
Prosesi akad nikah telah selesai, Gita dan Gilang sudah terikat dalam janji suci pernikahan di hadapan Tuhan dan saksi. Sudah tak ada aral merintangi hubungan keduanya, bisikan dan rayuan zeitan pun kini sudah tak lagi berguna untuk membuat mereka terpengaruh untuk melakukan hal-hal yang melampaui batas saat mereka tak berjarak seperti yang sudah-sudah.
Gilang dan Gita mendadak jadi ratu dan raja sehari. Gilang tak sadar, saat Kevin dan Diendra mencetuskan ide untuk mendadak nikah dan membuat surprise untuk Gita. Ternyata hal itu di manfaatkan Diendra untuk melaksanakan acara tersebut sesuai dengan yang ia inginkan.
Awal masuk pekarangan rumah Mahesa, tentu Gilang yang terlebih dahulu speechless melihat dekorasi dan segala sajian yang sudah berjejer rapi di sana. Gilang hanya sanggup menelan salivanya, bahwa ini baginya sudah mirip dengan pesta resepsi yang di laksanakan di rumah. Mungkin bagi keluarga Mahesa ini sederhana, tapi untuk ukuran Gilang dan keluarga ini sudah termasuk mewah. Tapi, apa mau di kata. Menghindar tak punya alasan, menunda lagi di kira mempermaikan anak gadis orang. Memilih setuju dengan rencana mereka mungkin itu yang terbaik.
Para tamu segera menyerbu aneka kudapan dan sajian menu makanan lengkap khas di kondangan pada umumnya. Senyum Diendra selalu tercetak saat menerima ucapan selamat bahwa ia sudah resmi memiliki menantu. Ibu Gilang tak kalah haru menyaksikan anaknya yang telah dengan lantang juga yakin sudah sah memperistri Gita.
“A’a… kok jahat banget sih ngerjain neng?” tanya Gita di sela-sela mereka menerima ucapan doa. Restu dan selamat dari para tamu yang tidak banyak. Hanya berkisar lima puluh sampai seratus orang saja termasuk para kru WO yang bekerja.
“Yang kena prank bukan hanya eneng, a’a juga.” Gilang membela diri.
“Masa… tapi A’a taukan hari ini kita nikah?”
“Iya… kalo itu a’a tau. Tapi yang acaranya sebegininya a’a ga tau neng.” Jawab Gilang lagi.
Jumat hari pendek. Akad dilaksanakan pada pukul 10 pagi. Tentu jeda waktu setelahnya sangat mepet untuk kemudian kaum lelaki melaksanakan sholat Jumaat di masjid. Secara tidak langsung pestanya bubar. Kevin, Diendra, Daren, Gilang, Asep dan babe Rojak sudah hanya berjalan kaki menuju masjid yang masih di area komplek itu, untuk sholat bersama. Sedangkan para wanita hanya melaksanakannya di rumah.
“Sini Git, mama bantu bersih bersihnya.” Indira sudah tampak mengenakan pakaian rumahan dengan dandanan yang masih tersisa di wajah dan kepalanya.
“Mama… kok ga bilang Gita kalo hari ini bakalan akad?”
__ADS_1
“Hum… semuanya begitu mendadak Git. Kevin dan papi yang punya ide ini. Mama hanya kebagian di suruh bohong aja untuk bilang kamar mu plafonnya jebol.” Kekeh Indira melaporkan.
“Sumpah… Gita tuh ga kepikiran sama sekali lho. Kalo sedang di prank. Sampe ga n yadar gitu mau aja di dandanin pake baju akad ini. Sanggulan. Ih… norak banget sih Gita ma.”
“Tapi suka kan Git?” tanya mama masih dengan suara senangnya.
“Aduh ma… udah ga bisa Gita bilangin deh rasanya. Tapi… ya makasih saja lah yang pasti.” Gita pun memilih tak panjang memaparkan narasi yang ia rasakan.
“Selamat ya Git. Anak mama udah sah nih jadi istri. Jaga rumah tanggamu ya nak. Bicarakan semuanya dengan baik-baik pada suami, agar tidak ada celah orang ke tiga masuk dalam rumah tanggamu. Mama beneran sangat takut akan hal itu.” Indira mulai khawatir lagi.
“Ah, sudah lah ma. Gita ga mau mikirin hal-hal begitu. Gita hanya percaya sama Allah dan minta supaya kami panjang jodoh hingga maut saja yang memisahkan. Dan minta agar hati kami selalu di buat jatuh cinta setip hari pada orang yang sama.” Jawab Gita yakin.
“Amiiin. Mama ikut doakan nak.” Indira sungguh takut karmanya sebagai pelakor akan terimbas pada Gita. Biasalah, penyesalan kan setelahnya, karena yang di awal adalah pendaftran. Stt… jangan berisik.
Gilang sudah di persilahkan masuk ke kamar Gita setelah pulang dari masjid. Jangan tanya bagaimana reaksi Gilang saat baru saja mengucap salam khas di dalam hatinya, ia merasa bagai berada dalam sebuah kamar khas pengantin pada umumnya. Dimana kamar tersebut di penuhi bunga-bunga serta wewangian yang justru membuatnya takut untuk merebahkan tubuhnya di sana. Alhasil, Gilang hanya berani duduk di salah satu kursi yang ada do pojok kamar itu, dan masih dengan pakaian kokonya.
Gilang menscroll foto-foto di ponselnya, saat tim WO sudah mengirimkan beberapa foto keramat di acara sakralnya tadi. Gilang masih bagai bermimpi jika kini sudah sah menjadi suami Gita. Jantung Gilang berpacu tak karuan, saat hanya mendengar suara ‘ceklek’ saja. Saat engsel pintu kamar mandi Gita itu berputar. Ia mendadak merasa sesak nafas dan sulit mencari oksigen di dalam kamar wanita yang sudah jadi istrinya tersebut.
Gita keluar sudah dengan pakaian rumahan lengkap sederhana, kaos berlengan bahkan longgar dan gombrong dan hot pants. (Hot pant ya gaes, tentu di sekitaran paha, bukan di bawah lutut). Ya Tuhan, apakah Gita sedang mulai melancarkan aksinya untuk menggoda suaminya, atau malah lupa jika di dalam sudah ada lelaki yang telah jadi suaminya. Hanya dengan melihat kaki jenjang dan paha yang tertutup separo itu saja, sudah membuat Gilang panik, buah jakunnya naik turun, sibuk menelan salivanya sendiri bolak balik. Bagaimana tidak panik, bahkan rambut yang di gelung handuk keatas itu justru adalah pemandangan baru bagi Gilang dan anehnya malah terlihat seksi saat istrinya itu berpenampilan begitu natural.
Sebenarnya Gita jika secara kasat mata saja terlihat berjalan di atas ubin lantainya. Sebab sesungguhnya kakinya tak berasa berpijak, semacam kunti mungkin, ngambang gitu. Gita sesungguhnya merasa tetiba udara di kamarnya mirip hawa di Arafah sana, panas gaes. Tapi, Gita mampu menyembunyikan gemuruh lucknuts yang bergejolak di hatinya tersebut.
__ADS_1
“A’a sudah pulang sholat.” Tergurnya setelah menenangkan badai.
“Iya neng.” Jawab Gilang mendadak dungu, kehilangan kesaktian. Kemana saja segala kegombalannya meluap? Apa efek dakwah di masjid tadi mendadak membuatnya taubat, dan tak berdaya untuk menggoda wanita yang sudah sah jadi miliknya itu.
“A…”
“Iya neng”
“Neng tuh benernya kesel lhoo sama a’a? Ujar Gita yang kini sudah memilih duduk di samping Gilang.
“Ya Allah, kesel sih kesel tapi duduknya ga mepet gini juga kali, mana tubuhnya wangi banget lagi habis mandi. Ini bidadari air mandinya kayaknya bukan air biasa kali, tapi parfum semua. Allah… ini bener udah boleh Gilang makan kan?” seloroh Gilang dalam hatinya.
“A’a… kok bengong?” Gita membuyarkan lamunan singkat Gilang.
“Oh… eh… iya gimana?” Sumpah Gilang ga tau harus ngapain saat hanya berduaan di kamar pengantin mereka itu.
Bersambung…
Hallow readers… maafin nyak sempet ghosting ya
Sedang berada di dunia nyata yang momennya jarang bisa terulang
__ADS_1
Harap maklum✌️✌️