
Setelah berjuang untuk menyelesaikan kuliahnya akhirnya Cindy mendapatkan gelar sarjananya.
Selesai acara syukuran yang dihadiri oleh suruh keluarga keesokannya Cindy pun bersiap-siap untuk ikut Sadewa ke Sumedang.
Tidak banyak barang yang Cindy bawa dari Bandung mengingat rumah dinas Sadewa yang tidak terlalu besar tidak akan cukup untuk menampung banyak barang.
"Ayah..mobil Aa yang dibelikan Daddy dibawa ya !" pinta Satria kepada Sadewa yang sedang membantu Cindy paking.
"Iya nanti Ayah suruh diantar pake mobil box. Kalau pake mobil Ayah tidak akan muat " jawab Sadewa.
"Aa nanti mau main mobil-mobilan sama kakak Reval " oceh Satria.
"Iya..besok ya " jawab Sadewa
"Kalau bunda mau main masak-masakan sama Bu Eko " balas Cindy sambil nyengir yang langsung mendapat cubitan di pipinya dari Sadewa.
"Dasar perempuan " cibir Sadewa.
"Yakin cuma bawa ini saja ?" tanya Sadewa sambil menunjuk koper berisi baju-baju Cindy dan Sadewa dan satu koper berisi baju Satria.
"Mau bawa barang banyak juga mau disimpan dimana Sayang yang ada bikin sempit " jawab Cindy.
"Apa Kita kontrak rumah saja yang lebih besar dari rumah dinas biar kalian nyaman " saran Sadewa.
"Tidak usah..aku senang kok tinggal di rumah dinas, walaupun rumahnya kecil tapi tetangganya pada baik dan yang lebih penting tidak jauh lagi sama suami " jawab Cindy sambil memeluk pinggang Sadewa.
"Mulai sekarang aku akan mendampingi kemanapun kamu ditugaskan walaupun ke bagian Indonesia paling ujung sekalipun "
"Memang harusnya begitu " jawab Sadewa sambil mengelus kepala Cindy.
Hari terakhir di Bandung Sadewa dan Cindy menyempatkan berpamitan kepada tetangga terdekat.
Setelah berpamitan kepada tetangga keesokannya Sadewa membawa Cindy dan Satria juga pengasuhnya ke Sumedang.
Sepanjang perjalanan Satria terus berceloteh, bocah tampan itu sangat senang akhirnya bisa berkumpul lagi dengan Ayahnya.
Satria baru berhenti berceloteh ketika rasa kantuk menyerangnya dan bocah tampan itu akhirnya terkulai dalam pangkuan Cindy.
Setelah menempuh perjalanan selama dua jam akhirnya mereka pun sampai di rumah dinas Sadewa.
"Cindy menggendong Satria untuk ditidurkan di kamar mereka sementara Sadewa menurunkan semua barang dari dalam mobil.
"Ayah sejak kapan cat kamarnya diganti ?" Cindy baru sadar jika warna cat kamarnya berubah menjadi warna kesukaan Cindy.
"Dua hari yang lalu aku suruh orang ganti warna catnya dengan warna kesukaan kamu " jawab Sadewa.
"Terimakasih " ucap Cindy sambil membongkar koper dan memindahkan isinya kedalam lemari.
__ADS_1
"Kakak sengaja ganti catnya dengan warna kesukaan kamu agar kamu betah di kamar " ujar Sadewa sambil mendekat kearah Cindy dan memeluknya dari belakang.
"Bantuin " Cindy mencubit tangan Sadewa.
"Dari dulu kebiasaan nyubitnya tidak hilang-hilang " keluh Sadewa sambil mengelus tangannya.yang baru saja menjadi sasaran cubitan Cindy.
"Ayah bantuin " ujar Cindy karena Sadewa malah menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Cindy.
"Iya nanti dibantuin " jawab Sadewa sambil membalikan badan Cindy agar menghadap kearahnya.
Dalam sekejap bibir Sadewa pun melu mat bibir Cindy dengan lembut. Cindy menyambutnya dengan mengalungkan kedua tangannya di leher Sadewa.
"Nanti malam kita mulai program tambah adik untuk Aa " bisik Sadewa.
"Jangan nanti malam Yah " jawab Cindy.
"Kenapa..mau sekarang saja ? " tanya Sadewa sambil tersenyum nakal kearah Cindy.
"Akunya sedang datang bulan " jawab Cindy
"Bun..kenapa tidak bilang dari tadi " wajah Sadewa langsung terlihat masam.
"Kan kamu tidak nanya " jawab Cindy sambil kembali meneruskan pekerjaannya.
"Huuh..puasa deh " keluh Sadewa sambil naik keatas ranjang dan memeluk Satria yang sedang tertidur.
Cindy yang ramah dan periang membuat wanita itu dapat dengan mudah beradaptasi di lingkungan yang baru. Begitu juga dengan Satria yang dengan cepat memiliki teman baru.
Setiap pagi teman-teman sebayanya selalu datang mengajak Satria bermain bersama. Bahkan Satria mulai ngambek jika saat ia bermain pengasuhnya selalu setia mengikutinya.
Pagi ini Cindy tampak sudah rapi dengan seragam Bhayangkari nya. Hari ini ia akan mengikuti kegiatan donor darah di sebuah rumah sakit yang ada di Sumedang.
"Sayang..donor darah itu sakit tidak ?" tanya Cindy kepada Sadewa sebelum pergi.
"Tidak..berasa disuntik biasa " jawab Sadewa.
"Aku takut Yah " keluh Cindy
"Ya ampun Bun..masa sama jarum sekecil itu takut..kalau disuntik sama aku berani malah suka minta nambah " goda Sadewa.
"Tidak lucu " sungut Cindy sambil membetulkan kerudung pink nya.
Selama hidupnya Cindy memang belum pernah melakukan donor darah jadi wajar jika ia merasa ketakutan.
Selama Cindy mengikuti kegiatan donor darah , Sadewa yang kebetulan sedang libur membantu menjaga Satria sementara pengasuh Satria dialih tugaskan memasak di dapur.
Hari itu tidak biasanya Satria tidak main keluar. Bocah tampan itu anteng bermain dengan ayahnya didalam kamar.
__ADS_1
"Ayah..kapan Aa punya adik seperti kakak Arka ?" tanya Satria
"Aa sudah ingin punya adik ?" tanya Sadewa sambil mengelus rambut hitam Satria.
"Ia Ayah..Aa mau punya adiknya dua seperti dedek sipit " jawab Satria.
Yang dimaksud dedek sipit adalah Kenan dan Ana. Bahkan Satria juga memanggil Kenzo dengan sebutan Om sipit..sedangkan kepada Luna Satria memanggil dengan sebutan Tante dedek sipit.
"Maksudnya mau adiknya kembar ?" tanya Sadewa.
"Ia Ayah..seperti Ayah sama Papa Nakula " jawab Satria.
"Aa berdoa saja ya " Sadewa kembali mengelus rambut Satria.
Selepas Dzuhur terdengar mobil Sadewa memasuki halaman rumah dinas. Cindy memang pergi dengan menggunakan mobil Sadewa.
"Sstt..Aa sedang tidur " Sadewa meletakan telunjuknya di bibirnya.
"Aa rewel tidak waktu aku tinggal ?" tanya Cindy dengan suara pelan khawatir Membangunkan Satria.
"Tidak..dia cuma punya satu permintaan " jawab Sadewa.
"Apa Sayang ?" tanya Cindy.
"Aa ingin adik bayi " jawab Sadewa.
"Sepertinya memang sudah waktunya Aa punya adik " jawab Sadewa dengan tangan mulai nakal menyusup kedalam baju seragam Bhayangkari Cindy.
"Sudah selesai belum tamu bulanannya ?" tanya Sadewa.
"Sudah " jawab Cindy
"Kalau begitu kita bikin adik untuk Aa sekarang " Sadewa melepas satu persatu kancing berwarna merah muda itu.
"Oh iya Sayang..tadi Aa bilang katanya adik bayinya mau dua seperti dedek sipit " ujar Sadewa setelah berhasil melepas kan baju Cindy.
"Kembar maksudnya ?" dahi Cindy mengernyit.
"Iya " jawab Sadewa sambil menuntun Cindy menuju kasur lipat dan menidurkan nya disana.
"Sayang tunggu sebentar " satu tangan Cindy menahan tubuh Sadewa sementara tangan satunya lagi mengambil ponselnya.
"Mau telpon siapa Bun ?" tanya Sadewa.
"Mau telepon Luna, mau tanya bagaimana caranya supaya bisa punya anak kembar " jawab Cindy.
"Tidak perlu..caranya semua orang juga sama Bun.." ucap Sadewa sambil kembali melu mat bibir Cindy.
__ADS_1
Siang itu Cindy dan Sadewa mulai getol dengan progam memberi adik untuk Satria.