
Tampak Siska masuk rumah di ikuti oleh Daren. Entah apa hubungan anak muda ini. Mendadak jiwa kepo nyak Muna berontak dong.
Selisih usia Daren dan Kevin 10 tahun. Artinya Daren berusia 25 tahun. Belum tua, juga tidak muda. Yang pasti selisih usianya dengan Siska kurang lebih 4 tahun, sebab Siska dan Muna sekarang sama-sama berusia 21 tahun.
Usia yang wajar jika akan mulai dekat dan ingin menjalin kedekatan yang bukan sekedar teman biasa tentunya.
"Kak Kevin..." Sapa Daren hormat yang langsung menyalim Kevin, Muna, babe juga nyak Time.
"Hm... Banyak kerjaan Ren?"
"Iya kak, kemarin kan sempat cuti pas kita Umroh, begitu datang giliran kak Ferdy yang ijin, menemani Kak Manda lahiran anak ke tiga." Jawab Daren pelan.
"Waw... Produktif sekali orang satu itu." Umpat Kevin lagi lagi mendengar Manda istri Kevin lahiran kembali.
"Kok bisa bareng Siska...?" Selidik Kevin yang ternyata justru lebih kepo dari Muna.
"Iya kan kami satu bidang kak. Lagi pula pas umrah juga udah kenal. Siska juga kerjaannya rapi, Daren banyak belajar dari dia, anaknya teliti." Ungkap Daren.
"Elu demen ame Siska...?" Tembak babe yang juga menyimak jawaban Daren.
"He...he. Suka sebagai teman kerja satu tim yang pasti be." Cengar Daren.
"Yakin... Hanya teman kerja? Bukan teman untuk membina rumah tangga?" Kepo Kevin yang lebih tepatnya seperti interogasian saja.
"Insyaallah yakin kak. Kalo untuk urusan membina rumah tangga, kami belum pernah berbicara ke arah itu. Tetapi, sejauh ini baik Daren atau Siska sendiri sepertinya sudah punya pilihan sendiri. Ya kan Sis." Daren tiba-tiba meminta pembenaran pada Siska yang tampak sudah keluar dari kamar mandi.
"Apaan?" bingung Siska dapat kalimat itu dari Daren.
"Ini babe dan kak Kevin, curiga kita dekat karena punya hubungan lebih dari teman. Aku bilang saja, kamu sudah punya pilihan sendiri. Dan itu bukan aku." Jawab Daren akrab.
"Harus ya di konfirmasi di sini, kalo kak Daren juga sudah punya pilihan sendiri, dan itu bukan Siska." Jawab Siska sambil senyum mengundang penasaran mereka yang mendengar jawaban kompak dari keduanya.
"Hahaa... Ya kagak perlu lah Sis. Ntar di kamar aje bisikin ame nyak ye." Jawab Nyak mengangkat kedua alisnya memberi kode ke arah Siska.
"Gampang nyak..." Senyum Siska mengembang.
"Ya... Kali pulang umroh rejeki jodoh kalian ke buka. Babe siih, maunya kalo emang punya niat baik, mending di segerakan aje."
"Haha... Babe. Buru-buru amat. Baru seminggu ini pulang umrohnya." Kilah Daren yang juga langsung akrab dengan babe Rojak.
"Udah ah, kakak sampe lupa dengan tujuan obrolan dengan mu Ren."
"Oh... Iya ada apa kak?"
"Kakak mau tawarin kamu kerja di perusahaan kakak yang di Bandung. Mungkin, setelah ini kakak lebih sering di Apeldoorn nemenin Mae. Jadi, perusahaan akan sering di tinggal Ren. Mungkin kamu bisa bantu lah di sana." Tawar Kevin pada Daren seolah menawarkan pisang goreng.
"Gimana ya kak? Daren selama ini masih di bimbing Bara dan kak Ferdy. Lagi pula, Daren juga masih harus ijin dengan papi. Boleh Daren pikirkan dulu tawaran dari kakak?" Jawab Daren yang memang tidak gegabah juga tidak langsung tergiur dengan pekerjaan baru.
"Iya... Silahkan. Ga mendesak juga sih. Hanya mengantisipasi saja, mungkin nanti istri kakak tetiba rewel kalo pisah lama. Besok sudah balik dia jadi anak kuliahan."
"Fitnah aja terus bang." Celetuk Muna menyela pura-pura marah pada suaminya.
__ADS_1
"Aah... Gitu aja sewot, becanda ini."
"Kak, Daren pulang dulu ya. Nanti ku kasih kabar jika menerima atau menolak tawaran kakak."
"Iya... Hati-hati di jalan."
"Siap. Assalamualaikum semuanya." Pamit Daren ramah.
"Walaikumsallam." Jawab mereka serempak.
"Ude malem, tong. Babe istrirahat duluan ye. Elu bedua, kalo ngadon jangan berisik ye, kesian Siska di sebelah, mata dan telinganye belom tercemar akan hal-hal yang sedang suka kalian lakukan." Kekeh babe.
"Ish... Babe. Mata dan telinga Siska entuh udah lama tercemar lewat tontonan drakornye be. Cuma belom nemu lawan mainnye aje di dunia nyata." Kilah Muna membela diri.
"Iye Sis...?" tanya babe sambil terkekeh tak peduli dengan jawaban Siska.
"Ga juga be, ga cuma lewat drakor. Secara live juga Siska pernah jadi nyamuk orang lagi pacaran, di teras rumahku pas di Cikoneng." Ledek Siska tiba-tiba.
Kevin dan Muna beradu pandang kemudian melempar sorot mata ke arah Siska.
"Maksud lo...?" penasaran Muna.
Siska tidak menjawab dan memilih mengamankan dirinya masuk ke kamar tidur kecilnya dengan mimik wajah senang sudah berhasil hampir membuka aib Kevin dan Muna malam itu.
Muna ingin masuk ke kamar Siska, tapi Kevin tahan dan membawanya segera masuk ke kamar Muna.
"Ih... abang. Muna belom tanya ke Siska dia liat apaan di Cikoneng."
"Kagak sih."
"Ya sudah. Sini abang peluk, udah kangen lagi tau."
"Tuh kan. Abang kan yang selalu kangen bukan Muna."
"Iya sayangku, abang yang selalu kangen bahkan di setiap detik dan dalam setiap hembusan nafas abang, maunya selalu di sisi Mae." Rayu Kevin mulai beraksim
"Buseeet.. ini rayuan bukan kaleng-kaleng dah." Kekeh Muna yang sudah membiarkan saja jari jemari Kevin menyelinap, menelisik dan memencet tombol on yang masih tersemat rapi dalam cup berenda merah yang ia kenakan malam itu. Dengan bibir yang tertempel dalam, di area lehernya dari belakang.
Muna segera membuat jarak, sedikit menjauh, menghentikan isapan yang belum selesai tercetak tanda merah di sana.
"Kenapa?" tanya Kevin yang sudah mulai terbuai dalam suasana mabuk level 2.
"Jangan di situ, malu kalo besok keliatan bekasnya." Muna memberi alasan.
Kevin memutar tubuh itu menghadapnya. Kemudian duduk di ranjang Muna yang berukuran tanggung. Memangku dengan posisi tubuh Muna menghadapnya. Memisahkan biji kancing dan lobang bersisian itu, untuk memperjelas area yang akan di lakukannya penyerangan.
Kevin tidak melepas kain berenda merah membara di dalam sana, yang baginya justru menciptakan garis belahan sempurna akibat kepadatan isinya terlihat penuh, tumpah tentu lebih menggiurkan. Ia ingin menyamakan hasil sesapannya dengan warna kain bercup itu agar terlihat serasi, buseeet. Ex cassanova di lawan.
Tetapi akhirnya Kevin tidak puas juga, jika hanya menyesap tepian putih yang terbungkus itu, sebab ia lebih suka mengulum biji permen coklat kemerah mudaan di dalamnya. Entah, bagian yang sebesar biji kopi itu selalu enak untuk di kulum, padahal tidak mengeluarkan air, juga tak berasa, sebab sesungguhnya ia hanya bercanda dengan salivanya sendiri, sebab selalu meninggalkan bekas basah di permukaan itu. Tapi bagian itulah membuatnya candu, seolah tak pernah bosan untuk selalu memainkan lidahnya di sana.
"Ahh.. sayang. Si mumun basah." Desis Muna di daun telinga Kevin.
__ADS_1
"Jangan berisik, ingat pesan babe. Di sebelah ada gadis yang belum ternoda." Jawab Kevin yang sudah berhasil melepas pakaian atas beserta kain renda merah tadi. Yah... Tampak menjulang nyata gundukan yang sudah berbercak merah tadi.
"Gimana ga berisik... Abang terlalu lihai membuat sensasi enak." Jawab Muna yang sudah mendorong tubuh Kevin agar rebah di atas kasur. Masih dengan pakaian lengkap. Otomatis posisi Muna duduk di atas pertengahan tubuh suaminya
Tok
Tok
Tok
Pintu kamar Muna di ketok seseorang.
Bagai kilat, Muna menyambar pakaian yang sudah Kevin lepas tadi dan buru-buru memasangnya.
"Sape??"
"Aku Siska."
"Mo ape Sis." Jawabnya yang sudah berhasil memasang kembali bajunya seperti semula.
Ceklek.
Muna membuka kunci kamarnya.
"Maaf. Mau ambil headset. Supaya tidak terkontaminasi suara-suara yang bikin otakku traveling." Jawab Siska menahan senyum. Melihat Kevin yang sudah mengubah posisinya ke tempat yang benar.
"Lu cari sendirilah." Jawab Muna mempersilahkan Siska masuk.
Siska pun segera melangkah dan mengambil benda yang memang tertinggal di kamar itu. Meraihnya, lalu beranjak melangkah keluar kamar Muna.
"Okeh... Makasih ya. Selamat buat keponakanku. Tuh... B H kalo ga di pake, boleh di wakafkan ke aku, timbang di buang di lantai." Goda Siska meledek Muna.
"Eh... Aseeem ni anak. Sanaaah, Ganggu aja." Usir Muna pada Siska dengan terbahak dan wajah malu.
Bersambung...
Hm... Eng ing eng
Wuuussh berasa dah malunya.
Permisi numpang promo.
Bagi readers kesayangan nyak, yang berani uji nyali, tes hipertensi dan suka otaknya travelling.
Nyak saranin mampir di karya terbaru nyak yang berjudul : LILIS LAMIAH (NERAKA DUA CINTA)
Ini soal poligami, tapi bukan pelakor.
Penasaran?
yuks mampir
__ADS_1