Om Buah Hatiku

Om Buah Hatiku
Oleh-oleh khusus untuk Bunda


__ADS_3

Pagi ini Sadewa dan Cindy pulang ke Bandung. Beberapa kali Sadewa melirik kearah Cindy yang tampak lebih banyak termenung sambil memeluk Satria yang tertidur dipangkuannya.


"Kebiasaan kamu Bun..kalau pulang selalu cemberut " ujar Sadewa diantara kesibukannya mengemudikan mobilnya.


"Kalau tau rasanya berat jauh dari orangtua aku tidak akan mau kuliah di Bandung. Lebih baik kuliah di Jakarta saja seperti Luna " jawab Cindy dengan suara lirih.


"Semua kan sudah ada jalannya Bun.. dengan kamu kuliah di Bandung kita kan jadi berjodoh..dan sekarang punya si Aa " ujar Sadewa menghibur.


"Iya sih..tapi suka sedih juga Yah jauh dari orangtua " jawab Cindy.


"Sabar sampai kuliah kamu selesai dulu baru nanti aku mengajukan mutasi ke Jakarta " jawab Sadewa.


"Masih lama ..dua tahun lagi " gumam Cindy.


"Dua tahun itu sebentar Bun..kalau dibuat beban pasti berasa lama " nasehat Sadewa.


"Iya " jawab Cindy.


"Kamu kuliahnya harus semangat.. syukur-syukur bisa lebih cepat selesai seperti Luna " tantang Sadewa.


"Seperti Luna aku tidak akan sanggup " jawab Cindy.


"Ya sudah semampunya kamu saja " Sadewa mengusap puncak kepala Cindy dengan tangan kirinya.


"Kalau aku berhenti saja kuliahnya bagaimana ?" tanya Cindy.


"TIDAK..kamu harus konsekuen selesaikan kuliah kamu " jawab Sadewa tegas.


"Kalau kamu sampai berhenti kuliah berarti kamu mengecewakan semua orang " sambung Sadewa.


"Tadi kan aku bilang kalau Yah.."


"Iya..tapi kalau itu berarti sudah ada niat " jawab Sadewa tidak suka.


"Baiklah aku akan semangat selesaikan kuliah biar cepat jadi sarjana seperti Luna " ucap Cindy akhirnya.


"Sayang..walaupun kamu di rumah tapi kamu itu harus pintar karena rumah itu madrasah pertama untuk Satria " nasehat Sadewa.


"Iya Sayang " jawab Cindy sambil mengelus rambut Satria.


Setelah tiba di Bandung Sadewa dan Cindy kembali sibuk dengan rutinitas masing-masing. Sadewa melaksanakan tugasnya sebagai abdi negara, Cindy pun melaksanakan tugasnya sebagai seorang ibu sambil melanjutkan pendidikannya.


Disaat Cindy sudah mulai semangat ingin menyelesaikan kuliahnya tiba-tiba mereka harus menerima kenyataan bahwa Sadewa dipindah tugaskan ke Polres Sumedang.


Meskipun berat namun mereka hsrus menerimanya. Sebagai abdi negara tentu Sadewa harus siap ditugaskan dimanapun. Dan sebagai seorang Bhayangkari tentu saja Cindy harus mendukung semua tugas suaminya.


"Sumedang itu tidak jauh dari Bandung Sayang malah lebih jauh ke Jakarta " Sadewa berusaha menghibur Cindy ketika mereka sedang menyiapkan kepindahan Sadewa ke Sumedang.

__ADS_1


"Lagian kalau libur kakak juga pasti pulang ke Bandung " Sadewa mengelus puncak kepala Cindy.


"Iya " jawab Cindy.


"Disana awas kamu jangan macam-macam..jangan aji mumpung sedang jauh dari anak dan istri " ancam Cindy.


"Tidak akan Sayang..kamu jangan punya pikiran seperti itu. Lebih baik doakan semoga pekerjaan kakak lancar disana..begitu juga kakak doakan semoga kalian baik-baik disini dan kuliah kamu cepat selesai " nasehat Sadewa.


"Tapi aku sama Aa bakalan kangen sama kamu " Cindy memeluk perut Sadewa dan menangis di dadanya.


"Kakak juga pasti sangat merindukan kalian " jawab Sadewa lirih.


Sadewa mengusap punggung Cindy lembut. Sebetulnya ia juga merasa berat harus meninggalkan istri dan putranya yang sedang lucu-lucunya namun tentunya sebagai abdi Negara Sadewa dituntut harus selalu siap ditempatkan dimana saja.


Diawal-awal tinggal jauh dari suami, Cindy merasa hidupnya sangatlah berat.


Jika setiap hari ia dan Satria selalu bertemu dengan Sadewa kini mereka baru bisa bertemu dengan Sadewa satu minggu sekali.


Cindy pun harus terbiasa melewatkan malam-malam yang dingin tanpa kehangatan suaminya.


Satria yang sedang mulai belajar bicara seringkali menanyakan Ayahnya.


"Ayah kerja..nanti pulangnya Ayah belikan mainan untuk Aa " jawab Cindy berusaha menghibur putranya.


Untuk mengobati rasa rindu setiap hari mereka melakukan sambungan video. Bahkan Satria kerap kali menciumi ponsel Cindy jika wajah Ayahnya muncul disana.


Di mobilnya teronggok beberapa mainan baru untuk putra tampannya. Sadewa tersenyum sendiri membayangkan senangnya Satria mendapat banyak mainan baru dari Ayahnya.


Ketika mobil Sadewa memasuki halaman rumahnya Cindy dan Satria sudah menyambut kedatangannya di teras depan.


"Ayaaah puyaaang " Satria terlonjak-lonjak dalam gendongan Cindy.


Tanpa sempat menurunkan semua barang dari dalam mobil Sadewa langsung memburu anak dan istrinya.


"Aa.. Bunda..Ayah kangen " Sadewa memeluk keduanya dengan kedua tangannya.


"Aa sama bunda wangi banget " Sadewa menciumi keduanya bergantian.


"Kita habis mandi ya A..kan Ayah mau pulang " jawab Cindy.


"Kamu habis potong rambut Sayang ?" tanya Sadewa sambil memperlihatikan penampilan Cindy yang sedikit berbeda.


"Cuma dirapikan sedikit " jawab Cindy.


Sehari sebelum kepulangan Sadewa ke Bandung Cindy memang pergi ke salon untuk melakukan perawatan tubuh dan rambut.


"Tambah cantik " puji Sadewa sambil mencium bibir Cindy lembut. Satria yang berada dalam gendongan Cindy hanya melongo melihat apa yang sedang Ayah dan Bundanya lakukan.

__ADS_1


"Aa Ayah bawa mainan banyak loh, sebentar Ayah turunkan dari dalam mobil dulu " Sadewa bergegas menurunkan semua mainan yang dibelinya untuk putra tampannya dan dimasukkan kedalam rumah.


Melihat Ayahnya membawa banyak mainan untuknya Satria pun langsung turun dari gendongan Cindy dan memburu mainannya.


Satria langsung anteng dengan mainan barunya bersama Ayahnya dan Bundanya.


Sadewa menemani putra tampannya bermain sampai bocah montok itu tertidur. Setelah Satria tertidur Sadewa mengajak Cindy ke kamar.


"Kamu semakin cantik dengan model rambut yang baru " Di kamar Sadewa kembali memuji Cindy sambil mendekap tubuhnya erat.


"Kan biar suami aku senang " jawab Cindy manja sambil melingkarkan kedua tangannya dileher Sadewa.


"Ya..kamu berhasil Sayang " Sadewa merangkum wajah Cindy kemudian melu mat bibirnya dengan lembut. Cindy pun membalasnya.


"Sayang..kamu membawa banyak oleh-oleh untuk Aa..lalu untuk aku mana ?" tanya Cindy setelah mereka melepaskan tautan bibir.


"Oleh-oleh untuk kamu ini " jawab Sadewa sambil menuntun tangan Cindy untuk menyentuh benda keramatnya yang sudah terbangun setelah seminggu tertidur.


Cindy tertawa sambil sedikit mere mas benda tak bertulang yang sudah menyesakan celana Sadewa itu.


Sadewa yang sudah terbakar gairah menggiring Cindy menuju kasur empuk mereka dan menjatuhkan tubuh istrinya disana.


Kemudian Sadewa pun meloncat dan menjatuhkan tubuh kekarnya diatas tubuh istrinya.


Cindy sama sekali tidak mengeluh kesakitan meski tubuh kekar Sadewa menimpa tubuhnya, ia malah memeluknya sambil tertawa terkikik.


"Aku di smaxdown " ucapnya senang sambil menggigit telinga Sadewa.


Sadewa yang merasa sedikit kesakitan membalas dengan menggigit kecil leher Cindy membuat Cindy menggelinjang kegelian sambil meronta-ronta.


Bukannya melepaskan Sadewa malah dengan cepat meloloskan semua pakaian Cindy hingga benar-benar polos. Kemudian Sadewa pun buru-buru melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhnya.


Dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun melekat ditubuhnya Sadewa kembali meloncat dan meng smaxdown Cindy.


"Di Sumedang kamu tidak jajan kan ?" tanya Cindy.


"Ya jajan lah..disana banyak jajanan yang enak dan gurih " jawab Sadewa.


"Apaaa?..sana ah " Cindy mendorong tubuh Sadewa agar turun dari atas tubuhnya.


"Jangan piktor deh " Sadewa menyentil kening Cindy. " Disana kakak jajannya tahu Sumedang..enak dan gurih " sambung Sadewa.


"Aku pikir kakak jajan itu.." Cindy kembali memeluk Sadewa kemudian menggigit dagunya dengan gemas.


"Amit-amit " jawab Sadewa sambil kembali melu mat bibir Cindy.


Puas saling membelit lidah dan bertukar Saliva perlahan bibir Sadewa merambat menyusuri leher dan berhenti di dua bukit kembar Cindy dengan puncaknya yang sudah tegak menantang siap untuk di jamah. Sadewa pun langsung melahapnya dengan rakus dan menghisapnya kuat. Cindy yang merasa kegelian tidak sadar meliuk badannya membuat Sadewa semakin terbakar gairah dan segera melakukan penyatuan. Malam itu mereka kembali saling menghangatkan tubuh dalam pergumulan yang panjang.Suara ******* dan decitan ranjang terdengar saling bersahutan sampai menjelang dini hari. Setelah beberapa kali mendapat pelepasan bersama akhirnya tubuh polos keduanya terkapar dibawah selimut dan mereka pun tertidur.

__ADS_1


__ADS_2