oh… kali aja kaya ketua RT gitu. Mau datang harus laporan dulu.”


“Ha… ha… ha. Si A’a ada-ada aja. Tapi… iya deh boleh juga. Eneng telpon mama deh lumayan kan kamar bisa di bersihin duluan.” Ucap Gita yang langsung mangambil gawainya untuk menelpon mama Indira.


Gilang sibuk menyembunyikan tawanya agar wajahnya terlihat polos tanpa dosa, sebab semua yang terjadi adalah bagian dari rekayasa mereka semua.


“A’… Ga jadi antar neng ke rumah. Kamar Gita plafonnya jebol, lagi di rehab. Jadi Neng di suruh tidur di hotel.”


“Hah…?? Kok bisa?” Kejut Gilang pura-pura donk.


“Ga tau juga, ga jelas si mama.” Gita agak kesal.


“Ya udah a’a antar ke hotel mana?”


“Tau ah… ke rumah kak Kevin deh?”


“Hah…?? Ngapain ke sana?” Kejut Gilang. Ini di luar skenario mereka, bisa kacau kan kalo Gita ke rumah Kevin yang bahkan mas kawin seserahan lengkap dengan calon mertuanya semua di sana.


Bersambung…


Hallooow


Udah siap kado buat duo G besok belom niih🤭


Titip mawar sama kopi aja, biar nyak kuat begadang nulis misteri MP mereka, okeh???

__ADS_1


Makasiih untuk semua suportnya.


Kalian luar biasa❤️❤️


__ADS_2