Om Buah Hatiku

Om Buah Hatiku
Kencan versi Felisha


__ADS_3

Setelah menyelesaikan pekerjaannya di Bandung keesokannya Bagas dan Felisha pun pulang ke Jakarta.


Setibanya di Jakarta mereka tidak langsung pulang ke rumah melainkan pulang ke rumah Bunda dimana ketiga buah hati mereka berada.


"Mommy.. Daddy..Abii..kakak kangen " Luna langsung berlari memburu mereka yang baru turun dari mobil.


Abi tampak senang melihat Luna yang memburu kearahnya.Balita itu terlonjak-lonjak dalam gendongan Felisha. Sementara Bagas sibuk menurunkan oleh-oleh yang mereka beli dari Bandung.


"Kakak Nakula sama kakak Sadewa kemana ?" tanya Bagas sambil membawa semua barang yang baru saja ia turunkan kedalam.


"Kakak ikut om Dio main futsal " jawab Luna.


"Kakak Luna main sendiri dong " Bagas mengelus kepala Luna.


"Aku main sama dedek Alyn dad..tapi sekarang dedek Alyn nya bobo jadi sekarang aku mau main sama dedek Abi " jawab Luna sambil menciumi pipi Abi yang sedang berada dalam gendongan Felisha.Abimanyu tentu saja senang diajak bercanda dan bermain oleh kakaknya.


Beberapa jam kemudian Dio dan si kembar pulang setelah bermain futsal. Abimanyu tambah senang ketika melihat kedua kakaknya datang.


"Beli apa Fe dari Bandung ?" Dio langsung menodong Felisha.


"Banyak makanan tuh di meja " Felisha menunjuk pada meja makan di dekat dapur.


Dengan tubuh yang masih berkeringat Dio pun beranjak menuju meja untuk mengambil satu potong klappertaart.


"Hai cantiknya Papa sudah bangun " Dio yang hendak ke kamar berpapasan dengan Kinanti yang hendak keluar kamar sambil menggendong Alyn.


"Jangan dulu cium..mandi sana " Kinanti menjauhkan Alyn ketika Dio hendak menciumnya.


"Pelit banget sih..Ya sudah cium kamu saja " Dio pun akhirnya mencium Kinanti.


"Mandi sana..kamu bau " umpat Kinanti.Dio tertawa sambil beranjak menuju kamar mandi.


"Alyn..sini gendong aunty " Felisha langsung mengambil Alyn dari gendongan Kinanti.


"Mau coba gendong tidak Mas ?" tanya Felisha kepada Bagas.


"Boleh " jawab Bagas sambil mengambil Alyn dari tangan Felisha.


Bayi berusia lima bulan itu pun anteng dalam pangkuan Bagas.


*


Mendekati waktu masuk tahun ajaran baru Bagas sekeluarga pun pulang. Luna dan si kembar mulai mempersiapkan semua perlengkapan sekolah mereka.Berselang satu hari kemudian keluarga Kenzo pun pulang dari Jepang.


Dihari pertama anak-anak masuk sekolah Bagas dibuat sedikit kerepotan karena anak-anak minta dibawakan bekal pasta buatan Daddy nya.


Demi menyenangkan ketiga buah hatinya sejak selepas subuh Bagas sudah sibuk di dapur dengan ditemani Felisha untuk membuat pasta.


"Anak-anak kompak ngerjain Mas " keluh Bagas


"Jangan lupa..hari ini Luna juga ingin diantar Daddy nya ke sekolah " Felisha mengingatkan sambil memeluk Bagas dari belakang.


"Iya..Mas ingat " jawab Bagas.

__ADS_1


"Sayang kamu itu bukannya bantuin malah ganggu " Bagas mencubit tangan Felisha yang membelit perutnya.


"Ini lagi bantuin..bantuin nemenin ngobrol.. daripada Mas Bagas ngobrol sama wajan " jawab Felisha


"Dasar kamu " ujar Bagas diantara kesibukannya membuat pasta untuk bekal ketiga buah hatinya.


Setelah pasta buatan Bagas selesai, Felisha pun memasukan pasta itu kedalam 4 buah kotak makan.


"Kenapa bikin empat Yang ?" tanya Bagas heran.


"Buat Kenzo " jawab Felisha


"Oh iya "


Setelah urusan bekal anak-anak selesai Felisha pun naik ke lantai atas untuk membangunkan Nakula dan Sadewa, sementara Bagas kebagian tugas untuk membangunkan Luna.


Luna yang dibangunkan oleh Bagas langsung semangat bangun dan mandi sendiri.Felisha yang baru turun dari kamar si kembar ikut membantu memakaikan baju seragam sekolah Luna.


"Daddy jadi nganterin aku ke sekolah kan ?" tanya Luna kepada Bagas.


"Jadi dong Sayang " jawab Bagas.


"Dedek Abi ikut juga ?" tanya Luna lagi sambil menggendong tas sekolahnya.


"Tidak kak..dedek Abi kan masih tidur " jawab Felisha.


Setelah siap Felisha membawa Luna ke meja makan untuk sarapan, Nakula dan Sadewa pun sudah ada disana sedang menikmati roti isinya.


Mereka pun sarapan bersama, sambil sarapan Bagas menasehati ketiga buah hatinya agar sekolah yang benar seperti orangtua pada umumnya menasehati anaknya.


Bagas lebih menekankan kepada Nakula dan Sadewa sebagai anak laki-laki terbesar yang harus bisa membimbing dan menyayangi adik-adiknya.


Setelah selesai sarapan Nakula dan Sadewa pergi sekolah dengan Kenzo menggunakan mobil jemputan, sedangkan Luna pergi dengan diantarkan oleh Bagas dan Felisha.


Setelah sampai di gerbang sekolah, Luna masuk sambil melambaikan tangannya kepada Bagas dan Felisha dengan penuh percaya diri.


Bagas masih belum beranjak dari halaman sekolah Luna meskipun Luna sudah masuk ke kelasnya.


"Mau nunggu disini sampai Luna pulang ?" Felisha menyentuh tangan Bagas.


"Maunya kemana ?" Bagas malah balik bertanya.


"Aku sih ngikut kemana suami aku membawa aku " jawab Felisha.


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan, anggap saja kita sedang kencan..kita kan tidak pernah pacaran sebelumnya " ajak Bagas.


"Kamu lucu ih Sayang..sudah punya banyak anak baru ngajak pacaran " Felisha tertawa.


"Tidak apa-apa Yang..mumpung kita sedang berdua " jawab Bagas sambil melajukan mobilnya meninggalkan sekolah Luna.


"Dulu kalau pacaran sama Bagus kamu suka kemana ?" tanya Bagas


"Paling nongkrong , makan bakso,..ya gitu deh " jawab Felisha.

__ADS_1


"Kalau begitu kita nongkrong, makan bakso ..atau apapun yang kamu mau " ajak Bagas.


"Yang di dekat sekolah aku dulu ada bakso enak, tapi warung mangkal biasa.. mau ga makan disana ?" tantang Felisha.


"Ayok " jawab Bagas yakin


"Serius Yang ?" Felisha tidak yakin jika Bagas mau makan di warung pinggir jalan.


"Serius " jawab Bagas sambil menggulung tangan kemejanya sampai ke siku.


Felisha memandu Bagas menuju kearah sekolahnya, tidak jauh dari sana mereka berhenti disebuah warung bakso di pinggir jalan.


"Dulu aku sama teman-teman suka nongkrong disini Yang " Felisha menuntun tangan Bagas masuk dan mencari kursi yang kosong.


"Abaaang dua " Felisha mengangkat dua jarinya kearah Abang bakso yang sedang sibuk melayani pembeli.


"Waduh neng Feli lama tidak kesini, sekarang tambah cantik saja " puji si Abang ketika mengantarkan pesanan Felisha.


"Sibuk ngurus anak Bang " jawab Felisha


Bagas hanya diam memperhatikan interaksi istrinya dengan Abang penjual bakso.


"Dulu aku makan disini kadang suka ngutang loh Sayang " bisik Felisha ditelinga Bagas.


"Sayaang kamu nakal " Bagas langsung melotot.


"Teman-teman aku juga suka begitu " bela Felisha.


"Sekarang kamu masih punya utang tidak ?" tanya Bagas sambil mengunyah bakso nya.


"Entahlah aku lupa.. sepertinya tidak " jawab Felisha dengan tidak yakin.


"Dasar nakal " omel Bagas lagi.


Felisha yang sudah lebih dulu menghabiskan baksonya dengan tanpa malu langsung memesan lagi.


"Neng Feli dari dulu kalau makan tidak cukup satu mangkuk " ujar si Abang ketika mengantarkan pesanan kedua Felisha.


"Ternyata kamu itu gembul juga Sayang " Bagas mengelus kepala Felisha.


Meskipun Felisha yang nambah namun pada akhirnya Bagas pun ikut menghabiskan bakso di mangkuk kedua Felisha.


"Enak ya Sayang ?" tanya Felisha sambil menyusut keringat di dahi Bagas.


"Ya..pantas saja kata Abang nya kalau kamu makan tidak cukup satu mangkuk" jawab Bagas


"Selain enak disini itu murah Yang ..bisa ngutang lagi " jawab Felisha sambil tertawa.


"Dasar nakal " entah untuk yang keberapa kali Bagas menyebut Felisha nakal.


Setelah menghabiskan makanannya, Bagas mengeluarkan lima lembar uang ratusan ribu untuk membayar makanan mereka.


"Ini kebanyakan Mas "

__ADS_1


"Ambil saja.. takutnya istri saya masih punya utang " jawab Bagas sambil berlalu bersama Felisha.


Keluar dari warung bakso langganan Felisha Bagas melajukan mobilnya menuju sekolah untuk menjemput Luna.


__ADS_2