OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 88 : KETEMU BARA


__ADS_3

Kevin tampak benar-benar tau batasan. Walau jiwa cassanovanya meronta ingin melahap habis gadis kesayangannya yang kini di depan mata.


Sungguh ia tak ingin menambah ketakutan Muna atas sikap mesumnya. Sedapat mungkin ia hanya memeluk dan mencium kening, pipi dan sedikit menyenggol di bibir gadis yang sesungguhnya hampir membuatnya gila.


Kevin sengaja menyibukkan dirinya dengan gila kerja agar pikirannya tidak terfokus pada Muna yang belum ia halalkan untuk di sentuhnya.


Di samping itu, dengan fullnya kegiatan Kevin dalam menyelesaikan pekerjaannnya sekarang. Maka nanti, ia akan memiliki waktu yang lama dan leluasa saat menyiapkan pernikahannya dengan Muna sang penakluk cassanova.


Pembangunan kantor Kevin di Bandung akan segera rampung kurang lebih 30 persen lagi. Itulah mengapa Kevin tampak sangat sibuk dan lebih banyak menghabiskan waktunya di sana.


Sebab, jika nanti saat ia bertemu dengan papinya. Bukan hanya ijin untuk menikah saja yang ia ungkapkan, tetapi resign dari perusahaan ayahnya pun akan ia lontarkan. Dan meminta agar Ferdy saja yang mengganti posisinya sebagai CEO di perusahaan Mahesa.


Kevin ingin memulai semuanya dari nol baik usahanya juga rumah tangganya kelak dengan Muna. Ia benar-benar ingin fokus berkeluarga, dan menghilangkan jejak busuknya di ibukota.


Kevin sadar, meninggalkan ibu kota bukanlah cara menghapus kelakuakn busuknya. Tapi paling tidak, dengan ia tidak berada di sana dan bermukim di tempat yang baru, mungkin aksesnya kembali ke jalan sesat pun menjadi sedikit.


"Assalamuaaikum abang. Udah tiba belum...?" Muna memberanikan diri mengirim chat pada Kevin. Ia tidak ingin di cap sebagai kekasih bahkan calon istri yang tidak perhatian pada Kevin.


Tetapi sayang, inisiatif Muna berbasa-basi. Tidak di tanggapi oleh Kevin, sebab masih dalam perjalanan.


"Abaaaang. Muna boleh jalan dengan Siska ke mall ye bang. Mau liat-liat buku. Dan nonton juga. Boleh ye bang." Tidak di balas juga belum di baca, hanya tersampaikan


"Kalo abang ga bales, berarti boleh pan...?" Muna terus saja mengirim chat yang tak di tanggapi itu.


"Oke... Muna berangkat ye bang. Makasih." Muna bagai bermonolog sendiri dengan chat itu.


Muna dan Siska berpamitan sejak pagi sebelum berangkat ke kantor pada nyak dan babe. Jika sepulang kerja nanti mereka akan jalan-jalan. Untuk sekedar melepas penat lelah mereka yang selalu beraktifitas di kantor, bergelut dengan sapu, pel dan alat pembersih lainnya.


Muna dan Siska benar banyak menghabiskan waktu mereka di sebuah toko buku. Lama Muna memilih milah buku-buku yang berbau buku spiritual. Entah lah, ia merasa perlu sesekali memberikan sesuatu yang menurut Muna berguna untuk Kevin walau tidak sebanding dengan apapun yang pernah Kevin belikan untuknya.


Hari belum terlampau sore, sehingga matahari masih terlihat asyik berada di langit yang baru ingin beranjak menuju senja.


"Muna..." Suara seseorang memanggil nama Muna membuat mereka menoleh ke asal suara yang menyebut nama Muna tadi,


Tampak seorang lelaki dengan pakaian santainya duduk di tepian mall menikmati kudapan di sana, sendirian.


"Pak Bara... Mun. Itu pak Bara yang kemarin viral di grup kan. Kamu kenal?" bisik Siska sambil mengikuti Muna yang sudah berbalik mendekati panggilan tadi sebab sudah di sertai lambaian dari pria itu yang mengajak mereka bergabung bersamanya.

__ADS_1


"Iye...pan kemarin die kenalannye kesemua penghuni lantai 37. Kemane aje lu?"


"Yah ... kan aku tugasnya ga di lantai 37, cuma berposko doang." Jawab Siska tersenyum merekah mendapati pemandangan seorang cogan yang ternyata benar-benar ganteng sesuai dengan yang di beritakan di grup kemarin.


"Haiii Muna... dari mana? Duduk gabung di sini saja."


"Iye makasih Pak. Ini, kami baru beli buku di dalem. Bapak sama sape...?" tanya Muna ramah sekaligus kepo.


"Sama mama, minta di anter belanja. Supirnya sakit. Papa dinas luar. Muna sama siapa?" tanya Bara yang dari tadi lirik-lirik ke arah Siska.


"Ini kenalin Siska, temenye Muna. OB juga, spesialis di lantai mana ye ... lupa."


"Lantai 34." jawab Siska sambil menyambut uluran tangan perkenalan dari Bara yang membuat jantungnya berloncatan. Mungkin mendadak Siska mengidap suatu penyakit baru, tiba-tiba ia merasa sekujur tubuhnya di sergap rasa dingin yang tidak tau berasal dari mana.


"Bara."


"Siska."


Keduanya beradu tatap, masih dalam posisi berdiri berhadapan.


"Udee kenalannye...?" Muna mengagetkan keduanya yang ternyata masih dengan tangan saling bertautan.


Reflek Bara melepas jabat tangannya dan menyilahkan mereka duduk.


"Oh... eh .. iya. Muna, Siska pesen minuman atau makanan deh. Tidak sedang buru-buru kan, bolehlah temani aku di sini dulu." Pinta Bara dengan sopan yang kali ini melempar pandangannya pada Muna.


"Kagak... kami ude pamit ama babe dan nyak kok." Jawab Muna dengan santai.


"Muna... aku tinggal ke toilet sebentar ya." Pamit Siska yang ingin segera menetralkan rasa grogrinya setelah bertatapan dengan cogan si Bara tadi.


"Iye...hati-hati." Jawab Muna.


"Kalian serumah...?" tanya Bara kepo.


"Iye pak Bara." Jawab Muna yang selalu lebih duluan menanggapi pertanyaan Bara.


"Muna... ga usah panggil bapak. Apa iya aku setua itu sampai harus di panggil pak Bara."

__ADS_1


"Maaf ... takut kagak sopan. Pan bapak atasan Muna di kantor."


"Sekarangkan kita sedang di luar kantor, panggil mas saja." Pinta Bara dengan cueknya.


"Ngapaa...?"


"Karena mas kan orang Jawa jadi itu panggilan yang sopan untuk seorang laki-laki yang lebih tua."


"Oh gitu ye. Moga lidah aye kagak blibet deh m...mas Bara." Jawab Muna.


"Mas Bara... kelamaan ya nungguin mama. Setelah ini kita mampir ke Butik dulu ya. Mama mau ambil pakaian yang nanti di pakai saat acara perpisahan papa mu." Cerocos seorang wanita yang berpenampilan elegan dengan beberapa paper bag di tangannya.


"Hmm... iya mama." Jawab Bara malas-malasan.


"Eh... mas Bara ada temennya. Siapa sayang, calon mantu mama ya. Cantik sekali. Kenalkan saya Puspa mamanya mas Bara." Dengan penuh percaya diri ibu itu menebak Muna adalah kekasihnya Bara.


"Muna." Jawab Muna singkat sambil membalas jabat tangan bu Puspa.


"Entar saja kita pulangnya, mungkin mas Bara mau agak lamaan berduannya di sini." Ungkap bu Puspa masih dengan gaya penuh percaya dirinya.


"Pesen makanan deh ma... biar lamaan." Jawab Bara yang juga ternyata tidak mau melewatkan kesempatan bersama Muna di sana.


Siska sudah kembali dari toilet. Tentu giliran Siska yang berkenalan dengan bu Puspa. Tetapi respon bu Puspa tidak se antusias saat ia berkenalan dengan Muna tadi.


Siska, Muna, Bara dan bu Puspa tampak telah berbaur dan saling bertukar cerita lucu di sana, seakan telah kenal lama.


Sampai Muna di kagetkan dengan getaran ponselnya, dengan icon camera berwarna biru yang meronta-onta minta di sentuh olehnya. Kevin, pada gawai itu sangat jelas wajah Kevin yang muncul di sana.


Bersambung...


Nah... kira-kira si babang Kevin cemburu kagak ye ame si Bara.



Lop yu all


πŸ˜˜πŸ™β€οΈ

__ADS_1


__ADS_2