OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 44 : PERINGATAN


__ADS_3

Wilayah yang harus Muna bersihkan hanya seputaran di lantai 37. Tidak banyak bagian di sana sehingga Muna memang tidak memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan semua pekerjaannya.


Kevin pun sudah tenggelam pada pekerjaan yang tampak serius ia selesaikan, sampai tampak lupa untuk makan siang.


Muna memang bukan istrinya, juga bukan pembantunya. Tetapi nalurinya sebagai sesama manusia berkata bahwa ia harus tetap mengingatkan dan membuatkan Kevin makan siang.


Muna memang anak Betawi tetapi kadang seleranya juga ke barat-baratan. Ia selalu suka belajar menu-menu western. Sehingga tantangan Kevin untuk membuat makanan khas Belanda pun sudah ia pelajari.


Kini di pantry Muna sudah menyiapkan salad ayam. Memotonya lalu iseng mengirimkan pic itu pada Kevin.


"Jangan lupa makan siang. Muna ijin mau ke market sebentar boleh?" chat Muna yang juga tidak tau kenapa harus minta ijin pada Kevin. Mungkin menghargai sebagai pimpinannya.


"Iya... makasih sudah mengingatkan. Dan jangan lama belanjanya." Balas Kevin yang sebenarnya ingin menemani Mina, tetapi juga ingat akan janjinya untuk menunggu Wulan.


Tok...


Tok...


Ketuk suara dari luar pintu ruangan Kevin.


"Ya silahkan masuk." Perintah Kevin dengan nada datar tanpa beranjak dari meja kerjanya.


"Permisi pak. Saya datang memenuhi janji tadi pagi." Jawab Wulan dengan suara pelan serta menundukkan kepala.


"Iya, saya langsung saja. Apa yang kamu lihat tadi pagi di pantry antara saya dan Muna."


"Maaf pa. Seperti sedang berpelukan."


"Oke. Apa yang kamu pikirkan?"


"Maaf lagi pa. Mungkin ada hubungan spesial antara bapak dan Muna." Wulan menjawab dengan jujur tentu dengan suara yang bergetar.


"Menurut kamu, apa itu salah?"


"Maaf, tidak."


"Yakin...?"


"Iya ... yakin tidak ada yang salah pa."


"Kamu sudah berkeluarga...?"


"Ijin... iya pa. Anak kami sudah dua."


"Hmm... jadi kamu sudah paham betul perihal hubungan laki-laki dan perempuan yang saling menyukai?"


"Siap. Saya paham."


"Menurut mu apakah perbedaan status pekerjaan mempengaruhi sebuah hubungan?"


"Ijin. Tidak pak. Menjalin hubungan itu keinginan hati. Tidak bisa di campur adukkan dengan perbedaan status pekerjaan."


"Bagus. Artinya kamu bukan orang yang termasuk akan mencibir Muna, yang hanya seorang OB tetapi telah mampu menarik perhatian saya yang seorang CEO ini."


Wulan diam, ia hanya takjub memdengar pengakuan orang bahkan pemilik perusahaan ini, tidak malu mengakui perasaannya yang hanya kepada seorang OB.

__ADS_1


"Bagi saya, selama wanita itu tidak di bawah umur, kami seiman dan dia bukan istri seseorang. Maka tidak ada salahnya untuk saya menjalin hubungan."


Wulan mengangguk setuju.


"Masalahnya adalah hingga sekarang perasaan suka saya tidak pernah di anggap serius oleh Muna karena berbagai alasan dan salah satunya karena ia hanyalah seorang OB."


Wulan menarik nafas berat, menyadaro betapa bodohnya Muna yang menunda waktu untuk di miliki oleh seorang CEO ini.


"Maaf ... jadi apa tujuan bapak memanggil saya?" Wulan memberanikan diri untuk berbicara.


"Oh...iya. Saya hanya meminta kerjasama kalian untuk tidak menggunjing bahkan menuduhnya yang mungkin kalian kira ia telah menggodaku. Itu salah besar. Di sini, sayalah yang sedang menunggu jawaban dari Muna agar OB itu bisa menjadi milikku seutuhnya." Kevin menguraikan maksudnya.


"Siap...kami akan selalu menjaga kerjasama tetsebut."


"Mungkin ini salah dan terdengar otoriter. Salah satu penyebab di pindahkannya OB sebelumnya adalah tidak adanya nurani antar sesama teman. Perasaan saya terhadap Muna, baginya bagai sebuah beban bahkan mungkin aib. Sebab itu, ia butuh teman yang bisa ia ajak berbagi, bertukar cerita. Bukan sebaliknya, yang hanya dengan sebuah sebaran Video yang isinya belum tentu benar. Ia justru di tuduh yang bukan-bukan. Itu sangat menggangu psikisnya. Jadi, tujuan saya memanggilmu. Sebab, sebut saja kami tertangkap tangan sedang beradegan yang mungkin tidak layak di kantor. Mohon bersikaplah biasa padanya. Dan, saya berusaha tidak bertindak seperti itu lagi di kantor." Tanpa di minta Kevin secara tidak langsung membuat suatu janji di hadapan Wulan yang bukan siapa-siapa.


"Siap. Saya dan akan menyampiakan pada teman lainnnya juga pak. Untuk bisa melakukan hal sesuai yang bapak minta."


"Baiklah, saya tidak memaksa. Hanya memperingatkan, jika masih merasa perlu dengan pekerjaan ini, maka lakukan."


"Saya mengerti pak Kevin."


"Baiklah...silahkan jika ingin melanjutkan pekerjaan. Kebetulan saya juga ingin makan siang."


Wulan pamit dan meninggalkan ruangan Kevin. Suasana hatinya sudah tidak secemas seperti saat ia datang tadi. Setelah ia mengetahui apa sesungguhnya yang terjadi antara teman setimnya dengan pemilik perusahaan ini, justru ia berniat ingin segera memberi saran pada Muna agar mensegerakan saja hubungan mereka itu.


Kevin sudah berada di pantry. Menikmati salad ayam buatan Muna yang tentu saja sangat enak di lidah Kevin. Terbesit di pikirannya untuk sekedar tau akan keberadaan gadis pujaannya tersebut.


"Di mana...?" semprot Kevin saat sambungan vicallnya sudah tersambung dengan Muna.


"Waah... ga ajak-ajak."


"Tadi pan abang banyak kerjaan."


"Iya siih..."


"Abang ude makan?"


"Nih... lagi makan." Kevin mengarahkan kamera pada piring yang sudah tandas hampir tak bersisa itu.


"Doyan...?"


"Banget."


"Enak....?"


"Selalu. Masakan calon istriku." Puji Kevin yang tidak sadar mereka sedang vicall, yang tentu saja obrolan itu kedengaran oleh nyak dan babe yang berada di tempat yang sama dengan Muna.


Tut...tut...tuuut. Panggilan vicall itu di tutup Muna dengan segera. Dengan wajah merah padam, tak sanggup menerima nyinyiran nyak dan babe.


"Kepasar baru beli nangke,


Kaga use sampe ke mesir.


Kagak nyanke,

__ADS_1


Anak babe ude ada yang naksir."


Babe seperti biasa menanggapi segala sesuatu yang berhubungan dengan Muna.


"Di Korea makan Udon


paling enak di campur ramen.


Babe jangan su'udzon


Aye ame abang cuma temen." Kekeh Mun.


"Rujak nenas rujak mentimun,


Naik motor ban nye kurang angin.


Babe udah tua Mun,


Kagak bisa elu bo'ongin."


"Beneraan Be. Kami cuma temenan."


"Halaah bacot loe Mun... lama-lama juga demen pan." Ledek nyak pada Muna yang salah tingkah dengan tuduhan kedua orang tuanya.


"Ya udah kalo nyak babe kagak percaya."


"Santaai aje Mun. Muna pan udah lulus SMA wajarlah kalo sekarang ude punya demenan. Yang penting ga kebablasan begaul nye. Ingat cita-cita Muna yang mau jadi tukang insinyur, ye Mun." Babe kali ini terdengar serius.


"Ya...mangkanye Muna temenan aje be...nyak. Daripada kagak bisa jaga diri."


"Ya jangan gitu juga Mun. Elu juga harus tau pegimane rasanye indahnye masa muda saat punya demenan. Kayak nyak ame babe di masa mude. Iye kagak be." Senggol nyak pada babe.


Di sambut kekehan mereka semua yang di sana.


"Asalamuallaikum be, nyak..." Sapa seorang lelaki tampan yang sudah tampak berdiri, setelah memarkirkan motor di depan gerobak jualan nyak Time.


Bersambung...


Maaf ya reader


Kayaknya, nyak dah candu niih


Berhenti di tengah tengah.


Kagak tau apa yaaak


tuuh reader dah nongkrongin di finish 🀭🀭🀭


Tetep komen & like yang kenceng


buat nyak yaak


Lopeh-lopeh buat semua


β€οΈβ€οΈβ€οΈπŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜πŸ˜πŸ˜

__ADS_1


__ADS_2