
Setelah menidurkan Luna dan si kembar dikamarnya, Felisha menyiapkan kamar tamu untuk Bagas.
"Kamarnya sudah siap, silahkan mas Bagas istirahat " ucap Felisha sopan. Meski selama ini hubungan mereka kurang baik namun Felisha menghargai Bagas sebagai tamunya.
Bagas masih enggan masuk ke kamar yang Felisha siapkan. Ia masih ingin membujuk istrinya itu untuk pulang.
"Kenapa kamu bersembunyi disini? " tanya Bagas
"Saya tidak bersembunyi mas.. saya hanya ingin kembali menata hidup saya dan Luna disini " jawab Felisha
"Tempat kamu bukan disini, tapi dirumah saya bersama anak-anak " ujar Bagas.
"Jadi saya mohon ikutlah pulang ke Jakarta bersama saya dan anak-anak. Kita mulai dari awal.. saya janji akan memperbaiki semua kesalahan saya sama kamu dan Luna " bujuk Bagas.
"Tidak ada yang perlu diperbaiki mas.. semua memang sudah seharusnya begini " ujar Felisha lirih
"Ternyata kamu itu keras kepala " gumam Bagas
"Maka dari itu tolong lepaskan saya, karena saya pasti akan menyulitkan mas Bagas nantinya " Felisha memohon.
Bagas menatap tajam kearah Felisha. Yang ditatap hanya menunduk.
"Tidak masalah kalau kamu tidak mau ikut pulang dengan saya dan anak-anak. Biar saya yang mengalah.. saya yang akan datang kesini setiap hari libur " ujar Bagas akhirnya.
Felisha mengangkat wajahnya. Bukan ini yang ia inginkan.Keinginan untuk mengabdikan dirinya seutuhnya kepada Bagas sudah menguap seiring 4 tahun pernikahan mereka.
Yang Felisha inginkan sekarang adalah lepas dari Bagas dan melanjutkan kehidupannya bersama Luna, buah cintanya bersama Bagus.
"Saya tau sampai kapanpun saya tidak akan bisa menggantikan tempat adik saya dihati kamu dan Luna.. "
"Saya akui dulu saya menikahi kamu hanya untuk memberi status yang jelas untuk keponakan saya.."
"Namun sekarang niat saya tulus ingin menjadi suami kamu dan ayah untuk Luna "
Setelah mengatakan itu, Bagas langsung masuk ke kamar yang Felisha siapkan untuknya. Meninggalkan Felisha yang masih termangu berusaha mencerna ucapan Bagas barusan.
Minggu pagi..
Bagas duduk di teras depan rumah Felisha sambil menikmati secangkir kopi yang Felisha buatkan untuknya.
Meski tidak ada titik temu dalam permasalahan rumahtangga mereka, namun Felisha tetap menghormati Bagas sebagai tamunya.
Bagas menyesap kopinya sambil mengawasi Luna yang sedang bermain sepeda dihalaman. Sementara Felisha sibuk didapur membuat sarapan untuk mereka.
"Luna.. Hati-hati main sepedanya " Bagas memperingatkan Luna yang kurang hati-hati menjalankan sepedanya.
__ADS_1
Baru saja Bagas menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba.. Brugh.. sepeda Luna menabrak pagar. Luna pun terjatuh bersama sepedanya.
Bagas berlari dan langsung menggendong Luna yang menangis kesakitan karena lututnya sedikit lecet.
"Mommy sakit " Luna menangis dalam gendongan Bagas.
"Luna kenapa? " tanya Felisha
"Jatuh dari sepeda.. ada obat luka Fe? " tanya Bagas.
Felisha mengambil kapas dan betadine dari kotak obat dan memberikan nya kepada Bagas. Bagas pun mengobati luka lecet di kaki Luna.
"Kaki Luna kenapa? " tanya si kembar yang baru bangun. Udara dingin kota Bandung membuat Nakula dan Sadewa bangun siang.
"Kakak aku jatuh " Luna mengadu kepada kedua kakaknya sambil kembali terisak.
Luna berhenti menangis setelah Nakula dan Sadewa mencium pipinya bergantian.
"Kalian mandi gih.. sudah itu kita sarapan " titah Felisha kepada Nakula dan Sadewa.
"Cuci muka saja ya ka.. dingin "
"Mandi sana.. masa kalah sama adik kamu " ujar Bagas. Si kembar pun masuk ke kamar mandi.
Setelah si kembar selesai mandi, mereka pun sarapan nasi goreng buatan Felisha. Ini untuk yang pertama kalinya Bagas makan masakan Felisha.
Luna sebetulnya ingin ikut dengan kedua kakaknya, namun karena Felisha tidak ikut ia pun menolak ikut dengan wajah yang sedih.
"Kalau Luna ingin ikut boleh sayang.. mommy tidak ikut karena ada pekerjaan kantor yang harus mommy selesaikan " ujar Felisha beralasan.
"Kalau mommy tidak ikut Luna juga tidak ikut " ujar Luna dengan wajah sedih.
"Ya sudah.. lebih baik kita semua tidak usah pergi " putus Bagas. Luna dan si kembar tampak kecewa.
Melihat Luna dan si kembar kecewa, akhirnya Felisha pun tidak tega.
"Ya sudah mommy ikut kalian " akhirnya Felisha mengalah.
"Yey.. kita jalan-jalan " Luna dan si kembar berteriak kegirangan.
Bukan hanya si kembar dan Luna saja yang senang. Bagas pun tak kalah senangnya, akhirnya ia bisa menghabiskan waktu dengan istri dan ketiga anak mereka.
"Kalian ingin kemana? " tanya Bagas sambil menoleh sekilas ke arah Luna dan si kembar yang duduk dibelakang.
"Luna mau kemana, kakak ngikut saja " Nakula malah bertanya pada Luna.
__ADS_1
"Luna mau naik kuda " jawab Luna malu-malu.
"Ya sudah kalau begitu kita ke de'Ranch " ujar Bagas.
Dari setiabudi ke lembang tidak membutuhkan waktu lama mereka pun sampai.
"mommy aku mau naik kuda " Luna menunjuk ke arah Nakula dan Sadewa yang sudah siap diatas kuda tunggangnya masing-masing lengkap dengan pakaian koboy nya.
"Mommy tidak berani sayang " bisik Felisha
"Sama daddy saja ya " ajak Bagas
Luna menatap pada Bagas sekilas, kemudian beralih menatap wajah Felisha seolah meminta ijin. Wajah Luna langsung berbinar ketika melihat Felisha mengangguk.
Bagas menuntun Luna menuju tempat penyewaan kuda tunggang. Setelah memakai baju dan topi koboy nya, Luna pun naik kuda bersama Bagas.
Tangan kiri Bagas memeluk tubuh mungil Luna sedangkan tangan kanannya memegang kendali. Tubuh mereka terlihat berguncang seiring langkah hewan itu mengelilingi area perkebunan.
"Luna tidak takut naik kuda? " Bagas berusaha mengajak ngobrol Luna
"Tidak " jawab Luna
"Kalau Luna suka naik kuda, setiap minggu daddy akan ajak Luna kesini " ujar Bagas
"Luna sering kesini? " tanya Bagas
"Iya om.. sama om Dio dan om Ezra " jawab Luna
Dio memang sering membawa Luna main jika ia dan Ezra ke Bandung.
Mendengar Luna menyebut nama Ezra entah mengapa membuat Bagas tidak senang.
"Luna.. mulai sekarang jangan panggil om lagi.. Luna panggil daddy ya sama seperti kak Nakula dan kak Sadewa " bujuk Bagas. Luna menggeleng.
"Kata mommy daddy Luna sudah disurga " jawab Luna kekeh.
Bagas menelan ludah getir.. Bagaimana bisa mendapatkan hati Felisha jika mendapatkan hati Luna saja begitu sulit.
Setelah puas berkeliling dengan menunggangi kuda, mereka makan di foodcourt yang ada didalam kawasan wisata itu.
Sekilas mereka terlihat seperti sebuah keluarga yang sempurna. Felisha membuang muka ketika ia mendapati Bagas diam-diam sedang menatapnya.
Meski usia Bagas lebih tua dari Bagus, namun wajah Bagas tidak kalah tampan dari adiknya. Meski begitu tak membuat Felisha jatuh hati kepada pria angkuh itu. Terlebih Felisha sangat sakit hati ketika Bagas hanya menganggap Luna sebagai keponakannya. Berbanding terbalik dengan Felisha yang menganggap Nakula dan Sadewa seperti putranya sendiri.
Tetap dukung ya.. like, komen dan vote readers tersayang sangat berarti untuk author
__ADS_1
Happy reading 😘😘😘😘😘