
Sudah tiga malam Zhifana tidur di kamar Arka karena masih kesal kepada Nakula yang menurutnya egois.
Wanita itu tidak mengindahkan permohonan Nakula agar jangan tidur di kamar Arka karena ia tidak mau tidur sendirian di kamar mereka.
Di hari keempat Zhifana kaget ketika subuh terbangun ia sudah berada dalam pelukan Nakula di kamar mereka.Padahal semalam Zhifana tidur di kamar Arka.
Rupanya diam-diam Nakula memindahkannya ke kamar mereka setelah Zhifana tertidur pulas.
Rasa kesal kepada Nakula mulai hilang berganti dengan rasa rindu dan kasihan ketika melihat wajah tampan Nakula yang tampak begitu nyaman memeluk dadanya.
"Dasar curang " gumam Zhifana sambil mengelus kepala Nakula.
Merasa ada yang menyentuh kepalanya Nakula pun membuka matanya.
"Sayang sudah bangun ?" tanya Nakula . Zhifana mengangguk sambil tersenyum.
"Sayang..jangan marah lagi. Kita baikan ya..aku tidak sanggup kamu abaikan terus " ujar Nakula lirih.
Zhifana menatap Nakula ragu, namun tidak lama kemudian akhirnya Zhifana mengangguk.
Sepertinya sudah cukup waktu empat hari untuk memberi pelajaran kepada suaminya.
"Terimakasih Sayang " Nakula langsung memeluk Zhifana erat.
"Aku janji tidak akan marah-marah lagi kalau kamu pergi sama Cindy dan Luna " ujar Nakula.
"Kenapa dibatasi hanya dengan Cindy dan Luna ?" Zhifana langsung protes.
"Kalau begitu aku juga mau membatasi kamu juga tidak boleh pergi dengan siapapun kecuali dengan Kenzo dan Sadewa " balas Zhifana.
"Baiklah.. tidak hanya dengan Cindy dan Luna. Tapi kamu harus tau batasannya karena kamu adalah istri dari Nakula Bagas Hadi Pranoto " pesan Nakula.
"Oke..tapi itu juga berlaku untuk kamu...Kamu harus tau batasan karena kamu suami dari Zhifana " balas Zhifana.
"Oke deal.." mereka pun bersalaman.
Setelah terjadi kesepakatan diantara mereka, Nakula langsung naik keatas tubuh Zhifana dan melahap bibirnya dengan rakus.
Empat hari diabaikan oleh Zhifana tentu saja berpengaruh kepada nasib adik kecilnya yang terkena imbasnya harus tertidur selama empat hari.
"Nanti lagi diteruskan.. sekarang subuh dulu " Zhifana mendorong tubuh Nakula agar turun dari atas tubuhnya.
"Baiklah " Nakula menggulingkan tubuhnya turun dari atas perut Zhifana kemudian beranjak ke kamar mandi bersiap untuk menunaikan kewajibannya sebelum menunaikan tugas sucinya sebagai suami.
Setelah selesai solat dan Zhifana melipat mukenanya, Nakula langsung menyergap Zhifana dan menggiringnya keatas kasur empuk mereka.
"Aku kangen banget sama kamu Sayang..empat hari puasa rasanya seperti satu abad " ucap Nakula sebelum melahap bibir Zhifana dengan rakus.
__ADS_1
"Makanya jangan macam-macam sama istri jadinya susah sendiri " cibir Zhifana sambil membantu Nakula melepaskan piyamanya.
"Tidak akan Sayang..aku cuma ingin satu macam saja " jawab Nakula sambil meloloskan segitiga pengaman berwarna hitam yang Zhifana kenakan kemudian menciumi isinya.
Pagi itu Nakula membuat Zhifana terus mengerang dibawah himpitan tubuh kekarnya.
Empat hari puasa membuat Nakula tidak dapat mengontrol dirinya hingga membuat Zhifana terkapar lemas dibawah tubuhnya.
Nakula baru melepaskan Zhifana ketika jagoan mereka bangun dan memanggilnya.
"Biar aku saja yang keluar " Nakula buru-buru memakai celana boxernya kemudian keluar untuk menemui Arka. Sementara Zhifana masih terkapar lemas dibawah selimut dengan tubuh polosnya.
*
Malam ini kota Bandung diguyur hujan yang sangat lebat sekali. Cindy menarik selimut tebalnya hingga menutupi dadanya.
Dikamar sebelah Satria sudah tidur pulas ditemani pengasuhnya. Ini adalah hari ketiga setelah kepulangan Sadewa ke Sumedang.
Disaat seperti ini tiba-tiba saja Cindy sangat merindukan Sadewa. Ia merasa sedikit menyesal telah mengabaikan Sadewa sebelum kepulangannya ke Sumedang.
Rasa rindu Cindy kepada Sadewa sedikit terobati ketika malam itu Sadewa menghubungi nya melalui sambungan video.
"Kakak sedang di mobil ?" Cindy mengernyit menatap Sadewa yang sedang berada di dalam mobilnya.
"Iya..ada tugas yang mendesak " jawab Sadewa.
"Malam-malam begini ?" tanya Cindy.
"Hati-hati " ucap Cindy. Sadewa mengangguk.
"Bun..kangen " ujar Sadewa lirih sambil menatap lembut kearah Cindy.
"Sama " jawab Cindy.
"Sudah tidak marah lagi ?" tanya Sadewa masih menatap Cindy dengan penuh kerinduan.
Cindy menggeleng Kenyataannya rasa marahnya terkalahkan oleh rasa rindu yang menggunung kepada suaminya itu.
"Kakak sedang menunggu siapa ?" dahi Cindy mengernyit ketika melihat mobil Sadewa terlihat diam tidak bergerak.
"Sedang menunggu dibukakan pintu pagar sama kamu " jawab Sadewa.
"Emang kakak dimana ?" tanya Cindy.
"Kakak di depan..cepetan bukain pagarnya " pinta Sadewa.
Cindy loncat dari atas ranjang kemudian melihat keluar melalui gorden jendela kamarnya. Ternyata benar..mobil Sadewa sudah ada di depan pagar tidak bisa masuk karena Cindy sudah menguncinya.
__ADS_1
Dengan terburu-buru Cindy membuka pagar rumahnya dan mobil Sadewa pun masuk.
"Tumben pulang sekarang " Cindy membawakan tas milik Sadewa kemudian dibawa ke kamar.
"Besok Kakak mau ke Mapolda jadi sekalian pulang..kangen sama kamu " Sadewa tiba-tiba menyergap tubuh Cindy.
Cindy yang juga sangat merindukan Sadewa membalas dengan melingkarkan kedua tangannya di leher Sadewa.
"Kakak kangen banget sama kamu " Sadewa melu mat bibir Cindy dengan lembut.
"Aku juga "jawab Cindy lirih. Wanita cantik itu sudah benar-benar melupakan kemarahan nya kepada suaminya.
Sadewa dan Cindy saling meluapkan kerinduan dengan saling memeluk dan melu mat bibir.
"Kakak datang tepat waktu, aku sedang takut tidur sendiri dalam keadaan hujan besar begini " Cindy membelai rambut cepak Sadewa.
"Sedang takut hujan atau sedang kangen sama kakak ?" tanya Sadewa.
"Dua-duanya " jawab Cindy manja.
Sadewa tersenyum senang sambil kembali melahap bibir Cindy dengan rakus.
Meski udara malam di Bandung sangat dingin ditambah hujan yang cukup deras Cindy sama sekali tidak keberatan ketika Sadewa malah melucuti semua pakaiannya.
Bahkan Cindy ikut membantu ketika pria tampan itu sedikit kesulitan membuka sabuk yang melingkar di pinggangnya.
Cindy tidak keberatan membiarkan tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun karena Sadewa pasti akan menghangatkan tubuhnya malam ini.
Sadewa dan Cindy melalui malam yang dingin dengan saling menghangatkan tubuh.
Malam itu hanya suara hujan dan suara desa han yang terdengar dari bibir keduanya saling bersahutan.
Hujan di malam itu menjadi saksi dimana dua raga yang saling merindukan bersatu dalam kehangatan cinta yang membuncah.
Menjelang dini hari Cindy akhirnya mengibarkan bendera putih tanda menyerah.
Cindy sudah tidak sanggup lagi meladeni Sadewa yang sepertinya tidak mengenal kata lelah . Dan keduanya pun akhirnya tidur dengan posisi saling berpelukan.
Keesokannya Cindy dan Sadewa terbangun ketika Satria tiba-tiba naik keatas kasur dan nyempil diantara Cindy dan Sadewa. Untung Cindy dan Sadewa sudah memakai pakaian kembali.
"Ayah kapan pulang ?" Satria menusuk-nusuk pipi Sadewa. Bocah tampan itu terlihat sangat senang mendapati Ayahnya sudah ada di rumah.
"Ayah malam pulang waktu Aa sudah tidur " jawab Sadewa sambil memeluk tubuh montok itu.
"Aa ingin bobo sama Ayah " Satria menciumi wajah tampan Ayahnya dengan manja.
"Ayok kita bobo lagi sama Ayah " Sadewa menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka bertiga.
__ADS_1
"Mau ke Mapolda jam berapa Yah ?" tanya Cindy.
"Jam 10..masih ada waktu kita tidur lagi " jawab Sadewa sambil memeluk tubuh Cindy dan Satria dengan tangan kanannya.