
Selepas subuh Bagas langsung pergi ke dapur untuk membuatkan pasta pesanan Nakula dan Sadewa.Kedua putra nya ingin membawa bekal pasta buatannya ke sekolah.
Bagas tampak bangga ketika memasukan pasta buatannya kedalam dua kotak makan milik si kembar.
Tak lama kemudian Nakula dan Sadewa turun sudah mengenakan seragam sekolahnya.
"Kalian sarapan dulu.. Daddy panggilkan mommy kalian sebentar " Bagas beranjak ke kamarnya untuk membangunkan Felisha.
Felisha yang kebetulan sudah bangun nyaris bertabrakan dengan Bagas dipintu kamar.
"Sudah bangun ?baru akan saya bangunkan " ujar Bagas
"Aku kesiangan mas belum bikin sarapan untuk anak-anak " Felisha terlihat panik buru-buru akan pergi ke dapur
"Tidak usah panik begitu Fe...saya sudah buatkan sarapan untuk kita " ujar Bagas
"Mas Bagas yang bikin sarapan..kenapa tidak bangunkan aku ?" tanya Felisha menyesal
"Kamu kan sedang sakit " jawab Bagas
"Sudah enakan nih coba pegang " Felisha membawa tangan Bagas untuk menyentuh dahinya.
"Iya sudah tidak demam " ujar Bagas terlihat lega.
"Jadi hari ini aku bisa kerja " ujar Felisha.Bagas menggeleng dengan tatapan tajam.
"Sekarang kita sarapan dulu, anak-anak sudah menunggu " Bagas menuntun Felisha menuju meja makan dimana Nakula dan Sadewa sudah menunggu untuk sarapan bersama.
Felisha memasukkan kotak bekal berisi pasta buatan Bagas kedalam tas Nakula dan Sadewa sebelum mereka pergi dengan jemputannya.
Setelah Nakula dan Sadewa pergi,Bagas pun bersiap untuk pergi ke kantor.Bagas masih sempat menciumi pipi Luna yang masih tidur sebelum pergi.
"Hari ini jangan dulu ke kantor..awas kalau nekad pergi !" ancamnya sebelum masuk kedalam mobil.
"Iya..galak nya kumat " Felisha menggerutu.
Bagas yang sempat mendengar Felisha menggerutu memilih pura-pura tidak mendengar.
"Saya pergi " ucapnya sambil mengecup bibir Felisha sekilas.
Meski sudah terbiasa disentuh oleh Bagas namun setiap kali Bagas menciumnya reaksinya masih tetap sama seperti dulu.
Felisha menghubungi Ezra mengabarkan jika hari ini ia tidak masuk karena sedang sakit.
"Iya suami kamu sudah bilang.Istirahat saja dulu jangan pikirin urusan kantor dulu " jawab Ezra.
Felisha menyimpan ponselnya.Ternyata Bagas sudah mendahuluinya meminta ijin tidak masuk kepada Ezra..dasar kanebo kering.
Jam sembilan Luna bangun dari tidurnya.Orang yang pertama dicari adalah Bagas meskipun Felisha ada didekatnya.
"Daddy mana ?" rengeknya
"Daddy sudah pergi ke kantor sayang " jawab Felisha.
"Kenapa tidak bangunkan Luna kalau Daddy pergi ?" tanya Luna merajuk
"Kan Luna lagi tidur " jawab Felisha
__ADS_1
"Aku mau sama Daddy "
Felisha terpaku melihat Luna tiba-tiba menangis meraung-raung mencari Daddy nya.
Disaat Felisha sedang berusaha menenangkan Luna, tiba-tiba Bagas menghubunginya.
"Aku mau sama Daddy ..huwaaa.."
"Fe..itu kenapa Luna menangis ?" tanya Bagas khawatir
"Baru bangun tidur ..nyariin mas Bagas " jawab Felisha diantara tangisan Luna.
"Aku mau sama Daddy..huwaaaa "
"Tunggu saya sebentar lagi pulang " ujar Bagas
"Sebentar lagi juga berhenti nangisnya mas " ujar Felisha
"Tut..Tut.." Bagas menutup panggilan telepon.
"Luna berhenti menangis.. Daddy sebentar lagi pulang " bujuk Felisha.Namun tangis Luna malah semakin kencang.
Luna baru berhenti menangis ketika Bagas datang.Bagas langsung mengambil Luna dari gendongan Felisha.
"Daddy kenapa tinggalin Luna ?" tanya Luna sambil terisak
"Maafin Daddy sayang " ujar Bagas sambil mencium kening Luna.
Felisha termangu,putrinya sekarang lebih dekat kepada Bagas daripada kepadanya.
"Sepertinya sekarang Luna tidak memerlukan pengasuh lagi.Apa-apa sama Daddy nya " sindir Felisha.
Felisha duduk di ranjang menunggu Bagas selesai memandikan Luna.Tak ada suara tangis Luna yang meraung-raung,yang ada hanya tawa cekikikan Luna dari kamar mandi.
"mommy pesawatnya datang " Luna cekikikan ketika Bagas mengangkat tubuhnya yang sudah berbalut handuk seperti pesawat dan menyerahkan kepada Feli untuk dipakaikan baju.
Selagi Felisha memakaikan Luna baju,Bagas pergi ke kamarnya untuk mengganti baju kantornya dengan celana pendek dan kaos polo.
"Ga ngantor lagi mas ?" tanya Felisha ketika melihat Bagas sudah ganti baju.
"Tidak..mau di rumah saja nemenin kamu dan Luna " jawab Bagas.
"Masih demam ?" Bagas menempelkan punggung tangannya didahi Felisha
"Sudah enakan mas " jawab Felisha.
Seharian itu Bagas memilih tidak kembali ke kantor,ia menghabiskan waktunya dengan tiduran dan bermain dengan Luna.Dan Bagas melarang Felisha melakukan pekerjaan apapun selain berbaring di ranjang.Itu cukup membuat Felisha uring-uringan.
Felisha merasa sedikit heran,tidak biasanya Bagas seperti ini ditambah lagi malas ke kantor.Padahal Bagas adalah type orang yang gila kerja.
Nakula dan Sadewa pun sama herannya dengan Mommy nya.Tidak biasanya Daddy nya ada di rumah pada saat jam kerja.
"Daddy sedang ingin berkumpul bersama kalian " jawabnya ketika si kembar bertanya.
"Selain mommy kalian kan sedang sakit jadi Daddy harus menjaga mommy kalian sampai sembuh "
Felisha hanya bisa diam diperlakukan berlebihan seperti itu.Membantah pun tak ada gunanya apalagi orang yang paling bahagia adalah Luna.Karena ia bisa bersama Daddy nya sepanjang hari.
__ADS_1
Sore harinya Bagas memaksa untuk membawa Felisha ke dokter.Felisha berusaha menolak namun seperti biasanya Bagas kembali ke setingan awal yaitu tidak bisa dibantah.
Setelah menitipkan anak-anak kepada pengasuhnya,Bagas pun membawa Felisha ke tempat praktek dokter pribadinya.
"Mas Bagas maksa banget bawa aku ke dokter.Aku itu sudah tidak demam lagi.Kemarin itu aku demam karena kelelahan dan kurang tidur gara-gara semalaman kamu minta dipuasin.Dan aku muntah karena mas Bagas maksa aku buat ngabisin makan padahal aku sudah kenyang.Buktinya sekarang aku tidak apa-apa "
"Sudah pidatonya ?" tanya Bagas dengan senyum meledek.Felisha pun langsung cemberut.
"Mas ngapain kesini sih ?" Felisha protes ketika Bagas membawa Felisha ke tempat praktek dokter kandungan.
"Ketemu teman lama sebentar " jawabnya santai
"Ooh.." Felisha pun akhirnya mengikuti langkah Bagas memasuki ruang praktek dr kandungan.
"Akhirnya kesampaian juga gua ketemu bini Lo " ujar dr Sofi begitu mereka masuk ke dalam ruang praktek.
"Kenalkan Fe..ini dr Sofi teman SMA mas Bagas waktu di Surabaya "
"Felisha " Felisha memperkenalkan diri.Mereka pun saling bersalaman.
Felisha menangkap sesuatu yang janggal ketika dr Sofi mulai bertanya usia dan siklus menstruasi Felisha.
"jawab saja " ujar Bagas ketika Felisha melayangkan tatapan protes kepada Bagas.
"Kita periksa USG dulu ya " ujar dr Sofi sambil menggiring Felisha ke kamar periksa.
"Massss " Felisha tampak menahan geram.Sedangkan Bagas terlihat cuek.
Bagas
Sudah hampir dua Minggu ini aku merasakan ada yang aneh dengan Luna.Putri kecilku itu tampak lebih manja kepadaku dan sedikit rewel.
Luna selalu menempel kepadaku bahkan untuk mandi pun harus aku yang memandikan.Selain itu akhir-akhir ini dia selalu ingin tidur bersamaku dan Felisha.
Luna selalu merajuk jika aku dekat-dekat dengan ibunya,sungguh lucu anak itu.Jujur aku sangat bahagia akhirnya aku bisa menebus semua kesalahanku kepada putri kecilku itu setalah empat tahun aku abaikan.Sedangkan untuk menebus kesalahanku kepada ibunya aku lakukan dengan cara yang lain.
Terdorong oleh rasa penasaran yang sangat besar akan perubahan sikap Luna,aku pun bertanya kepada Wina sekertaris ku.Aku pikir Wina cukup berpengalaman dalam hal mengurus anak.
"Awas mau punya dedek pak..anak aku juga gitu pas mau punya adik.Jadi lebih manja dan rewel "
"Sebaiknya ibu dibawa periksa ke dokter kandungan takutnya beneran lagi isi "
Ucapan Wina terus terngiang di telingaku.Akhirnya dengan setengah memaksa aku pun berhasil membawa Felisha ke dokter.
Ia langsung protes kepadaku ketika aku menuntunnya menuju ruangan praktek dr kandungan yang kebetulan teman sekolahku waktu di Surabaya.
Aku berusaha sekuat tenaga menahan tawaku ketika Sofi menggiring Felisha menuju kamar periksa untuk dilakukan USG.Dan aku pura-pura tidak melihat ketika istriku itu menatapku dengan geram.
Namun seketika aku melihat Felisha tampak melongo menatap kearah layar monitor ketika Sofi mengatakan bahwa titik hitam dilayar monitor itu adalah bakal janin kami yang sudah mulai tumbuh di rahimnya.
"Ja..jadi saya hamil dok ?" tanyanya terbata.
Sofi mengangguk,dan diluar dugaan Felisha langsung loncat dari ranjang periksa dan langsung menubruk ku.Aku sempat menangkap pinggangnya khawatir istriku itu tersungkur jatuh.
"Sayang aku hamil " bisiknya.Ini untuk yang kedua kalinya dia memanggilku sayang.
Aku sudah tidak mampu berkata apa-apa.Yang bisa kulakukan hanyalah memeluknya erat dan mencium bibirnya lembut.Kuabaikan Sofi yang menatapku penuh ejekan..dasar bucin katanya.
__ADS_1
Tetap dukung ya readers tersayang..karena dukungan kalian sangat berarti buat author
happy reading 😘😘😘😘