Om Buah Hatiku

Om Buah Hatiku
Pamit


__ADS_3

Sabtu pagi Felisha dan anak-anak sudah berpakaian rapi,sepertinya mereka akan pergi.


"Nakula.. Sadewa pamit dulu sama daddy " titah Felisha kepada si kembar.


"Daddy.. kita mau nginep di rumah enin " pamit si kembar


"Daddy tidak diajak? " tanya Bagas sambil melirik wajah dingin Felisha


"Kata kaka Feli daddy sedang sibuk " jawab Nakula terlihat bingung.


Bagas menatap tajam kearah Felisha. Ia tau Felisha membuat alasan dirinya sibuk agar mereka bisa pergi tanpa Bagas.


"Kalau begitu biar daddy antar " Bagas bangkit hendak mengambil kunci mobil nya


"Tidak perlu mas, saya sudah pesan taksi online.. sebentar lagi datang " Felisha menolak.


Bagas mendengus.. sejak mereka menikah Bagas membebaskan Felisha untuk memakai mobilnya yang ada di garasi namun Felisha lebih senang memakai motor matic milik Bagus, setelah motor itu dirantai pun Felisha masih tidak mau memakai kendaraan miliknya dan lebih memilih menggunakan taksi online.


Tak lama kemudian taksi online pesanan Felisha pun datang. Bagas menatap kepergian mereka dengan tatapan nanar. Ternyata kedua putranya pun lebih senang pergi tanpa dirinya.


Kedatangan Felisha dan anak-anak disambut gembira oleh ayah dan bunda juga Dio kakaknya.Suasana rumah orangtua Felisha yang biasa sepi mendadak ramai olah kedatangan ketiga cucu mereka.


"Bagas kenapa tidak ikut? " tanya bunda


"Mas Bagas sedang sibuk bun, banyak kerjaan " jawab Felisha berbohong.


"Masa hari libur juga kerja? " tanya bunda menelisik. Bunda tau jika Felisha sedang berusaha menutupi Bagas. Felisha pun terdiam.


"Fe.. Jika kamu sudah tidak mampu sebaiknya jangan dipaksakan. Mumpung kamu masih muda.Luna butuh ayah.. bukan hanya status saja " ucap bunda lembut.


Felisha menunduk, nyatanya Ia tidak pernah bisa membohongi bundanya.


"Feli harus bagaimana bun? " tanya Felisha bingung


"Bicarakan baik- baik dengan suami kamu " jawab bunda.

__ADS_1


"Lalu.. bagaimana dengan Nakula dan Sadewa? " tanya Felisha


"Fe.. Bagas saja tidak menganggap Luna sebagai putrinya.. bunda lihat Nakula dan Sadewa sudah cukup besar, mereka tidak akan sulit menerima semuanya " jawab bunda.


"Tapi bun.. nanti Feli akan menjadi beban ayah dan bunda " ujar Felisha lirih


"Tidak masalah.. justru ayah dan bunda merasa sangat terbebani ketika melihat kamu seperti ini " jawab bunda sendu.


"Saran bunda.. kalian harus bicarakan berdua. Jika kalian sudah tidak sanggup sebaiknya kalian saling melepaskan.. ayah dan bunda akan menghormati apapun keputusan kalian "


"Akan Feli coba bicarakan dengan mas Bagas " ujar Feli akhirnya.


Waktu berlalu begitu cepat, Felisha sudah dapat menyelesaikan kuliahnya dan mendapatkan gelar sarjana.Tak lama kemudian Felisha pun mendapatkan pekerjaan di perusahaan tempat Dio bekerja sebagai salah satu staf keuangan.


Setelah mendapatkan pekerjaan, Felisha semakin yakin akan keputusan yang akan Ia ambil yaitu pergi selamanya dari kehidupan Bagas.


Malam itu setelah menidurkan ketiga buah hatinya Felisha turun untuk menemui Bagas.


Bagas yang sedang berada diruang kerjanya kaget ketika Feli datang menghampirinya.


Bagas mematikan laptop nya kemudian menatap dalam ke arah Felisha.


"Bicaralah " jawab Bagas dingin


Felisha menarik napas dalam sebelum mulai berbicara.


"Saya mau pamit " ucap Felisha


"Pamit? " Bagas menautkan alisnya.


"Ya.. setelah saya pikir, saya dan Luna tidak pantas terus tinggal disini. Saya dan Luna sudah terlalu lama membebani mas Bagas "


"Sekarang saya sudah mendapatkan pekerjaan, jadi saya pikir dengan penghasilan yang saya dapat sudah cukup untuk biaya hidup saya dan Luna "


"Maksud kamu apa? " Bagas belum dapat mencerna semua ucapan Felisha

__ADS_1


"Maksudnya... Saya ingin pulang ke rumah ayah dan bunda " jawab Felisha lirih.


"Sudah cukup selama ini mas Bagas mengambil beban tanggung jawab yang seharusnya bukan kewajiban mas Bagas " ujar Felisha, satu butir airmata lolos dari mata indahnya.


"Apa karena kepergian Saya dan anak-anak ke Semarang disaat Luna sakit? " tanya Bagas. Felisha menggeleng.


"Ini sudah Saya pikir kan jauh sebelum Luna sakit " jawab Felisha.


"Saya tidak mau terus menjadi beban bagi mas Bagas " ujar Felisha


"Saya tidak merasa itu sebagai beban " jawab Bagas lugas


"Tapi saya yang merasa membebani mas Bagas " ujar Luna


"Lalu bagaimana dengan Nakula dan Sadewa, mereka akan kehilangan kamu dan Luna "


Felisha tersenyum miris.. "Mereka sudah besar dan cukup mandiri.Mereka pasti akan cepat mengerti " jawab Felisha


Bagas membuang muka, Ia tidak menyangka Felisha akan berani mengambil keputusan sebesar itu.


"Apa saya telah melukai hati kamu? Jika benar tolong maafkan saya dan tolong pikirkan lagi apa yang kamu ucapkan barusan " ujar Bagas.


"Tidak.. mas Bagas tidak salah. Saya dan mas Bagus yang telah melakukan kesalahan " jawab Felisha sendu.


"Dan.. Saya kembalikan ini " Felisha meletakan kartu pemberian Bagas dan cincin pernikahan mereka di atas meja. Bagas terhenyak menatap kartu dan cincin itu. Sudah sebulat itu kah tekad Felisha ingin berpisah darinya.


Setelah meletakan kartu dan cincin itu Felisha pun keluar dari ruang kerja Bagas. Meninggalkan Bagas yang masih belum sepenuhnya percaya akan keputusan yang diambil Felisha.


Keesokannya Bagas masih bertemu dengan Felisha juga Luna pada saat sarapan pagi. Bagas melihat Felisha bersikap biasa saja seperti tidak pernah ada pembicaraan serius malam tadi. Bahkan Felisha masih sempat menyiapkan bekal untuk si kembar seperti biasa


Di kantor, Bagas mendadak jadi tidak fokus bekerja.Ucapan Felisha semalam begitu mengganggu pikirannya. Bagas pikir dengan memberikan status yang jelas untuk Luna dan menjamin semua kebutuhannya sudah cukup untuk mengikat Felisha dalam Ikatan pernikahan, ternyata Ia salah besar.


Kini Bagas dilanda kegamangan atas nasib kedua putranya yang akan kembali kehilangan orang yang mereka sayangi.


Kepulangan Felisha dan Luna disambut dengan lapang dada olah ayah dan bunda. Felisha kembali menata kamarnya yang kini akan kembali Ia tempati bersama Luna.

__ADS_1


Malam harinya sepulang dari kantor, Bagas mendapati kamar Felisha sudah kosong ternyata wanita itu benar-benar pergi.


__ADS_2