
Setelah mengantarkan koper milik Cindy dan Sadewa ke hotel, Kenzo mengajak Aluna ke rumahnya untuk menemui orangtua Kenzo yang masih ada di Bali setelah menghadiri pernikahan Sadewa dan Cindy.
Pada saat Luna dan Kenzo datang Mamih Kenzo sedang paking barang kedalam koper karena besok pagi mereka akan pulang ke Jepang.
"Sini kak bantuin Mamih " Mamih Kenzo memanggil Luna ke kamarnya. Luna pun membantu memasukan baju-baju dan beberapa barang kedalam koper.
"Selama Mamih di Jepang titip Kenzo ya..dia kalau kerja suka lupa waktu dan lupa makan " ujar Mamih Kenzo
"Iya Mih " jawab Luna.
"Sebetulnya Mamih ingin ajak kamu ke Jepang, tapi selalu tidak boleh sama Daddy kamu " ujar Mamih Kenzo.
"Daddy memang begitu Mih..posesif " jawab Luna sambil tersenyum.
"Tapi kakak Ken juga sama Mih..aku tuh tidak boleh main
kemana-mana..pernah aku sama Cindy nyolong-nyolong main eh dimarahin " Luna mengadu.
"Masa sih Kenzo berani marahin kamu ?" Mamih Kenzo menatap Luna setengah tidak percaya.
"Beneran Mih " jawab Luna.
"Bagaimana tidak marah Mih..pergi mainnya pake pada bohong segala " ujar Kenzo yang tiba-tiba sudah ada di belakang Aluna dan mendengar percakapan mereka.
"Ya tapi jangan dimarahin..kasih pengertian saja " nasehat Mamih Kenzo.
"Yang marahin juga bukan cuma aku.. Mommy dan Daddynya juga kakaknya juga marah " bela Kenzo.
"Yaah..kalau begitu kakak berarti salah dan wajar dimarahin. " Mamih Kenzo malah menasehati Luna.
"Kenapa Mamih jadi ikut marahin aku..kan aku lagi curhat " keluh Luna.
"Oh iya..Ken kamu kesana deh jangan ganggu urusan perempuan " Kenzo pun diusir dari kamar Mamihnya.
Kenzo keluar dari kamar Mamihnya sambil menggerutu. " Yang anak Mamih itu aku atau Luna sih ?"
Setelah Kenzo keluar dari kamar Luna pun melanjutkan sesi curhat nya sambil menyelesaikan pakingnya.
Luna baru keluar dari kamar setelah koper-koper Mamih Kenzo berjajar rapi disudut kamar.
Begitu keluar Luna tidak menemukan Kenzo di rumah, menurut pelayan Kenzo ada di galeri lukisan karena ada yang datang untuk melihat-lihat koleksi lukisannya. Luna pun menyusul ke galeri.
Disana Luna mendapati Kenzo sedang menemani seorang wanita cantik melihat-lihat lukisan di galerinya. Sepertinya wanita itu seorang kolektor lukisan.
Cukup lama wanita itu berada disana. Kenzo dengan sabar menemani wanita itu dan menceritakan setiap detil lukisan yang ada disana.
Setelah cukup lama akhirnya wanita itu pergi. Sebelum pergi Aluna melihat wanita itu memberikan kartu namanya kepada Kenzo.
"Kalau pembelinya wanita cantik kakak langsung turun tangan ya ?" sindir Luna setelah wanita itu sudah benar-benar pergi dengan mobilnya.
"Tidak juga..tadi kebetulan saja kakak sedang ada disana " jawab Kenzo
"Kenapa..cemburu ?" tanya Kenzo
"Tidak..ngapain harus cemburu ?" kilah Luna dengan wajah cemberut.
"Tidak cemburu tapi cemberut begini " Kenzo mencomot bibir Luna sambil tertawa.
"Jadi beli lukisannya ?" tanya Luna.
"Jadi..nanti tinggal kirim.Lumayan buat nambah-nambah untuk modal nikah " jawab Kenzo sambil meraih pinggang Luna dan merapatkan ke tubuhnya.
Luna buru-buru melepaskan diri ketika ponselnya berbunyi karena ada pesan yang masuk.
"Kakak Zhi minta tolong dibelikan rujak kalau kita pulang " Luna memberitahu isi pesan dari Zhifana.
"Iya " jawab Kenzo.
Zhifana sekarang memang sedang mengandung. Sepulang dari bulan madu bulan berikutnya Zhifana langsung dinyatakan hamil.
Setelah berpamitan kepada orangtua Kenzo mereka pun pulang. Dijalan mereka menyempatkan membeli rujak pesanan Zhifana.
…………
Ketika Sadewa dan Cindy sedang berenang, pelayan hotel datang dengan membawa sarapan untuk sepasang pengantin baru itu.
Setelah selesai berenang dan mandi mereka pun langsung makan.Cindy yang pada dasarnya tukang tidur ditambah banyaknya aktifitas menjelang sampai hari pernikahan membuat Cindy langsung tertidur setelah menyelesaikan makannya.
Sadewa hanya geleng-geleng kepala melihat Cindy yang terkapar diatas ranjang pengantin mereka.
Tidak ingin mengganggu istrinya tidur Sadewa pun memilih duduk di dekat privat pool sambil menyesap rokoknya.
__ADS_1
Sambil menyesap rokoknya Sadewa terlihat memberi instruksi kepada seseorang melalui ponselnya.Tanpa sepengetahuan Cindy diam-diam Sadewa sedang mempersiapkan acara makan malam romantis untuk Cindy di dekat pantai yang masih berada di hotel mereka.
Setelah menghabiskan beberapa batang rokok Sadewa pun menyusul Cindy bergabung di ranjang pengantin mereka bersiap untuk tidur.
Sebelum tidur Sadewa mendaratkan bibirnya di bibir Cindy mencuri satu ciuman namun tangan Cindy tiba-tiba memukul wajah Sadewa dengan mata tetap terpejam.
"Ya ampun sedang tidur saja galak , sepertinya nanti malam kakak harus memborgol kamu " gumam Sadewa sambil tersenyum.
Setelah beberapa jam tertidur akhirnya pun Cindy bangun. Ia tertegun mendapati Sadewa tengah tertidur dengan tangan dan kaki membelit tubuhnya.
"Kakak..aku ingin pipis " Cindy berusaha menurunkan tangan dan kaki Sadewa dari tubuhnya.
Sadewa yang sedang pulas-pulasnya tidak bergeming dengan ucapan Cindy.
"Kak..aku mau pipis " Cindy memijit hidung Sadewa membuat Sadewa megap-megap dan langsung membuka matanya.
"Kamu itu baru nikah sudah ingin jadi janda ya " Omel Sadewa
"Salah sendiri sudah aku bangunin tidak bangun-bangun. Aku tidak tahan ingin pipis " Cindy langsung berlari ke kamar mandi.
Sadewa duduk diatas ranjang sambil menatap pintu kamar mandi dimana istrinya baru saja menghilang. Rasa kantuknya pun hilang seketika.
Tidak lama kemudian Cindy keluar dengan wajah terlihat lega.
" Legaa..tadi aku nyaris ngompol tau. Kalau aku ngompol di kasur kakak juga pasti marah " oceh Cindy sambil kembali naik ke atas ranjang dan berniat melanjutkan tidurnya.
Melihat Cindy hendak melanjutkan kembali tidurnya Sadewa pun kembali berbaring. Akhirnya mereka pun tertidur sambil berpelukan.
Setelah magrib Sadewa mengajak Cindy makan malam di tempat yang sudah disiapkan oleh Sadewa sejak siang.
"Aih kakak bisa juga romantis " puji Cindy ketika mereka telah sampai di tempat yang sudah Sadewa siapkan.
"Jadi ceritanya kita sedang candle light dinner " ujar Cindy.
"Anggap saja begitu " jawab Sadewa sambil menarik kursi untuk duduk Cindy.Kemudian ia pun duduk dikursi yang berada di depan Cindy.
"Lihat Kakak pake pakaian rapi begini mirip kak Nakula " ucap Cindy sambil menatap kearah Sadewa yang terlihat berbeda malam ini.
"Untung rambut kakak cepak jadi aku bisa bedain mana kak Nakula mana suami aku " Cindy terus mengoceh mengenai penampilan Sadewa.
"Sudah ngomongnya ?" tanya Sadewa setelah Cindy berhenti mengoceh.
"Sudah " jawab Cindy sambil tersipu.
"Iya " jawab Cindy sambil menunggu Sadewa melanjutkan ucapannya.
"Kakak itu bukan orang yang romantis..kakak harap ini bisa membuat kamu senang.." ucap Sadewa. Cindy manggut-manggut.
"Selain itu tujuan kakak sebenarnya adalah kakak ingin melamar kamu " lanjut Sadewa.
"Kakak sehat ?..acara lamarannya telat kak..kita sudah menikah " Cindy tidak dapat menahan tawanya.
"Tapi kan kakak belum pernah melamar kamu..Mommy yang melamar kamu " jawab Sadewa.
"Oh iya ya..Mommy yang melamar aku bukan kakak " gumam Cindy.
"Sekarang kakak mau tanya..apakah kamu mau menjadi istri kakak ?" tanya Sadewa sambil memberikan kotak berisi cincin yang indah dan berkilauan.
"Aku kan sudah jadi istri kakak " jawab Cindy.
"Kamu jawab saja " perintah Sadewa membuat Cindy langsung cemberut.
"Maukah kamu menjadi istri kakak ?" ulang Sadewa kali ini dengan nada yang lembut.
"Iya mau " jawab Cindy.
"Terimakasih ya Sayang " ujar Sadewa sambil memakaikan cincin di jari Cindy.
Cindy termangu..baru kali ini ia mendengar Sadewa memanggilnya sayang.
"Cincinnya bagus " Cindy mengagumi benda berkilauan yang menghiasi jarinya. Kini ada cincin lain yang menghiasi jari lentiknya selain cincin nikah tentunya.
Setelah acara lamaran mereka pun makan sambil diselingi mengobrol. Disela obrolan mereka Sadewa menyisipkan nasehat agar Cindy menjaga prilakunya sebagai Bhayangkari.
"Iya kak " jawab Cindy.
Setelah acara lamaran dan makan malam romantis mereka selesai, Cindy dan Sadewa pun kembali ke kamar mereka.
Begitu masuk ke Cindy dibuat terkejut karena kamar mereka tiba-tiba sudah berubah menjadi sangat indah. Ada banyak bunga di hampir setiap sudut kamar menambah kesan romantis.
"Ini juga kakak yang siapin ?" tanya Cindy.
__ADS_1
"Pelayan hotel yang siapkan..kakak kan tadi makan malam sama kamu " jawab Sadewa.
"Maksud aku.. mmpptthh " Cindy tidak dapat melanjutkan ucapannya karena Sadewa langsung membungkam mulut Cindy dengan bibirnya.
Cindy tidak punya pilihan selain pasrah dan menikmatinya. Sadewa yang mulai terbakar gairah terus melahap bibir Cindy dengan rakus.
"Kakak..pistolnya disimpan dulu dong aku takut " Cindy yang memeluk pinggang Sadewa tidak sengaja menyentuh benda itu dipinggang Sadewa.
Sadewa melepaskan Cindy sejenak untuk menyimpan benda itu didalam laci nakas.
"Pistol yang itu kakak simpan dulu.. sekarang giliran pistol yang ini yang bertugas " bisik Sadewa sambil menunjuk pada bagian bawah tubuhnya yang terlihat menonjol dibalik celananya.
"Kakak mesum " ujar Cindy dengan wajah yang memerah.
Sadewa kembali memeluk Cindy dan menautkan bibir mereka sambil menggiring Cindy menuju ranjang pengantin mereka.
Cindy yang terlena dengan ciuman Sadewa tidak menyadari jika diam-diam Sadewa mulai melucuti semua pakaiannya hingga tubuhnya benar-benar polos.
Pada saat Sadew melucuti bajunya sendiri Cindy menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya, namun tidak lama kemudian Sadewa menepiskan selimut itu dan menggantikannya dengan tubuhnya.
Sadewa yang sudah berada diatas tubuh Cindy kembali melahap bibir Cindy dengan rakus sedangkan tangannya mulai bergerilya kesana kemari dan berakhir pada dua benda kenyal sebesar buah apel yang berada di dada Cindy.
"Kakak geli tau " Cindy menngelinjang kegelian ketika ibu jari Sadewa mempermainkan puncaknya yang berwana merah kecoklatan.Bukannya melepaskan Sadewa malah melahap benda kenyal itu dan menghisapnya.
"Kakak geli " keluh Cindy ketika mulut Sadewa tidak mau beranjak dari kedua dadanya.
"Ssttt...diam jangan berisik..nikmati saja " bisik Sadewa
Cindy mengikuti perintah Sadewa dengan berusaha menikmati sentuhan Sadewa di sekujur tubuhnya. Namun ketika bagian bawah tubuh Sadewa mulai menekan bagian intimnya Cindy langsung protes.
"Kakak aku belum KB..aku tidak mau hamil dulu " Cindy berusaha mendorong tubuh Sadewa yang terus menekannya.
"Oh iya kakak lupa " Sadewa turun dari atas tubuh Cindy kemudian mengambil sesuatu dari dalam laci nakas.
Sadewa membuka kemasan kecil berisi ****** dengan giginya dan memakainya. Cindy memperhatikan dengan tatapan ngeri. Ia tidak bisa bayangkan jika benda panjang dan besar itu menerobos bagian intim tubuhnya sampai ke perut pasti sangat menyakitkan.
"Sudah aman pakai APD " Sadewa kembali naik keatas tubuh Cindy dan memposisikan pinggulnya diantara kedua paha Cindy.
"Kakak aku takut " bisik Cindy
"Tenang..kakak akan pelan-pelan " bisik Sadewa.
Sadewa mencium bibir Cindy untuk meredakan ketegangan istri kecilnya itu sambil diam- diam mulai melakukan penyerangan.
"Kakak sakit tau " Cindy meringis ketika tiba-tiba benda asing yang baru saja mengenakan APD itu menerobos masuk benteng pertahanan nya.
Melihat Cindy yang kesakitan Sadewa mencium bibir Cindy lembut.
"Sakitnya hanya sebentar Sayang sebentar lagi juga sakitnya hilang " bisik Sadewa.
"Apa masih terasa sakit ?" tanya Sadewa.
"Tidak " jawab Cindy
"Kakak akan pelan-pelan " Sadewa mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur diatas tubuh Cindy.
Cindy memeluk pinggang Sadewa ketika rasa sakit itu kini berubah menjadi rasa nikmat yang luar biasa yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya.
Melihat Cindy yang mulai merem melek Sadewa pun semakin mempercepat gerakan maju mundurnya sehingga membuat tubuh mungil itu terus berguncang seirama pergerakan tubuh Sadewa.
Ketika akan mencapai ******* tiba-tiba Cindy meminta Sadewa berhenti.
"Tidak bisa Sayang " Sadewa terus bergerak semakin cepat.
"Ta..tapi aku mau pipis..arrghh..tuh kan pipis " tubuh Cindy tersentak ketika akhirnya mereka mendapatkan pelepasan bersama.
"Itu bukan pipis Sayang " bisik Sadewa setelah ambruk diatas tubuh Cindy.
"I..iya..bukan pipis " jawab Cindy malu.Ia pun menyembunyikan wajahnya di dada Sadewa yang lembab.
Perlahan Sadewa turun dan melepaskan APD nya yang sudah penuh dan mengikatnya sebelum ia buang ke tempat sampah.
Sadewa kembali naik ke atas ranjangnya yang berantakan dan membiarkan lengannya menjadi bantal untuk istrinya yang tampak kelelahan.
"Masih sakit ?" tanya Sadewa sambil mengecup kening Cindy.
"Masih sedikit ngilu " jawab Cindy.
"Ya sudah kamu tidur sekarang " Sadewa kembali mengecup kening Cindy sambil mengelus punggungnya yang telanjang. Tidak lama kemudian Cindy pun tertidur dalam pelukan Sadewa.
Like komen dan vote nya pliiisss
__ADS_1
Happy reading 😘😘😘😘