
Hari ini Felisha resmi resign dari pekerjaannya mengikuti perintah suaminya. Meskipun berat namun Ezra tidak bisa melarang apalagi itu adalah perintah langsung dari boss besar.
Setelah membereskan semua barang-barang nya, Felisha pun pamit kepada semua teman sekantornya.Diantara semua teman-teman sekantornya,Dina lah yang paling terlihat sedih.
"Ga ada Lo ga asik Fe " ucapnya sendu.
Felisha berusaha menghibur sahabatnya itu dengan memeluknya. " Lo kan bisa main ke rumah gue kapan pun Lo mau "
"Selama ini budget uang makan gue tiap bulan bisa irit karena Lo sering traktir gue.. sekarang Lo resign, pengeluaran uang makan siang gue pasti membengkak "
"Sialan " Felisha mencubit pipi Dina. "Ternyata Lo nangisin budget uang makan Lo yang kembali normal bukan nangis karena mau pisah sama gue "
Dina tertawa diantara tangisnya. " Selain itu Lo temen terbaik gue "
Setelah membereskan semua barang-barang nya Felisha pun meninggalkan kantornya dengan dijemput oleh Bagas.
"Mau makan sesuatu ?" tanya Bagas. Ia tau sekarang Felisha sedang merasa sedih karena harus berpisah dengan teman-teman sekantornya.
"Tidak..kita pulang saja " jawab Felisha.Bagas melirik sekilas kearah Felisha
"Jangan sedih begitu dong sayang " Bagas menyentuh tangan Felisha. " Mas cuma ingin kamu fokus ngurus anak-anak dan suami saja "
"Perut kamu sudah semakin besar, Luna sedang butuh perhatian juga Nakula dan Sadewa " ujar Bagas
"Ditambah Daddy nya tidak mau kalah sama anak-anak nya " timpal Felisha. Bagas hanya tertawa
Bagas sebetulnya masih ingin mengajak Felisha makan, namun Felisha menolak dengan alasan ingin cepat pulang ke rumah.Akhinya Bagas pun membawa Felisha pulang.
Kedatangan mereka langsung disambut anak-anak yang sedang bermain di halaman depan.Luna yang sudah mulai pintar naik sepeda tampak berputar-putar mengelilingi halaman dengan sepedanya dengan diawasi pengasuh.
"mommy.. Daddy ..lihat aku sudah bisa ngebut " Luna pamer kepada Mommy dan Daddy nya
"Iya..tapi harus hati-hati sayang " nasehat Bagas
Baru saja Bagas mengakhiri ucapannya,Luna kehilangan kendali dan nyaris menabrak pot bunga jika saja Bagas tidak cepat menangkapnya.
Luna yang panik karena nyaris terjatuh akhirnya menangis dalam gendongan Bagas.
"Kan Daddy bilang kakak harus hati-hati,tidak boleh ngebut " Bagas berusaha menenangkan Luna.
"Iya " jawab Luna sambil terisak
"Kalau Luna ngebut nanti ditilang polisi loh " Nakula menakuti Luna
"Benarkah Daddy ?" tanya Luna.Bagas mengangguk sambil menahan senyum
"Kalau begitu Luna tidak akan ngebut lagi " ujar Luna lirih.Melihat polisi saja Luna sudah takut setengah mati.
Bagas dan Felisha meninggalkan anak-anak yang masih ingin menikmati sore dengan bermain di halaman.
Setelah membersihkan diri mereka pun kembali bergabung dengan anak-anak di halaman depan.
Luna sudah tidak bermain sepeda lagi,tapi ia ikut menyiram tanaman bersama tukang kebun.
Felisha dan Bagas duduk diteras sambil mengawasi ketiga anak mereka.
"Habis ini Luna harus ganti baju lagi " tunjuk Bagas pada Luna yang ikut sibuk menyiram tanaman hingga bajunya menjadi basah.
"Iya " jawab Felisha sambil tersenyum kearah Luna karena putri kecilnya itu dengan centilnya melambaikan tangan kearahnya.
Bagas menyesap kopi yang baru saja disuguhkan oleh pelayan, sementara Felisha lebih memilih menikmati secangkir teh hangat .
"Besok pagi kita ajak anak-anak ke Lembang, sudah lama kita tidak kesana " ajak Bagas
__ADS_1
"Luna pasti minta naik kuda " ujar Felisha
"Kalau kamu naik kudanya nanti malam saja " ujar Bagas menggoda
"Dasar mesum " sungut Felisha.Bagas hanya tersenyum.
Anak-anak langsung heboh ketika diberitahu rencana kepergian mereka ke Lembang besok.
Malamnya Nakula dan Sadewa langsung menyiapkan baju-baju mereka kedalam tas,begitu juga Felisha.Ia menyiapkan baju-baju Luna,dirinya dan Bagas kedalam satu tas.
Sebelum tidur Luna sudah merencanakan akan naik kuda bersama Bagas dan kedua kakaknya.
"Mommy tidak usah naik kuda.. karena diperut mommy kan ada dedeknya " ujar Luna ketika Bagas dan Felisha menemani gadis kecil itu menjelang tidur.
"Iya..biar mommy nonton saja kalian naik kuda " jawab Felisha sambil mengusap-usap punggung Luna.
"Sekarang kakak tidur,biar besok tidak kesiangan bangunnya " perintah Bagas
"Iya dad " jawab Luna sambil memejamkan matanya.
Keesokannya pagi-pagi sekali mobil Bagas meluncur membawa anak dan istrinya menuju ke arah Bandung.
"Mom Luna tidur " Sikembar memberi tau Felisha jika adik mereka tidur.
"Biar mommy pindahin kedepan saja " ujar Felisha
"Tidak usah mom,disini saja " jawab Nakula
Sepanjang perjalanan Luna tertidur dipangkuan Nakula.Luna baru terbangun ketika mobil Bagas mulai memasuki kota Bandung.
Bagas membawa Felisha dan anak-anak menuju sebuah peternakan kuda milik teman kuliahnya dulu.
Kedatangan mereka rupanya sudah sangat dinantikan.Seno sang pemilik peternakan langsung menggiring mereka ke sebuah lahan yang sangat luas dimana kuda-kuda miliknya berada.
Bagas tidak melepaskan Luna seorang diri menunggang kuda,tapi bersamanya.
"Dadah mommy " Luna melambaikan tangan ketika kuda yang mereka tunggangi meninggalkan tempat Felisha dan istri Seno menunggu sambil menikmati secangkir teh hangat.
"Saya dan suami sudah lama mengenal Bagas, tapi sekarang kami melihat banyak perubahan pada diri sahabat kami itu " ujar istri Seno yang bernama Shanti itu.
"Perubahan seperti apa mbak ?" tanya Felisha penasaran
"Kami baru tau jika sekarang Bagas terlihat lebih hangat pada keluarga,padahal dulu dia sangat kaku dan cuek " jawab Shanti
"Dulu Kinara sering sekali mengeluhkan sikap Bagas yang menurutnya kurang perhatian padahal memang karakter nya seperti itu " tambah Shanti sambil tersenyum.Felisha pun ikut tersenyum.
"Waktu Kinara memutuskan akan menikah dengan Bagas,kami sempat menyarankan dia untuk memikirkan kembali keputusan nya " ujar Shanti tertawa
"Karena kami sangat hapal bagaimana perangai sahabat kami yang satu itu "
Felisha sangat tertarik dengan cerita masa lalu Bagas,Shanti dan Seno rupanya sangat mengenal Bagas karena mereka satu SMA waktu di Surabaya.
"Mbak Kinara dan mas Bagas satu SMA ?" tanya Felisha
"Ya..Kinara adik kelas Bagas " jawab Shanti
"Bagas itu anak paling pintar di sekolah..dia itu jadi rebutan para cewek di sekolah " lanjut Shanti.
"Berarti mbak Kinara yang beruntung mendapatkan mas Bagas " ujar Felisha
"Iya..dia memang wanita yang beruntung " jawab Shanti
Obrolan keduanya terjeda manakala rombongan pasukan berkuda telah kembali dari menjelajahi perkebunan.
__ADS_1
"Mommy..tadi kudanya menyebrangi sungai " Luna yang baru turun dibantu Bagas langsung berlari menghampiri Felisha.Ia menceritakan pengalamannya menyebrangi sungai sambil menunggangi kuda.
"Disebelah Utara memang ada sungai yang tidak terlalu dalam " ujar Shanti
Luna terus berceloteh menceritakan apa saja yang ia lihat sepanjang perjalanan . Bagas dan Seno hanya tersenyum mendengar ocehan gadis kecil itu.
Menjelang sore Bagas pun pamit,mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Felisha di daerah Setiabudi.
Dijalan mereka membeli bahan makanan yang akan Felisha masak untuk makan malam.
Sesampainya di rumah, Felisha menyuruh anak-anak untuk istirahat sementara ia dan Bagas sibuk di dapur untuk membuat pasta karena anak-anak menginginkan pasta buatan Daddy mereka.
"Kenapa tidak bikin restoran saja..pasta buatan mas Bagas enak loh " saran Felisha sambil membantu Bagas memarut keju.
"Tidak..mas hanya bikin ini cuma untuk kamu dan anak-anak " jawab Bagas
Ketika pasta buatan Bagas telah selesai, Felisha pun memanggil anak-anak untuk makan.
Nakula dan Sadewa makan dengan lahap, mereka bahkan menghabiskan jatah pasta milik mommy dan Daddy nya.
"Habiskan saja,biar mommy dan Daddy nanti bikin lagi " ujar Felisha.
Bagas tampak puas melihat ketiga anaknya menyukai masakannya.Disaat anak-anak sedang menghabiskan makanannya,Bagas dan Felisha kembali ke dapur untuk membuat pasta untuk mereka berdua.
Karena bahan yang tersisa hanya cukup untuk satu porsi, akhirnya Bagas dan Felisha makan sepiring berdua.
"Kalau masih lapar biar mas beli makanan di depan " ujar Bagas khawatir Felisha makan tidak kenyang.
"Tidak usah segini juga kenyang " Felisha menolak . " Apa mas Bagas yang masih lapar ?"
"Tidak..segini juga kenyang " jawab Bagas
"Sayang..tadi ngobrol apa saja sama Shanti ?" tanya Bagas
"Ngobrol biasa saja " jawab Felisha
"Pasti ngomongin mas " tebak Bagas
"Iya.." jawab Felisha
"Shanti ngomong apa saja ?" Bagas mulai penasaran
"Katanya mas Bagas itu anak paling pinter di sekolah,dan jadi rebutan cewek-cewek di sekolah " jawab Felisha
"Dasar tu anak, bisa-bisanya ghibahin mas " sungut Bagas.Felisha hanya tertawa.
Selesai makan pasta sepiring berdua, Felisha mencuci semua piring kotor dan membersihkan kembali dapurnya dengan dibantu oleh Bagas.Sementara anak-anak anteng menonton tv di ruang keluarga.Sesekali terdengar suara cekikikan Luna yang sedang bercanda dengan kedua kakaknya.
Setelah beres dengan urusan dapur, Felisha dan Bagas menghampiri anak-anak dengan membawa tiga gelas susu hangat untuk mereka.
"Punya aku yang rasa coklat " Luna langsung mengambil susu miliknya,begitupun Nakula dan Sadewa.
"Mommy..kenapa Daddy tidak dibuatkan susu ?" tanya Luna
"Daddy minum susunya nanti malam saja " jawab Bagas sambil mengerling kearah Felisha
"Langsung dari sumbernya " bisik Bagas
Felisha memutar bola matanya jengah "Dasar mesum " sungutnya.
Malam itu semua tidak ada yang kembali ke kamar,mereka memilih tidur diruang tengah dengan menggelar kasur lantai.
Nakula dan Sadewa terlelap dalam dekapan Bagas, sementara Luna tampak nyaman memeluk perut Felisha yang semakin buncit.
__ADS_1
Menjelang dinihari,disaat anak-anak sudah terlelap dalam selimut tebal mereka,Bagas dan Felisha pun mulai saling mendekat.Mereka saling merapatkan diri dibawah selimut dan tertidur dengan posisi saling berpelukan.