
Tidak banyak yang Felisha bawa dari Bandung, hanya baju dan berkas penting saja. Bahkan sepeda dan beberapa mainan Luna pun ditinggal di sana.
"Sudah tidak usah dibawa.. nanti beli yang baru "
Begitu kata Bagas. Boneka kesayangan Luna pun sudah lebih dulu Felisha titipkan pada Bagas sebelum Dio menikah.
"Ini sebenarnya rumah siapa Fe? " tanya Bagas ketika mereka selesai packing.
"Rumah mas Bagus.. " jawab Felisha
"Rumah Bagus? "
"Mas Bagus nabung untuk bangun rumah ini "
Bagas terdiam. Pantas ia pernah melihat Felisha dan Bagus ber photo mesra didepan rumah ini. Ternyata ini adalah rumah impian Bagus dan Felisha.Ada rasa tidak suka dalam hati Bagas.
"Apa ada yang mau dibawa lagi? " tanya Bagas
"Tidak.. hanya ini saja " jawab Felisha menunjuk dua koper besar yang siap diangkut ke mobil Bagas. Bagas menggusur koper itu dan dimasukkan kedalam mobilnya.
Sebelum meninggalkan rumah itu, mereka menyempatkan pamit kepada tetangga terdekat.
Bagas menggenggam jemari Felisha ketika mobil mulai bergerak menjauh meninggalkan rumah impian Felisha dan Bagus... impian yang tidak pernah terwujud.
"Luna marah ga jika kita tidak membawa semua mainannya? " tanya Bagas ragu. Ia tidak mau Luna marah karena mereka meninggalkan sebagian mainan miliknya di Bandung.
"Tidak akan.. kalau boneka kesayangan nya yang tertinggal ia pasti marah " jawab Felisha membuat ketakutan Bagas menguap.
Memasuki Jakarta, Bagas melajukan mobilnya menuju rumahnya. Felisha pun langsung protes. Ia ingin semua barang-barangnya diturunkan dirumah orangtuanya.
"Tidak usah protes.. nurut apa kata suami " ujar Bagas tak ingin dibantah
"Tapi... "
"Kalau diturunkan di rumah bunda, nanti harus diangkut lagi ke rumah.. menurut saya lebih baik langsung dibawa ke rumah " ujar Bagas
Felisha diam dengan wajah kesal. Bagas hanya melirik sekilas ke arah Felisha. Disaat seperti ini ia harus bisa mengendalikan istrinya jika tidak ingin Felisha semakin menjauh darinya.
Sesampainya di rumah, Bagas membawa koper berisi baju Felisha dan Luna ke kamarnya. Dan koper berisi beberapa mainan Luna ke kamar Bagus yang sudah beralih fungsi menjadi tempat bermain anak-anak.
Felisha terkesima melihat begitu banyak mainan dikamar yang selama 4 tahun ia dan Luna tempati.Terlihat sekali jika Bagas sedang sangat berusaha mengambil hati Luna.
Bagas sudah mengganti cat dinding dikamar itu dengan warna cerah khas anak-anak. Dan disana tak ada satu photo Bagus pun yang tersisa.
Felisha keluar dari kamar bermain anak, ia menuju kamar Bagas tempat pria itu membawa koper berisi bajunya dan Luna.
Felisha buru-buru menghampiri Bagas ketika pria itu tengah menyusun baju-bajunya dan Luna kedalam walk in closet.
"Biar saya saja " Felisha mengambil alih pekerjaan Bagas
Bagas pun membiarkan Felisha meneruskan pekerjaannya. Bagas kembali ke ranjang dan merebahkan tubuhnya disana.
Selesai memindahkan isi koper kedalam walk in closet, Felisha pun mengikuti Bagas. Ia membaringkan tubuhnya di sebelah Bagas. Perjalanan Jakarta-Bandung-Jakarta cukup menguras staminanya.
Setelah cukup istirahat, malamnya mereka pergi ke rumah orangtua Felisha untuk menjemput ketiga anak mereka.
"Jika kamu tidak bisa menjaga Feli dan Luna dengan baik.. ayah akan mengambil paksa mereka dari kamu " ancam ayah
__ADS_1
Bagas menelan ludah kasar mendengar ancaman mertuanya itu.
"Dadah enin.. kakek.. Luna nginep di rumah om dulu ya! " Luna melambaikan tangan mungilnya kepada ayah dan bunda.
Pagi ini Felisha kembali disibukan dengan menyiapkan bekal makan untuk Nakula dan Sadewa, setelah berbulan-bulan tidak ia lakukan semenjak Felisha memutuskan pergi dari rumah Bagas.
Felisha memasukkan kotak makan kedalam tas si kembar ketika mobil jemputan datang
Nakula dan Sadewa mencium tangan Felisha dan Bagas sebelum berlari menuju mobil jemputan mereka yang sudah menunggu di luar.
Hari ini Felisha mulai kembali bekerja di kantor lama nya. Bagas mengantarkan Felisha terlebih dahulu sebelum ia pergi ke kantor.
Sebetulnya Felisha menolak untuk diantarkan Bagas ke kantor tapi suaminya itu memaksa.
Sepanjang perjalanan mereka membisu. Bagas sesekali melirik kearah Felisha yang tampak cemberut. Bagas memang sengaja mengantar jemput Felisha agar wanita yang diam-diam mulai mengisi ruang kosong didalam hatinya itu menjadi terbiasa dengan kehadirannya.
Bagas menghentikan mobilnya didepan kantor Felisha.Ketika Felisha hendak keluar dari mobil, Bagas menarik tangannya sehingga Felisha pun kembali duduk.
"Ada apa sih mas ? " Felisha tampak kesal
"Kamu tuh main pergi saja.. tidak bisa pamit dulu sama suami " omel Bagas
"Saya pamit " Felisha mencium punggung tangan Bagas kemudian bergegas masuk ke kantornya.
Setelah Felisha berlalu, Bagas pun melanjutkan perjalanan menuju kantornya.
Teman-teman sekantor menyambut kepindahan Felisha kembali ke Jakarta.
"Pengen dong ditraktir makan sama manager keuangan kita yang baru "
Teman-teman Felisha langsung menodong.
"Gila lo.. gue belum gajian " ujar Felisha
"Gue gak mau tau.. ngutang dulu sana sama kak Dio "
Felisha tampak geram dengan ulah Dina. Akhirnya Felisha pun tidak bisa menolak. Untung ia membawa kartu pemberian Bagas di dompetnya.
Menjelang makan siang Felisha dan teman-temannya pergi menuju resto yang berada didepan kantor untuk makan siang.
Pada saat makan siang, Felisha sedikit kaget ketika Bagas, Dio dan Ezra datang ke resto yang sama. Felisha heran bagaimana mereka bisa makan siang bersama.Setaunya Dio adalah orang yang paling menentang ia kembali dengan Bagas.
"Lagi ada perayaan ini? " tanya Ezra kepada rombongan Felisha
"Iya Pak perayaan nyambut kembalinya Felisha " jawab Dina
"Bagus.. bagus " ujar Ezra sambil berlalu mencari meja yang lain untuk ia, Dio dan Bagas makan.
Selama makan siang Felisha beberapa kali mendapati Bagas sedang menatapnya sambil tersenyum membuat Felisha jadi salah tingkah.
Selesai makan siang, rombongan Felisha pamit kembali ke kantor. Pada saat Felisha akan membayar ternyata semuanya sudah dibayar oleh Bagas.
Jam 4 sore Bagas menjemput Felisha. Bagas seolah tau jam berapa waktunya Felisha pulang.
"Terimakasih tadi sudah dibayarin makan " ujar Felisha ketika ia sudah masuk ke mobil Bagas
"Tadi ada urusan apa sama kak Dio dan kak Ezra? " tanya Felisha penasaran
__ADS_1
"Kerjaan " jawab Bagas singkat.
Bagas tidak mungkin mengatakan kepada Felisha jika ia memberi proyek di Bali sebagai imbalan kepada Ezra karena memutasikan Felisha ke Jakarta.
"Mau beli sesuatu untuk anak-anak? " tanya Bagas
"Ya.. sekalian mau beli susu untuk anak-anak mau habis " jawab Felisha.
Bagas menepikan mobilnya di sebuah supermarket. Felisha memasukan banyak susu yang biasa dikonsumsi oleh si kembar dan Luna ke dalam troli, juga beberapa keperluan rumah tangga lainnya seperti bumbu dapur dan perlengkapan mandi.
Bagas memasukan ice cream dengan aneka varian rasa untuk ketiga buah hatinya dan banyak jajanan. Karena mereka tidak terbiasa main keluar jadi stok makanan untuk anak-anak harus tersedia.
Setelah melakukan pembayaran, Bagas memasukan keranjang belanjaan mereka kedalam mobil. Mereka pun melanjutkan perjalanan pulang.
Kedatangan mereka disambut Luna yang sedang menangis. Mbak Mia tampak kerepotan tidak bisa menenangkan Luna.
"Luna kenapa sayang? " Felisha langsung menggendong Luna yang sedang menangis tersedu.
"Mommy.. kenapa sepeda Luna tidak dibawa? " tanya Luna sambil terisak. Rupanya Luna mencari sepedanya.
"Luna mau naik sepeda? " tanya Bagas
"Iya oom " jawab Luna
"Kan sepeda Luna tidak muat di mobil daddy.. jadi terpaksa daddy tinggal "
"Oom nakal.. Luna mau naik sepeda " tangis Luna makin kencang
"Maaf in daddy sayang... bagaimana kalau kita beli yang baru.. yang lebih bagus? " bujuk Bagas
Luna berhenti menangis. ia menyusut matanya yang basah dengan punggung tangannya.
"Boleh mommy? " Luna menatap kearah Felisha meminta ijin.
"Boleh " jawab Felisha
"Tapi sekarang om " pinta Luna
"Iya sekarang " jawab Bagas.
Tanpa sempat berganti baju, Bagas pun membawa Luna dan sikembar membeli sepeda yang Luna inginkan. Sementara Felisha tidak ikut, ia memilih menyiapkan makan malam .
Jam 8 malam, Bagas dan anak-anak pulang. Berbarengan dengan kurir yang mengantarkan sepeda baru Luna.
"Mommy.. sepeda aku bagus " Luna memperlihatkan sepeda barunya kepada Felisha.
Bagas menurunkan sedikit dudukan sepeda Luna menyesuaikan dengan tinggi gadis kecil itu.
"Sudah bilang terimakasih belum sama om? " tanya Felisha kepada Luna
"Terimakasih om " ucap Luna sambil tersenyum manis kepada Bagas.
Hati Bagas begitu tersentuh melihat senyum manis gadis kecil itu.
"Iya sayang " Bagas mengusap puncak kepala Luna.
Terus dukung yaa..
__ADS_1
Like, komen dan vote readers tersayang sangat berarti untuk author
Happy Reading, 😘😘😘😘