
Ajeng tampak menunduk ketika pagi itu mereka duduk diruang makan untuk sarapan.Peristiwa semalam masih begitu membekas dalam ingatan Ajeng.Dan itu membuat Ajeng terlihat malu ketika berhadapan dengan Ezra.
"Makan yang banyak biar ada tenaga..soalnya aku akan sering-sering ngajak kamu lembur " bisik Ezra dengan penuh maksud.
"Dasar mesum " Ajeng mencubit lengan Ezra.
"Sama suami itu jangan suka galak-galak,harus disayang-sayang biar dapat pahalanya " nasehat Ezra.
"Ngurusin suami juga harus iklas..tidak boleh menggerutu,harus nurut apa kata suami " tambah Ezra.
"iya " jawab Ajeng.
"Sekarang ganti baju..kamu ikut aku ke kantor " Perintah Ezra
"Ikut ke kantor..mau ngapain ? engga mau ah " Ajeng menolak.
"Baru dibilangin harus nurut sama suami masih tidak nurut " omel Ezra
"Mau ngapain coba ikut ke kantor ?" tanya Ajeng
"Ya nemenin aku " jawab Ezra.
"Kamu itu aneh..kan di kantor banyak staf kamu yang nemenin " gumam Ajeng.
"Takutnya aku tiba-tiba pengen..masa harus minta sama mereka "
"Kantor itu tempat kerja bukan tempat mesum " ujar Ajeng.
"Mesum sama istri sendiri itu ibadah " jawab Ezra tidak mau kalah.
"Iya tapi harus tau tempat juga " sanggah Ajeng
"Tidak usah protes..pokoknya kamu ikut aku ke kantor " putus Ezra.
Meski dengan menggerutu,Ajeng pun akhirnya nurut ikut dengan Ezra ke kantornya.
"Kamu sibuk kerja aku ngapain disini ?" Ketika sudah sampai di kantor Ajeng tampak bingung harus melakukan apa.
"Duduk saja dan temani aku " jawab Ezra.
Hampir seharian Ajeng menemani Ezra di kantornya.Lama-lama Ajeng yang merasa bosan akhirnya memilih tidur di ruangan khusus yang biasa Ezra pakai untuk istirahat.
Ajeng bangun pada saat makan siang,itu pun Ezra yang membangunkan sambil membawa kotak makan siang yang ia pesan dari restoran depan.
"Kita makan dulu " Ajak Ezra
Mereka makan siang didalam ruangan kerja Ezra.Setelah selesai makan Ajeng kembali melanjutkan tidurnya.Sedangkan Ezra kembali sibuk dimeja kerjanya.
Beberapa kali Ezra melongokan kepalanya ke tempat Ajeng teridur tanpa berniat mengganggunya.Ezra hanya tersenyum tipis melihat Ajeng yang terlihat sangat mengantuk setelah semalaman ia ajak begadang.
"Sayang bangun " Ezra mengusap-usap pipi Ajeng lembut.
"Kita pulang " ajak Ezra ketika akhirnya Ajeng membuka matanya.
"Sudah selesai kerjaannya ?" tanya Ajeng sambil bangun kemudian merapikan bajunya.
"Sudah " jawab Ezra sambil membantu merapikan rambut Ajeng.
Ezra mendapati banyak bercak merah kebiruan menghiasi leher putih Ajeng.Itu yang terlihat.. yang tidak terlihat malah lebih banyak lagi.Dan Ezra sangat menyukai hasil karyanya semalam.
Ajeng dan Ezra keluar dari kantor sambil berjalan bergandengan.Beberapa staf yang berpapasan dengan mereka menyapa dengan hormat.
"Mau jalan dulu atau langsung pulang ?" tanya Ezra ketika mereka sudah di dalam mobil.
"Pulang saja..aku masih ngantuk " jawab Ajeng
"Setelah seharian tidur di kantor kamu bilang masih ngantuk ?" tanya Ezra.
"Semalam kamu tidak membiarkan aku tidur.. aku tidak biasa begadang jadi ngantuk " keluh Ajeng.
"Nanti juga kamu akan terbiasa begadang " ujar Ezra sambil mengusap rambut Ajeng.
"Ck..maunya kamu " cebik Ajeng.
"Emang kamu tidak mau ?" tanya Ezra menggoda.
"Apaan sih ga jelas " jawab Ajeng sambil tersenyum malu.
"Wajah kamu merah Sayang " Ezra semakin menggoda Ajeng.
__ADS_1
Ezra berhenti menggoda Ajeng ketika satu cubitan mendarat di perutnya.
"Kalau kamu menggoda terus nanti aku tidak akan mau kamu ajak begadang " ancam Ajeng
"Iya tidak akan menggoda kamu lagi..maunya boboin kamu saja " jawab Ezra,membuat wajah Ajeng semakin merah.
🌸🌸🌸🌸🌸
Bagas yang sedang memeriksa beberapa berkas di ruang kerjanya langsung menoleh ketika tiba-tiba tubuh mungil Luna muncul dari balik pintu.
"Daddy..aku mau sembunyi disini " Luna berlari menuju kolong meja kerja Bagas.
"Kenapa harus bersembunyi ?" tanya Bagas sambil menggeser kakinya memberi ruang untuk tubuh mungil putrinya disana.
"Sssttt...aku sedang main petak umpet sama kakak " jawab Luna dengan suara pelan.
"Baiklah " jawab Bagas sambil menahan senyum.
"Mau sesuatu ?" Bagas memberikan sebatang coklat kepada Luna di kolong meja.
"Terimakasih dad " Luna pun bersembunyi sambil memakan coklat pemberian Bagas.
"Dad..lihat Luna ga ?" tanya Nakula yang mulai sibuk mencari adiknya.
"Tidak " jawab Bagas berbohong.
Setelah Nakula pergi,Bagas dan Luna tertawa. Tidak lama kemudian Sadewa yang datang mencari Luna.
"Dad..lihat Luna tidak ?" tanya Sadewa
"Tidak " jawab Bagas kembali berbohong.
Sadewa yang hendak pergi dari ruang kerja Bagas tiba-tiba kembali lagi karena mendengar sesuatu yang mencurigakan dari bawah meja kerja Daddy nya.
"Daddy.. sepertinya dibawah meja Daddy ada tikus " ucap Sadewa.
"Daddy....takuuut " Luna yang sedang berada dibawah meja langsung menjerit ketakutan sambil menangis.
Bagas buru-buru mengambil Luna dan meredakan tangisnya.
"Mana ada tikus disini sayang..kakak Dewa hanya becanda " Bagas menenangkan Luna.
Sadewa tampak berusaha menahan tawa namun juga merasa bersalah ketika melihat Luna yang menangis ketakutan.Ia pun buru-buru meminta maaf pada adiknya.
Sekarang giliran Nakula dan Sadewa yang bersembunyi.Luna pun menutup matanya dan mulai berhitung.
"Satu..dua..empat..tiga..lima.." Luna mulai berhitung.
Sambil tertawa Sadewa pun pergi mencari tempat untuk bersembunyi.
Beberapa saat kemudian Luna mulai mencari Nakula dan Sadewa.Karena belum berhasil menemukan kedua kakaknya,Luna pun menghampiri Bagas.
"Daddy..kakak bersembunyi dimana ?" tanya Luna berbisik.
"Kakak Dewa bersembunyi ke dapur..kalau kakak Nakula Daddy tidak tau " jawab Bagas jujur.Bagas memang sempat melihat Sadewa yang pergi kearah dapur.
Luna berlari menuju dapur dan akhirnya menemukan Sadewa yang sedang bersembunyi disebelah lemari es.
"Kakak Dewa..ketemuuu " Luna tampak girang.
Setelah berhasil menemukan Sadewa,kini Luna menyapu setiap sudut ruangan untuk mencari Nakula.
Luna akhirnya menemukan Nakula sedang bersembunyi didekat box Abimanyu.
"Kakak Nakula ketemuu " Luna kembali tertawa girang.
Ketiga kakak beradik itu akhirnya menyudahi permainan,mereka pun menghampiri Felisha yang sedang menyusui Abimanyu.
"Mommy..apakah dulu Luna juga mimik seperti dedek Abi ?" tanya Luna.
"Iya dong " jawab Felisha.
"Kalau kakak Nakula sama kakak Sadewa ?" tanya Luna.
"Sama dong sayang " jawab Felisha.
Sesungguhnya Felisha tidak tahu persis apakah kedua putranya dulu diberi ASI atau susu formula.
Bagas yang sudah menyelesaikan pekerjaannya muncul dan menghampiri anak dan istrinya yang sedang berkumpul di ruang keluarga.
__ADS_1
"Daddy..aku berhasil menemukan kakak Nakula dan Sadewa " ucap Luna bangga sambil menggelendot kepada Bagas.
"Kakak Luna pintar " puji Bagas.
"Daddy pasti yang kasih tau Luna kalau aku bersembunyi di dapur " tuduh Sadewa.
Bagas tidak menjawab,namun senyum di bibirnya sudah cukup Sadewa anggap sebagai sebuah pengakuan.
Karena hari sudah mulai larut,Bagas menyuruh Nakula dan Sadewa untuk kembali ke kamar mereka.
Sedangkan Luna sudah terkapar diatas sofa berbantalkan paha Bagas.Begitu juga Abimanyu yang baru saja tidur dan melepaskan ****** Felisha dari mulutnya.
Setelah Bagas memindahkan Luna ke kamarnya,kini Bagas menghampiri Abimanyu yang berada dalam gendongan Felisha.
"Jagoan Daddy sudah tidur juga " Bagas mencium pipinya yang mulai terlihat berisi.
Abimanyu semakin terlihat mewarisi ketampanan Daddy nya dengan kepala yang gundul karena habis dicukur habis.
"Semakin hari semakin mirip kamu mas " Felisha mengelus rahang Bagas.
"Ya iya lah kan aku yang punya saham " jawab Bagas bangga sambil menatap lekat pada wajah putranya.
"Kamu dan anak-anak adalah sumber kebahagiaan mas " Bagas mendekatkan wajahnya kemudian mencium bibir Felisha lembut.
"Jangan pernah tinggalkan mas lagi " pinta Bagas dengan wajah serius. Felisha mengangguk.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Sepulang dari kantor Dio tidak langsung pulang ke rumah,Ia menyusuri jalanan Jakarta untuk mencari tukang bakso yang menjajakan jualannya dengan dipikul.
Permintaan istrinya yang sedang hamil itu tentu saja sangat menyulitkan.Beruntung Dio berhasil menemukan nya disebuah perkampungan dipinggiran Jakarta.
Dio mengambil gambar penjual bakso itu ketika sedang membuatkan pesanan Dio dengan ponselnya sebagai bukti jika Ia benar-benar sudah menemukannya.
"Beneran kan kamu tidak curang jangan-jangan belinya ditempat mangkal biasa ?" tanya Kinanti dengan tatapan curiga.
"Beneran..lihat saja kalau kamu tidak percaya " Dio memperlihatkan photo penjual bakso yang sedang membuatkan pesanannya.
"Iya..kamu tidak curang " Kinanti tersenyum puas sambil menikmati baksonya.
"Kamu mau Sayang ?" tanya Kinanti
"Tidak..buat kamu saja " jawab Dio sambil mengelus puncak kepala istrinya.
"Ini enak loh sayang..besok beliin lagi ya " pinta Kinanti.
"I..iya " jawab Dio sambil menggaruk pelipisnya.
Semoga saja besok ia akan menemukan kembali penjual bakso keliling itu ditempat yang sama.
Setelah menghabiskan baksonya,Kinanti dan Dio mulai naik ke ranjang mereka bersiap untuk tidur.
Baru saja Dio akan memejamkan matanya tiba-tiba Kinanti mengusirnya.
"Wangi tubuh kamu bikin mual " keluh Kinanti sambil menutup hidungnya.
"Ini kan parfum kesukaan kamu " jawab Dio
"Dulu iya..tapi sekarang bikin mual " jawab Kinanti.
"Ya sudah aku tidur di sofa saja biar kamu tidak mual " Dio akhirnya pindah keatas sofa.Kinanti mengangguk.
Meski kurang nyaman akhirnya Dio pun tertidur pulas.Namun tengah malam Dio terpaksa harus membuka kembali matanya karena Kinanti membangunkannya.
"Ada apa lagi Sayang ?" tanya Dio.
"Tidurnya pindah..aku tidak bisa tidur kalau tidak dipeluk kamu " jawab Kinanti lirih.
"Nanti kamunya mual " ujar Dio
"Sudah tidak lagi " jawab Kinanti sambil menarik tangan Dio agar pindah keranjang mereka.
Akhirnya Dio pun pindah keranjang mereka. Kinanti langsung merapatkan tubuhnya dan mencium aroma tubuh Dio dalam-dalam.
"Hhmmm..kamu wangi Sayang " gumam Kinanti.Dio hanya menggaruk padahal beberapa jam yang lalu Kinanti mengatakan jika wangi tubuh Dio membuat dirinya mual.
Menghadapi wanita yang sedang hamil muda memang butuh kesabaran.Dio harus terbiasa mengikuti keinginan Kinanti yang berubah-ubah bahkan kadang tidak masuk akal.
Mungkin semua suami mengalami hal seperti ini ketika istri mereka sedang hamil muda.
__ADS_1
Sepertinya Dio harus bertanya pada Bagas mengenai cara menghadapi istri yang sedang hamil,karena adik iparnya itu lebih berpengalaman dibanding dirinya.
Kinanti akhirnya tertidur pulas dalam dekapan Dio.Perlahan dikecupnya bibir wanita berwajah pucat itu.Dio pun akhirnya melanjutkan tidurnya di kasur empuk mereka bukan lagi di Sofa.