Om Buah Hatiku

Om Buah Hatiku
Jebakan Batman


__ADS_3

Selain Nakula dan Sadewa yang ijin tidak masuk sekolah,pada akhirnya Dio pun minta ijin kepada Ezra jika ia tidak ke kantor hari ini karena Felisha melahirkan.


Siangnya mobil ayah dan mobil Dio pun meluncur membawa anak-anak menuju rumah sakit tempat Felisha melahirkan bayinya.


Sebelum pergi Kinanti sengaja memasak makanan untuk ia bawa ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit mereka langsung menuju ruang perawatan Felisha.


"Mommy mana dedek aku ?" Begitu masuk Luna langsung menanyakan adiknya.


"Dedek Luna ada di ruang bayi..ayok kita lihat sama Daddy " Bagas menuntun Luna menuju ruangan khusus tempat bayi.Nakula dan Sadewa pun mengikuti dari belakang.


"Dedek bayinya banyaaak... Daddy yang mana dedeknya Luna ?" tanya Luna yang tampak kebingungan.


Bagas menunjuk pada bayi yang tampak tertidur pulas dengan gelang tangan bertulis nama Ny. Felisha Hadipranoto


"Lucu ya dad " si kembar tampak mengagumi adik mereka.


Setelah puas melihat adik mereka dari balik dinding kaca,Bagas pun membawa anak-anak kembali ke ruang perawatan Felisha.


"Sudah lihat dedek bayinya ?" tanya Felisha


"Sudah mom " jawab si kembar sambil mendekat kearah Felisha.


"Terimakasih sayang " ucap Felisha ketika kedua putranya itu menghadiahi ciuman dipipi kiri dan kanannya.


"Kakak tidak cium Mommy ?..kakak Nakula sama kakak Sadewa sudah cium mommy " Felisha mengulurkan tangannya kearah Luna


"Aku takut " Luna menunjuk jarum infus yang menancap di pergelangan tangan Felisha.


Gadis kecil itu masih ingat ketika dulu ia pernah di infus pada saat sakit dan harus dirawat.


"Tidak apa-apa sayang " Bagas menggendong Luna dan mendekatkan kepada Felisha.


Luna pun mencium pipi Felisha dari gendongan Bagas.


"Terimakasih sayang " Felisha mengusap kepala Luna.


"Aku sama kakak sudah.. Daddy sudah kasih cium mommy belum ?" tanya Luna kepada Bagas


"Daddy sudah dong " jawab Bagas.Selama di ruang bersalin entah berapa puluh kali Bagas menciumi wajah Felisha.


"Om sama Tante ?" Luna mulai mengabsen


"Oh iya om lupa " Dio pun mendekat kearah adiknya dan mencium keningnya.Disusul oleh Kinanti dan Ayah dan Bunda.


"Makan dulu Fe..kakak sudah masakin makanan kesukaan kamu biar cepat pulih " Kinanti memberikan kotak makan bawaannya dan diterima oleh Bagas.


"Mas suapin ya " Bagas mulai menyuapi Felisha.


Setelah selesai menyuapi Felisha makan,kini giliran Bagas yang makan.Kinanti memang sengaja membawa makanan untuk Bagas dan bunda juga.


Beberapa jam kemudian Ayah dan Bunda pulang dengan membawa anak-anak. Tinggallah Dio dan Kinanti yang menemani Bagas dan Felisha di rumah sakit.

__ADS_1


Bagas yang kurang istirahat sepulang dari Lombok kemarin akhirnya terkapar tidur diatas sofa.Begitu juga Felisha yang akhirnya tertidur setelah melewati saat-saat berat yang sangat menguras tenaga.Tinggal Dio dan Kinanti yang menunggui Bagas dan Felisha yang tengah tertidur.


Kinanti membangunkan Felisha ketika seorang perawat membawa bayinya untuk disusui.Bayi mungil itu tampak cepat pintar menemukan sumber kehidupannya.


Mendengar suara bayi, Bagas pun terbangun.Ia langsung menghampiri Felisha yang sedang menyusui bayi mereka.


"Sudah pinter " Bagas mengusap pipi bayi mungil itu.


"Mas pasti ngantuk..tidur lagi saja " ujar Felisha


"Sudah tidak terlalu " jawab Bagas dengan mata menatap lekat pada bayinya yang sedang menyusu.


"Mirip Nakula dan Sadewa waktu bayi " gumam Bagas


"Ya iya..orang adik kakak " jawab Felisha sambil tersenyum.


"Tapi bibirnya mirip Luna..mirip kamu " ujar Bagas sambil menjawil bibir Felisha karena mulut putranya sedang anteng menyusu.


Setelah kenyang menghisap sumber kehidupannya,bayi mungil itu kembali dibawa ke ruangan khusus bayi.


Selama Felisha di rumah sakit,para staf dan relasi bisnis Bagas mulai berdatangan untuk melihat putra mereka yang baru lahir.


Ruang perawatan Felisha pun mulai dipenuhi oleh kado untuk bayi mereka.Dio beberapa kali harus mengangkut kado-kado itu dengan mobilnya agar tidak memenuhi ruang perawatan Felisha.


Setelah kondisi Felisha mulai pulih,dokter pun mengijinkan Felisha dan bayinya pulang. Dari rumah sakit Bagas dengan dibantu Dio dan Kinanti membawa Felisha pulang ke rumah mereka.Sedangkan Ayah dan Bunda membawa anak-anak dari rumah mereka ke rumah Bagas


"Daddy..disini banyak kado " Luna terpana melihat banyaknya kado di salah satu kamar mereka.


"Apakah waktu kakak bayi juga dapat kado sebanyak itu ?" tanya Luna penasaran.


"I..Iya..tentu saja sayang " jawab Bagas berbohong.


Kenyataannya Bagas saja memilih menyelesaikan pekerjaannya di Kalimantan dan baru pulang pada saat acara aqiqah Luna. maafkan Daddy Sayang ....


Diantara para tamu yang berdatangan ada Ajeng yang sengaja datang sepulang dari kantor.


Ajeng datang dengan membawa dua buah kado.Selain untuk bayi Felisha yang baru lahir,Ajeng juga membawa kado untuk Luna. Wanita itu khawatir Luna akan cemburu jika ia hanya memberi kado untuk adiknya saja.Mendapat kado dari Ajeng Luna pun sangat senang.


"Aih lucu sekali..mirip Nakula sama Sadewa waktu lahir ya mas " Ajeng menatap kagum pada bayi dalam gendongan Felisha.


"Ga kepingin punya bayi ?" tanya Felisha


"Hust..suruh nikah dulu " omel Bagas


"Maksudnya kalau udah pengen punya bayi jadi cepet-cepet nikah " ujar Felisha


"Coba gendong ya mbak " Ajeng mengambil bayi merah itu dari tangan Felisha


"Hati-hati ..tangannya jangan gemetaran begitu " ledek Bagas


"Jangan ngomong begitu dong mas..aku jadi gemetaran beneran ini " ujar Ajeng

__ADS_1


"Sudah pantes dek " ujar Felisha sambil mengambil ponselnya dari atas nakas.


Selagi Ajeng menggendong bayinya, diam-diam Felisha mengirimkan pesan singkat kepada Ezra jika ada Ajeng di rumahnya.Tidak lama kemudian Ezra pun datang.


"Om Ezra mau lihat adiknya Luna ya...kenapa tidak bawa kado? Tante Ajeng saja bawa kadonya dua..buat dedek sama Luna " Luna mengacungkan dua jarinya.


"Om belum sempat beli kado Sayang..nanti nyusul ya..Om Ezra nanti beli kado nya dua seperti Tante Ajeng.Satu untuk Luna satu untuk dedek bayi " jawab Ezra


Ezra memang belum sempat membeli kado.Ia datang sekarang karena Felisha mengabari jika ada Ajeng di rumahnya.


Ajeng terlihat salah tingkah ketika Ezra mendekat pada bayi dalam gendongannya.


"Bagas junior ini " Ezra mengelus pipi lembut bayi merah itu.


"Kalian sudah pantes..buruan dihalalin kak " ujar Felisha


"Kakak sih sudah ada niat tapi belum ada lampu hijau " jawab Ezra menyindir Ajeng


"Lampu hijau banyak tuh di perempatan jalan " jawab Ajeng sinis


Bagas dan Felisha langsung tergelak melihat pasangan yang belum klik itu.Sebetulnya Ezra sudah mulai terlihat serius namun Ajeng masih belum membuka hatinya untuk Ezra.


"Jangan galak-galak sama laki-laki dek,nanti seperti mbak Feli tidak bisa jauh dari mas Bagas " ujar bagas percaya diri


"Ga kebalik tuh " cibir Felisha


"Siapa coba yang ngejar-ngejar sampai ke Bandung ?" tanya Felisha


"Hehehe " hanya itu jawaban Bagas


Ezra mentertawakan Bagas,sementara Ajeng hanya melongo tidak mengeri


"Siapa yang ngejar mbak Feli ke Bandung ?" tanya Ajeng


Ezra dan Felisha menunjuk kearah Bagas dengan dagu mereka


"Bagaimana ceritanya ?" Ajeng semakin penasaran


"Nanti aku ceritakan di jalan " jawab Ezra


"Modus..bilang saja ngajak pulang bareng " cibir Bagas.Ezra hanya nyengir


Terdorong rasa ingin tahu yang besar, akhirnya Ajeng mau pulang bersama Ezra.


"Kenapa mas Bagas sampai ngejar-ngejar mbak Feli ke Bandung? " tanya Ajeng ketika mereka sudah berada di dalam mobil Ezra


"Biasa lah namanya juga rumah tangga kadang ada berantemnya.Feli sempat pindah kerja ke Bandung trus Bagas ngejar ke Bandung..yah namanya juga suami istri " Ezra tidak menceritakan konflik rumah tangga Bagas dan Felisha yang sebenarnya kepada Ajeng


"Cuma cerita itu saja mesti ngajak aku pulang bareng...rugi aku sudah ikut pulang sama kamu !" Ajeng menggerutu


"Ya cuma itu " jawab Ezra nyengir.

__ADS_1


__ADS_2