Om Buah Hatiku

Om Buah Hatiku
Masih tidak percaya ?


__ADS_3

Seminggu berada dalam perawatan di rumah sakit di Jakarta akhirnya Bagas sadar dari komanya.


Felisha yang pagi itu sedang bersiap untuk pergi ke rumah sakit langsung meluncur ke rumah sakit dengan ditemani Ayah.


Meski sudah sadar namun dokter masih belum melepaskan semua alat dari tubuh Bagas.


"Sayang " panggil Bagas lemah ketika Felisha masuk dengan memakai baju besuk.


"Mas kangen anak-anak " ucap Bagas lirih.


"Mereka baik-baik saja dirumah " jawab Felisha.


"Apa Luna dan Abi masih rewel ?" tanya Bagas


"Tidak " jawab Felisha berbohong.


Pada kenyataannya Luna dan Abi setiap hari rewel.Apalagi Luna sempat merengek ingin menyusul Bagas ke Surabaya.


"Kamu terlihat lelah " Bagas menyentuh tangan Felisha.


Felisha tidak menjawab.Lelah..sudah pasti. Namun yang lebih membuat Felisha lelah adalah kabar perselingkuhan Bagas.


"Jangan banyak bicara dulu..mas harus banyak istirahat supaya cepat pulih " ujar Felisha.


"Iya " jawab Bagas lemah.


Melihat kondisi Bagas yang masih lemah, Felisha belum berani bertanya banyak kepada Bagas.Apalagi bertanya tentang kabar perselingkuhan nya dengan pengusaha asal Surabaya yang begitu santer terdengar.Felisha masih harus bersabar menunggu sampai keadaan Bagas benar-benar pulih.


Beberapa hari kemudian Bagas dipindahkan ke ruang perawatan karena kondisinya yang semakin membaik.


Felisha masih setia mengurusi Bagas yang masih belum bisa banyak bergerak karena luka bekas operasi pengangkatan proyektil peluru yang bersarang diperutnya.


Bagas menatap dalam wajah Felisha yang sedang duduk disisi ranjang sambil menyuapi nya makan.


"Kamu kurusan Sayang..kamu pasti kelelahan karena mengurusi mas " ujar Bagas lirih.


"Jangan berpikir yang macam-macam..aku sedikit kurus karena beberapa hari ini sedang tidak napsu makan " jawab Felisha berbohong.


"Jangan begitu Sayang..kamu harus makan. Kasian Abi dia kan masih ASI " nasehat Bagas.


"Iya "Jawab Felisha sambil menyusut bibir Bagas dengan tisu setelah Bagas menghabiskan makanannya.


"Dokter bilang kalau luka bekas operasi sudah mulai mengering mas boleh pulang " ujar Felisha sambil membetulkan letak duduk Bagas.


"Iya..mas sudah kangen sama anak-anak " jawab Bagas.


Beberapa hari kemudian Bagas sudah diijinkan pulang.Dio dan Ezra ikut menjemput Bagas pulang dari rumah sakit.


"Daddy pulaaang " melihat kedatangan Bagas Luna langsung berlari dan menghambur memeluk Bagas.


Bagas tampak meringis ketika Luna tanpa sengaja menyentuh luka diperutnya.


"Daddy kenapa lamaaa baru pulang..aku kan kangen sama Daddy " Luna langsung menggelendot pada Bagas.


Luna langsung naik kepangkuan Bagas.Ia tampak terkikik ketika Bagas menciumi kedua pipi Luna.


"Daddy nya masih lelah..Luna sama om yuk " Dio mengambil Luna dari pangkuan Bagas.


"Iya Om " jawab Luna.Ia pun berpindah kepangkuan Dio.


Felisha membawa Bagas ke kamar untuk istirahat.Dengan telaten Felisha menyusun beberapa bantal agar Bagas bisa duduk dengan nyaman diatas kasur.


"Nakula sama Sadewa mana ?" Bagas menanyakan si kembar.


"Belum pulang sekolah " jawab Felisha sambil beranjak menuju kamar bayi untuk mengambil Abimanyu karena Bagas terus menanyakan bayi tampan itu.


"Abi.. Daddy pulang " Bagas menyentuh kepala Abimanyu yang mulai ditumbuhi rambut.

__ADS_1


Abimanyu terlihat tersenyum ketika Bagas mencium kedua pipinya bergantian.


"Daddy kangen banget sama Abi " Bagas terus menciumi pipi Abimanyu.


*


*


*


Setelah kepulangannya dari rumah sakit,Bagas merasa ada sesuatu yang berbeda pada diri Felisha.Beberapa kali Bagas sempat memergoki Felisha sering melamu.Dan Felisha pun terlihat lebih murung dari biasanya.


Hal serupa juga Bagas lihat dari kedua putra kembarnya.Mereka terlihat lebih dingin dan tidak seceria biasanya.


Yang terlihat biasa hanya Luna dan Abimanyu. Luna terlihat semakin centil dan Abimanyu sudah mulai aktif dengan pipi yang semakin bulat.


Disaat kondisi Bagas sudah mulai pulih,ia masih harus ke Surabaya untuk memberikan kesaksian mengenai kronologi terjadinya insiden penembakan yang telah menewaskan rekan bisnisnya.


Kepergian Bagas ke Surabaya kali ini dengan didampingi oleh Dio dan Ezra.Sementara Kinanti dan Ajeng bertugas menemani Felisha dan anak-anak di rumah.


Di kantor Polisi Bagas menceritakan kronologis terjadinya penembakan malam itu.


"Sore itu saya bersama teman saya pergi meninjau lokasi proyek.Seharusnya yang bertugas meninjau lokasi adalah salahsatu staf saya..namun ia terpaksa pulang ke Jakarta karena istrinya melahirkan.


Sepulang dari meninjau lokasi proyek,teman saya terlibat pertengkaran dengan seseorang melalui sambungan telepon " Bagas mulai bercerita.


"Apakah anda tau dengan siapa teman anda terlibat pertengkaran ?"


"Saya tidak tau Pak.Yang saya tau tidak lama kemudian ada sebuah mobil yang menghadang mobil kami " lanjut Bagas.


"Apakah anda sempat melihat wajahnya ?"


"Tidak..karena mereka memakai penutup kepala " jawab Bagas.


"Ada berapa orang yang menghadang anda ?"


Setelah memberikan kesaksian Bagas pun diperbolehkan pulang.Bagas,Dio dan Ezra menginap di hotel yang ada disana.


"Sebaiknya kamu juga harus jelaskan kepada Felisha mengenai kejadian yang sebenarnya.


Soalnya dari berita yang beredar mengatakan kalau korban penembakan adalah pasangan selingkuh " saran Dio.


"Pasangan selingkuh ?..Ya Tuhan mana berani aku selingkuh dari dia " gumam Bagas.


"Apa anak-anak tau ?" tanya Bagas


"Kalau Luna aku yakin belum mengerti..tapi kalau Nakula dan Sadewa aku tidak yakin " jawab Dio.


"Pantas saja aku merasa kalau sejak pulang dari rumahsakit sikap Felisha dan si kembar terlihat berbeda " ujar Bagas.


"Untung saja dia tidak mengebiri aku " gumam Bagas.Dio dan Ezra saling tatap tidak mengeri dengan ucapan Bagas.


"Kalau berani selingkuh aku akan sunat punya kamu.. Felisha selalu berkata begitu " ujar Bagas yang langsung disambut tawa Dio dan Ezra.


"Untung dia belum sempat melakukannya " ujar Ezra sambil tertawa.


Setelah urusan dengan kepolisian selesai, Bagas,Dio dan Ezra pun kembali ke Jakarta. Sesampainya di rumah Bagas langsung memanggil Felisha dan si kembar ke ruang kerjanya.Sementara Luna dan Abimanyu bersama Kinanti dan Ajeng.


"Sepulang dari rumah sakit Daddy melihat ada yang berbeda dari kalian bertiga " Bagas mulai membuka obrolan.


"Berbeda bagaimana maksud kamu ?" tanya Felisha.


"Daddy tidak bodoh mom..sikap kalian kepada Daddy tidak sehangat biasanya "


Felisha dan sikembar diam membisu.


"Daddy tidak mau kalian menyembunyikan sesuatu dari Daddy " ucap Bagas tegas.

__ADS_1


"Kakak..bilang sama Daddy..apa yang membuat kalian berbeda kepada Daddy ?" Bagas menatap tajam kepada Nakula dan Sadewa.


Setelah cukup lama bungkam, akhirnya Nakula membuka mulutnya.


"Kami marah sama Daddy karena Daddy selingkuh.Teman-teman kami di sekolah juga membicarakan Daddy..kami malu "


Felisha mengusap tangan Nakula yang tampak emosi kepada Daddy nya.


"Jadi kalian pikir seperti itu ?" tanya Bagas


"Berita tentang Daddy hampir setiap hari ada di televisi.Walaupun kita dilarang nonton tv tapi teman-teman kami nonton dad " keluh Sadewa dengan mata merah menahan tangis.


Felisha kini menggenggam tangan Sadewa. Mencoba membuat putranya tenang.


"Jadi kalian tidak percaya sama Daddy ?" tanya Bagas sambil menatap ketiganya tajam.


Felisha dan sikembar menunduk diam tidak bergeming dibawah tatapan tajam Bagas.


Tidak ingin ketiga orang tersayang nya terus berburuk sangka kepadanya,Bagas pun menceritakan kejadian sebenarnya.Felisha dan si kembar mendengarkan sambil terus menunduk tidak berani menatap kearah Bagas.


"Sekarang apakah kalian masih benci sama Daddy ?" tanya Bagas.Ketiganya menggeleng.


'Kalian itu punya mulut kan dan tidak bisu..jadi jawab pertanyaan Daddy " ujar Bagas.


"Tidak dad " jawab Nakula dan Sadewa


"Tidak Mas " jawab Felisha.


"Ya sudah sekarang kalian kembali ke kamar.. Daddy tidak mau melihat wajah masam kalian lagi " ujar Bagas.


Felisha dan si kembar pun beranjak keluar dari ruang kerja Bagas.


"Heeeh..mau kemana kamu? Siapa yang suruh kamu pergi ?" tanya Bagas kepada Felisha.


Felisha pun kembali ke tempat duduknya masih dengan menunduk.


"Katanya kamu mau sunat mas "Bagas menyodorkan gunting yang ada di meja kerjanya kepada Felisha.


"Tidak jadi " jawab Felisha takut.


"Kenapa ?" tanya Bagas sambil berusaha menahan tawanya.


"Ya tidak jadi saja " jawab Felisha.


Felisha semakin menunduk manakala Bagas terus menatapnya tajam.


"Masih berpikir kalau mas selingkuh ?" tanya Bagas.


"Tidak " jawab Felisha.


"Lalu kenapa kamu terus menunduk dan tidak mau menatap mas ?" tanya Bagas sambil mengangkat dagu Felisha agar mau menatapnya.


"Mas tidak akan selingkuh dari kamu Sayang.. kamu harus percaya sama mas " ucap Bagas lembut.


Bagas akhirnya tidak tega melihat wajah Felisha yang ketakutan.


"Lihat mata Mas..apa kamu masih ragu sama Mas ?" tanya Bagas.


Felisha menatap mata Bagas.Mata itu begitu teduh dan Felisha tidak menemukan kebohongan disana.


"Iya aku percaya..kamu tidak selingkuh " ucap Felisha mulai terisak.


Bagas buru-buru meraih tubuh rapuh Felisha dan mendekapnya erat.Namun Bagas kembali menjauhkan tubuh Felisha sambil meringis.


"Masih sakit ?" tanya Felisha khawatir.


"Sedikit " jawab Bagas.

__ADS_1


__ADS_2