
Rencana aqiqah baby Naya yaitu empat hari lagi saat usia Naya 7 hari. Yaitu mengambil di hari senin saat di hari kerja, agar semua karyawan dan pegawai pabrik bisa datang untuk makan siang. Sebab acara pengajian dan ritualnya di laksanakan di pukul 10 pagi.
Kali ini bukan Gilang yang mereka repotkan untuk persiapan acara tersebut. Tetapi sepertinya Siska dan Asep kali ini yang dapat arisan dalam hal perisapan aqiqahnya Naya.
Ambu tak henti-hentinya membelai pipi gemoy Naya, dengan mata berkaca.
"Hanya matanya yang tidak seperti Mona. Yang lainnya Naya sangat membuat ambu ingat kecilan Mona, sebelum di bawa ke Jakarta lalu hilang." Sungut ambu.
"Ambu sudahlah. Bersyukur semua sudah kembali, bahkan kita punya waktu melihat Aydan Dan Naya."
"Alhamdulilah. Allah benar memgembalikan yang memang menjadi hak kita."
"Alhamdulilah. Ambu... bagaimana hubungan Asep dan Siska. Sampai kapan mereka hanya terlihat dekat. Apa tidak sebaiknya kita lamar saja Siska untuk Asep?"
"Oh... A' Asep sudah ke Cikoneng untuk minta ijin dengan kedua orang tua Siska untuk mengajaknya ke Korea. Akan di perkenalkan dengan Teh Rinjani dan suaminya. Kata A' Asep mereka teh mau apa nya... yang foto-foto sebelum pernikahan itu nak Rona."
"Oh... prewedding mbu...?"
"Iya begitu namana kaya si a'a mah."
"Alhamdulilah. Berarti hubungan mereka sudah ke arah ya.g serius ya mbu. Ambu suka Asep sama Siska?"
"Suka atuh Rona. Ambu teh sudah cocok sama keluarga Siska sejak kita teh berangkat Umrah. Keluarga na teh baik, jujur dan sangat sederhana tidak sombong. Ambu teh yakin Siska juga punya sifat yang baik seperti orang tuanya."
"Amin. Tetap kita mohonkan supaya Allah memberikan jalan jodoh yang lancar untuk mereka ya mbu. Jika tidak berjodoh pun, Allah akan siapkan jodoh yang lebih baik untuk mereka sesuai dengan rencana Allah." Harapan Rona yang juga sudah berada di rumah Kevin.
Rona sudah mengurangi semua pekerjaannya di perusahaan. Ia sudah memberanikan diri memberi kepercayaan pada Damar suami Prety adik Ferdy untuk menjalankan perusahaannya.
Sebab Rona ingin memiliki banyak waktu bersama cucunya. Mungkin setelah Naya berusia 6 bulan atau setahun, Muna akan di minta benar aktif mengelola rumah sakit. Tetap di bawah pantauan Dadang tentunya.
Namun hal tersebut adalah rencana Dadanh dan Rona yang juga ingin menetap di desa tempat ambu tinggal. Agar Asep bisa membina rumah tangganya nanti, sebab bagaimana pun ambu bukan semata-mata tanggung jawab Asep yang hanya sebagai cucu.
Hari kamis tiba, artinya rombongan perusahaan Kevin akan berangkat ke Cisarua. Mereka berjumlah 10 orang, menggunakan bus yang sudah di siapkan.
Hubungan Gita dan Gilang secara resmi hanya sehari. Yang berangkat pun tidak seruangan dengan mereka. Tentu saja di antara orang-orang di tim itu tidak ada yang tau jika status mereka sudah masuk kategori lebih dari teman biasa.
Sita si gesit tentu tak ingin melewatkan kebersamaan dengan sia-sia. Ia sudah dengan sigap mengambil posisi di sebelah Gilang.
Bermacam cara Gilang gunakan untuk beralasan untuk pindah tetapi Sita terus saja menempel di sisinya. Bahkan ia tampak tidak malu dan tidak segan untuk selalu menggandeng tangan kokoh Gilang.
"Maaf permisi Sita, saya tidak bisa duduk di sini." Ujar Gilang saat melihat Gita baru masuk bus dan menoleh ke arah Gilang yang sudah duduk terkunci di sebelah Sita.
Gita seolah tak melihat saja ke arah mereka, lalu memilih duduk 1 kursi bersebrangan di belakang Sita dan Gilang.
"Sendiri...? Saya temenin ya. Peter." Sapa seorang laki-laki mendekati Gita.
"Peter Parker? Spider-man dong. Iya duduk saja, silahkan. Gita." Jawab Gita ramah.
"Hahaa... males jadi spiderman, pulang kerumah paling di suruh bersihkan kotoran yang nempel di plapon saja."
"Hmm... update juga. Pasti udah nonton yang ke 9 nih." Lanjut Gita.
"Ya iyalah. Gita... udah tau berarti update juga dong. Sekali-kali nobar yuks." Ajak Peter so akrab.
"Boleh." Jawab Gita. Dan selanjutnya mereka terlibat dalam obrolan yang terlihat mengasyikkan.
"Neng... maaf Agi ga bisa duduk di sebelah eneng." Chat Gilang merasa bersalah.
__ADS_1
"Ga papa. Masih banyak waktu kita sama-sama A. Lagi kerja juga, fokus kerja aja dulu kita A."
"Neng ga cemburu sama Sita?"
"A'a..., Sita ga pantas di cemburui. Apakah Nenggi salah? ngerasa kalo dalam hati Aa hanya ada Nenggi seorang. Betul apa benar?"
"Betul, betul, benar Nenggiku sayang. Nenggi duduk sama siapa?"
"Sama spider-man A'... hehehe."
"Halu Eneng mah..."
"Beneran, namanya Peter, Agi."
"Oh yang di divisi produksi."
"Ga cemburu A?"
"Sama Neng... dia bukan tandingan Agi. Kerenan juga Aa lho dari dia."
"Tapi baru kenal dia udah ajak neng nobar di bioskop lho A'. " Gita sengaja meanas-manasi Gilang.
"Ga papa... asal tetap Agi yang pertama dan terakhir ajak eneng halalan ke KUA. ❤️" balas Gilang sambil senyum sendiri.
"A'... Eneng pengsaan 🤒" kekeh Gita sendiri. Mengundanh bingung Peterbdi sebelahnya. Tapi tak berani bertanya.
Belum 60 menit, Bus sudah sampai di TKP. Dan benar saja hampir tidak ada waktu untuk mereka bercengkrama. Sebab mereka langsung bekerja sesuai bidang dan fungsi mereka datang ke lokasi tersebut.
Hingga senja hampir tiba mereka bari terlihat memiliki waktu luang dan dapat beristirahat ke penginapan. Gilang yang menjadi wakil Kevin, tentu seolah menjadi pimpinan yang mengatur semua kegiatan tim yang berangkat tersebut.
"Baik semuanya, terima kasih untuk kerja hari ini. Tetap jaga kesehatan ya, besok kita full sampai jam 11 siang. Selanjutnya setelah sholat jumat dan makan siang. Kita lanjut ke Villa di Lembang. Bonus dari Pa Kevin, kita boleh santai seharian di sana. Minggu sore baru pulang." Isi pengarahan dari Gilang.
"Mantap jiwa." Celetuk salah satu dari mereka yang mendengar arahan tersebut.
"Pak Gilang... tanya?"
"Iya silahkan."
"Acara kita di Lembang apa?"
"Bebas saja." Jawab Gilang cepat.
"Guys... gimana kalau kita ngegril aja?"
"Ide bagus tuh. Tapi alat dan bahan gimana?" tanya yang lain.
"Tenang... aku punya teman di Lembang. Nanti aku minta tolong dia yang siapin semuanya. Gimana?"
"Boleh-boleh." Jawab yang lain.
"Pa dananya giman? kita urunan?" tanyanya memastikan."
"Tidak tidak. 5 jt cukup?" tanya Gilang.
"Itu bukannya cukup lagi tapi kita bakalan mukbang. Atau sekalian kita minta ada live musicnya kali ya... biar tambah seru?"
"Ide bagus tuh." Jawab yang lain lagi.
__ADS_1
"Ya sudah Mira. Iya, Mira kamu penanggung jawab acara dan konsumsi malam mingguan kita di lembang ya. Kalau kurang tinggal bilang. Nanti bagian keuangan yang transfer, asal ada nota."
"Siap pak Gilang. Laksanankan." staf divisi pemasaran bernama Mira itu antusias menyambut perintah.
"Oke... silahkan istrirahat semua. Kalo misal jalan keluar, jangan pulang larus malam ya, hati-hati." Pesan Gilang melirik ke arah Gita.
Tapi baru beberapa langkah Gilang berjalan mendekati Gita. Tangannya sudah di peluk Sita lagi.
"Kakak... ga jalan malam ini. Temenin Sita keluar yuks." genit Sita pada Gilang.
"Maaf ya Sit, Ini kebelet stadium akhir. Permisi." Tolak Gilang tegas dan berlari ke arah toilet pria.
Sita kesal dan memilih bergabung dengan kumpulan para cewek-cewek yang sepertinya sudah punya janji keluar untuk jalan-jalan.
"Neng di mana?"
"Mau ke kamar A"
"Ga ikut jalankan?"
"Ga... ah. Ga seru."
Tok
Tok
Depan kamar Gita di ketuk seseorang.
"Agi....?"
"Neng tolong peluk tangan Agi yang ini dong." Pinta Gilang di depan pintu, sambil menyodorkan tangannya ke arah Gita.
"Kenapa tangan A'a?" tanya Gita bingung namun tetap menuruti permintaan Gilang.
"Makasih nengGiku sayang."
"Kenapa A?"
"Itu bekas di peluk Sita. AGi takut ga bisa tidur kalo tangannya bekas Sita."
"Ya ampuuun lemes kaki Neng A."
Cup
Kening Gita di kecup Gilang sebentar.
"Selamat malam, selamat tidur. Ketemu AGi di mimpi ya NengGiku sayang."
"Huum.. selamat malam juga calon imamku." Sahut Gita bahagia, melayang ke angkasa hampir sejajar dengan bintang bulan sana.
Bersambung...
Maaf telat up
Di RL lagi riweh
Ini nyak lajut nulis part selanjutnya tuk tebus dosa✌️
__ADS_1