
Memasuki Jakarta mobil Kenzo dan Sadewa mengambil arah yang berbeda. Mobil yang dikendarai Sadewa meluncur menuju ke rumah Cindy sedangkan mobil Kenzo langsung menuju ke rumah Luna.
Begitu sampai di rumah Bagas, Felisha dan Nakula sudah duduk di ruang keluarga siap untuk menyidang Luna.
"Kakak langsung pulang ya " bisik Kenzo.
Kenzo tidak mau ikut campur urusan intern keluarga Luna. Selain itu Kenzo pun masih sedikit dongkol karena sepanjang perjalanan pulang Luna terus cemberut padanya.
"Kakak tega membiarkan aku dimarahin sama mereka ?" tanya Luna nyaris menangis.
"Kamu harus bertanggung jawab akan apa yang kamu lakukan.Walaupun kamu pacar kakak kalau salah ya tetap salah..kakak tidak akan membela kamu " ucap Kenzo tegas.
"Ngapain kalian kasak-kusuk disana..MASUK !" titah Bagas.
Luna dan Kenzo pun masuk. Luna menyembunyikan tubuhnya dibelakang Kenzo karena takut dimarahin oleh Bagas.
"DUDUK !" titah Bagas.
Luna dan Kenzo pun duduk. Luna menunduk bersiap mendapatkan Omelan dari Bagas, Felisha dan Nakula.
Selama Luna disidang, Kenzo hanya menyimak tanpa mengatakan apapun apalagi membela Luna.Karena menurut Kenzo Luna memang salah telah berbohong.
"Sudah malam sebaiknya kalian istirahat..kamu juga Ken..kamu pasti belum sempat istirahat baru pulang dari Jepang langsung nyari Luna " ujar Bagas.
"Iya Om " jawab Kenzo.
Kenzo yang memang belum sempat istirahat sepulang dari Jepang pun pamit pulang. Luna mengantar Kenzo sampai ke teras.
Mendengar Kenzo yang belum sempat istirahat sepulang dari Jepang membuat Luna jadi merasa bersalah. Sebetulnya Aluna ingin minta maaf namun Kenzo sudah keburu pulang ke rumahnya dengan wajah yang lelah.
*
Sepanjang perjalanan pulang dari Karawang Cindy memang tidak mendapat Omelan dari Sadewa. Bahkan Sadewa sempat mengajak Cindy makan di warung nasi goreng yang kebetulan mereka lewati.
"Main apa saja tadi disana ?" tanya Sadewa sambil menyesap rokoknya ketika menunggu pesanan nasi goreng mereka datang.
"Main lumpur..Luna katanya ingin merasakan main lumpur di sawah " jawab Cindy.Sadewa terkekeh mendengar keinginan adiknya itu.
"Kakak kapan datang dari Bandung ?" tanya Cindy sambil memberikan piring nasi goreng kepada Sadewa setelah pesanan mereka datang.
"Tadi siang " jawab Sadewa sambil mematikan rokoknya dan mulai makan.
"Bagaimana kakak sama kak Ken bisa menemukan kami ?" tanya Cindy penasaran.
"Kebetulan saja " jawab Sadewa santai.
"Masa sih ?" Cindy tidak percaya.
"Sudah cepetan makan biar pulangnya tidak terlalu malam " ujar Sadewa sambil mengunyah makanannya.
Cindy meneruskan menyantap nasi gorengnya begitu juga dengan Sadewa. Mereka makan tanpa ada yang berbicara. Cindy diam-diam melirik kearah Sadewa yang makan dengan cepat.
"Kakak lapar banget ya ?" tanya Cindy.
"Ya..datang dari Bandung langsung jemput kamu sama Luna..jadi tidak sempat makan " jawab Sadewa.
"Kenapa tidak makan dulu ?" tanya Cindy.
"Kamu pikir kakak bisa makan sebelum menemukan kamu dan Luna " jawab Sadewa.
Mendengar jawaban Sadewa Cindy langsung terdiam. Tiba-tiba Cindy merasa bersalah kepada Sadewa.
Setelah menyelesaikan makannya mereka pun melanjutkan perjalanan. Kepulangan mereka nampaknya sudah ditunggu oleh Mama dan Papa Cindy.
__ADS_1
Akhirnya kekesalan Sadewa yang ia tahan selama ini terwakilkan oleh Mama dan Papa Cindy. Mereka memarahi Cindy dihadapan Sadewa. Cindy hanya bisa menunduk sambil terisak mendapati akibat dari kenakalannya bersama Luna.
Setelah puas memarahi anak gadisnya Mama dan Papa Cindy masuk meninggalkan Cindy dan Sadewa berdua di ruang tamu.
"Bagaimana enak dimarahin ?" tanya Sadewa meledek.
"Kakak kenapa ngomong begitu ? kakak seneng ya lihat aku dimarahin ?" Cindy langsung melotot.
"Bukan senang lihat kamu dimarahin, tapi memang sudah sewajarnya kamu dimarahin sama Mama dan Papa kamu karena kamu memang salah " jawab Sadewa santai.
"Punya pacar bukannya ngebelain aku ini malah meledek " keluh Cindy.
"Kakak tidak akan membela orang yang salah walaupun itu pacar kakak sendiri " ujar Sadewa sambil menjawil dagu Cindy.
"Jangan colek-colek " Cindy langsung memukul tangan Sadewa dengan wajah cemberut membuat Sadewa semakin gemas ingin menggoda Cindy.
"Kakak pulang ya..besok pagi kakak harus balik lagi ke Bandung " Sadewa melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Iya " jawab Cindy sambil mengantarkan Sadewa ke mobilnya.
"Belajar yang bener biar ujiannya lancar..kalau sudah selesai ujiannya kamu siap-siap ikut kakak ke Bandung " ucap Sadewa sebelum masuk ke dalam mobil.
" Iya kak " jawab Cindy.
Cindy yang polos tidak menyadari arti dari ucapan Sadewa barusan.Bahkan Cindy tidak sempat melihat senyum licik Sadewa sebelum mobil itu berlalu dari hadapannya.
*
Sudah beberapa hari ini Luna jarang bertemu dengan Kenzo, tepat nya sejak kepulangan mereka dari Karawang.Meskipun Kenzo mengatakan jika ia sedang sibuk namun entah mengapa Luna merasa jika Kenzo masih marah karena kepergiannya ke Karawang tempo hari.
Hari ini Luna pulang kuliah lebih cepat karena dosen mata kuliahnya berhalangan hadir. Sebelum pulang Luna mampir ke sebuah restoran yang berada dekat kantor Kenzo untuk makan siang.
Luna sengaja memilih restoran itu dengan harapan bisa bertemu dengan Kenzo disana. Biasanya Kenzo sering makan siang di restoran itu karena dekat dengan kantornya.
"Rio ?" mata Aluna membola. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan kakak kelasnya dulu di sekolah.Terakhir mereka bertemu adalah pada saat peresmian cafe milik keluarga Rio.Pada saat itu Luna datang bersama Kenzo dan orangtuanya.
"Kamu sendirian ?..boleh gabung ?" tanya Rio
"Boleh " jawab Luna.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Luna Rio pun duduk satu meja dengan Luna.
Selama makan Rio banyak memuji Luna yang telah berhasil lulus SMA lebih cepat.
"Bagaimana bisnis cafe nya..lancar ?" tanya Luna sambil mengunyah makanannya.
"Lancar..rencananya aku ingin buka coffee shop di daerah sini..tadi sudah melihat-lihat beberapa tempat di sekitar sini tapi belum ada yang cocok " jawab Rio.
"Wah keren bisnisnya " puji Luna.
Sambil makan mata Luna beberapa kali melirik kearah pintu masuk restoran. Luna berharap Kenzo akan makan siang disana juga.
Setelah beberapa kali melihat kearah pintu masuk akhirnya senyum Luna mengembang ketika yang ditunggunya muncul. Kenzo masuk bersama beberapa orang staf nya dan langsung mencari meja yang kosong.
Kenzo terlihat kaget ketika melihat Aluna sedang makan disana. Namun Kenzo langsung melengos ketika melihat Luna makan tidak sendirian tapi dengan Rio.
Kenzo masih ingat siapa Rio..Selain anak teman bisnis Papihnya Kenzo juga mengenal Rio sebagai pria yang pernah naksir Luna waktu sekolah.
Aluna mengurungkan niatnya yang akan menyapa ketika melihat Kenzo malah melengos. Akhirnya Luna pun mengabaikan keberadaan Kenzo disana.Sampai selesai makan dan berpisah dengan Rio Luna tidak menoleh lagi kepada Kenzo.
Ketika dalam perjalanan pulang Kenzo menghubungi Luna, namun karena kesal Luna pun mengabaikan semua panggilan dari Kenzo.
Sesampainya di rumah Felisha heran melihat wajah Luna yang tidak seceria biasanya.Felisha dapat menebak jika hubungan Luna dan Kenzo sedang tidak baik-baik saja karena sudah beberapa hari ini Kenzo jarang terlihat datang ke rumah.
__ADS_1
"Kakak sedang berantem sama Kenzo ?" tanya Felisha
"Tidak Mom " jawab Luna.
"Kenzo sekarang jarang ke rumah ya " pancing Felisha.
"Dia sedang sibuk Mom " jawab Luna.
"Sibuk ya " gumam Felisha setengah tidak percaya.
Felisha semakin yakin jika Luna dan Kenzo sedang bertengkar ketika Aluna beberapa kali mengabaikan panggilan telepon dari Kenzo.
"Kalau ada masalah itu dibicarakan biar cepat selesai bukan saling menghindar " nasehat Felisha sebelum berlalu dari kamar Luna.
Luna terdiam, ternyata tidak mudah membohongi Mommy nya. Mommy nya seolah bisa membaca isi kepalanya dalam sekali lihat.
Hari Sabtu seharian Luna mengurung diri di kamar.Luna sama sekali tidak keluar meskipun ia mendengar Kenzo dan Nakula bermain basket di depan.
Luna baru keluar kamar ketika Felisha menyuruh Luna mengantarkan cake keju buatannya ke rumah Bunda.
"Mau kemana dek ?" tanya Nakula ketika Luna masuk kedalam mobilnya.
"Ke rumah Enin disuruh Mommy nganterin ini " jawab Luna sambil menunjuk kotak kue ditangannya.
"Kakak antar ya " Kenzo mengakhiri permainannya basketnya.
"Tidak usah..aku bisa pergi sendiri " Luna menolak.
Kenzo tidak menghiraukan penolakan Aluna. Ia mengambil paksa kunci mobil dari tangan Luna.
"Dasar pemaksa " Luna menggerutu sambil duduk di kursi penumpang.
Luna hanya bisa diam ketika Kenzo mulai melajukan mobilnya menuju kearah rumah Bunda.
Setelah sekian lama hening akhirnya Kenzo pun bersuara.
"Tadi kamu janjian ya sama Rio ?" tanya Kenzo
"Tidak " jawab Luna
"Kalau janjian itu cari tempat yang jauh..biar tidak ketauan sama kakak " ujar Kenzo.
"Kakak ngomong apa sih..orang kita tidak janjian " jawab Luna ketus.
"Kakak kalau mau ngajak berantem mendingan jangan sok mengantarkan aku deh..enakan pergi sendiri daripada diantar tapi diajak berantem " omel Luna.Kenzo pun terdiam.
"Beneran kamu tidak janjian ?" tanya Kenzo menurunkan nada suaranya.
"Ya sudah kalau tidak percaya..aku tuh tadi sengaja makan disana pengen ketemu kakak karena kakak kan biasa makan siang disana, tapi kakaknya malah melengos " ujar Luna.
"Jadi kamu sengaja makan disana karena ingin ketemu kakak ? kenapa tidak ke kantor kakak saja ?" tanya Kenzo.
"Untung tidak ke kantor kakak.. kakak nya juga malah melengos pas ketemu aku " jawab Luna sinis.
"Habisnya kamu sih makan berduaan sama si Rio " ujar Kenzo.
"Kita tidak sengaja ketemu disana..dia sedang mencari tempat untuk coffee shop nya yang baru..katanya mau buka di daerah deket kantor kakak " Luna menjelaskan.
"Kenapa pas pulangnya tidak mau terima telepon dari kakak ?" tanya Kenzo.
"Aku masih kesel sama kakak " jawab Luna sambil cemberut.
"Sayang..jangan marah lagi dong.. maafin kakak ya !" pinta Kenzo sambil menggenggam tangan kanan luna. Luna pun mengangguk.
__ADS_1