
Sudah tiga hari Kenzo pulang ke Jepang. Sebetulnya Kenzo ingin membawa Luna namun Bagas tidak mengijinkan. Kenzo pun paham alasan Bagas tidak mengijinkan ia membawa Luna ke Jepang.
Selama Kenzo tidak ada Luna dan Cindy menikmati kebebasan mereka karena jauh dari pria yang berstatus pacar mereka.
Luna meminta ijin untuk menginap di rumah Cindy. Bagas dan Felisha pun mengijinkan. Namun setelah sampai di rumah Cindy mereka malah memutuskan pergi ke rumah kakeknya teman mereka di Karawang untuk melihat panen padi.
Ketika akan pergi Cindy meminta ijin kepada orangtuanya akan menginap di rumah Luna.
"Mumpung Kak Ken dan kak Dewa tidak ada, kalau ada mana bisa kita pergi jauh " oceh Luna sambil mengemudikan mobilnya menuju luar Jakarta.
Luna dan Cindy akan mengunjungi rumah kakeknya Yona yang tinggal di Karawang.
"Kalau ketauan Lo yang tanggung jawab ya " ujar Cindy.
"Mana bisa begitu..kita kan pergi berdua ya harus tanggung jawab berdua dong..tapi gw yakin kak Ken dan kak Dewa ga akan tau " jawab Aluna yakin.
"Lo udah minta sharelok alamat rumah kakeknya Yona belum ?" tanya Luna.
"Udah.." jawab Cindy sambil memeriksa ponselnya.
Karena terjebak kemacetan akhirnya setelah dua jam perjalanan mereka pun sampai di rumah kakek Yona.
"Nyampe juga kalian kesini " Yona yang memang sedang menginap di rumah kakeknya sangat senang dengan kedatangan dua temannya terutama Luna yang sudah hampir satu tahun tidak bertemu dengannya karena Luna yang mendahului lulus SMA karena kepintarannya.
Rencananya malam ini Luna dan Cindy akan menginap karena besoknya mereka akan ikut panen padi dan jagung di ladang milik kakek Yona yang kebetulan berprofesi sebagai petani.
"Lo tau ga..dari dulu gw ingin sekali main lumpur di sawah..tapi tidak pernah terwujud karena keluarga gw tidak ada yang jadi petani " oceh Luna sebelum mereka tidur.
"Besok Lo boleh main lumpur sepuasnya..kalau perlu mandi lumpur sekalian " jawab Yona sambil tertawa.
Mendengar Luna yang ingin sekali bermain lumpur Cindy jadi tertawa sendiri. Cindy jadi teringat jika ia pernah mandi lumpur saat memancing bersama Sadewa di Bogor.
"Ngapain Lo mesem-mesem sendiri ?" Luna menjitak kepala Cindy.
"Gw lagi ngebayangin Lo mandi lumpur lucu kayaknya " jawab Cindy berbohong.
Cindy tidak ingin sampai Luna tau jika ia barusan sedang memikirkan Sadewa.
"Mendingan sekarang tidur..karena besok pagi kita akan ikut panen ke Sawah sama Abah " Yona mematikan lampu kamar.
Luna dan Cindy yang takut gelap langsung menjerit ketakutan.Yona pun terpaksa menyalahkan kembali lampu kamarnya.
Keesokannya pagi-pagi sekali Luna, Cindy dan Yona pergi ke sawah untuk melihat kakek Yona yang sedang panen padi.
Seharian mereka bermain di sawah.Luna dan Cindy tidak peduli dengan baju mereka yang kotor oleh lumpur.Luna tampak bahagia setelah keinginannya untuk bermain lumpur akhirnya terwujud.
Setelah puas bermain sorenya mereka pun pulang.Jarak dari rumah Yona ke sawah yang lumayan jauh membuat Luna, Cindy dan Yona pulang dengan menumpang mobil pengangkut padi.
Ketiga cewek itu tidak berhenti tertawa cekikikan ketika mereka harus duduk di belakang bersama tumpukan padi yang baru selesai dipanen.
Namun tawa Luna dan Cindy seketika terhenti begitu mereka sampai ke rumah kakek Cindy.Di rumah kakek Cindy sudah terparkir sebuah mobil yang sangat Luna kenal yaitu mobil Kenzo.
__ADS_1
Yang lebih mengejutkan lagi adalah ternyata bukan hanya Kenzo yang datang tapi Sadewa juga.
"Mampus kita Cin " bisik Luna begitu mereka turun dari mobil pengangkut padi.
Begitu turun dari mobil mereka disambut tatapan tajam dari Kenzo dan Sadewa.
Meskipun terlihat kesal kepada Cindy dan Luna namun Kenzo dan Sadewa tetap berusaha ramah terhadap keluarga Yona. Bahkan mereka sempat ngopi bersama dengan kakek Yona.
Selama Kenzo dan Sadewa ngobrol dengan kakek Yona, Cindy dan Luna buru- buru membersihkan diri dan membereskan barang-barang mereka karena tujuan Kenzo dan Sadewa datang sudah bisa dipastikan untuk menjemput mereka.
"Bagaimana mereka bisa tau kalau kita disini ?" tanya Cindy.
"Entahlah.." jawab Luna. Setahunya Luna tidak memakai aplikasi apapun yang memungkinkan Kenzo dan Sadewa dapat melacak keberadaan mereka.
Sebelum magrib Sadewa dan Kenzo pamit untuk membawa Luna dan Cindy pulang.
Kenzo menyuruh Luna masuk kedalam mobilnya sedangkan Cindy pulang bersama Sadewa dengan mobil Luna.
"Kakak kapan datang dari Jepang ?" Luna berusaha membuka percakapan Karena sejak masuk kedalam mobil tidak ada satu kata pun keluar dari bibir Kenzo.
Kenzo diam tidak menjawab. Karena merasa diabaikan akhirnya Luna pun memilih diam dan tidak bertanya lagi.Namun mata Luna diam-diam melirik kearah wajah Kenzo yang masam.
"Kakak kalau cemberut seperti itu jelek " ejek Luna sambil melirik kearah Kenzo.
Kenzo diam ia tidak menanggapi ocehan Luna. Karena Kenzo terus mengabaikannya Luna pun memilih pindah duduk ke belakang melalui celah kursi kemudi dengan kursi yang ia duduki.
"Mau ngapain kamu..bahaya tau " omel Kenzo pada saat Luna pindah ke belakang.
Setelah Luna pindah ke belakang kini giliran Kenzo yang diam-diam melirik kearah Luna yang sedang anteng sendiri mendengarkan musik.
"Pindah duduknya kedepan lagi..kamu pikir kakak sopir kamu " ujar Kenzo sambil melirik kearah Luna.
Tidak ada Jawaban karena Luna memang tidak mendengar apa yang Kenzo katakan.
Kenzo terus menyuruh Luna pindah lagi ke depan namun Luna tetap tidak bergeming. Karena Luna tidak mau mendengarkan perintahnya akhirnya Kenzo menepikan mobilnya di pinggir jalan.
"kenapa berhenti ? " tanya Luna setelah melepaskan headset nya.
"Pindah duduknya ke depan " bentak Kenzo.
"Iya..iya..galak banget sih..di Jepang makan daging mentah ya ?" Aluna menggerutu sambil kembali pindah ke kursi depan di sebelah Kenzo.
Setelah Luna pindah ke sebelah nya Kenzo pun mulai mengeluarkan omelannya yang ia tahan sejak kemarin.
"Kenapa kamu bohong bilang akan menginap di rumah Cindy padahal pergi ke Karawang ?" tanya Kenzo.
"Tidak bohong kak.. awalnya memang akan menginap di rumah Cindy..tapi Yona ngajak ke rumah kakeknya..ya sudah jadinya kita pergi " jawab Luna.
"Kenapa tidak bilang sama kakak ?" tanya Kenzo.
"Kalau bilang ke kakak pasti tidak boleh " jawab Luna.
__ADS_1
"Belum tentu juga kakak tidak ijinkan " kilah Kenzo.
"Kakak kan biasanya begitu..kakak lebih galak daripada Daddy " ujar Luna.
"kakak galak itu karena kakak Sayang sama kamu..kakak tidak mau sampai terjadi apa-apa sama kamu seperti dulu " jawab Kenzo.
Kenzo masih ingat kejadian beberapa tahun yang lalu ketika Luna nyaris tenggelam di sungai.
"Aku kan cuma main ke rumah kakek Yona..
disana juga cuma main lumpur di sawah " bela Luna.
"Tapi kamu bikin semua khawatir..kamu bilang mau nginep di rumah Cindy..Cindy bilang mau nginep di rumah kamu..untung Sadewa pulang jadi dia bisa lacak keberadaan kalian " omel Kenzo.
Luna diam..Ia lupa jika kakaknya adalah seorang polisi.Bukan hal sulit baginya melacak keberadaan seseorang.
"Kakak tidak mau kejadian seperti ini terulang lagi " ujar Kenzo.
"Kamu dengar tidak apa yang kakak bilang ?" tanya Kenzo.
"Iya dengar " jawab Luna namun dengan wajah yang cemberut.
"Kenapa masih cemberut ?" tanya Kenzo.
"Ya kalau diomelin wajar cemberut..masa harus tertawa happy " jawab Luna.
Mendengar jawaban dari Luna membuat Kenzo ingin tertawa namun ia tahan dengan sekuat tenaga.
"Jangan cemberut lagi..kakak sudah tidak marah lagi sama kamu " ucap Kenzo lembut setelah rasa kesalnya mereda berganti dengan rasa rindu yang menggebu.
"Senyum dong Sayang..kamu tidak kangen sama kakak ?" tanya Kenzo sambil meraih tangan Luna untuk ia genggam.
"Tadi marah-marah..sekarang bilang sayang " sindir Luna masih dengan wajah cemberutnya.
*
Begitu mobil yang Sadewa kendarai mulai meninggalkan rumah kakek Yona ,Cindy langsung mengkerut melihat wajah Sadewa yang tampak keruh.
Kekesalan Sadewa terhadap Cindy sama besarnya seperti kekesalan Kenzo kepada Luna. Namun Sadewa berusaha bersabar dan sedang berusaha menyusun kalimat yang tepat agar Cindy tidak menjadi semakin takut padanya.
Meskipun kesal tapi Sadewa berusaha menahan diri untuk tidak memarahi Cindy Karena mereka baru jadian belum lama ini.
Sadewa yang baru akan membuka mulutnya langsung melongo ketika Cindy tiba-tiba bersuara.
"KALAU KAKAK MAU MARAHIN AKU LEBIH BAIK KITA PUTUS !" ancam Cindy.
"Haah putus?.. siapa yang mau marahin kamu ?" tanya Sadewa lirih sambil menggaruk tengkuknya.
Semua rangkaian kalimat Omelan yang sudah ada diujung lidahnya pun menguap seketika.
Dukungannya dong pliiis..Like,komen dan Vote nya sangat berarti buat Author.
__ADS_1
Happy reading 😘😘😘