Om Buah Hatiku

Om Buah Hatiku
Terciduk


__ADS_3

Cindy terlihat panik ketika Mamanya memberitahu jika ada Sadewa di depan.Cindy yang enggan keluar langsung mendapat Omelan dari mamanya.


"Cepetan keluar..kasian nak Dewa lama nungguin kamu " Mama melotot kearah Cindy.


"Iya aku keluar..tapi temenin sama mama " Cindy mencengkram tangan mamanya erat.


"Apaan sih kamu..seperti anak kecil saja..sana buruan temui nak Dewa nya " Mamanya mendorong Cindy keluar dari kamar.


Setelah sekian lama akhirnya Cindy pun keluar untuk menemui Sadewa yang sedang duduk di ruang tamu.


"Saya kesini tidak akan menangkap kamu, hanya mau mengantarkan barang kamu yang tertinggal di mobil " ucap Sadewa sambil menyerahkan paperbag berisi tas milik Cindy yang tertinggal di mobilnya.


"Oh iya.. terimakasih " jawab Cindy sambil mengambil tas miliknya.


Sadewa mengurungkan niatnya untuk langsung pamit ketika Mama Cindy datang dengan nampan berisi satu cangkir kopi dan sepiring kudapan.


"Ngopi dulu nak Dewa..biar di jalan tidak ngantuk " ujar Mama Cindy sambil meletakan cangkir kopi dan piring berisi kudapan itu diatas meja.


"Terimakasih " jawab Sadewa sopan.


"Tante tinggal dulu ya..tanggung lagi masak. Ngopinya ditemani Cindy saja " Mama Cindy pamit kembali ke dapur.


"Kakak mau pulang ke Bandung sekarang ?" tanya Cindy.


"Iya " jawab Sadewa sambil menyesap kopinya.


"Mau ikut lagi ke Bandung ? " tanya Sadewa.


"Tidak " jawab Cindy.


Suasana menjadi hening.Cindy diam tidak tau harus bicara apalagi begitu juga dengan Sadewa.


Akhirnya setelah menghabiskan kopinya Sadewa pun pamitan. Cindy mengantar pria tampan dan gagah itu sampai teras depan.


Ketika akan menyalakan mesin mobilnya Sadewa terhenyak ketika gadis nakal itu memanggilnya dengan suara lirih.


"Kakak .. hati-hati di jalan " Sadewa tersenyum lebar dan mengangguk kemudian melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah Cindy.


Sepanjang perjalanan ke Bandung otak Sadewa berpikir keras mencari cara agar bisa bertemu dengan gadis nakal itu lagi. Untuk kedepannya sepertinya Sadewa akan sering melibatkan Kenzo dan Luna.


*


Setelah satu Minggu di Jakarta, kedua orangtua Kenzo kembali ke Jepang. Mereka tidak bisa terlalu lama berada di Jakarta karena mereka juga memiliki kesibukan sendiri di negara matahari terbit itu.Luna yang kebetulan tidak ada jadwal kuliah ikut mengantarkan mereka ke bandara.


"Sayang..kamu tidak keberatan kan kalau kita ke kantor kakak dulu..ada pekerjaan sedikit " ajak Kenzo ketika mereka dalam perjalanan pulang dari bandara.


"Iya " jawab Luna.


"Kakak janji tidak akan lama " ujar Kenzo. Luna mengangguk.


Begitu sampai di kantor, Kenzo menuntun Luna menuju ruangannya dilantai paling atas gedung bertingkat itu.


Luna tampak kagum dengan interior di ruang kerja Kenzo yang sangat kental dengan budaya Jepang.


"Kamu duduk saja disini kakak mau ke meeting room dulu..kalau kamu mau apa-apa bilang saja sama Ira " Kenzo menunjuk kearah meja sekertaris nya yang berada tepat di depan ruang kerja Kenzo.


"Iya " jawab Luna.


Selama Kenzo berada di ruang meeting, Luna memilih duduk di sofa berwarna hitam yang berada di dekat meja kerja Kenzo.


Pandangan Luna tiba-tiba tertuju pada sebuah photo dirinya yang berada di meja kerja Kenzo.


Itu adalah photo yang ia kirimkan ketika memakai Yukata pemberian Mamih Kenzo.Luna tidak menyangka jika photonya itu kini menghiasi meja kerja Kenzo.


Luna yang sedang memperhatikan meja kerja Kenzo kaget ketika yang punya ruangan tiba-tiba datang.


"Kamu sedang apa Sayang ?" tanya Kenzo yang baru kembali dari meeting room.


"Lihat photo aku..kenapa dipajang disini " jawab Luna sambil menunjuk pigura kecil yang ada di meja kerja Kenzo.


"Ya wajar pajang photo pacar sendiri..masa kakak pajang photo Hana disini " jawab Kenzo santai sambil menyimpan map yang sedang ia pegang keatas meja kerjanya.


"Pajang saja " gumam Luna dengan muka masam.Kenzo melirik sekilas kearah Luna sambil tersenyum.


Luna kembali duduk manis di atas sofa sambil memainkan ponselnya.Sementara Kenzo mulai terlihat sibuk di depan laptopnya.


Setelah setengah jam berlalu pekerjaan Kenzo pun selesai. Ia membereskan semua pekerjaan nya dan mematikan laptopnya.


"Sudah selesai..kita pulang " ajak Kenzo.


"Beneran sudah selesai ?" tanya Luna.

__ADS_1


"Iya..sebelum pulang kita cari makan dulu " Kenzo menuntun Luna meninggalkan ruang kerjanya.


"Kamu mau makan dimana Sayang ?" tanya Kenzo sambil memeluk pinggang Luna.


Luna yang merasa risih dengan tatapan beberapa karyawan Kenzo yang tersenyum kearahnya buru-buru menepiskan tangan Kenzo dari pinggangnya.


"Kakak malu tau dilihat orang " Luna melotot kearah Kenzo.


Kenzo pun melepaskan pelukannya dari pinggang Luna namun tangannya kini beralih ke tangan Luna dan menggenggamnya. Luna pun tidak protes lagi.


"Mau makan dimana ?" Kenzo kembali bertanya kepada Luna.


"Terserah kakak " jawab Luna


Karena Luna mengatakan terserah akhirnya Kenzo membawa Luna ke sebuah restoran yang biasa ia kunjungi jika makan siang.


"Menu pavorit kakak disini sop buntut. Kamu harus coba Sayang rasanya enak " ujar Kenzo.


Mereka akhirnya memesan dua porsi sop buntut lengkap.


Pada saat Luna dan Kenzo sedang menikmati sop buntutnya tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan Bagas dan Nakula yang akan makan siang disana.


"Kakak Luna..Ken.." sapa Bagas yang sedang berdiri tepat didepan meja mereka.


"Daddy..?"


"Om...?"


Keduanya tampak melongo, mereka tidak menyangka akan bertemu dengan Bagas dan Nakula di sana.


Kenzo yang dengan cepat dapat mengendalikan kekagetannya mengajak Bagas dan Nakula makan bersama di meja mereka.


"Bagaimana bisa kalian bisa barengan makan disini ?" tanya Bagas dengan nada curiga.


"Kami dari bandara Om.. mengantarkan Mamih dan Papih hari ini kembali ke Jepang " jawab Kenzo.


Nakula melirik kearah Luna yang tampak tidak banyak bicara sambil menikmati sop buntutnya.


"Hari ini kamu tidak kuliah dek ?" tanya Nakula.


"Hari ini tidak ada mata kuliah kak " jawab Luna.


Tanpa sepengetahuan Bagas dan Nakula dibawah meja diam-diam tangan Kenzo meremat jemari Luna yang dingin dan berkeringat.Kenzo mencoba meredakan kegugupan Luna karena tertangkap basah sedang makan berdua.


Meskipun Kenzo dan Luna telah selesai lebih dulu namun mereka tetap menemani Bagas dan Nakula menyelesaikan makannya sambil mengobrol.


"Kalian langsung pulang kan ?" tanya Bagas setelah menyelesaikan makannya.


"Iya Om..aku langsung mengantarkan Luna pulang " jawab Kenzo.


Akhirnya mereka pun berpisah.Bagas dan Nakula kembali ke kantornya.


Kenzo menggenggam tangan Luna meninggalkan restoran dan pulang dengan mobilnya.


"Kalau Daddy kamu marah nanti biar kakak yang jelaskan kalau kita memang pacaran " ujar Kenzo sambil melirik kearah Luna.


"Terserah kakak " jawab Luna pasrah.


"Mukanya jangan takut begitu dong Sayang " Kenzo mencolek dagu Luna sambil tersenyum.


Seakan tertular Luna pun ikut tersenyum.


"Sayang..berarti malam Minggu nanti kakak boleh ngapel dong " tanya Kenzo mengerling.


"Apaan..orang kakak tiap hari biasa ke rumah " Luna mencubit paha Kenzo membuat pria berkulit putih dan bermata sedikit sipit itu sedikit gelagapan.


Kenzo tampak panik ketika sekujur tubuhnya langsung bereaksi ketika jari lentik Luna mencubit pahanya.


"Sakit ya..maaf !" cicit Luna sambil mengusap paha Kenzo.


Luna yang polos benar-benar tidak menyadari akibat dari perbuatannya barusan. Kenzo buru-buru menangkap tangan Luna dan menggenggamnya.


"Kira-kira bagaimana ya reaksi Daddy kamu ketika anak gadis kesayangannya ada yang ngapelin ?" tanya Kenzo sambil terkekeh.


"Entahlah " jawab Luna.


Luna buru-buru melepaskan genggaman tangannya ketika gadis itu mengingat sesuatu. Ia mengambil dompet dari dalam tasnya dan mengeluarkan kartu milik Kenzo yang masih ada padanya.


"Ini punya kakak..dari kemarin mau dikembalikan lupa terus " Luna menyerahkan kartu berwarna hitam itu kepada Kenzo.


"Kamu simpan saja tidak usah dikembalikan " Kenzo menolaknya.

__ADS_1


"Kenapa kak ?" tanya Luna.


"Kakak senang kalau kamu memakai kartu itu untuk membeli apapun yang kamu mau " jawab Kenzo.


"Sebetulnya kemarin mau aku pakai buat beli tas sama Cindy..tapi keburu dibayarin kak Dewa " Luna melapor.Ia pun menyimpan kembali kartu milik Kenzo kedalam dompetnya.


"Wah..si Dewa gercep juga " gumam Kenzo sambil geleng-geleng kepala.


*


Bagas yang sedang sibuk di ruang kerjanya kaget ketika tiba-tiba Luna datang dengan membawa secangkir kopi dan sepiring kecil kudapan.


"Kakak bikinin Daddy kopi pasti sedang ada maunya " tebak Bagas sambil menatap lembut kearah Luna.


"Daddy tau saja " Luna tersipu.


"Kakak mau apa ?" tanya Bagas lembut.


"Anu..hmm..." Luna tampak ragu.Bagas menunggu dengan sabar putri kesayangannya menyelesaikan ucapannya.


"Sekarang kan kakak sudah 17 tahun..apakah kakak sudah boleh punya pacar ?" tanya Luna.


Bagas tersenyum mendengar pertanyaan putrinya itu.


"Kakak..apakah selama ini Daddy ada melarang kakak punya pacar ?" Bagas menjawab pertanyaan Luna dengan sebuah pertanyaan.


" Tidak " jawab Luna.


"Dad.. sebetulnya kakak sama kakak Ken..."


"Daddy tau..kalian pacaran kan ?" tebak Bagas.


"Bagaimana Daddy tau ?" Luna melongo.


"Kita semua sudah tau kak.. Mommy sama Daddy ingin tau saja sampai kapan kalian akan terus menyembunyikannya dari kami " ujar Bagas.


"Iiih...Daddy.." Luna merajuk dengan wajah yang merah.


"Daddy dan Mommy tidak masalah kamu pacaran sama Ken karena Ken anaknya baik...yang penting kakak bisa menjaga diri dan tetap fokus sama pendidikan kakak " nasehat Bagas.


"Terimakasih Dad " Luna menghambur kearah Bagas dan menciumi seluruh wajah Bagas.


"Kakak Sayang sama Daddy " ucap Luna.


"Eeeh..kalian ngapain mojok disini ?" tanya Felisha yang tiba-tiba muncul di pintu dengan secangkir kopi dan sepiring kudapan.


"Mommy kalah cepat sama kakak " ujar Bagas sambil menunjuk kopi dan kudapan yang dibawa Luna tadi.


"Ya sudah sekarang giliran Mommy " Luna menyingkir dari ruang kerja Bagas.Felisha menatap kepergian Luna dengan heran.


"Kalian barusan membahas apa ?" tanya Felisha sambil duduk dipangkuan Bagas setelah sebelumnya meletakkan kopi dan kue yang dibawanya di atas meja.


"Sebuah pengakuan " jawab Bagas sambil tersenyum.


"Pengakuan ?" Felisha mengernyit.


"Akhirnya kakak mengaku jika dia dan Kenzo pacaran " jawab Bagas.


"Akhirnya ngaku juga tu anak " ujar Felisha sambil tertawa.


"Lalu kamu ngapain kesini ? pasti ada maunya juga seperti Luna " tebak Bagas sambil mengusap paha Felisha.


"Toko perhiasan langganan aku mengeluarkan koleksi terbarunya Sayang..lihat deh " Felisha memperlihatkan model perhiasan terbaru dari ponselnya.


"Lalu ?" tanya Bagas pura-pura tidak mengerti.


"Aku ingin ini Sayang " Felisha menunjuk salah satunya.


" Boleh ya Sayang " rayu Felisha sambil melingkarkan tangannya di leher Bagas.Perlahan bibirnya mengecup leher Bagas.


"Boleh ya Sayang " Felisha terus merayu.


"Kamu pikir Mas bisa menolak keinginan istri Mas tersayang ?" tanya Bagas.


"Berarti boleh ?" tanya Felisha. Bagas mengangguk.


"Terimakasih Sayang " Felisha memeluk leher Bagas dan menciumi seluruh wajahnya persis seperti yang Luna lakukan barusan.


"Anak sama ibu sama saja ..begini jika sedang ada maunya " keluh Bagas.


Bagas menurunkan Felisha sejenak dari pangkuannya kemudian ia beranjak menuju pintu dan menguncinya dari dalam sebelum ia mengeksekusi istrinya diatas meja kerjanya.

__ADS_1


__ADS_2