OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 275 : PUTUS ASA


__ADS_3

Muna dan Kevin sudah berada di negri tirai bambu. Tepatnya di Provinsi Zhejiang, China Timur. Di sanalah kini Dadang sedang berjuang melawan maut, antar hidup dan mati. Perkiraan untuk hidup menurut prediksi manusia semakin tipis, namun usaha terus saja di lakukan oleh pihak TIM medis yang menangani pengobatan Dadang. Juga permohonan atas ijin Allah SWT yang senantiasa mereka pintakan untuk keselamatan Dadang, yang mungkin sudah mustahil bagi manusia tapi mungkin bagi sang pencipta-Nya.


Transpalntasi hati memang tak selalu gagal dan tidak bias di pastikan selalu berhasil. Tergantung kondisi pasien yang akan menerima donor hati tersebut. Transplantasi hati merupakan salah satu prosedur yang dapat mengatasi kegagalan fungsi hati, tetapi perlu juga di cermati beberapa resikonya yaitu terjadi pendarahan, komplikasi saluran empedu, penggumpalan darah hingga masalah dengan memori atau ingatan.


Muna hampir tidak dapat berdiri, lemas semua persendian lututnya melihat keadaan sang ayah yang seluruh tubuhnya di tempeli alat-alat medis yang ia sendiri tak paham kemana-mana saja salurannya. Saat itu mereka baru berada di luar jendela tempat Dadang di rawat di ruang khusus dan nstreril tentunya. Hanya ada Rona sendiri di dalam dengan pakaian APD lengkap memilin tasbih, memohon yang terbaik untuk suami tercinta.


“Yang… jangan begini kasian mama liat kamu begini.” Bisik Kevin di telinga Muna.


Muna segera memejamkan matanya untuk menetralkan pikirannya untuk menguasai emosinya. Lalu berusaha beranjak akan mendekati mama Rona.


“Kemana…?” Tanya Kevin lagi.


“Ke mama.” Kevin mengusap airmata yang sudah mulai jatuh di pipi Muna.


“Bini abang itu wanita kuat. Ga cengeng gini.” Kevin menguatkan lalu memeluk tubuh Muna.


“Kita sholat dulu aja yuk, bang.” Muna memilih menenangkan diri daripada bertemu dengan mama Rona yang belum sadar akan kedatangan mereka di rumah sakit tersebut.


“Sudah tenang…?” tanya Kevin saat mereka sudah melaksankan sholat di mushola yang terdapat di rumah sakit tersebut.


“Alhamdulilah, bang.” Jawab Muna singkat.


“Yang…, apapun yang akan terjadi kita hatus kuat untuk mama. Kita sudah berpasrah dengan Allah, maka jangan berprasangka buruk pada Allah. Baik ataupun buruk hasilnya percaya semua akan sesuai dengan kemampuan kita.” Kevin kembali menguatkan Muna.


“Bismillahirohmanirohim.” Panjat Muna setelah menarik nafas dalam. Sudah dengan pakaian steril memasuki ruang rawat Dadang.


“Muna…?” sapa Rona yang terkejut dengan kehadiran Muna di ruangan itu.


“Iya mama. Gantian jaga abah ya ma. Mama sudah makan? Diluar ada abang, mama makan bersama abang ya.” Pinta Muna agar Rona pun memperhatikan kesehatannya.


“Mama belum sanggup meneguk nasi Mun. Keadaan abah drop sekali. HBnya turun sekali Mun. Apa hatinya tidak cocok sama abah ya Mun?” terka Rona dengan nada pasrah.

__ADS_1


“Percaya semuanya sedang berproses ma. Abah akan sembuh, dan saat abah sudah bias membuka nanti abah akan sedih melihat mama ikut tidak sehat. Mama istirahat ya. Nanti Muna yang di dalam bersama abah.”


“Mama tidak bias meninggalkan abahmu Muna.” Jawab Rona lirih, sedih.


“Percayalah abah lebih sedih jika mama jatuh sakit. Ijinkan Muna menemani abah, ikut menjaga abah di sini ma. Sebentar saja.”


“Tapi nanti kalau abah sadar, mama tidak di sampingnya bagaimana?” ragu Rona meninggalkan suaminya.


“Ada Muna yang bilang kalau mama baru saja keluar untuk makan dan beristirahat.” Bujuk Muna pada Rona.


“Akang… sama Muna dulu ya. Aku hanya keluar sebentar, buka saja mata akang saat bersama Muna. Jangan lama tidurnya kang.” Bisik Rona membelai wajah suaminya berpamitan.


“Abah… berjuanglah jika masih ingin bermain dengan cucu-cucumu. Dan menyerahlah jika sekarang waktu yang Allah janjikan untuk abah pulang. Muna hanya memohon maaf jika selama ini belum bias membahagiakan abah. Dan belum bias menjadi anak yang berbakti untuk abah. Muna pun sudah memaafkan semua kesalahan dan khilaf yang abah lakukan selama abah di dunia. Tapi… kami masih bersatu hati, bermohon dengan satu pinta, agar abah masih bersama kami dalam waktu yang lebih lama dalam keadaan sehat. Sembuhlah abah.” Untaian permintaan Muna yang tak mampu menahan laju tetesan airmatanya bersaingan dengan tetesan cairan infus yang terus saja bekerja untuk menyalurkan segala obat-obatan, vitamin, nutrisi dan apapun untuk proses penyembuhan Dadang.


Dadang masih tak bergeming, belum bisa merespon. Ia bagaikan patung tak bernyawa yang bertahan hidup hanya dengan bantuan alat. Gemuruh dada Muna pasti. Namun seperti yang Kevin katakana padanya, ia harus mampu menyembunyikan sesak dadanya demi mama Rona yang harus mereka tegar dan kuatkan.


Sepekan sudah Muna dan Kevin di China, kondisi Dadang tidak mengalami kemajuan namun tidak pula mengalami kemunduran. Membuat mereka masih memiliki secercah keyakinan jika Dadang memiliki kemungkinan untuk tetap hidup.


Namun, penjelasan dokter pada mereka pun tidak bias memastikan apa yanbg terjadi kedepan terhadap Dadang. Tapi juga tidak mematahkan semangat mereka untuk terus berharap Dadang akan melewati masa kritis itu.


“Sebenarnya apa yang tengah terjadi pada ayah kami, dokter?” Tanya Kevin.


“Pasien sedang beradaptasi dengan organ yang baru saja masuk dalam tubuhnya. Sebab bagaimanapun proses ini rentan terserang infeksi. Pemberian obat penekan kekebalan tubuh dapat memperbesar risiko infeksi. Dan itulah yang sedang terjadi di dalam sana. Namun, risiko infeksi tersebut akan berkurang seiring waktu. Dan setelah operasi ini berhasil nantinya pun, pasien harus mengkonsumsi obat penekan system imunitas tubuh seumur hidupnya agar tidak selalu terjadi penolakan terhadap organ yang di cangkokkan.”


“Lalu keadaan koma seperti ini apakah wajar terjadi dan biasanya berapa lama?” Tanya Kevin penasaran.


“Tiap-tiap manusia beda respon, ada yang cepat beradaptasi. Adapula yang lambat. Pasien kami pernah ada yang sampai 2 bulan dalam keadaan koma seperti ini.” jelas dokter pada mereka.


“Apakah ayah kami termasuk yang responnya terlambat dokter?” Tanya Muna ikut penasaran.


“Sejauh ini, tingkat kesadaran pasien mulai membaik. Walau tidak signifikan tapi sudah mulai terlihat. Sepertinya tidak lama lagi pasien akan kembali sadar.”

__ADS_1


“Alhamdulilah… Tolong tetap lakukan yang terbaik untuk ayah kami dokter.” Pinta Muna.


“Keberhasilan pencangkokkan organ ini bukan hanya impian keluarga, tapi juga kesuksesan kami selaku para medis yang sudah menanganinya. Jadi, harapan kami lebih besar untuk pasien kami sembuh nyonya.” Jawab dokter itu memberi semangat.


Di hari kesepuluh Muna dan Kevin berada di China, tentu saja pikiran mereka sudah di landa kecemasan. Cemas antara memikirkan anak-anak yang mereka tinggalkan, juga tak tega meninggalkan Rona yang terkadang lupa sekedar untuk memperhatikan makanannya sendiri. Hampir putus sudah asanya di uji seberat ini.


“Akang… sampai kapan kita begini. Sudah terlalu banyak airmata yang kita curahkan selama hidup. Sejak kita memutuskan untuk hidup berumah tangga bersama, mengapa lebih banyak airmata kesedihan yang terurai. Apakah kita terlalu memaksa Allah untuk menyatukan kita? Sehingga hanya lara yang kita jalani. Kita sudah di uji dengan kehilangan anak kita satu-satunya, namun Tuhan kembalikan dia pada kita. Dan kini, tidakkah akang ingin menikmati masa tua bersamaku bersama cucu-cucu kita. Untuk menebus waktu kita yang hilang tanpa mengurus, menjaga dan melihat kesuksesan cucu-cucu kita. Jika akang menyerah di ranjang pesakitan ini. Lalu untuk apa aku hidup? Aku tidak mampu bahagia sendiri kang. Kita sudah berjanji, akan pulang ke desa, merawat ambu. Tidakkah akang kasihan pada ambu yang harus merasakan sakitnya melahirkan akang, lalu harus tabah menyaksikan kepulangan abang yang lebih duluan darinya..?” Lirih lunglai, sedih dan marah semua Rona ungkapkan dengan bersimbah airmata. Di bawah ranjang pasien dengan tangan yang masih menggengam tangan berinfus tersebut.


Bersambung…


Maaf ga maksud mellow ya


Hanya kasih sisi sudut kehidupan itu ga selalu manis. Asem, pahit juga ada.


Kaya perasaan nyak hari ini yang sepi timpukan vote.


Happy Reading All


Info ya gaes...


Nyak bulan ini mau netas karya baru.


Mohon dukungan kalian semua.


Nikmat sehat, panjang umur, murah rejeki selalu nyak pintakan untuk kalian para readers setia nyak di manapun berada.


Tolong ramaikan yaak


Terima kasih🙏🙏💪


__ADS_1


__ADS_2