
Minggu pagi Bagas mengajari Luna naik sepeda.Luna mulai melepas roda kecilnya.Sementara Nakula dan Sadewa bermain basket bersama Dio.
"Daddy pegangin aku takut jatuh " Luna berusaha mengayuh sepedanya sambil menjaga keseimbangan tubuhnya.
"Tidak akan jatuh..kan Daddy pegangin " jawab Bagas.
Tanpa sepengetahuan Luna,diam-diam Bagas melepaskan pegangannya.Luna mengayuh sepedanya dengan tenang karena merasa aman dipegang daddy-nya.Bagas kembali memegangi Luna ketika sepedanya mulai oleng.
Felisha yang baru selesai masak bersama Kinanti keluar membawa piring berisi nasi dengan lauknya.
"Luna udahan dulu belajar sepedanya,kita makan dulu " panggil Felisha
Luna pun turun dari sepeda dengan dibantu oleh Bagas kemudian berlari menghampiri Felisha.
"Kakak..makan dulu !" Felisha memanggil Nakula dan Sadewa sambil menyuapi Luna.
Dio dan sikembar pun berhenti bermain.Mereka pergi ke ruang makan bersama Dio.
"Mas makan gih sana sama kak Dio dan anak-anak " titah Felisha
"Nanti saja " jawab Bagas
"Masss " Felisha menatap tajam kearah Bagas.
Felisha tau jika Bagas masih kesal kepada Dio.
"Iya saya makan..tidak usah galak begitu " gerutu Bagas sambil masuk ke ruang makan bergabung bersama kedua putranya ,Dio dan ayah mertuanya.
"Mommy.. Daddy nya Luna jangan dimarahin " Luna protes.
"Bukan dimarahin sayang.. mommy cuma menyuruh Daddy makan " jawab Felisha
Suasana di ruang makan terasa canggung.Dio dan Bagas makan satu meja namun tanpa saling sapa.
Ayah tidak tau jika putra dan menantunya pernah terlibat baku hantam beberapa hari yang lalu.
Selesai makan,ayah mengajak Bagas dan Dio ke halaman samping rumah.
"Ayah ada rencana membuat dua kamar disini " Ayah menunjuk lahan kosong yang berada dekat kamar Felisha.
"Satu untuk kamar tamu dan satu untuk kamar Nakula dan Sadewa " ujar ayah
"Mereka sudah besar,kalau menginap disini kamar Feli pasti tidak muat untuk berlima "
"Resiko banyak anak yah " ujar Bagas sambil tertawa.
"Kalian ngobrol deh gimana bagusnya " ucap ayah kepada putra dan menantunya "kalau sudah siap nanti ayah mulai beli bahan bangunannya "
"Iya yah " jawab Bagas dan Dio kompak.
Setelah menyerahkan urusan penambahan kamar kepada Dio dan Bagas,ayah pun pergi meninggalkan mereka berdua.
Dio mulai mengukur luas halaman samping yang akan dibangun.
"Nanti malam gue bikin rancangan gambarnya " ujar Dio tanpa melihat kearah Bagas
"Ya.." jawab Bagas
"Kamu hitung sekalian berapa dana yang harus disiapkan biar nanti saya transfer....jangan memakai uang ayah " ujar Bagas
"Iya " jawab Dio.
"Abis ngapain kalian dari halaman samping?kalian tidak berantem disana kan ?" tanya Felisha curiga begitu melihat Dio dan Bagas datang dari halaman samping rumah.
__ADS_1
"Curigaan amat sih kamu " Dio menekan kening Felisha dengan jarinya sambil ngeloyor pergi
"Kalian abis ngapain sih mas ?" tanya Felisha kepada Bagas.Ia tampak sangat penasaran
"Abis ngobrolin masalah penambahan kamar " jawab Bagas
"Penambahan kamar ?"
"Iya..ayah mau bikin kamar buat Nakula dan Sadewa,dan satu untuk kamar tamu " jawab Bagas
"Kata ayah kamar kita sudah tidak muat untuk berenam " jawab Bagas
"Berlima mas " ralat Felisha
"Kan nanti nambah lagi..adiknya Luna " jawab Bagas. " Sepertinya Luna sudah pantas buat punya adik "
"Kamu pengen banget ya nambah momongan ?" tanya Felisha
" Iya..saya ingin sekali punya anak dari kamu " jawab Bagas
"Biar ada yang mengikat kamu,dan kamu tidak lagi bisa pergi dari saya "
"Bagaimana aku bisa pergi jika hati aku sudah terikat sama kamu " jawab Felisha.
"Pintar gombal kamu " Bagas mencubit ujung hidung Felisha.
"Mendingan aku dong..daripada mas Bagas.. kaku seperti kanebo kering " jawab Felisha
"Kanebo kering yang ini bisa bikin kamu mendesah sambil merem melek " bisik Bagas.
"Auwww..sakit sayang " Bagas meringis karena Felisha mencubit perutnya.
"Mommy kenapa Daddy Luna dicubit " Luna yang memergoki Felisha sedang mencubit perut Bagas protes.
"Mommy hanya becanda sayang " jawab Felisha.
"Iya sayang mommy hanya becanda " Bagas mengangkat tubuh Luna dan mendekapnya.
Bagas dan Felisha pun membawa Luna masuk.
"Kenapa lagi ini digendong-gendong " tanya Kinanti.
"Biasa kak lagi manja " jawab Felisha
"Hati-hati loh..biasanya kalau manja begitu suka tanda-tanda mau punya adik " seloroh Kinanti.
"Masa sih kak ?" tanya Felisha
"Iya bener Fe..Dio juga dulu begitu waktu bunda hamil kamu " jawab bunda.
Wajah Bagas terlihat sumringah mendengar obrolan tiga wanita itu.Semoga saja keinginan untuk punya momongan dari Felisha segera terwujud.
* * * * * * * * *
Seminggu kemudian Dio mulai disibukkan kembali dengan proyek di Bali.Meski awalnya Dio berniat mundur dari team,namun Bagas menolak mentah-mentah.
Sebelum pergi ke Bali,Dio menyempatkan mengirim gambar rancangan renovasi rumah kepada Bagas,dan disetujui oleh Bagas.Renovasi rumah orangtua Felisha tetap berjalan meski Dio berada di Bali.
Sejak peristiwa pemukulan Bagas oleh Dio dan Ezra,sikap Ezra kepada Felisha menjadi berubah.Ezra terlihat segan jika bertemu Felisha.
Ezra salut kepada Bagas yang sama sekali tidak mencampur adukan masalah pribadi dengan pekerjaan.
Bahkan Bagas terlihat biasa saja ketika mereka beberapa kali melakukan pertemuan membahas masalah pekerjaan.
__ADS_1
"Gue heran sama pak Ezra sepertinya dia sensi banget sama gue.Sampai-sampai gue dikasih kerjaan setumpuk begini " sungut Dina.
"Sini gue bantuin " Felisha menawarkan diri
"Sementara masih bisa gue kerjain..kalo keteter gue minta bantuan Lo ya " ujar Dina
"Oke " Felisha mengacungkan ibu jarinya.
Felisha akan dengan senang hati membantu Dina.Karena Dina pun sering membantu pekerjaannya. Bahkan ketika Felisha cuti pun Dina lah yang mengerjakan pekerjaan Felisha sehingga begitu masuk Felisha tidak mempunyai pekerjaan menumpuk.
Setelah membantu Dina menyelesaikan pekerjaannya Felisha pun membereskan meja nya dan bersiap untuk pulang.
"Mau nebeng gak ?" tanya Felisha
"Engga..gue dijemput pacar gue " jawab Dina
"Pacar yang mana ?" sindir Felisha
"Yang bontot " jawab Dina sambil tertawa
"Ya sudah gue pulang duluan " Felisha pun keluar dari ruangannya.
Satu jam kemudian Felisha pun sampai ke rumah.Seperti biasa anak-anak sedang nonton tv dengan ditemani pengasuh.Namun Felisha melihat ada yang tidak biasa pada Luna.
"Mbak Luna belum mandi ya ?" tanya Felisha kepada mbak Mia
"Iya Bu..ga mau mandi..tadi juga nangis waktu diajak mandi " jawab Mbak Mia dengan suara setengah berbisik.
"Luna..kita mandi sama mommy yuk..sebentar lagi Daddy pulang..nanti Daddy tidak mau cium Luna " Felisha membujuk Luna agar mau mandi
"Tidak mau mom..Luna mandinya nanti nunggu Daddy " jawab Luna
"Lebih baik sekarang saja sama mommy yuk " bujuk Felisha
"Engga mau " jawab Luna
"Siapa yang tidak mau mandi ?" tanya Bagas yang baru datang dari kantor.
"Luna " jawab Nakula dan Sadewa
"Kenapa Luna tidak mau mandi ?" tanya Bagas
"Luna mau mandi sama Daddy " Luna berlari kearah Bagas dan memeluk perut Bagas.
Bagas menyerahkan tas kerjanya kepada Felisha.Setelah menggulung kemejanya hingga sampai siku Bagas menuntun Luna menuju kamar mandi yang semua dindingnya didominasi warna pink.
Felisha berdiri di pintu kamar mandi memperhatikan Bagas yang dengan telaten memandikan Luna.Luna pun begitu nurut ketika Bagas menyuruhnya menggosok gigi.
Setelah selesai mandi Bagas mengangkat tubuh Luna yang sudah berbalut handuk. Felisha pun memakaikan baju Luna.
Bagas duduk ditepi ranjang sambil memperhatikan Felisha yang sedang memakaikan baju Luna.
Setelah berpakaian lengkap,Luna mendekat kearah Bagas
"Daddy boleh cium..aku sekarang sudah wangi " ucapnya centil.
"Mmmhhh..putri Daddy sudah wangi " Bagas menciumi pipi bulat Luna dengan gemas.
"Mommy juga pengen cium dong " ucap Felisha
"Aku maunya dicium Daddy saja " jawab Luna membuat Bagas langsung tertawa.
"Kalau Luna tidak mau dicium mommy.. Daddy mau kok dicium Mommy " ujar Bagas
__ADS_1
"Jangaaaaan..mommy tidak boleh cium Daddy !" ucap Luna posesif.