
Hampir satu jam Felisha terkurung didalam mobil.Bagas tidak mengijinkan Felisha kembali ke kantornya meskipun jam istirahat telah usai.
"Ezra pecat kamu malah lebih bagus " ujar Bagas sambil menyusupkan wajahnya didada Felisha yang sudah terbuka karena Bagas sudah melepas semua kancing baju bagian atasnya.
"Sayang..malu nanti dilihat orang " bisik Felisha dengan suara bergetar karena bibir dan lidah Bagas sudah menemukan dua benda yang dicarinya.
"Tidak akan,kaca mobil mas gelap " jawab Bagas
"Sejak kapan kamu jadi mesum begini ?" tanya Felisha sambil menggigit telinga Bagas.
"Sejak kamu membalas cinta mas " jawab Bagas dengan suara serak karena diliputi gairah yang membara.
Bagas tampak kesal ketika ponsel nya berdering.Satu panggilan dari Wina.
"Oke..saya jalan sekarang " ucap Bagas dengan wajah kesal.
Felisha buru-buru mengancingkan kembali bajunya dan merapikan baju juga rambutnya yang berantakan karena ulah suaminya.
"Semangat kerjanya sayang..aku balik lagi ke kantor ya " ujar Felisha sambil mencium bibir Bagas sekilas.wajah Bagas masih terlihat masam karena keasikannya terganggu.
Felisha buru-buru masuk ke kantornya.Dan perlahan mobil Bagas pun melaju meninggalkan halaman parkir kantor Felisha.
"Darimana sih Fe..daritadi pak Ezra nyariin kamu " tanya Dina begitu Felisha datang.
"Ada keperluan dikit " jawab Felisha.Ia tidak mungkin mengatakan kepada Dina jika Bagas menyekapnya didalam mobil di parkiran.
Felisha mengabaikan tatapan Dina yang tampak tidak puas dengan jawaban Felisha.Ia memilih fokus dengan pekerjaan.Hingga waktu pulang tiba Felisha baru beranjak dari meja kerjanya.
Felisha baru sadar jika Dina sudah meninggalkan meja kerjanya beberapa menit yang lalu.
Dengan terburu-buru Felisha berjalan menuju parkiran karena Bagas mengirimkan pesan jika ia sudah menunggunya disana.
"Kenapa telat ? teman-teman kamu sudah keluar daritadi " tanya Bagas dengan wajah masam.
"Tadi kan aku terlambat masuk setelah makan siang gara-gara kamu..ya aku harus menyelesaikan semua kerjaan aku dong " jawab Felisha sambil memasang seat belt nya namun sedikit kesulitan.
Bagas merunduk membantu Felisha memasangkan seat belt.
"Terimakasih sayang " ucap Felisha.
Bagas terpaku dan menatap Felisha dalam
" bilang sekali lagi !"
"Terimakasih sayaaang " ulang Felisha namun kali ini dengan nada mengejek.
"Sudah lah..mas Bagas lebih suka yang pertama " gumam Bagas sambil menyalakan mesin mobilnya.Felisha tertawa melihat wajah Bagas yang masam.
"Gimana kerjaan nya tadi siang, lancar ?" tanya Felisha
" Hmm " jawab Bagas
Felisha melirik kearah Bagas,tidak suka dengan jawaban Bagas yang singkat.
"Irit banget ngomongnya " Felisha menarik tuas sandaran kursi dengan mulut menggerutu.
Dengan duduk bersandar membuat rok Felisha sedikit terangkat sehingga memperlihatkan sebagian paha mulusnya.
"Kamu sengaja ya menggoda mas " ujar Bagas sambil mengelus paha mulus Felisha dengan tangan kirinya.
"Apaan sih lagi nyetir juga " Felisha menyingkirkan tangan Bagas dari pahanya. Bagas terkekeh.
Lepas dari paha Felisha,kini tangan Bagas beralih kepada perut Felisha yang mulai terlihat menonjol.
"Mas nyetir yang bener deh..bahaya tau kalau tangannya gerayangan kemana-mana " omel Felisha.
"Baik boss " jawab Bagas menarik tangan kirinya dan kembali fokus pada jalanan didepannya.
Di perjalanan pulang tiba-tiba Felisha meminta Bagas menghentikan mobilnya.Bagas pun menuruti keinginan singa betina kesayangan nya.
"Aku mau bakso yang disana " Felisha menunjuk pada tukang bakso yang mangkal dipinggir jalan.
Mereka pun turun kemudian masuk ke warung bakso yang Felisha maksud.
"Pesan satu saja..mas masih kenyang " bisik Bagas.Padahal sebetulnya Bagas tidak terbiasa makan dipinggir jalan seperti itu.
Felisha pun akhirnya hanya memesan satu porsi untuknya saja.Setelah pesanan datang, Felisha pun langsung menyantapnya dengan lahap.
"Sayang cobain deh sedikit..enak loh " Felisha menyuapi Bagas satu sendok.
__ADS_1
Bagas awalnya menolak namun melihat Felisha melotot akhirnya ia pun membuka mulutnya.
Rasa pedas dan gurih pentol bakso langsung terasa dilidahnya.Tidak terlalu buruk
"Lagi...Aaaa " Bagas tidak menolak ketika Felisha kembali menyuapinya.Kali ini ia benar-benar menikmatinya.
Akhirnya Felisha pun makan sambil menyuapi Bagas.Tak terasa satu mangkok bakso pun tandas seketika.
Abang bakso melirik kearah Bagas dan Felisha kemudian beralih melirik mobil Bagas yang terparkir didepan. Mobil bagus tapi pelit makan bakso saja semangkuk berdua.Paling mobil dapat rental atau punya bossnya.
"Pesen lagi gih " titah Bagas.Sepertinya ia mulai menyukainya.
Felisha pun memesan kembali.Dan mereka kembali makan semangkok berdua.
Satu gelas teh hangat menutup acara makan berdua.Felisha menyusut wajah Bagas yang berkeringat karena kepedesan dengan tisu.Setelah membayar pesanan mereka pun pulang.
Di mobil Bagas melonggarkan dasinya dan membuka dua kancing teratas kemejanya.
"Ternyata mas Bagas suka juga " ujar Felisha ketika mobil Bagas mulai meninggalkan tempat itu.
"Ya " jawab Bagas singkat. "Lain kali kita mampir lagi kesini "
"Oke sayang " jawab Felisha manja membuat Bagas senang karena Felisha sudah mulai terbiasa memanggilnya sayang.
Kedatangan mereka disambut tangisan kencang Luna.Bagas dengan terburu-buru langsung menggendong Luna
"Mbak Mia kenapa Luna menangis ?" tanya Felisha
"Maaf Bu..tadi saya kelepasan bilang non Luna mau punya adik " jawab mbak Mia.
Bagas dan Felisha saling lirik.Mereka tidak bisa menyalahkan pengasuh mereka.Cepat atau lambat Luna memang harus tau.
Bagas membawa Luna ke kamarnya, Felisha mengikuti dari belakang.Luna terus menangis dalam gendongan Bagas.
"Cantiknya Daddy kenapa menangis ?" tanya Bagas lembut.
"Bibi bilang aku mau punya dedek...aku tidak mau punya dedek hiks..hiks .." jawab Luna terisak.
"Kenapa Luna tidak mau punya dedek..kalau ada dedek Luna kan nanti ada teman " bujuk Bagas
"Aku tidak mau punya dedek..huwaa..huwaaa " tangis Luna semakin kencang.
Bocah kecil itu mengeratkan pelukannya dileher Bagas sambil terus terisak.Sementara Felisha hanya menatap mereka dengan bingung.
Setelah Luna mulai tenang dan berhenti menangis,Bagas mendudukan Luna dipangkuannya.Dibelainya rambut berponi itu lembut.
"Katakan sama Daddy..kenapa Luna tidak mau punya adik ?" tanya Bagas hati-hati.
Luna tidak menjawab,ia menyusupkan wajahnya didada Bagas.
"Dedek bayi itu lucu loh sayang.." Felisha berusaha membujuk Luna.
"Aku tidak mau mommy"
"Kenapa Luna tidak mau punya adik ?kakak Nakula sama kakak Sadewa saja senang waktu mommy hamil Luna " ujar Felisha lembut
"Aku tidak mau mommy...nanti Daddy tidak sayang lagi sama Luna seperti dulu..huwaa.. huwaaa..huwaaa " Luna kembali menangis.
Bagas termangu..hatinya tiba-tiba sangat sakit mendengar ucapan putrinya.Tidak terasa sudut matanya tiba-tiba basah.Ia tidak menyangka jika Luna masih menyimpan kenangan pahit itu dalam ingatannya.
"Luna jangan bicara seperti itu sayang.. sampai kapan pun Daddy akan sayang sama Luna " Bagas memeluk erat Luna sambil menangis
"Maafkan Daddy sayang " pinta Bagas
Setelah beberapa lama dalam pelukan Daddy nya, akhirnya Luna pun tidur.Bagas menurunkan tubuh mungil Luna diatas ranjang hello Kitty nya dengan hati-hati.Sebelum beranjak Bagas mencium kening Luna lembut.
Sejak keluar dari kamar Luna, Felisha melihat Bagas tampak murung.
"Jangan terlalu dipikirkan ucapan Luna tadi,dia hanya sedang ketakutan kehilangan kasih sayang mas Bagas " Felisha menyentuh tangan Bagas.
Bagas menunduk,ucapan Luna adalah sebuah tamparan telak untuknya.
"Maaf ya..mas dulu sudah semena-mena sama kamu dan Luna " bisik Bagas lirih.
"Sayang..kamu sudah sering sekali mengatakan ini..aku tidak mau membahasnya lagi " jawab Felisha
"Tapi Luna..mas ingin menghapus kenangan itu dari ingatannya..tapi tidak tau bagaimana caranya " ujar Bagas
"Seiring berjalannya waktu Luna pasti lupa.. Apalagi sekarang mas sayang banget sama Luna melebihi sayang mas sama mommy nya malah " ucap Felisha sambil memasang tampang sedih.
__ADS_1
"Jangan cemburu sama anak sendiri " pungkas Bagas sambil tersenyum getir.
Sejak hari itu,Bagas semakin memanjakan Luna.Semua yang Luna inginkan Bagas pasti turuti.Dan Aluna pun semakin posesif kepada Daddy nya.Ia tidak mengijinkan mommy nya dekat-dekat dengan Daddy nya.
"Mommy..jangan dekat-dekat Daddy aku " Luna melipat kedua tangannya didada ketika pagi-pagi ia memergoki Bagas tengah memeluk Felisha.
"Mommy hanya membantu Daddy memasangkan kancing baju saja " jawab Felisha berdusta.
"Tapi jangan dekat-dekat " ujar Aluna galak.
"Iya maaf sayang.. mommy tidak akan dekat-dekat sama Daddy nya Luna " jawab Felisha sambil menjauh dari Bagas.
Bagas hanya tertawa melihat Felisha mendapat Omelan dari putrinya sendiri.
"Jatah mommy nya malam..kalau yang punya Daddy sudah tidur " bisik Bagas mengerling.
Setelah Felisha menyingkir,Luna pun langsung menguasai Bagas.Ia merengek kepada Bagas ingin menginap ke rumah neneknya.
"Iya kita semua nginap di rumah enin sambil melihat kamar kakak yang baru " ujar Bagas sambil menyambar kunci mobilnya.
Weekend ini mereka menginap di rumah bunda Felisha.Beberapa hari yang lalu Dio dan ayah Felisha mengabari jika kamar untuk si kembar sudah selesai dan sudah bisa ditempati.
Sesampainya di rumah bunda Felisha,Nakula dan Sadewa sangat senang mendapat kamar baru.Apalagi warna cat nya pun sesuai dengan yang mereka inginkan.
"Terimakasih kakek " Nakula dan Sadewa memeluk ayah Felisha.
"Makasih juga sama om Dio..dia yang sudah bikin gambarnya " ujar Bagas.
"Terimakasih om " Kini mereka berebut memeluk Dio.
"Sekarang kalian tidak akan mengacak-acak kamar om lagi " Dio mengacak rambut si kembar.
Mereka menghabiskan malam dengan berkumpul di ruang keluarga.Kinanti mulai mendekati Luna dan membujuk bocah itu agar tidur dengannya.Kinanti memang sangat menyukai Luna.Ia sangat menginginkan punya anak perempuan seperti Luna.
"Daddy ..aku mau bobo sama Tante Kinan,tapi Daddy jangan dekat-dekat sama mommy " ancam Luna.
"Iya.. Daddy tidak akan dekat-dekat mommy " jawab Bagas sambil tertawa.
"Cemburu karena mau punya adik itu biasa, nanti juga tidak " ujar bunda menenangkan.
"Aku takutnya Luna tidak sayang sama adiknya kalau nanti sudah lahir " ucap Felisha lirih.
"Tidak akan..Dio juga dulu waktu bunda hamil kamu begitu..tapi sekarang kamu tau sendiri gimana sayangnya Dio sama kamu " jawab bunda.
"Iya Bun " jawab Felisha.
"Nanti kakak bantu kasih pengertian pelan-pelan " bisik Kinanti
"Terimakasih kak " jawab Felisha.
Malam itu Luna termakan bujuk rayu Kinanti untuk tidur dengannya,dan sikembar tidur dikamar baru mereka.Kini tinggallah Bagas dan Felisha dikamar berdua.
"Akhirnya bisa berduaan juga " gumam Bagas sambil merengkuh tubuh Felisha dan menenggelamkan kedalam pelukannya.
"Kalau Luna lihat bisa ngamuk " bisik Felisha ketika mulut Bagas mulai menyusuri leher Felisha.
"Ya jangan sampai tau " jawab Bagas sambil menghisap dan menggigit kecil leher mulus itu sehingga meninggalkan bercak merah kebiruan.
"Iyy..yya " jawab Felisha menngelinjang karena bibir Bagas yang semakin merambat turun menuju dua bukit kembar Felisha.
Felisha mengangkat tubuhnya sedikit ketika tangan Bagas berusaha melepas pengait bra yang Felisha kenakan.
Setelah terlepas,bibir Bagas pun langsung melahap dua benda membusung itu dengan rakus.
"Semakin hari semakin besar " gumam Bagas
"Ya pasti lah..tiap hari menyusui bayi besar " jawab Felisha tertawa geli.
"Sekarang mas yang berkuasa..nanti kalau kamu sudah melahirkan pasti dikuasai si baby " ujar Bagas.
Namun Keasikan Bagas harus terganggu ketika terdengar suara ketukan halus dipintu.
Bagas dan Felisha yang masih berpakaian langsung membuka pintu kamar.
"Daddy..aku mau tidur sama Daddy saja " Luna menangis dalam gendongan Kinanti.
"Ya sudah Luna tidur sama Daddy " Bagas mengambil Luna dari gendongan Kinanti.
Bagas menidurkan Luna ditengah diantara ia dan Felisha.Luna langsung memeluk erat Bagas tidak memberi kesempatan Daddy nya dekat-dekat dengan mommy nya.
__ADS_1
"Tunggu tidur dulu ya..nanti kita lanjutkan lagi " bisik Bagas