Om Buah Hatiku

Om Buah Hatiku
Apel Pertama Yang Gagal


__ADS_3

Pulang kuliah kali ini tidak biasanya Kenzo menjemputnya dengan menggunakan motor. Sebelum Luna naik ke boncengan Kenzo memakaikan helm di kepala Luna.


Setelah Luna naik, Kenzo malah terlihat bingung.


"Kakak kenapa ?" tanya Luna.


"Seharusnya kakak jemput kamu tidak pake motor, kakak lupa kamu pake rok " jawab Kenzo sambil menutupi paha Luna dengan tangannya.


"Tutup pake ini saja " Kenzo melepaskan jasnya dan diberikan kepada Luna untuk menutupi pahanya.


"Sudah aman " ujar Kenzo setelah paha mulus Luna tertutup oleh jasnya.


Kenzo meraih kedua tangan Luna agar memeluk pinggangnya sebelum ia mulai melajukan motornya.


"Kakak..tumben jemputnya pake motor " ucap Luna diantara suara deru mesin motor.


"Biar cepet bisa nyalip-nyalip dan biar dipeluk kamu " jawab Kenzo yang langsung dihadiahi cubitan di pinggangnya oleh Luna.


"Sakit Sayang " keluh Kenzo.


"Siapa suruh modus " ujar Luna.


Kenzo tertawa sepertinya lebih menyenangkan menjemput pujaan hatinya dengan motor daripada mobil karena dengan motor Kenzo bisa merasakan dipeluk oleh Luna. Namun semua pemikiran itu buyar ketika hujan tiba-tiba turun dengan cukup deras


Karena baju mereka sudah terlanjur basah dan jarak ke rumah tidak terlalu jauh mereka pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan diantara derasnya hujan.


Sesampainya di rumah mereka langsung mendapat omelan dari Bagas dan Felisha.


Felisha buru-buru memberikan handuk kepada Luna sedangkan Kenzo langsung pamit pulang.


"Lain kali kalau hujan berhenti dulu..nanti kalian sakit " omel Felisha.


"Tadi hujannya tiba-tiba deras Mom..mau berteduh juga baju kita tanggung sudah basah


makanya sekalian hujan-hujanan " jawab Luna.


"Kamu itu kalau sakit bagaimana " omel Felisha sambil membuatkan coklat panas untuk Luna.


Akhirnya kekhawatiran Felisha pun terbukti. keesokannya Luna tidak keluar dari kamar sampai matahari hampir tinggi. Biasanya Luna tidak pernah seperti itu meskipun ini adalah hari Sabtu.


Bagas dan Felisha yang khawatir langsung mencari Luna di kamarnya. Disana Luna masih tertidur dengan tubuh menggigil dibawah selimut tebalnya.


"Kakak demam Mas " ucap Felisha setelah mengecek suhu tubuh Luna yang tinggi.


"Mungkin karena kehujanan kemarin " jawab Bagas dengan wajah khawatir.


"Iya " jawab Felisha.


Tidak ingin sakitnya berlanjut Felisha pun membangunkan Luna dan membawakan makanan ke kamar Luna.


"Kakak makan dulu.. setelah makan minum obat demam " Felisha menyuapi Luna makan.


"Kepala kakak pusing banget " keluh Luna.


"Iya makanya kakak makan terus minum obat " titah Bagas. Luna pun menurut.


Bagas menunggui sampai Luna menghabiskan makannya dan menelan obatnya.


"Sekarang kakak istirahat lagi " Bagas dan Felisha meninggalkan Luna di kamarnya.


Karena kemarin Luna kehujanan bersama Kenzo, Bagas dan Felisha pun menyuruh Nakula untuk mengecek keadaan Kenzo di rumahnya.


Bagas dan Felisha khawatir Kenzo juga terserang demam seperti Luna. Felisha menyuruh Nakula membawa obat demam untuk Kenzo takutnya Kenzo juga sama seperti Luna.


Nakula yang mendatangi rumah Kenzo akhirnya mendapati Kenzo sedang menggigil dibawah selimut tebalnya.


"Lo sakit Ken ?" tanya Nakula


"Dari semalaman gw demam " jawab Kenzo


"Siapa suruh hujan-hujanan..Luna juga sekarang demam sama seperti Lo " ujar Nakula.


"Luna demam ?" tanya Kenzo dengan wajah khawatir. Nakula mengangguk.


Nakula yang peduli kepada sahabatnya itu menyuruh pelayan membawakan makan untuk Kenzo ke kamar.


"Lo makan dulu..sudah makan minum obat " Nakula memberikan obat demam kepada Kenzo.


"Lo perhatian banget sama gw sampai nyiapin obat segala " gumam Kenzo sambil duduk dan mulai makan.


"Mommy yang nyiapin obat buat Lo " jawab Nakula membuat Kenzo merasa terharu karena keluarga Luna yang begitu perhatian kepadanya.


Setelah memastikan Kenzo meminum obat demamnya Nakula pun pulang ke rumahnya meninggalkan Kenzo yang kembali melanjutkan tidurnya.


Setelah seharian berada di ranjangnya Kenzo terlihat gusar ketika menatap jam di dinding kamarnya menunjukkan jam 7 malam. Sekarang seharusnya ia mengapeli Luna untuk yang pertama kalinya. Namun Kenzo merasakan kepalanya masih terasa berat meskipun suhu tubuhnya sudah mulai turun.

__ADS_1


Karena tidak mungkin ngapel dalam keadaan tubuh yang sedang sakit sepertinya ngapel pertamanya terpaksa ia lakukan secara virtual.


"Kamu masih sakit Sayang ?" tanya Kenzo ketika dilayar ponselnya tampak Luna mengenakan sweater tebal.


"Tinggal pusingnya..kakak sendiri ?" Luna balik bertanya.


"Sama..tinggal pusingnya..Sayang maaf ya seharusnya kemarin kita tidak hujan-hujanan.. jadi bikin kamu sakit " ujar Kenzo merasa bersalah.


"Tidak apa-apa kak " jawab Luna


Meski apel pertama mereka gagal namun Luna dan Kenzo masih bisa saling melepas rindu meskipun hanya melalui sambungan video. Beberapa jam kemudian keduanya tertidur tanpa sempat mengakhiri sambungan video.


*


Mendengar kabar Luna dan Kenzo sakit keesokannya Cindy datang menengok. Yang pertama Cindy datangi adalah Kenzo karena ia dititipi bubur untuk Kenzo dari Mama nya.


"Mau aku suapin ?" tanya Cindy sambil memberikan mangkuk bubur kepada Kenzo.


"Tidak usah..emangnya kakak anak kecil " Kenzo menolak.


"Tapi kalau disuapin sama Luna pasti tidak akan menolak " sindir Cindy.


"Iya Dong " jawab Kenzo sambil menyantap buburnya.


Cindy menunggui dengan setia kakak sepupunya itu menghabiskan buburnya.


"Kalau sudah makan kata Mama disuruh minum obat " ujar Cindy.


"Iya..kemarin dikasih obat demam sama Mommy nya Luna " jawab Kenzo.


"Duh..calon mertuanya perhatian sekali " ledek Cindy.


"Ya dong " jawab Kenzo bangga.


"Sudah dapat restu nih ceritanya ?" tanya Cindy penasaran.


"Sudah " jawab Kenzo


Obrolan saudara sepupu itu terjeda dengan kedatangan Sadewa ke rumah Kenzo.


"Kapan datang dari Bandung ?" tanya Kenzo begitu Sadewa masuk ke kamarnya.


"Tadi pagi..dari Bandung habis subuh " jawab Sadewa sambil duduk disisi ranjang. Cindy yang duduk disisi lainnya tampak langsung mengkerut.


"Luna sudah baikan ?" tanya Kenzo. Meskipun dirinya juga sakit tapi Kenzo masih mempedulikan keadaan Luna.


"Kakak..aku mau lihat Luna dulu ya " Cindy mencari alasan untuk kabur dari kamar Kenzo.


"Iya " jawab Kenzo.


"Kakak..jangan lupa minum obatnya " pesan Cindy sebelum menghilang dibalik pintu.


"Iya " jawab Kenzo.


"Kabur dia...gw heran takut banget adik sepupu Lo sama gw " keluh Sadewa yang langsung disambut tawa lebar Kenzo.


Sepulang dari rumah Kenzo, Sadewa langsung masuk ke kamarnya. Ia tidak mau membuat Cindy yang sedang ada di rumahnya merasa tidak nyaman dengan kehadirannya.


Sadewa baru keluar dari kamarnya ketika Felisha memanggilnya untuk makan siang.Cindy yang ditawari makan siang oleh Felisha menolak ikut bergabung.Ia lebih memilih makan siang bersama Kenzo dengan alasan kasian jika Kenzo makan sendirian dan Felisha pun mengerti.


Sadewa menggaruk belakang kepalanya melihat tingkah Cindy yang selalu berusaha menghindarinya.


"Cindy tidak ikut makan ?" tanya Bagas


"Dia mau menemani Kenzo katanya kasian makan sendiri " jawab Felisha.


"Anak baik.. perhatian sekali sama kakaknya " puji Bagas.


"Bukan perhatian sama kakak Ken..tapi Cindy takut sama kak Dewa " ujar Luna.


"Kamu apain anak gadis orang sampai takut begitu ?" tanya Bagas menatap tajam kearah Sadewa.


"Dia takut sama Polisi Dad " Luna yang menjawab.


"Ada-ada saja " Bagas geleng-geleng kepala sambil tertawa.


"Kenapa harus takut ? Abi malah bangga punya kakak Polisi " ujar Abimanyu.


"Kak Cindy takut ditangkap polisi karena dia sudah mencuri " jawab Luna.


"Mencuri ?" tanya Bagas dan Felisha bersamaan.


"Iya..mencuri hati kak Dewa " ledek Luna yang langsung dihadiahi pelototan dari Sadewa.


"Ada-ada saja kalian ini " Bagas dan Felisha tertawa mendengar candaan Luna barusan.

__ADS_1


Beberapa jam setelah makan siang Sadewa yang sedang rebahan dikamarnya langsung tersenyum lebar ketika Luna masuk ke kamarnya.


"Kata kak Ken Cindy mau pulang sekarang..ada kesempatan anterin.. cepetan " Luna menarik paksa tangan Sadewa.


"Iya..iya.." Sadewa langsung bangun kemudian mengambil dompet dan kunci mobilnya.


Sebelum berlalu Sadewa mencium kedua pipi Luna yang masih sedikit demam


"Terimakasih adik kesayangan kakak " ucapnya senang.


"Jangan terimakasih saja dong..uang jajannya nambah ga ?" tanya Luna.


"Tenang..nanti kakak tambahin dua kali lipat " jawab Sadewa sambil berlalu.


Cindy yang sedang bersiap-siap akan pulang langsung kaget karena Sadewa kembali muncul di rumah Kenzo.


"Mau kemana Cin ?" tanya Sadewa pura-pura tidak tau.


"Pulang kak " jawab Cindy.


"Pulang bareng saja, kebetulan kakak mau keluar " ajak Sadewa.


"Iya Cin..pulang bareng Dewa saja " ujar Kenzo.


Karena tidak mempunyai alasan untuk menolak akhirnya dengan terpaksa Cindy pun menerima tawaran Sadewa.


Sepanjang perjalanan mengantarkan Cindy satu ide tiba-tiba muncul di kepala Sadewa.


"Cin..kamu keberatan tidak kalau temani kakak beli kaos dulu " ajak Sadewa.


Sebuah anggukan dari Cindy membuat Sadewa senang bukan kepalang. Sadewa pun membawa Cindy ke sebuah pusat perbelanjaan.


Sadewa menuntun tangan Cindy memasuki sebuah outlet pakaian pria. Awalnya Cindy hanya sekedar menemani saja , namun akhirnya Cindy ikut memilihkan karena Sadewa meminta bantuannya.


"Kamu mau beli sesuatu ?" tanya Sadewa setelah mereka selesai membeli beberapa t shirt untuk Sadewa.


"Tidak " jawab Cindy.


Meskipun Cindy menolak namun Sadewa membawa Cindy ke sebuah butik khusus pakaian wanita yang biasa Luna kunjungi.


Disana Sadewa kembali meminta Cindy memilihkan baju yang menurut Sadewa untuk Luna.


Cindy yang kebetulan memiliki selera yang sama dalam berpakaian dengan Luna memilihkan beberapa baju yang pastinya akan disukai oleh Luna.


Disaat Sadewa dan Cindy masih berada di butik mereka dikagetkan oleh Nakula dan Zhifana yang akan belanja disana juga.


Sadewa berusaha bersikap biasa ketika mendapat tatapan menyelidik dari Nakula dan Zhifana, berbeda dengan Cindy yang tampak gugup.


Zhifana berusaha meredakan kegugupan Cindy dengan mengajaknya melihat-lihat beberapa baju meninggalkan Nakula dan Sadewa berdua.


"Bagaimana Lo bisa jalan sama Cindy ?" tanya Nakula menyelidik.


"Dia habis nengok Luna dan Kenzo, pulangnya gw anter sekalian ada yang mau dibeli " jawab Sadewa sambil memperlihatkan paperbag berisi t shirt yang tadi dibelinya kepada Nakula.


"Ooh..gw pikir kalian pacaran " ujar Nakula.


"Emang kalau pacaran kenapa ?" tanya Sadewa


"Engga..gw kasian saja..Cindy mau nemenin Lo juga sepertinya karena dia takut dan tidak berani menolak..keliatan dari wajahnya " jawab Nakula sambil terbahak.


"Sialan Lo " umpat Sadewa.


Setelah selesai berbelanja, mereka pun berpisah.Sadewa melanjutkan perjalanan mengantarkan Cindy pulang.


Sepanjang perjalanan entah mengapa Sadewa selalu terngiang ucapan Nakula tadi yang mengatakan jika Cindy mau menemaninya belanja karena terpaksa dan tidak berani menolak.


"Cindy..jujur ya sama kakak..tadi kamu menemani kakak belanja itu terpaksa atau tidak?" tanya Sadewa.


"Tidak " jawab Cindy.


"Syukurlah..kakak pikir kamu terpaksa karena tidak berani menolak ajakan kakak " ujar Sadewa lega.


"Lain kali kalau kakak minta diantar belanja lagi kamu keberatan tidak ?" tanya Sadewa.


"Tidak kak " jawab Cindy.


YESS..!! pekik Sadewa dalam hati. Sepertinya ia menemukan alasan untuk kembali menemui gadis si pencuri hati itu nanti.


Ketika mobil Sadewa sampai di rumah Cindy, Ia memberikan paperbag berisi baju yang tadi dibilang untuk Luna.


"Loh bukannya ini untuk Luna ?" tanya Cindy.


"Tidak..ini sengaja kakak belikan untuk kamu karena sudah mau menemani kakak belanja " jawab Sadewa.


"Terimakasih kak " akhirnya Cindy pun menerimanya.

__ADS_1


Karena orangtua Cindy sedang tidak ada di rumah akhirnya Sadewa pun langsung pulang meninggalkan Cindy yang masih termangu dengan kantung belanjaan di tangannya.


__ADS_2