
Keesokannya kekesalan Luna kepada Kenzo masih belum hilang juga.Wajah Luna masih terlihat masam ketika melihat Kenzo.
"Marahnya jangan keterusan dong Sayang kan kakak sudah minta maaf semalam " Kenzo yang sedang menggendong Ana mencolek pinggang Luna.
"Mommy sedang marah dek sama Daddy " Kenzo curhat kepada Ana sambil mengelus rambut hitamnya.
"Anak kecil mana mengerti " sindir Luna sambil mendudukan Kenan diatas baby chair ya karena akan disuapi makan.
Setelah itu Luna mengambil Ana dari gendongan Kenzo dan mendudukan diatas baby chair disebelah Kenan.
Dengan wajah masam Luna menyuapi kedua buah hatinya dibawah tatapan Kenzo.
"Kamu itu punya kebiasaan jelek.. kalau marah suka lama " gumam Kenzo masih menatap tajam wajah masam Luna.
Luna tidak menjawab ia hanya melengos sambil membuang muka. Kenzo yang merasa gemas menghampiri Luna kemudian mencium bibirnya dengan paksa.
Luna berusaha meronta sambil berusaha menjauhkan kepala Kenzo namun tidak berhasil. Luna yang kesal tidak sengaja menggigit bibir Kenzo.
Kenzo akhirnya melepaskan bibir Luna sambil meringis memegang bibirnya yang sakit akibat gigitan gigi Aluna.
"Galak banget sih kamu Yang " Kenzo akhirnya memilih pergi dari ruang makan.
Kenzo memilih menjauh dari singa yang sedang marah.
"Siapa suruh maksa " sungut Luna sambil melanjutkan menyuapi Kenan dan Ana yang tampak bingung melihat Mommy dan Daddy nya.
Setelah selesai menyuapi si kembar makan Luna membawa Kenan dan Ana ke rumah Mommy nya bersama kedua pengasuhnya.Sementara Kenzo memilih tiduran di kamarnya.
"Mau pulang ke Bandung sekarang kak ?" tanya Luna ketika melihat Sadewa memasukkan barang-barang nya kedalam mobil.
"Iya..besok kakak harus ke Sumedang lagi " jawab Sadewa.
"Aa Satria tidak usah pulang disini saja sama Tante " Luna mencium pipi Satria yang berada dalam gendongan Bagas.
"Tidak mau..kacian Bunda di lumah cendilian " jawab Satria.
"Anak pinter " puji Bagas.
Siang itu Cindy dan Sadewa juga Satria pulang ke Bandung. Tidak lama kemudian Zhifana dan Nakula juga Arka pun pulang.
"Kenzo mana kak ?" tanya Bagas kepada Luna.
"Di rumah Dad " jawab Luna
"Daddy mau ajak Kenzo pergi boleh ya kak ?" tanya Bagas.
"Boleh Dad.. sebentar aku panggilkan dulu " jawab Luna sambil beranjak menuju rumahnya untuk memanggil Kenzo.
Setibanya di kamar Luna mendapati Kenzo sedang berbaring sambil memainkan ponselnya.
"Kak..dipanggil Daddy. Katanya mau diajak pergi " ujar Luna.
"Iya " jawab Kenzo sambil bangun kemudian beranjak ke rumah mertuanya untuk menemui Bagas.
Siang itu Bagas mengajak Kenzo dan Abimanyu pergi. Bagas tidak mengatakan kepada Luna ataupun Felisha kemana tujuan mereka pergi.
__ADS_1
Ternyata Bagas mengajak Kenzo dan Abimanyu ke daerah puncak untuk melihat villa yang rencananya akan Bagas beli.
"Bibir kamu kenapa Ken ?" Bagas diam-diam memperhatikan sudut bibir Kenzo yang sedikit terluka.
"Anu Dad..digigit Luna " jawab Kenzo jujur.
"Digigit Luna..apakah kalian bertengkar ?" tanya Bagas menyelidik.
"Tidak Dad..Luna sedang marah sama aku " jawab Kenzo.
"Marah kenapa ?" tanya Bagas.
Kenzo pun akhirnya terpaksa menceritakan kejadian semalam kepada Bagas.
"Ooh begitu " Bagas tampak tertawa.
"Kakak Luna galak juga ya Dad " ujar Abimanyu sambil tertawa.
"Luna sifatnya sama persis seperti Mommy kalian..kalau marah suka lama..kamu harus pinter-pinter membujuk Luna biar tidak keterusan marahnya " nasehat Bagas.
"Iya Dad " jawab Kenzo.
"Kasih coklat saja kak " saran Abimanyu.
"Kakak kamu tidak akan mempan dikasih coklat..sudah bosan dari kecil dihadiahi coklat terus " sindir Bagas sambil melirik kearah Kenzo membuat pria tampan bermata sipit itu tertawa.
Selama di puncak Bagas terus menasehati Kenzo sambil melihat Villa yang akan dibelinya.
Bagas juga mengajari cara membujuk Luna agar berhenti marah seperti yang biasa ia lakukan kepada Felisha.
Setibanya di Bandung Sadewa menidurkan Satria yang tertidur sejak dalam perjalanan dari Jakarta.
Ada waktu beberapa jam untuk Sadewa beristirahat sebelum ia kembali ke Sumedang.
"Bun..sudah dong marahnya " bujuk Sadewa sambil duduk disebelah Cindy.
Sebetulnya semalam mereka sudah tidak ada masalah.Namun ketika dalam perjalanan pulang Cindy tidak sengaja melihat photo yang Willy kirimkan ke ponsel Sadewa yang memperlihatkan jika mereka sedang berada di sebuah klub malam.
"Istri cuma pergi nonton saja marah, eh sendirinya malah pergi ke klub malam " omel Cindy.
"Walaupun aku tidak pernah datang ke klub malam tapi aku tau tempat seperti apa itu " sungut Cindy.
"Emang kita semalam kesana..tapi kita cuma ngobrol dan kita tidak pesan minuman beralkohol " Sadewa membela diri.
"Kalau tidak percaya kamu tanya saja sama Kenzo dan Nakula " sambung Sadewa.
"Ngapain nanya sama mereka..kalian pasti akan saling menutupi " tuduh Cindy.
"Beneran Sayang..kami disana hanya ngobrol " Sadewa menarik tangan Cindy hingga wanita itu terjerembab diatas pangkuan Sadewa.
Cindy buru-buru turun dari pangkuan Sadewa dengan mulut mengeluarkan sumpah serapah.
"Dasar laki-laki egois..kalian bisa mencari kesenangan tapi mengekang istri " sungut Cindy.
"Bukan mengekang Bun..kita semalam khawatir karena kalian tidak bilang mau kemana " ujar Sadewa.
__ADS_1
"Kita juga tidak tau semalam kakak mau pergi kemana. Kalian juga tidak bilang kan pada kita mau pergi kemana " balas Cindy. Sadewa langsung terdiam.
"Kalian bisa pergi bersenang-senang kenapa kita tidak boleh ?" tanya Cindi
"Kakak tidak bilang tidak boleh "
"Iya..tapi marah-marah padahal aku cuma pergi nonton saja tidak pergi ke tempat maksiat seperti klub malam " semprot Cindy.
Melihat Cindy yang masih marah Sadewa menjatuhkan tubuhnya diatas kasur dengan kedua kaki menjuntai ke lantai.
Setelah hampir setengah jam berbaring seperti itu Sadewa pun bangun. Diliriknya jam yang menempel di dinding. Sudah waktunya ia kembali ke Sumedang.
Niat hati ingin mendapat bekal yang cukup dari istrinya akhirnya Sadewa harus kecewa karena sepertinya ia harus puasa sampai Minggu depan.
Dengan langkah gontai Sadewa mengambil tas berisi baju yang sudah Cindy siapkan dan dimasukkan ke dalam mobil.
"Aa Ayah pergi ya..jangan nakal sama Bunda disini " Sadewa mencium pipi bulat Satria yang tengah tertidur.
"Kakak pergi ya.. baik-baik di rumah " Sadewa menyentuh kepala Cindy sebelum masuk kedalam mobil.
Cindy menatap kepergian Sadewa sampai mobil suaminya itu menghilang dari pandangannya.
Melihat kepergian Sadewa ada rasa kasihan dalam hati Cindy, namun ia sangat dongkol kepada Sadewa yang sudah memarahinya karena pergi nonton dengan Luna dan Zhifana. Sementara Sadewa sendiri malah pergi ke club malam bersama Nakula dan Kenzo.
Nasib Sadewa tidak jauh berbeda dengan Nakula. Zhifana sama marahnya seperti Luna dan Cindy. Bahkan semalam Zhifana memilih tidur di kamar Arka Karena tidak terima Nakula memarahi nya hanya gara-gara pergi nonton dengan Cindy dan Luna.
Kemarahan Zhifana semakin memuncak setelah Cindy memberitahu jika semalam Nakula, Sadewa dan Kenzo pergi ke club malam.
Nakula akhirnya tidak berkutik setelah Zhifana tau jika semalam mereka pergi ke club malam.
"Semalam kita memang pergi ke club malam..tapi disana kita hanya ngobrol dan tidak melakukan hal-hal yang aneh " tanpa ditanya tiba-tiba Nakula menjelaskan sendiri.
"Aku tidak tanya " ujar Zhifana sinis.
"Aku cuma kasih tau, takutnya kamu berpikiran yang macam-macam " jawab Nakula.
"Tidak..yang berpikiran macam-macam itu kamu..padahal istri cuma pergi nonton sama Luna dan Cindy saja marah " sungut Zhifana.
"Dengar ya..yang butuh hiburan itu bukan cuma kamu..aku, Luna, Cindy juga butuh hiburan" ucap Zhifana pedas.
"Kamu pikir ngurus anak, ngurus suami, ngurus rumah itu tidak lelah.. kami juga butuh hiburan. Cuma pergi nonton saja segitu marahnya " semprot Zhifana.
"Iya maaf..tidak seharusnya aku marahin kamu semalam " ucap Nakula lirih.
"Kamu marah karena aku tidak sempat mengangkat telepon dari kamu..kamu sendiri tidak membuka pesan yang aku kirimkan sebelum pergi nonton " omel Zhifana.
"Iya Maaf..aku salah " ujar Nakula.
"Makanya kalau mau marah dipikir dulu " sungut Zhifana sambil ngeloyor pergi dari kamar.
"Mau kemana ?" tanya Nakula.
"Tidur di kamar Arka..sebal lihat kamu " jawab Zhifana sinis.
Nakula melongo..baru kali ini ia melihat Zhifana segitu marahnya. Ternyata jika marah Zhifana sangat menyeramkan.
__ADS_1