
Weekend ini Bagas memboyong Felisha dan anak-anak menginap di rumah mertuanya. Di jalan Felisha membeli banyak buah-buahan untuk kakak iparnya yang sedang ngidam.
Selain buah-buahan Felisha juga membeli kue kesukaan Ayah dan bundanya.
Ayah dan bunda juga Kinanti dan Dio terkesima melihat penampilan Abimanyu yang tanpa rambut.
"Mommy dan Daddy kalian keterlaluan sekali kepala dedek Abi digundulin begini " ujar Ayah sambil mengelus kepala Abimanyu yang menurut mereka seperti bola lampu.
"Tapi keliatan makin ganteng Yah " ujar Felisha.
"Makin mirip Daddy nya " tambah bunda.
"Aku juga mirip Daddy " oceh Luna sambil menggelendot di pangkuan Bagas.
"Semuanya mirip Daddy..tidak ada yang mirip mommy " ucap Bagas.
"Aku yang hamil..aku yang melahirkan..
semuanya mirip kamu " gumam Felisha.Bagas hanya tersenyum penuh kemenangan.
"Nanti kita bikin lagi yang mirip sama kamu " bisik Bagas ditelinga Felisha.
"Bikin..bikin saja.Emang hamil dan melahirkan itu enak ?" semprot Felisha.
"Kan kamu yang hamil dan melahirkan..mas hanya simpan saham " jawab Bagas santai.
"Enak dikamu " cibir Felisha sambil menyarangkan satu cubitan di perut Bagas.
"Mommy jangan cubit Daddy aku " Luna yang melihat Felisha mencubit perut Bagas langsung protes.
"Maaf Sayang.. mommy hanya becanda " ujar Felisha malu.
"Tante..dedek diperut nya isinya laki-laki atau perempuan ?" Tiba-tiba Luna mendekat kearah Kinanti dan mengelus perutnya yang mulai sedikit menonjol.
Semua yang ada disana tertawa mendengar Luna menanyakan isi perut Kinanti.
"Tante belum tau Sayang " jawab Kinanti
"Aku ingin isinya perempuan biar nanti aku ada teman bermain..karena kata mommy dedek Abi tidak boleh bermain boneka "
"Makanya nanti malam Luna bobo sama Tante ya..nanti kita berdoa bersama biar dedeknya perempuan " bisik Kinanti ditelinga Luna.
"Oke..!" Luna mengangkat ibu jarinya dengan riang.
"Apaan sih kalian bisik-bisik ?" tanya Felisha penasaran.
"Rahasia " jawab Kinanti dan Luna kompak.
Malamnya Dio yang sudah berbaring diatas kasurnya kaget dengan kedatangan Luna yang membawa boneka kesayangannya.
"Kakak Luna..ada apa Sayang ?" tanya Dio kaget
"Aku mau tidur disini tadi sudah janjian sama Tante Kinan " jawab Luna sambil naik keatas kasur.
Kinanti yang baru keluar dari kamar mandi langsung tersenyum ketika mendapati Luna sudah ada dikamar nya.
"Tante pikir Luna lupa sama janji kita " Kinanti pun naik keatas kasur dan berbaring disebelah Luna.
__ADS_1
"Luna tidak lupa Tante..tapi Luna harus bujuk mommy sama Daddy dulu biar dikasih ijin " jawab Luna sok dewasa.
"Terus mommy sama Daddy kasih ijin ?" tanya Dio.
"Iya om " jawab Luna.
"Malam ini aku mau tidur sama Luna..aku tidak mau tidur sama kamu " Kinanti langsung mengusir Dio.
"Tapi Sayang " Dio enggan turun dari kasur
"Bau kamu tidak enak..bikin mual " ujar Kinanti.
Jika sudah begitu Dio pun terpaksa turun dari kasur namun dengan mulut menggerutu.
"Bau kamu tidak enak..bikin mual..tapi suka dicariin " ocehnya.
"Sssttt...jangan berisik Luna sudah ngantuk mau tidur " Kinanti meletakan telunjuk dibibir nya.
Akhirnya Dio keluar dari kamar dan pergi menuju kamar si kembar sambil membawa bantal.
Ketika melewati ruang tv tidak sengaja Dio memergoki Bagas yang sedang berciuman mesra dengan Felisha sambil menonton tv.
Bagas dan Felisha buru-buru saling melepaskan diri ketika melihat kehadiran Dio.
"Pacaran nya dikamar sana " ujar Dio dengan wajah masam.
"Kakak mau kemana bawa bantal segala " Felisha menatap aneh kearah Dio.
"Ada anak kalian dikamar..jadi kakak diusir sama kakak ipar kamu " jawab Dio sambil berlalu menuju kamar sikembar.
"Pindah ke kamar yuk " ajak Bagas dengan napas yang mulai tidak beraturan.
"Film nya belum selesai mas " Felisha menolak.
Namun Bagas yang tidak ingin dibantah langsung mengambil remote dan mematikan televisi.
"Sayaaang jangan dimatikan, sebentar lagi selesai " Felisha hendak merebut kembali remotenya namun buru-buru dijauhkan oleh Bagas.
Felisha menjerit tertahan ketika Bagas tiba-tiba membopong tubuhnya dan membawanya ke kamar.
"Sayaaang.. sebentar lagi ya tanggung film nya mau selesai " bujuk Felisha
"Tidak..kecuali kalau kamu mau mas melakukan nya didepan tv " jawab Bagas.
"Tidak..tidak..sudah dikamar saja " Felisha akhirnya mengalah.Ia tidak mau jika Bagas sampai nekad meniduri nya di ruang keluarga.
Keesokannya begitu bangun Nakula dan Sadewa kaget karena mendapati om kesayangannya tengah tertidur bersama mereka.
"Om kenapa tidur disini ?" tanya Nakula begitu Dio membuka matanya.
"Semalam..om diusir sama Tante kalian " jawab Dio masih terlihat mengantuk.
"Om bertengkar sama Tante Kinan ?" tanya Sadewa iba
"Tidak..Tante kalian ingin tidur sama Luna jadi om diusir..kalau wanita yang sedang hamil memang suka aneh " jawab Dio
"Ooh..aku pikir om dan tante bertengkar " Nakula dan Sadewa terlihat lega.
__ADS_1
"Apakah mommy dan Daddy kalian suka bertengkar ?" tiba-tiba Dio penasaran dengan kehidupan Bagas dan Felisha sekarang.
"Tidak pernah..dulu Daddy yang galak,tapi sekarang Daddy nurut banget sama mommy...mereka tidak pernah bertengkar "
"Syukurlah " gumam Dio lega.
Pada saat seluruh keluarga berkumpul untuk sarapan,Bagas dan Felisha terus menyindir Dio yang semalam diusir oleh Kinanti.
"Sekarang kalian nyindir-nyindir..padahal kalian lebih tragis lagi sampai pisah jauh.. kamu di Bandung Bagas di Jakarta..kalau kakak sih cuma pisah kamar saja.. besok-besok juga kalau kalian pulang pasti dia merengek lagi nyariin kakak " ujar Dio.
Bagas dan Felisha langsung diam begitu mendapat sindiran pedas balasan dari Dio.
"Dibalas telak " seloroh Kinanti sambil tertawa.
"Pulang yuk Yang " Felisha menggamit lengan Bagas pura-pura marah.
"Aku masih mau nginep mom..tidak mau pulang " Luna langsung ketakutan diajak pulang,begitu juga dengan Nakula dan Sadewa.
"Mommy kalian cuma becanda Sayang " Kinanti mencoba menenangkan Luna.
Menjelang waktu makan siang,Felisha tampak ikut sibuk di dapur bersama bunda untuk menyiapkan makan siang.
Semenjak hamil Kinanti memang absen ke dapur karena ia akan langsung muntah jika mencium bau bawang merah dan bawang putih.Padahal selama ini Kinanti paling hobi di dapur dibanding Felisha.
Disaat Yang bersamaan Bagas dan Dio juga tampak anteng bermain catur sambil mengawasi Luna dan si kembar yang sedang bermain di dekat kolam ikan.
"Waktu Feli hamil apa dia sering minta yang aneh-aneh ?" tanya Dio
"Tidak..Feli sama sekali tidak pernah minta yang aneh-aneh..Yang sedikit merepotkan justru Luna.Dia jadi manja sekali dan galak.. Dia akan marah jika aku dekat-dekat Feli.. apa-apa harus sama Daddy.. mommy nya tidak dianggap sama sekali " jawab Bagas sambil tertawa.
"Sampai sekarang aku lihat dia masih manja sama kamu " ujar Dio.
"Iya..Luna sangat berbeda dengan kedua kakaknya..Nakula dan Sadewa malah lebih dekat pada Feli dibanding aku " tambah Bagas.
"Boleh aku bicara serius ?" tiba-tiba Bagas menatap dalam kepada Dio.
"Tentang apa ?" tanya Dio
Bagas terdiam sejenak, seperti akan mengatakan sesuatu yang berat.Membuat Dio jadi penasaran.
" Sebelum meninggal Bagus memiliki tabungan yang lumayan di rekeningnya.Aku akan mengalihkan semuanya untuk Luna " ujar Bagas lirih.
Dio terpaku mendengar ucapan Bagas. Membicarakan Bagus seolah membuka luka lama yang sudah mengering.
"Aku tidak berani membahas masalah ini dengan Felisha..aku tidak ingin Felisha kembali larut dengan masa lalu " tambah Bagas.
"Kalau begitu lakukan saja tanpa sepengetahuan Feli " saran Dio.
"Iya..tolong rahasiakan ini dari Feli " jawab Bagas.
"Pasti " janji Dio.
"Aku ingin hati Feli sepenuhnya hanya kepada ku tidak kepada yang lain termasuk almarhum Bagus " ujar Bagas lirih.
"SKAK..MAT ..." Dio menyerang Bagas.
"Sialan..aku kecolongan " umpat Bagas.
__ADS_1