OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 152 : MENIKMATI SISA WAKTU


__ADS_3

Mentari telah pulang keperaduan, cakrawala senja telah datang menyapa. Waktu bersama Muna telah habis. Dengan perasaan masih rindu dan berat hati, Rona harus tetap mengantar Muna kembali ke rumah nyak dan babe.


Rona berusaha tegar, bertindak sebijak mungkin. Tidak ingin merusak tatanan hati Muna. Rona ingin Muna benar merasa bahwa ia benar ingin menebus kesalahan mereka di masa lalu.


Sementara Kevin bagai terkurung dalam pekerjaan yang tidak dapat ia tinggalkan. Jalinan kerjasamanya dengan salah satu perusahan besar di Singapur yang selama ini di rintisnya, akhirnya membuahkan hasil.


Sepulang Kevin ke Indonesia nanti, ia sudah harus konsentrasi dengan pabrik farmasi dan pengadaan peralatan medis yang sejak lama ingin di rambahnya, kini sudah di depan mata. Entah mengapa ia memilih bidang itu. Sehingga inilah yang membuatnya harus bolak balik Singapura selama ini, demi mendapatkan kontrak besar di bidang serupa.


Jangan tanya bagaimana cerewetnya Kevin dalam urusan menghubungi Muna, dosisnya bahkan lebih dari seorang pasien makan obat.


Sesuai janjinya pada Kevin, Muna akan menunggu Kevin pulang. Maka Muna meminta penundaan waktu untuk bertolak ke Belanda.


Muna banyak menghabiskan waktunya di rumah, menikmati sisa waktu kebersamaannya dengan nyak dan babe.


Muna sudah memulai khursus bahasa Inggrisnya via online. Dan mulai melahap semua buku berbasis managemen bisnis sesuai saran abah dan mama Rona.


Sepekan berlalu. Babe Rojak pun terlihat sudah mulai dapat berjalan pelan tanpa bantuan tongkat. Hal itu tentu saja berkat campur tangan Rona yang sudah membayar terapis untuk selalu datang ke rumah babe untuk mempercepat kesembuhan babe.


"Muna... Ini akhir pekan. Bagaimana kalau kita main ke rumah ambu kembali. Ajak babe, nyak dan Siska juga. Biar mereka makin kenal dengan ambu." ajak Rona via telepon pada Muna di pagi sabtu.


Dengan senang hati Muna menyambut ide yang tidak buruk itu. Dan segera menyampaikan ajakan Rona tadi pada babe, nyak dan Siska.


Dalam 30 menit Dadang dan Rona sudah membawa mobil Van mewah dengan interior menyerupai dalam pesawat.


"Masyaallah... Panjang umur be. Eniih mobil ape pesawat ye... Nyak sering liat yang beginian cuma di tipi be." Ceplos nyak yang tidak dapat menyembunyikan rasa takjubnya melihat interior lux dalam mobil yang di bawa oleh Dadang.


"Babe duduk di depan saja, temenin abah ya. Nanti kami para wanita di belakang semua." Ujar Rona mengatur tempat duduk mereka.


"Ya Allah... Ini masih longgar. Masih bisa bawa orang seR-Te." Lebay nyak Time yang masih belum dapat menguasai diri dari kesenangannya.


"Nanti di desa kita ajak ambu dan a' Asep ke kebun teh. Sambil menikmati makan siang di lereng. Pasti sangat mengasyikan, nyak" ujar mama Rona semangat.


"Alhamdulilah... Mimpi ape aye semalam. Tetiba di ajak piknik dadakan macam ini. Makasih ya mak Muna."


"Santai saja nyak. Alhamdulilah kita masih di beri nikmat sehat, sehingga bisa menjalani hari ini bersama orang yang sama sama kita sayangi." Ujar mama Rona sungguh merasa bahagia.

__ADS_1


Obrolan terus mengalir di antara mereka sepanjang jalan. Sungguh mereka satu sama lain dapat saling menerima. Saling bersepakat untuk bersama menyayangi Muna sebagai anak mereka bersama. Yang layak untuk di limpahi kasih sayang dari mereka semua.


Mengindahkan rasa cemburu, rasa curiga serta merelakan dan ikhlas akan waktu yang telah berlalu. Tidak ada rasa dan keinginan di antara mereka untuk lebih mendomimasi Muna akan memilih siapa. Kenyamanan dan kebahagiaan Muna yang utama.


Mereka sudah tiba di rumah ambu. Tampak Asep pun sudah siap menyambut kedatangan tamu yang sudah ia ketahui sebelumnya.


"Selamat datang kembali di rumah ambu, atuh neng Muna. Kumaha damang?" Sapa ambu yang memang kadang masih totok dengan bahasa Sundanya.


"Ambu teh, tanya kabarnya neng Muna." Jelas Asep yang mengerti jika Muna tak paham dengan yang di maksud oleh ambu.


"Oh... Muna bae ambu. Tuh... Babe Muna juge Alhamdulilah sehat juge."


"Alhamdulilah." Jawab ambu ramah.


"Saha gadis geulis ieu, Kuring kakara nempo eta?"


(siapa gadis cantik ini, ambu baru melihatnya) tanya ambu menunjuk ke arah Siska.


"A' Asep... Ambu ngomong ape?" bisik Muna pada sepupu ketemu gedenya itu.


"Anjeunna teh, Siska sobat neng Muna ambu." (Dia itu, Siska Temannya Muna, Ambu).


Jawab Asep pada ambu.


"Euleh...euleh. Cantik pisan nya. So' atuh A'a di deukeutan." ( Cantik sekali, buruan di deketin).


"Ambu mah kitu. A'a teh geus aya si Laela. Bade kamanakeun?" (Ambu kok gitu, Asepkan sudah punya si Laela, mau di kemanakan) Asep dan ambu terlihat makin asyik saja ngobrol berdua. Tanpa mereka tau Siska yang berasal dari desa Cikoneng, yang juga termasuk suku Sunda tentu tau apa yang keduanya perbincangkan.


"Ambu, sudah siap piknik?" tanya Dadang hangat pada ibunya.


"Siap atuh Kang Dadang. Hayu barangkat."


"Abah... didieu hayu atuh ngajalankeun mobil. Abah teh ngan diuk di balakang nya." (Abah, biar aku saja yang membawa mobilnya. Abah duduk di belakang saja.) Pinta Asep yang juga memanggil Dadang dengan sebutan abah sejak kecil.


Dadang sudah langsung menyerahkan kunci mobil tersebut pada Asep.

__ADS_1


"Karena abah di belakang, jadi babe di belakang juga kalo gitu." Tukas babe yang tiba-tiba ingin ikut masuk dalam obrolan seru di bagian belakang kemudi.


"Ya... Kalo semua di belakang A" Asep siapa yang nemenin?" Rona bertanya pada siapa saja yang ingin menjawab.


"Siska... Tolong elu aje dah, yang temenin a'a Asep di depan. Kesian pan kagak ade yang nemenin ngobrol." Pinta Muna tiba-tiba muncul jiwa comblangnya.


Siska tak merasa memiliki alasan untuk menolak. Sebab ia tau, keluarga baru tersebut sedang tak ingin tercerai berai, maka dengan senang hati Siska masuk ke pintu sebelah kemudi. Di sambut senyum manis sang supir, cowok bening nan kasep rupawan.


Mobil sudah berisi penumpang dengan formasi lengkap. Siska antara senang dan cemas memilih memasang wajah tenang di sebelah Asep.


Namun belum jauh mobil itu melaju, Asep terpaksa menghentikan kendaraan tersebut. Karena di depan jalan yang akan mereka lewati sudah ada seorang wanita berdiri tengah jalan dengan merentangkan kedua tangannya, cuek. Tidak peduli dengan terik matahari yang mulai galak menyinari bumi.


Siska hanya menolah ke arah Asep. Ingin bertanya siapa?


Tetapi justru Siska yang siapa? Berani bertanya siapa wanita yang melintang didepan.


Siska masih dalam mode bingung, namun Asep sudah turun dengan wajah sedikit merengut kesal sembari bergumam tak suka.


" Laela...!!!"


Asep sudah dekat wanita itu. Meraih tangannya dan mengajaknya sedikit menepi.


Jelas sekali pemandangan pada netra mereka yang hanya melihat dari kaca jendela.


Asep tampak bersitegang, serta menunjuk-nunjuk mobil yang mereka tumpangi.


Pembicaraan keduanya selesai. Namun, mungkin tidak berakhir dengan kesepakatan yang baik. Sebab di wajah keduanya tampak sama-sama masam, kecut seperti cuka berlebihan pada acar.


Bersambung...


Giliran Muna kan yang nunggu Kevin datang?


Percayalah semua komen reader nyak baca dan itu buat nyak makin semangat.


Makasiih timpukannya

__ADS_1


Berharap yang ghosting bakalan balik lagi🤭🤭


__ADS_2