
Kehamilan kedua Zhifana membuat Cindy jadi uring-uringan. Sadewa yang baru pulang dinas dibuat pusing oleh tingkah Cindy yang selalu cemberut.
"Kamu kenapa sih Bun beberapa hari ini cemberut terus ?" Sadewa menarik tangan Cindy agar wanita itu duduk diatas pangkuannya.
"Kamu sudah tidak betah tinggal disini ?" tanya Sadewa.
"Siapa bilang?..aku betah tinggal disini walaupun rumahnya kecil " jawab Cindy.
"Jangan bilang kamu bertengkar dengan tetangga " selidik Sadewa.
Sadewa sudah hapal permasalahan yang sering timbul di rumah dinas ya biasanya bertengkar dengan tetangga. Pemicunya biasanya masalah sepele seperti pertengkaran anak-anak yang ujungnya melibat6 orangtua.
"Tidak..tetangga disini semua pada baik..apalagi Bu Eko " jawab Cindy.
"Lalu kenapa kamu cemberut terus ?" tanya Sadewa
"Sayang..kakak Zhi sekarang sedang hamil " ucap Cindy lirih.
"Lalu ?"
"Aku juga ingin hamil seperti kakak Zhi " jawab Cindy lirih.
"Kakak dengan senang hati buat kamu hamil..tapi bagaimana dengan kuliah kamu kalau kamu hamil ?" tanya Sadewa.
"Iya..aku ingin hamil tapi kuliah aku tanggung sebentar lagi selesai " jawab Cindy.
"Kakak sih terserah kamu " ucap Sadewa sambil mengusap-usap paha Cindy.
"Ya sudah deh..hamilnya tunggu aku selesai kuliah dulu " ucap Cindy akhirnya.
"Jangan sedih seperti itu dong Bun " Sadewa memeluk Cindy dan mencium keningnya lembut.
"Kakak juga sebetulnya sudah sangat ingin tambah momongan, tapi kakak tidak bisa membiarkan kamu kuliah dalam keadaan hamil, belum ngurus Satria..ditambah kita tinggal berjauhan " ujar Sadewa.
"Sebaiknya kita tunda dulu ya Sayang sampai kamu selesai kuliah " bujuk Sadewa.Cindy mengangguk.
"Jangan sedih dong " Sadewa menjawil dagu Cindy.
"Tidak " jawab Cindy sambil berusaha tersenyum.
Perlahan Cindy beringsut turun dari pangkuan Sadewa namun tangan kekar Sadewa menahannya.
"Jangan sedih ya Sayang " bujuk Sadewa.
"Iya..iya " jawab Cindy sambil memeluk leher Sadewa manja.
Sadewa yang melihat Cindy masih bersedih berusaha menghibur agar Cindy melupakan kesedihannya dengan caranya sendiri.
Setelah libur semester Cindy berakhir Sadewa pun mengantarkan Cindy dan Satria pulang ke Bandung.
Sadewa menyemangati Cindy agar segera menyelesaikan kuliahnya. Sadewa sudah tidak sabar ingin terus berkumpul bersama anak dan istrinya.
*
Kenzo terbangun ketika merasakan tubuhnya terasa berat dan sulit untuk digerakkan.
Begitu membuka matanya ternyata Luna mendudukan Kenan dan Ana diatas perutnya. Kedua bocah berpipi bulat dan bermata sipit itu tertawa sambil berceloteh memanggilnya.
__ADS_1
"Kenapa kalian ganggu Daddy..pasti Mommy yang suruh ya " Kenzo menggelitiki perut Kenan dan Ana hingga kedua bocah itu tertawa kegelian.
Kenzo bercanda bersama kedua buah hatinya sampai pengasuh membawa Kenan dan Ana untuk dimandikan
"Hari ini kita ajak anak-anak jalan yuk Sayang " ajak Luna sambil duduk disebelah Kenzo yang masih berbaring.
"Oke " jawab Kenzo sambil memindahkan kepalanya keatas pangkuan Luna.
"Katanya Oke..tapi malah rebahan terus "
"Masih ingin begini " Kenzo menciumi perut Luna membuat wanita itu terkikik kegelian.
"Ayok dong Sayang.. anak-anak sebentar lagi selesai mandinya " Luna mengangkat kepala Kenzo dari pangkuannya.
Bukannya bangun Kenzo malah mendorong tubuh Luna hingga wanita itu terjerembab diatas kasur.
Dengan secepat kilat Kenzo langsung naik keatas tubuh Luna dan menindihnya.
"Kakak mau sarapan dulu " bisik Kenzo sambil melu mat bibir Aluna.
"Sarapan kamu "
"Dasar sipit..ga bisa melewatkan kesempatan barang sedikitpun " Luna menggerutu namun tak urung tangannya melingkar erat di leher Kenzo.
"Sayang aku mau beli cincin boleh tidak ? kemarin toko perhiasan langganan Mommy mengeluarkan koleksi terbarunya..katanyanya limited edition "
"Jadi rencananya mau ajak anak-anak jalan atau mau beli cincin ?" Kenzo menatap lembut mata Luna.
"Dua-duanya Sayang " jawab Luna
"Tidak masalah..aku mau beli sendiri pake uang dari Daddy " jawab Luna.
"Jangan..uang dari Daddy tidak usah dipake..simpan saja..semua kebutuhan kamu adalah tanggung jawab kakak sebagai suami kamu " ujar Kenzo.
"Tadi katanya tidak mau belikan " Luna merajuk
"Cuma becanda Sayang. Masa tidak dibelikan..nyawa kakak pun akan kakak berikan jika kamu memintanya " ujar Kenzo.
"Asal kamu juga kasih apa yang kamu punya " sambung Kenzo sambil menyusupkan tangannya di sela-sela paha Luna.
"Berarti kakak minta imbalan dong "
"Anggap saja begitu " Ucap Kenzo sambil menarik ce lana dalam milik Luna.
Sebelum pergi sepertinya Luna harus memuaskan dulu si sipit nya agar nanti disana Luna bisa puas belanja menghabiskan uang suaminya.
Satu jam kemudian Luna dan Kenzo mendudukan Kenan dan Ana diatas baby seat car nya di kursi belakang.
Kedua bocah berpipi bulat dan bermata sipit itu tampak anteng memegang botol susunya.
Di dekat mereka terdapat beberapa mainan milik Kenan dan Ana.Luna dan Kenzo sengaja tidak membawa pengasuh si kembar mereka ingin mengasuh sendiri kedua buah hatinya
Begitu sampai Luna menggendong Kenan sedangkan Kenzo menggendong Ana.
Mereka membawa si kembar ke arena mandi bola yang menurut mereka terbilang aman untuk anak seusia Kenan dan Ana.
Kenan dan Ana yang sudah mulai pintar berjalan terlihat berlari kesana kemari. Luna dan Kenzo mengikuti kemana kedua bocah itu pergi.
__ADS_1
Setelah hampir satu jam bermain disana Kenzo dan Luna membawa Kenan dan Ana keluar dari area permainan karena Ana yang mulai rewel karena bosan.
"Kita cari makan dulu ya Sayang " ajak Kenzo. sambil menggenggam tangan Luna menuju sebuah restoran yang berada tidak jauh dari sana.
"Ternyata repot juga ya megang dua anak..apalagi mereka sudah mulai tidak bisa diam " keluh Kenzo saat menunggu pesanan mereka datang.
Kenzo dan Luna memesan dua porsi SOP buntut agar mereka bisa makan sambil menyuapi Kenan dan Ana makan.
Karena lelah setelah bermain mandi bola Kenan dan Ana makan dengan sangat lahap.
Kenzo dan Luna yang sibuk makan sambil menyuapi si kembar makan tidak menyadari jika ada dua pasang mata yang memperhatikan mereka dan kemudian menghampiri meja mereka.
"Kakak Ken..Luna.." suara riang seorang wanita langsung membuat Kenzo dan Luna menoleh.
"HANA ..?!" Kenzo dan Luna melongo menatap Hana yang sedang berdiri di depan mereka sambil tersenyum.
"RIO..?!" tatapan Luna dan Kenzo beralih pada pria disamping Hana yang tampak sedang memegang kantung belanjaan yang cukup banyak.
"Aiih..lucu banget boleh gendong tidak " tangan Hana terulur mengambil Kenan yang berada dalam gendongan Luna.
"Ganteng banget kayak kakak Ken " puji Hana sambil menciumi pipi bulat Kenan yang sudah beralih kedalam gendongannya.
Mendengar ucapan Hana, Luna langsung terlihat cemberut. Tanpa mereka sadari wajah Rio pun terlihat masam.
Hana yang baru menyadari perubahan wajah Rio buru-buru mengembalikan Kenan kepada Luna.
Setelah berbasa-basi sebentar mereka pun pamit.
"Sayang..aku curiga sepertinya mereka pacaran " bisik Luna.
"Baguslah..jadi dia tidak akan mengejar-ngejar istri orang lagi " jawab Kenzo.
"Iya..baguslah jadi dia tidak akan mengejar-ngejar suami orang lagi " balas Luna.
"Kamu masih cemburu sama Hana Sayang ?" tanya Kenzo sambil memeluk bahu Luna.
"Tidak..bukannya kamu yang selalu cemburuan pada Rio " jawab Luna.
"Iya deh..aku yang selalu cemburuan pada Rio " aku Kenzo sambil tertawa.
Setelah selesai makan Kenzo menepati janjinya untuk membelikan cincin yang Luna minta.
Pemilik toko perhiasan langganan Felisha memperlihatkan koleksi perhiasan terbarunya kepada Luna.
Dan pilihan Luna tertuju pada sebuah cincin yang Luna perlihatkan photonya kepada Kenzo semalam. Kenzo pun terlihat suka dengan pilihan Luna dan ia tidak ragu sedikitpun untuk membayarnya meskipun harganya lumayan tinggi karena limited edition.
"Langsung dipakai saja " pinta Kenzo setelah melakukan pembayaran.
Luna pun menurut. Dipakainya cincin itu di jari tengahnya menemani cincin kawinnya. Cincin itu terlihat sangat cantik menghiasi jari lentik Luna.
"Cantik banget Sayang " puji Kenzo
"Terimakasih Sayang " ucap Luna seraya memeluk pinggang Kenzo.
"Ingat..semua ini tidak gratis " bisik Kenzo ditelinga Luna.
"Dasar sipit..itungan sekali " keluh Luna sambil mencubit perut Kenzo begitu keluar dari toko perhiasan.
__ADS_1