
Suasana di hari sabtu pada pertengahan bulan ke satu di awal tahun itu. Merupakan pertemuan yang sangat mengesankan bagi semuanya, terlebih pasangan calon pengantin yang gagal nikah tersebut.
Walau hanya terjadi di antara semak belukar yang jauh dari kesan romantis. Tapi bagi Kevin dan Muna obrolan itu sangat sarat makna dan berbuah suatu keputusan dan kesepakatan yang dapat mereka setujui bersama.
Sholat bersama sudah di laksanakan, ambu dan Asep juga sudah di kembalikan ke rumah mereka. Kembali Dadang sebagai driver yang membawa mereka pulang ke Jakarta tanpa Muna.
Sebab Muna sudah di ajak Kevin untuk pulang bersamanya. Dan Kevin sudah ijin, tidak mengajak Muna pulang langsung ke Jakarta. Melainkan mereka menghabiskan malam mereka di rumah Kevin yang sudah siap di Bandung.
Rumah itu besar, memiliki 3 lantai. Walau masih tampak belum selesai pembangunannya. Masih dalan tahap penyelesaian.
"Mae... Nginap di sini mau?" pancing Kevin pada Muna.
"Ya kagak lah bang."
"Ha...ha...ha, sudah tau." Tawa Kevin berhamburan. Lalu keluar menuju garasi mobilnya.
"Sayang... Nih baju ganti. Mandi gih. Sementara Mae kamarnya di bawah ya. Di kamar tamu. Kalo kamar kita nanti di atas. Tapi sayang belum boleh masuk ke sana, belum halal." Ucap Kevin dengan cuek dan berlalu meninggalkan Muna yang tertegun dengan kata terakhir Kevin.
"Ha...ha... Belum halal. Sejak kapan abang tobat.?" tanya Muna yang tentu saja tidak mendapat jawaban, karena Kevin sudah ngacir masuk kamar yang ada di lantai 2.
Muna mematutkan dirinya di cermin, menatap suka dengan pakaian sederhana yang Kevin pilihkan untuknya, dan selalu cocok untuk ia gunakan. Walau hanya sebuah pakaian kaos casual tanpa corak sekalipun.
Keduanya saling tatap, saat sama-sama sudah segar setelah menguyurkan tubuh mereka di kamar mandi masing-masing.
"Abang istirahat sebentar ya, sebelum antar sayang ke Jakarta." Ujar Kevin yang sudah meraih tangan Muna untuk duduk di sofa tengah rumahnya.
"Kalo abang cape, Muna aja yang nyetir."
"Ga usah... Asal abang ada rebahan sebentar saja." Jawabnya yang tanpa permisi memposisikan kepalanya pada paha Muna.
Muna tidak menolak. Hanya membelai lembut pucuk kepala Kevin, yang nantinya pasti akan ia rindukan.
"Rencananya... Abang mau bawa nyak babe tinggal di sini sayang, sama abang." Ungkap Kevin.
"Emangnye mereka mau?"
"Sayang bantulah, rayu babe biar mau. Kasian mereka kalo di sana pasti masih mau jualan ketoprak terus."
__ADS_1
"Muna ga janji bisa rayu babe, tapi... Abang mungkin bisa bujuk nyak. Kan nyak sayang sama abang."
"Jangan cemburu sayangku." Ujar Kevin sembari mencubit hidung kekasihnya itu.
"Sape yang cemburu. Tapi... Beneran, nyak lebih bisa abang ajak mgomong timbang babe."
"Tapi... Babe akan lebih dengerin sayang kalo ngomong."
"Ya... Nanti Muna bilangnye ape ame babe."
"Bilang saja, supaya ada yang ngurusin makannya abang."
"Hmmm... Pasti ujung-ujungnye Muna yang salah nih. Gegara Muna kagak mau nikah cepet, abang jadi repot dah. Kagak ada yang ngurusin. Abang benernye ijinin Muna kuliah ga sih?"
"Iya... Ijinin banget."
"Beneran bang....?"
"Percaya saja. Abang ikhlas di tinggal Muna, asal selalu jaga komunikasi." Jawab Kevin yang langsung duduk dan tiba-tiba mencium rakus bibir Muna.
Muna tidak siap dengan serangan lidah yang membelitnya itu, bahkan rahangnya sudah di pegang oleh Kevin untuk menghindar penolakkan dari Muna.
"Kapan sayang berangkat?"
"Kapan abang ijinkan?"
"Secepatnya saja sayang. Lebih cepat Mae, pergi. Akan lebih baik untukmu."
"Abang usir Muna?"
"Tidak... Hanya abang tidak bisa jamin. Kalo Muna tidak segera pergi, mungkin kuliahnya di Bandung saja." Gelak Kevin yang sudah menyambar kunci mobilnya.
Muna hanya diam, menerka sendiri dengan yang Kevin maksudkan.
Bukan perkara sulit bagi keluarga Hildimar dalam hal memberangkatkan Muna ke Belanda. Maka di hari senin pada minggu ke tiga di tahun itu, Muna benar pergi. Pergi untuk kembali tentunya.
Drama perpisahan antara nyak dan babe tentu saja terjadi bagai akan berpisah untuk selamanya. Padahal ini bukan yang pertama kali bagi mereka saling terpisah. Tetapi sebagai orang tua yang telah merawat Muna sejak bayi, tentu saja merasa terharu sekaligus bangga, anak gadis mereka akhirnya bisa berkuliah bahkan di luar negeri.
__ADS_1
Kevin tidak ikut serta mengantar, tentu saja perpisahan sementara itu mengundang pilu hatinya saja. Di sisi lain, benar saja ia sudah harus di sibukkan dengan perusahaan barunya. Inteview untuk para karyawan pun harus melewatinya secara langsung.
Kevin benar-benar sendiri di sini. Merangkak dan berjuang sendiri. Belum menenemukan aspri sehandal Ferdy, belum dapat sekretaris yang tanggap seperti Bara dan pa Bondan di masanya. Maka benar, ia memang harus lebih ekstra menekuni pekerjaan barunya.
Enam bulan berlalu Kevin sudah mampu membuat siklus perusahaannya stabil. Semua tatanan pekerjaan berjalan lancar sesuai bidangnya masing-masing. Kevin terkenal sebagai CEO yang ramah namun tertutup. Ia selalu berusaha menjadi pemimpin yang perhatian pada tiap karyawannya.
Selain memenuhi panggilan rapat, bertemu dengan kolega bisnis, Kevin selalu mempunyai waktu yang ia jadwalkan sendiri untuk menyambangi tiap tiap divisi. Dan dalam satu bulan sekali pula ia adakan acara makan bersama karyawan perbidang itu, untuk mendapatkan rasa nyaman, hangat semakin akrab namun tetap di hormati para karyawan tersebut.
Benar saja yang di katakan Muna, setelah Kevin berbicara dengan nyak Time. Akhirnya nyak dan babe mau di boyong ke Bandung. Dan Kevin membuatkan tempat jualan soto Betawi untuk nyak. Agar mereka tidak merasa berpangku tangan. Namum, Kevin tidak menyarankan nyak dan babe bekerja berdua, ada dua orang yang di rekrut mereka untuk membantu bekerja di warung makan tersebut. Sedangkan rumah babe, kini hanya di tinggali oleh Siska yang rencananya juga akan menjadi mahasiswa yang mengambil jurusan Administrasi Perkantoran di salah satu Universitas di Jakarta.
Sementara Muna yang berangkat 6 bulan sebelum masa perkuliahan tiba, memang sangat disibukan dengan segala macam bidang ilmu melalui lembaga khursus yang semua ia lahap dengan senang hati.
Muna gadis yang cerdas, kemampuan berpikirnya terasah saat berada di sana. Muna hanya dapat sesekali menjenguk kakeknya sebab ia tidak tinggal sekota dengan Hildimar Herold.
Demi mendapatkan ilmu yang sesuai dengan pekerjaannya kelak, maka Muna memilih sendiri Universitas yang berfokus pada bidang bisnis terutama dengan spesialisasi General Management, International Hospitaly Management. Wittenborg University of Applied Sciences adalah kampus yang Muna pilih, berada di Apeldoorn. Yaitu sebuah gemeente Belanda yang terletak di provinsi Gelderland.
Bukan aji mumpung. Toh, sekarang semua kondisi mendukungnya, mulai dari biaya kuliah juga dukungan dari semua pihak di kantonginya. Maka Muna tidak ingin melewatkan hal terkecilpun untuk meraih semua yang sempat tertunda, Muna percaya kesempatan tidak akan datang berkali-kali padanya, maka sedapat mungkin ia memanfaatkan semuanya dengan baik.
Jangan tanya bagaimana cerewetnya si abang sayang, yang walau di tengah kesibukannya selalu membunyikan alarm hanya untuk menjadi orang pertama menyapa Muna untuk membangunkan dan mengingatkan Muna untuk sholat subuh. Demikian juga sebaliknya. Terutama untuk mengingatkan Kevin makan dan berolahraga, demi tetap menjaga kebugaran calon suami yang tak lagi muda.
Dunia kampus yang sesungguphnya memang belum Muna rasakan. Sebab, kemarin dia hanya habiskan waktu untuk persiapan menjadi mahasiswa saja.
Dan, kini tahun ajaran baru akan bermulai.
Entah bagaimana Muna menyingkapi keadaan dunia yang begitu keukeh ia pilih sendiri.
Akankan semua akan berjalan sesuai harapannya?
Mampukan ia bertanggung jawab dalam menjalani tugas kampus yang berat, yang beratnya hampir setara dengan rindunya pada si abang tampan yang ia tinggalkan di sebuah kota Bandung. Yang juga banyak menyimpan tantangan gadis-gadis cantik mojang periangan.
Bersambung...
Tenang nyak janji
No konflik lagi🤭🙏
Ini bonus buat modal ngehalu😚
__ADS_1