
Jumat pagi sebelum pergi ke kantor, Felisha mengunjungi makam Bagus terlebih dahulu. Digerbang pemakaman umum Felisha berpapasan dengan Bagas yang baru selesai dari berjiarah. Pada saat berpapasan mereka hanya bertukar pandangan tanpa saling sapa.
Selama hampir satu jam Felisha larut dalam khusyuk nya doa untuk kekasih tercinta.Selesai berdoa Felisha pun bergegas keluar area pemakaman.
Di parkiran area pemakaman Felisha melihat mobil Bagas masih ada disana.
"Fe..! " panggil Bagas ketika melihat Felisha.
"Loh.. mas Bagas masih disini? " tanya Felisha
"Iya.. nungguin kamu... saya antar kamu ke kantor ya " ucap Bagas.
"Tidak usah mas saya sudah pesan taksi online..nah itu sudah datang " jawab Felisha menunjuk ke sebuah mobil yang baru saja datang.
Bagas menghampiri mobil itu kemudian ia memberikan selembar uang kertas berwarna merah dan taksi online pesanan Felisha pun pergi.
"Saya antar kamu.. ke kantor kan? " Bagas menuntun Felisha menuju mobilnya. Dengan terpaksa Felisha pun membiarkan Bagas mengantarkan ke kantornya.
Sepanjang perjalanan keduanya membisu.Bagas mengetuk-ngetukan jarinya pada kemudi.Ekor mata Felisha menangkap jika cincin pernikahan mereka masih melingkar di jari manis Bagas.
"Fe.. kamu pulang ya, Saya berjanji akan memperbaiki hubungan kita.Saya akan berusaha menjadi suami dan ayah yang baik untuk kamu dan Luna " ucap Bagas lirih
"Maaf mas saya tidak bisa, Luna juga sudah nyaman tinggal di rumah bunda " jawab Felisha lugas
"Apa karena lelaki itu? " tanya Bagas
"Lelaki itu.. siapa maksud mas Bagas? " tanya Felisha
"Ezra.. sepertinya kamu sekarang sedang dekat dengan dia. Sampai-sampai dia berani meluk kamu didepan saya " ujar Bagas.
"Tidak usah berburuk sangka mas. Dia tidak ada sangkut pautnya dengan keputusan Saya "
"Saya mengambil keputusan ini agar mas Bagas bisa lepas dari beban tanggung jawab yang seharusnya bukan tugas mas Bagas " ujar Felisha tegas.
"Saya tidak akan melepaskan kamu. Kamu akan tetap jadi ibu untuk putra saya " ujar Bagas
__ADS_1
"Kamu egois mas.. Kamu bersikeras menjadi kan saya ibu untuk untuk kedua putra kamu.. tapi kamu sendiri tidak bisa menjadi ayah untuk putri Saya " Felisha mulai tersulut emosi.
Lagi-lagi Bagas terdiam, ucapan Felisha barusan begitu menohok hatinya.
"Oleh sebab itu.. beri Saya kesempatan untuk memperbaiki semua " bujuk Bagas. Felisha menggeleng
"Maaf mas Saya tidak bisa. keputusan Saya sudah bulat " jawab Felisha
Bagas tampak kecewa, wajahnya menjadi keruh dengan rahang yang mengeras.
"Baik lah jika itu sudah menjadi keputusan kamu.Tapi Saya baru akan melepaskan kamu jika kamu sudah mendapatkan ayah yang baik untuk Luna. Jadi selama itu kamu dan Luna masih tanggung jawab Saya " ujar Bagas akhirnya.
"Tapi bagaimana Saya bisa lepas dari mas Bagas jika Saya masih belum berniat mencarikan ayah untuk Luna ? " tanya Felisha
"Selama itu pula kamu dan Luna masih menjadi tanggung jawab saya " jawab Bagas
"ini tidak adil " gumam Felisha
Bagas menghentikan mobilnya didepan kantor Felisha.Sebelum turun Bagas memberikan kartu dan cincin yang pernah Felisha kembalikan.
Felisha pun menyimpan kartu dan cincin itu kedalam tas nya kemudian bergegas turun dari mobil Bagas dan masuk ke Gedung tempat ia bekerja. Meninggalkan Bagas yang menatap nanar kepergian Felisha.
Sejak pertemuan mereka sepulang dari pemakaman, tanpa sepengetahuan Felisha Bagas sering berkunjung ke rumah Felisha pada saat makan siang. Dalam seminggu ada 3 kali Bagas datang kesana, bahkan tak jarang Bagas makan siang disana.
Bagas berpesan kepada mertuanya agar tidak menceritakan kedatangannya kepada Felisha. Bagas tidak ingin Felisha berpikiran buruk kepadanya.
Siang ini Bagas datang dengan membawa satu kantung plastik besar berisi susu untuk Luna. Karena sering datang ke rumah mertuanya jadi Bagas tau merk susu apa yang biasa Luna konsumsi.
"Bilang terimakasih sama om Bagas " titah bunda kepada Luna.
"Terimakasih om " ujar Luna malu-malu.
Bagas tersenyum, melihat Luna sudah mau bicara padanya tanpa takut saja Bagas sudah sangat senang.
"Kalau besok om kesini lagi Luna mau dibeliin apa sama om? " tanya Bagas.
__ADS_1
Luna menggeleng, padahal Bagas ingin sekali Luna meminta Sesuatu padanya yang pasti akan Ia turuti dengan senang hati.
"Eniiin.. aku mau naik cepeda " Luna menarik-narik tangan bunda.
"Sama om saja yuk " Bagas menawarkan diri. Luna menggeleng. Ternyata gadis kecil itu lumayan susah untuk didekati.. sama seperti ibunya.
Meski susah untuk didekati, namun Bagas yakin jika lambat laun Ia akan mendapatkan hati Luna.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Sudah seminggu ini Bagas disibukan oleh pekerjaan, bahkan selama seminggu terhitung dua kali Ia harus keluar kota.Karena kesibukannya itu pula Bagas jadi jarang mengunjungi Luna.
"Enin.. kenapa om Bagas ga kecini? " tanya Luna kepada bunda. Felisha tampak kaget mendengar Luna tiba-tiba menanyakan Bagas. Felisha tidak tau jika Bagas sering mengunjungi Luna.
"Mungkin om nya sibuk " jawab bunda disusul anggukan Felisha.
"Tumben Luna nanyain mas Bagas " gumam Felisha
"Lagi kangen kali Fe " jawab bunda sambil menahan senyum.
"Luna.. mommy mau ke supermarket beli susu, mau ikut ga? " tanya Felisha
"Jangan dulu beli susu Fe..masih banyak " ujar bunda
"Loh.. Luna ga diminum susu nya? biasanya tanggal segini sudah habis " Felisha merasa heran.
"Kemarin bunda ada rejeki jadi bunda beli susu untuk Luna lumayan banyak " ujar bunda berbohong.
Felisha tidak sadar jika Bagas sedang berusaha mendapatkan nya kembali melalui Luna.
**Maaf ya baru up..
Tetep dukung ya Feli lover...
Happy Reading ππππππ**
__ADS_1