
Cindy yang sedang menemani Satria tidur siang tiba-tiba mendapat pesan dari Sadewa. Pria tampan yang sedang berdinas itu mengirimkan berkas mutasi di jajaran Polres Sumedang.
Diantara beberapa perwira yang dipindah tugaskan terdapat nama Sadewa yang dimutasikan ke Polda Metro Jaya.
Cindy melotot tidak percaya ketika menemukan nama Sadewa ada disana.
Akhirnya keinginan untuk bisa berkumpul dengan keluarga di Jakarta dapat terkabul dengan kepindahan Sadewa ke Polda Metro.
Sorenya ketika Sadewa pulang Cindy pun langsung memberondong Sadewa dengan pertanyaan.
"Ayah beneran mutasi ke Polda Metro ..bukan lagi nge prank aku kan ?" tanya Cindy.
"Suami pulang cape bukannya dikasih minum..ini malah diberondong pertanyaan " keluh Sadewa sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
Cindy buru-buru pergi ke dapur untuk membuatkan es jeruk untuk Sadewa.
"Ini minumnya " Cindy memberikan gelas berisi es jeruk kepada Sadewa.
Sadewa memberikan gelas yang tinggal separuh kepada Cindy.
"Jadi gimana Yah..beneran mutasi ?" Cindy kembali bertanya dengan tidak sabar.
"Iya..masa bohong " jawab Sadewa.
"Alhamdulillah ya Alloh akhirnya kita kembali ke Jakarta " Cindy langsung menghambur memeluk Sadewa dan menciumi seluruh wajahnya.
"Bun..sudah..nanti ada yang lihat malu " Sadewa mengingatkan Cindy.
"Bodo amat..aku tidak peduli " jawab Cindy sambil terus menciumi wajah Sadewa.
Menjelang kepindahan nya ke Jakarta, Sadewa meminta Nakula mencarikan rumah untuknya.
Kelak setelah pindah ia tidak mau tinggal di rumah Bagas. Sadewa ingin hidup mandiri dengan tinggal di rumah sendiri seperti Nakula dan Luna.
Setelah mendapatkan rumah yang cocok untuk Sadewa, Bagas menyuruh orang-orang nya untuk membantu kepindahan putranya ke Jakarta.
Satu Minggu kemudian Sadewa dan Cindy juga Satria pun resmi pindah ke rumah baru mereka dan Sadewa mulai berdinas di tempat barunya.
__ADS_1
Sejak pindah dan tinggal di Jakarta hampir setiap hari Satria minta diantarkan ke rumah Bagas, alasannya adalah ingin main dengan Alysha dan dedek sipit.
Setiap pagi sebelum ke kantor Sadewa mengantarkan Cindy dan Satria ke rumah Mommy dan Daddy nya dan akan di jemput pada saat Sadewa pulang dinas.
Bahkan tidak jarang Satria menginap di rumah Luna dan tidur dengan Kenan dan Ana.
Seperti malam ini..Sadewa dan Cindy terpaksa pulang tanpa Satria Karena bocah tampan itu bersikeras ingin tidur dengan dedek sipit.
"Aa betah sekali di rumah Luna sampai tidak mau pulang sudah dua hari ini " ujar Sadewa ketika mereka sudah sampai rumah.
"Aa katanya senang main sama dedek sipit " jawab Cindy sambil membantu Sadewa melepas pakaian dinasnya.
"Ayah mandi sana..aku mau siapkan makanan dulu " Cindy mendorong Sadewa ke kamar mandi.
Sebelum masuk ke kamar mandi tangan nakal Sadewa sempat menangkap pinggang Cindy dan mere mas bokongnya.
"Ayah..centil " Cindy buru-buru melepaskan diri sebelum Sadewa memaksanya ikut mandi.
Sadewa nyengir sambil masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai mandi dan berpakaian Sadewa dan Cindy pun makan malam berdua.
"Masa sih..perasaan biasa saja " jawab Cindy santai.
Hari ini Cindy meminta asisten rumah tangga nya membuat bebek rica-rica dan rendang Padang.
"Besok-besok kalau masak jangan terlalu pedas begini tidak bagus untuk pencernaan " pesan Sadewa sambil menenggak minumnya hingga gelas itu kosong.
"Iya Sayang " jawab Cindy.
Selesai makan mereka melanjutkan dengan menonton tv di ruang keluarga.Cindy yang duduk disebelah Sadewa merebahkan kepalanya di bahu Sadewa dengan tangan yang saling bertautan.
"Ayah..ganti parfum ya kok wangi sekali " tiba-tiba Cindy mengendus-endus leher Sadewa.
"Tidak..ini parfum yang biasa kamu beli " jawab Sadewa.
"Masa sih.. perasaan wangi banget "
__ADS_1
gumam Cindy.
"Aneh kamu..orang kamu kan yang biasa beli " Sadewa terkekeh sambil menyentil kening Cindy.
"Jangan suka mancing-mancing Bun.. ini filmnya sedang seru " Sadewa menangkap tangan Cindy yang hendak merayap kearah pangkal pahanya.
"Seru apanya.." Cindy menggerutu.
Sadewa tersenyum sambil melirik kearah Cindy yang tampak cemberut karena Sadewa menahan tangannya yang hendak kelayapan di bawah sana.
Tidak ingin melihat istrinya cemberut Sadewa pun melepaskan tangan Cindy dan membiarkan tangan mulus itu bermain-main dibawah sana.
"Aargh..kamu bikin aku jadi tidak fokus nontonnya " keluh Sadewa sambil menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Cindy hanya terkikik tanpa berniat mengeluarkan tangannya dari balik celana Sadewa.
"Sekarang kamu nakal..belajar dari siapa hmm?" tanya Sadewa sambil memejamkan matanya menikmati sentuhan nakal tangan Cindy dibawah sana.
"Dari Luna..sejak pulang dari Jepang dia jadi semakin ahli urusan beginian, karena selama dua Minggu disana mereka nyaris tidak pernah keluar kamar karena disana sedang musim dingin " jawab Cindy.
"Dasar Luna..mereka itu selalu bawa pengaruh buruk " keluh Sadewa masih dengan mata terpejam karena tangan Cindy semakin nakal bermain di dalam celananya.
"Terus Luna ngajarin apa lagi sama kamu ?" tanya Sadewa mulai penasaran.
"Banyak Yah..nanti aku praktekan satu-satu " jawab Cindy.
"Kenapa tidak sekarang saja ?" tanya Sadewa membuat Cindy langsung melongo.
"Tadi katanya Luna bawa pengaruh buruk..tapi sekarang malah penasaran " sungut Cindy.
"Sudah tanggung Bun.." jawab Sadewa sambil mengangkat tubuh Cindy agar duduk diatas pahanya.
"Luna ngajarin main di sofa tidak ?" tanya Sadewa dengan suara mulai berat. Cindy mengangguk.
"Ya sudah kalau begitu kita langsung praktek saja main di sofa " ajak Sadewa.
"Ayaaah..nanti si bibik lihat " Cindy celingukan kearah dapur.
"Biar saja..buruan dong katanya mau di praktekan " pinta Sadewa tidak sabar.
__ADS_1
"Sabar dong Yah..orang sabar itu disayang Tuhan " jawab Cindy sambil menyingkap roknya dan berusaha memposisikan diri agar benda keramat milik Sadewa itu tepat masuk kedalam sarangnya.
Sadewa sengaja menambah volume tv agar suara laknat mereka tidak terdengar jelas.