
Hari ini adalah hari pertama Luna masuk sekolah.Luna tampak sudah cantik dengan seragam barunya.
Felisha sudah menyiapkan tiga buah kotak bekal untuk si kembar yang sudah duduk dibangku SMP dan Luna yang baru masuk Taman Kanak-kanak.
Hari ini Bagas sengaja ke kantor lebih siang hanya untuk mengantarkan Luna di hari pertama masuk sekolah.
"Dadaaah mommy..dadaaah Daddy.." Luna melambaikan tangan ketika guru disana menuntunnya masuk kedalam kelas.
Bagas dan Felisha pun membalas lambaian tangan Luna.Setelah Luna masuk ke kelasnya Bagas dan Felisha pun kembali ke mobil mereka.
"Anak perempuan itu lucu sekali..berbeda dengan laki-laki. Dulu Nakula dan Sadewa sangat cuek tidak manja seperti Luna " gumam Bagas sambil tersenyum tipis.
"Kalau anak laki-laki ya biasanya cuek mas.. kamu juga dulu begitu " jawab Felisha.
"Itu kan dulu..kalau sekarang mana bisa cuek. Kalau mas lagi banyak kerjaan juga malah kamu yang suka ganggu.. cari-cari perhatian " timpal Bagas.Felisha hanya tertawa mendengar ucapan Bagas.
"Mau tunggu disini atau ditinggal ?" tanya Bagas setelah beberapa menit berada didalam mobil.
"Ditunggu saja Mas.. sekarang hanya perkenalan jadi tidak akan lama " jawab Felisha.
"Ya sudah kita tunggu saja " jawab Bagas sambil menurunkan sandaran kursi.
Bagas memejamkan matanya dengan posisi tubuh setengah berbaring.Felisha yang duduk disebelahnya tiba-tiba beringsut mendekat kemudian mencium bibir Bagas lembut.
"Terimakasih ya Sayang " bisik Felisha
Bagas yang sedang terpejam kaget mendapat ciuman bibir Felisha yang tiba-tiba.
"Terimakasih untuk apa ?" tanya Bagas.
"Terimakasih karena sudah menjadi suami dan Ayah terbaik " jawab Felisha.
"Semua itu tidak gratis loh " ujar Bagas membuat Felisha langsung melotot.
"Kamu harus membayar semuanya dengan mendampingi Mas seumur hidup kamu " tambah Bagas.
"Aku pikir aku harus membayar pake apa " Felisha langsung tertawa sambil merangkul bahu Bagas.
Hampir dua jam Bagas dan Felisha menunggu Luna didalam mobil sambil mengobrol dan bersenda gurau.
Felisha menyempatkan diri menghubungi mbak Mia untuk mengecek Abimanyu yang terpaksa harus ditinggal di rumah.
"Dedek Abi sedang apa ?" tanya Bagas
"Sedang tidur " jawab Felisha sambil menyimpan ponselnya kedalam tas.
"Mas bosan tidak nungguin Luna ?" tanya Felisha sambil menyisir rambut Bagas dengan jarinya.
"Tidak..tapi kalau begini setiap hari mas tidak bisa cari uang buat kalian " jawab Bagas sambil terkekeh.
"Cuma hari pertama saja.. besok-besok tidak boleh ditungguin " jawab Felisha.
Setelah dua jam berlalu, akhirnya Luna keluar bersama anak-anak yang lain.
"Daddy...Mommy...aku sudah boleh pulang " Luna langsung berlari menghambur kearah Bagas dan Felisha yang baru keluar dari mobil.
"Bagaimana sekolahnya..seru tidak ?" tanya Felisha.
"Seru mom..tadi Luna diajarin nyanyi..terus luna juga punya teman baru " celoteh gadis kecil itu.
"Tapi Kata ibu guru..besok Luna tidak boleh ditungguin..katanya mommy sama Daddy disuruh pulang saja " tambah Luna.
"Oke boss " jawab Bagas.
"Luna tidak apa-apa ditinggal ?" tanya Felisha
"Tidak apa-apa..kan Luna sudah besar " jawab Luna.
"Kesayangan Daddy pintar dong " puji Bagas.
Mendapat pujian dari Bagas Luna tampak tersenyum senang.Sepanjang perjalanan pulang Luna terus bernyanyi lagu yang baru ia dapat tadi di sekolah.
"Kakak pintar nyanyinya " puji Bagas
"Nanti aku mau nyanyiin dedek Abi biar cepat tidur " ujar Luna
Bagas dan Felisha tertawa.Jika Abimanyu dinyanyikan lagu yang riang gembira yang ada Abimanyu malah tidak tidur.
Setibanya di rumah,Luna langsung mengganti seragam sekolahnya dengan baju rumahan dibantu mbak Mia.Sementara Felisha langsung mengambil Abimanyu yang baru bangun tidur untuk ia beri ASI.
Bayi mungil itu tampak rakus menghisap sumber kehidupannya dibawah tatapan lembut Daddy nya.
"Mimik yang kenyang biar cepat besar..biar bisa main bola sama kakak Nakula dan Sadewa " bisik Bagas sambil mengusap pipi Abimanyu.
"Mau ke kantor jam berapa ?" tanya Felisha
"Kalau sudah di rumah malah jadi malas pergi " Bagas malah berbaring disamping Felisha.
__ADS_1
"Biar nanti aku suruh Wina anterin kerjaan kesini saja " lanjut Bagas dengan mata terpejam.
Setelah Abimanyu melepaskan ****** Felisha dari mulutnya, Felisha pun membaringkan bayi tampan itu disebelah Bagas.
Bagas memiringkan tubuhnya menghadap kearah Abimanyu dan mengajaknya berceloteh.
Tidak lama kemudian Luna pun datang dan langsung naik keatas kasur dan ikut berceloteh mengajak ngobrol adiknya bersama Bagas.
Bibir mungil Abimanyu bergerak-gerak mengikuti gerak bibir Luna yang terus berceloteh.
Kamar Bagas semakin ramai manakala Nakula dan Sadewa pulang dan bergabung mengelilingi Abimanyu yang tampak senang menggerakkan tangan dan kakinya dengan lincah.
"Kakak ganti baju dulu sana terus kita makan " Felisha membubarkan kerumunan dikamarnya.
Setelah selesai berganti baju mereka pun berkumpul untuk makan siang.Pada saat makan siang Luna menolak ketika Felisha akan menyuapi makan.
"Mom..kata ibu guru aku harus makan sendiri " ujar Luna membuat Bagas dan Felisha tersenyum
"Iya Sayang " jawab Felisha bangga.
Setelah selesai makan Bagas kedatangan Wina sekertaris nya yang mengantarkan setumpuk berkas untuk Bagas.
"Tante itu apa ?" tanya Luna menunjuk beberapa map ditangan Wina.
"Ini pekerjaan kantor Daddy nya Luna " jawab Wina sambil tersenyum.
Luna mengikuti Wina ke ruang kerja Bagas.Ia duduk dipangkuan Bagas mendengarkan Bagas dan Wina yang sedang membicarakan masalah pekerjaan.
"Mbak Wina makan dulu yuk " Felisha datang diruang kerja Bagas dan mengajak Wina untuk makan.
"Tidak usah Bu.. terimakasih " jawab Wina
"Makan sana..tidak baik menolak rejeki " ujar Bagas tidak ingin dibantah.
Akhirnya Wina pun menerima tawaran Felisha untuk makan.Meskipun Felisha sudah makan beberapa saat sebelum Wina datang,namun demi menghormati tamunya Felisha pun ikut menemani Wina makan walaupun hanya sedikit.
Setelah menyelesaikan makan siangnya Wina pun pamit kembali ke kantor.Felisha mengantarkan sekertaris suaminya itu sampai teras depan.Sementara Bagas langsung terlihat sibuk dengan pekerjaan kantornya dengan Luna dalam pangkuannya.
"ka..sama mommy yuk.. Daddy nya sedang kerja " Felisha membujuk Luna agar mau turun dari pangkuan Bagas namun tidak berhasil.
"Aku mau nemenin Daddy mom " jawab Luna.
"Sudah tidak apa-apa Luna disini..tidak ganggu kok " jawab Bagas.
Karena Bagas tidak keberatan,Felisha pun akhirnya meninggalkan Luna dan Bagas dan beranjak menuju teras dimana mbak Mia sedang menngendong Abimanyu disana.
Ajeng menyambut Ezra yang baru pulang dari kantor malam itu.
"Tumben telat " Ajeng menatap tajam kearah Ezra yang sedang melonggarkan dasinya.
"Habis meeting dulu..kenapa..kangen ya ?"
Ajeng tidak menjawab ia membantu Ezra melepaskan simpul dasi yang melingkar dileher suaminya.
"Kamu mandi..aku siapin makan " Ajeng hendak beranjak keluar kamar namun Ezra dengan cepat menangkap pinggangnya.
"Yang menyiapkan makan sudah tugas pelayan tugas kamu melayani suami " ujar Ezra
"Menyiapkan makan juga melayani suami " kilah Ajeng
"Aku mau kamu melayani yang lain " Ezra menggiring Ajeng ke kamar mandi
"Pengen dimandiin seperti Luna ya " tanya Ajeng.
"Iya " jawab Ezra sambil menarik Ajeng menuju shower.Seketika baju Ajeng pun basah, sementara Ezra sudah tidak memakai apapun.
"Kamu juga ikut mandi " Ezra melepaskan satu persatu kain yang melekat ditubuh Ajeng hingga benar-benar polos.
Meski sedikit malu akhirnya mereka pun mandi bersama.
Ajeng memukul tangan Ezra yang tidak bisa diam pada saat ia menyabuni seluruh tubuh Ezra.
Selesai menyabuni Ezra,kini gantian Ezra yang menyabuni Ajeng.
"Jangan disitu terus dong " Ajeng protes karena tangan Ezra hanya berputar-putar diseputaran dadanya yang membusung saja.
"Tidak usah protes " jawab Ezra santai.
Setelah membuat seluruh tubuh Ajeng penuh dengan busa sabun,perlahan Ezra merapatkan tubuh mereka dibawah kucuran air shower.
Ajeng mencengkram rambut Ezra ketika bibir pria itu mulai melahap dadanya dengan rakus.
Tidak cukup disana kini bibir Ezra mulai merambat turun menuju area paling sensitif milik
"Sshh..Saayaaang gelii " tanpa sadar Ajeng mengeluarkan suara ******* dari bibirnya membuat Ezra semakin bersemangat.
"Sayaaang " Ajeng mencengkram kuat rambut Ezra yang masih tidak mau beranjak dari sana.
__ADS_1
"Kamu itu kasar sekali " Ezra meringis karena Ajeng terus menjambak rambutnya.
"Aku tidak tahan geli " jawab Ajeng lirih.
Akhirnya Ezra dan Ajeng pun mengakhiri mandi bersama mereka.Dengan berbalut satu handuk Ezra menggiring Ajeng menuju kasur empuk mereka.
"Kita main disini ..tidak usah protes " bisik Ezra tegas.
Ajeng yang mulai kedinginan akhirnya hanya bisa pasrah membiarkan Ezra menjelajahi setiap inci tubuhnya.
Ezra tampak puas melihat Ajeng yang terus mengerang dibawah tubuhnya sambil terus menyebut namanya.
"Semoga cepat jadi dedek bayi " bisik Ezra setelah mereka mendapatkan pelepasan bersama.
"Kamu sudah pengen banget punya bayi ?" tanya Ajeng sambil mengusap peluh yang membasahi wajah Ezra.
"Iya..aku iri lihat Bagas punya banyak anak yang ganteng-ganteng dan cantik.." jawab Ezra
"Iri punya anak-anak yang ganteng-ganteng dan cantik atau iri juga karena Mas Bagas punya istri yang cantik ?" tanya Ajeng.
"Ngaco kamu " semprot Ezra
"Bagi aku kamu yang paling cantik..sekarang sudah pinter goyang lagi " ujar Ezra
"Dasar mesum " Ajeng mencubit pinggang Ezra kuat-kuat dengan wajah memerah.
"Sakit Sayang..Kamu itu suka sekali mencubit dan menjambak suami " keluh Ezra
"Habis kamunya sih yang mulai ledekin aku " jawab Ajeng
"Ledekin apa ?" tanya Ezra
"Pake bilang aku sudah pinter goyang " jawab Ajeng
"Itu bukan ledekan Sayang..tapi pujian " ujar Ezra
"Tapi kan aku jadi malu "
"Kenapa harus malu..justru harusnya kamu bangga sudah pintar menyenangkan suami " ujar Ezra.
Ajeng terdiam,perlahan ia mendorong tubuh Ezra agar turun dari tubuhnya
" Kamu berat " keluh Ajeng.
"Sekarang gantian ya kamu yang diatas " Ezra menggulingkan tubuhnya merubah posisi menjadi Ajeng yang diatasnya.
Ajeng hanya bisa pasrah meladeni keinginan suaminya.Bahkan dengan sedikit malu Ajeng menurut saja ketika Ezra menyuruhnya menggoyangkan pinggulnya.
Ajeng berhenti bergoyang ketika keduanya mendapatkan pelepasan untuk yang kedua kalinya.Akhirnya Ajeng pun ambruk diatas tubuh Ezra dengan napas tersengal-sengal.
"Capek ?" tanya Ezra sambil menciumi wajah Ajeng.
"Iya " jawab Ajeng menyembunyikan wajahnya diceruk leher Ezra.
Karena kelelahan akhirnya Ajeng tertidur dalam pelukan Ezra tanpa sempat memakai pakaian. Ezra buru-buru menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh mereka yang polos tanpa sehelai benangpun.Tidak lama kemudian Ezra pun tertidur.
Keesokannya Ajeng dan Ezra bangun kesiangan.Mereka baru membuka matanya ketika matahari sudah mulai tinggi.Ajeng yang bangun terlebih dahulu membangunkan Ezra yang masih terlelap memeluk erat tubuhnya.
"Sudah siang " gumam Ezra begitu matanya menangkap cahaya sinar matahari yang menyilaukan.
"Aku susah bangun " Ajeng berusaha melepaskan diri dari pelukan Ezra.
"Tidak usah..begini saja " Ezra enggan melepaskan guling bernyawa nya.
"Kak..badan aku tidak nyaman rasanya lengket" Ajeng memaksa melepaskan diri dari pelukan Ezra.
Dengan terpaksa Ezra pun melepaskan Ajeng.
Ajeng buru-buru ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket sisa percintaan mereka semalam, meninggalkan Ezra yang kembali tidur dibawah selimut tebalnya.
Selesai mandi Ajeng memilih pergi kedapur untuk mengisi perutnya yang sudah terasa lapar tanpa membangunkan suaminya.
Menjelang Dzuhur barulah Ajeng membangunkan Ezra.Dengan enggan akhirnya Ezra membuka matanya.
"Masih ngantuk " gumam Ezra malas
"Bangun..ini sudah tengah hari " Ajeng menarik paksa tangan Ezra agar bangun.
"Iya..iya..bangun " Ezra pun bangun kemudian beranjak ke kamar mandi dengan tubuh polosnya.
Melihat Ezra tanpa sehelai benangpun Ajeng langsung terpekik sambil menutup matanya.
"Kak..ditutup dong..malu tau " omel Ajeng
"Ngapain musti ditutup,bukannya dari semalam juga begini " jawab Ezra santai.
"Dasar mesum " Ajeng melempar Ezra dengan bantal kursi.
__ADS_1