Om Buah Hatiku

Om Buah Hatiku
Tidak ada yang gratis


__ADS_3

Setelah menyiapkan sarapan, Felisha memanggil Nakula dan Sadewa untuk turun.Kemudian ia juga membangunkan Bagas dan Luna yang masih tidur.


"Sayang..bangun kita sarapan dulu " Felisha mengusap pipi Bagas dan Luna bergantian.


Bagas dan Luna pun membuka matanya bersamaan.


"Kita sarapan..tapi mandi dulu " ujar Felisha


"Aku mau mandi sama Daddy " ucap Luna


"Ayok kita mandi !" Bagas bangkit kemudian menggendong Luna ke kamar mandi. Felisha berdiri di pintu menonton Bagas yang sibuk memandikan Aluna.Baju Bagas tampak basah karena Luna tidak bisa diam saat dimandikan.


Selesai memandikan Luna, kini tugas Felisha yang memakaikan baju Luna.Tidak butuh waktu lama Felisha sudah berhasil membuat Luna cantik dan wangi.


"Aku mau dicium Daddy dulu " pinta Luna sambil naik ke pangkuan Bagas.


"mmuach..cantik dan wangi " Bagas mendusel-dusel pipi Luna dengan hidungnya gemas.


"Daddy geli " Luna terkikik kegelian.


"Sudah selesai ciumnya.. Daddy nya suruh mandi dulu.Abis itu kita makan " ajak Felisha


Luna turun dari pangkuan Bagas kemudian berlari menuju meja makan dimana Nakula dan Sadewa sudah menunggu untuk sarapan.


"Mas.. cepetan mandi.Anak-anak sudah menunggu "


"Mandi bareng ya " ajak Bagas penuh damba


"Kalau mandi bareng sama kamu ga akan cukup sebentar..kasian anak-anak sudah menunggu untuk sarapan "


"Padahal saya kangen banget sama kamu " bisik Bagas.Hembusan napasnya terasa hangat menyentuh kulit leher Felisha


"Nanti kalau anak-anak sudah tidur " bisik Felisha


"Mommy..Daddy cepetaan kakak sudah lapar katanya " Luna tiba-tiba nongol di pintu kamar.


Felisha pun mendorong tubuh Bagas agar menjauh


"Iya sayang Daddy nya mandi dulu sebentar " Bagas pun bergegas masuk ke kamar mandi.Bagas mandi dengan cepat karena anak-anak sudah menunggunya untuk sarapan.


Tak lama kemudian Bagas dan Felisha pun bergabung bersama anak-anak dimeja makan. Mereka sarapan bersama dengan suasana hangat diwarnai celotehan Luna dan kedua kakaknya.


Felisha menatap Bagas yang tampak tersenyum tipis mendengar celotehan anak-anak.Pemandangan yang tidak pernah ia lihat di empat tahun pertama pernikahan mereka.


Selesai sarapan mereka melanjutkan berkumpul di ruang keluarga sambil bersenda gurau.Luna masih tetap menguasai Bagas.Ia tidak mau turun dari pangkuan Daddy nya.


"Hari ini kita main..kalian ingin main kemana ?" Bagas menawarkan sesuatu yang langsung disambut sorak Sorai Luna dan kedua kakaknya Namun mereka tampak bingung menentukan tujuan.


"Lebih baik mainnya jangan jauh-jauh.. Daddy nya kan baru pulang jadi masih butuh istirahat " usul Felisha


Akhirnya mereka pergi ke sebuah pusat wahana permainan di mall.Bagas dan Felisha duduk disebuah bangku sambil mengawasi anak-anak bermain.


Luna tampak berlarian kesana kemari mencoba setiap permainan bersama kedua kakaknya


"Urusan pekerjaan beres mas ?" tanya Felisha

__ADS_1


"beres " jawab Bagas


"kamu ketemu kak Dio dong disana ?" tanya Felisha.Bagas mengangguk


"Kami tidur di hotel yang sama " jawab Bagas


"Maaf ya kalau sikap kak Dio masih belum baik sama kamu " ujar Felisha lirih


"Menurut saya Dio sangat sempurna untuk seorang kakak " jawab Bagas


"Kakak yang menyayangi dan melindungi adiknya "


"Saya berharap Nakula dan Sadewa kelak akan seperti itu kepada adik-adiknya " tambah Bagas


Felisha mengangguk.Dio memang kakak yang sempurna untuknya.Dan Felisha bangga menjadi adiknya.


Setelah puas bermain mereka pulang ke rumah Bunda.Mereka membeli beberapa kotak pizza untuk disantap bersama disana.


"Eniin..aku sama kakak bawa pizza banyak " Teriak Luna begitu turun dari mobil


"Banyak banget " bunda langsung memeluk ketiga cucunya.


"Kan buat enin,kakek,tente Kinan,om Dio..." Luna mulai mengabsen semua penghuni rumah


"Om Dio nya kan tidak ada " ujar Kinanti


"Om Dio tidak pulang? berarti sama dong kayak Daddy Luna..kemarin juga Daddy tidak pulang lama " ujar Luna


"Iya sama kayak Daddy Luna " jawab Kinanti sambil tertawa.


"Tante tidak marah ditinggal om Dio kerja ?" tanya Luna.Kinanti menggeleng


"Luna juga harusnya tidak ngambek..kan Daddy kerja cari uang buat Luna dan kakak kembar " ujar bunda


Luna mengangguk tanda mengerti.Ia menoleh kearah Bagas kemudian naik kepangkuan Bagas


"Maafin Luna ya Daddy..Luna janji tidak akan ngambek lagi sama Daddy "


"Iya sayang " jawab Bagas terharu.


Ayah dan Bagas keluar melihat renovasi rumah yang hampir selesai.


"Itu kamar Nakula dan Sadewa ukurannya lebih besar supaya bisa menampung dua ranjang " ujar ayah.


"Terimakasih yah " ujar Bagas.


"Justru ayah yang terimakasih sama kamu.Kata Dio semua biaya nya kamu yang tanggung "


"Tidak apa-apa yah..kamar itu juga nantinya akan ditempati oleh anak-anak " jawab Bagas


"Kamar Feli kan kecil..mana muat untuk berlima..belum nanti kalau Luna punya adik " ujar ayah.Bagas mengangguk sambil tersenyum.


"Doakan kami yah semoga kami secepatnya diberi momongan lagi " ujar Bagas


"Ayah doakan semoga kalian selamanya rukun dan segera diberi momongan lagi.Biar rumah ayah tambah rame " Ayah menepuk pundak Bagas.

__ADS_1


"Aamiin " jawab Bagas


Malam itu mereka menginap di rumah bunda karena anak-anak tidak mau pulang meskipun sebenarnya mereka tidak ada rencana untuk menginap.


"Aku mau tidur sama Tante Kinan " Luna termakan bujukan Kinan untuk tidur dengan nya.Tidak bisa dipungkiri Kinanti merasa kesepian tanpa Dio disampingnya.


Sedangkan Nakula dan Sadewa memilih tidur dengan kakek neneknya.Tinggalan Bagas dan Felisha yang tidur dikamar mereka


"Sepertinya anak-anak cukup pengertian. Mereka tau jika Daddy nya sedang ingin berduaan dengan mommy nya " ujar Bagas sambil naik ke atas ranjang


"Sebetulnya yang pengertian itu Tante sama kakek neneknya " ujar Felisha


"Mereka yang membujuk anak-anak untuk tidak tidur dengan kita "


"Benar juga " jawab Bagas sambil tersenyum.


"Fe..kasian juga ya Kinanti lama ditinggal Dio ke Bali " ujar Bagas


"Saya yang cuma lima hari tidak ketemu kamu kepala rasanya pening.Apalagi mereka yang sudah dua Minggu tidak bertemu "


"Besok kamu belikan tiket ke Bali.Suruh dia nyusul Dio " titah Bagas


"Beneran mas ?" tanya Felisha.Bagas mengangguk


"Terimakasih mas..kamu memang suami yang paling baik " Felisha mencubit kedua pipi Bagas


"Tapi itu semua tidak gratis " ujar Bagas


"Aku ga berani bilangnya sama kak Kinan " jawab Felisha sedikit kecewa.


"Bukan Kinan yang harus kasih kompensasi.. tapi kamu " ujar Bagas tersenyum licik


"Jadi aku yang harus bayarin tiketnya ?..ga masalah " jawab Felisha


"Bukan seperti itu.." pungkas Bagas


"Lalu gimana ?" tanya Felisha mulai kesal karena Bagas ternyata tidak ikhlas memfasilitasi perjalanan Kinanti.


"Kamu yang harus membayarnya..dengan cara.."


"Sudah..sudah..aku ngerti.Dasar mesum " Felisha menindih kepala Bagas dengan bantal


Bagas kelabakan,namun dengan sigap tangannya menangkap pinggang Felisha dan menguncinya dibawah tubuhnya.


"Kamu harus memuaskan saya sampai pagi " bisik Bagas dengan suara parau.


"Tidak mau sampai pagi...satu kali saja ya " Felisha mencoba bernegosiasi.Bagas menggeleng


"Tidak ada tawar menawar " ucap Bagas


"Dua kali " Felisha mengacungkan dua jarinya. lagi-lagi Bagas menggeleng


Bagas menangkap tangan Felisha dan menguncinya diatas kepala Felisha.


"Saya bilang tidak ada tawar menawar " ujar Bagas sambil menyatukan bibir mereka.

__ADS_1


Felisha tidak dapat melawan karena dua tangannya berada diatas kepalanya dikunci olah satu tangan Bagas.Sedangkan satu tangan Bagas yang lain dengan cekatan melucuti baju Felisha.


__ADS_2