
Sore ini seperti biasa Bagas menjemput Felisha dikantor.Pria itu selalu sudah ada di lobby begitu Felisha keluar.
Bagas melirik Felisha yang masih terlihat cemberut.Bahkan ketika Bagas membantu memasangkan seat belt nya Felisha tampak melengos.
"Saya senang kalau melihat kamu cemburu seperti ini " ujar Bagas sambil menjawil dagu Felisha
"Ga usah colek-colek " omel Felisha dengan galaknya.
"Baiklah " jawab Bagas mulai melajukan mobilnya meninggalkan halaman kantor Felisha.
"Masih muntah-muntah?" tanya Bagas sambil melirik sekilas kepada Felisha.
"Ya..tadi siang " jawab Felisha
"Apa perlu ke dokter lagi ?" tanya Bagas
"Tidak usah " jawab Felisha singkat
Karena Felisha tampak tidak berminat berbicara padanya akhirnya Bagas memilih diam dan Fokus pada kemudi.
Keheningan diantara mereka terpecah manakala ada panggilan masuk dari ponsel Bagas.
"waalaikum salam mas.."
"Kenapa mendadak sekali ?"
"Baiklah saya usahakan datang..sama Ajeng juga.."
"Baik mas... waalaikum salam "
Bagas mengakhiri panggilan teleponnya,ia melirik kearah Felisha yang terlihat semakin masam
"Mas Bayu menyuruh ke Semarang,katanya kalau bisa besok " Bagas berusaha menceritakan obrolannya dengan Bayu.
Felisha hanya membuang muka seolah tidak berminat mendengarkan omongan Bagas
"Kalau suami ngomong itu didengar dong Sayang " ujar Bagas berusaha sabar.
"Aku sudah dengar kok..mau ke Semarang kan.. sama Ajeng juga?..Gih sana pergi " ujar Felisha berapi-api.
"Kita pergi bersama " ujar Bagas lirih
"Iya sana pergi saja berdua " ujar Felisha
"Sama kamu sayang " ujar Bagas
"Ogah..aku sama anak-anak mau tidur di rumah bunda saja "
"Kita semua akan pergi ke Semarang besok " pungkas Bagas tidak ingin dibantah.
"Dasar tukang maksa..kanebo kering " sungut Felisha.
Bagas hanya diam mendengar ocehan istrinya.Ia sudah mulai terbiasa mendengar Omelan Felisha jika sedang marah.
Saking tidak ingin ikut ke Semarang, Felisha memilih tidur dan Bagaslah yang menyiapkan baju mereka dan Luna kedalam koper kecil.Sedangkan Nakula dan Sadewa sudah bisa menyiapkan baju mereka sendiri.
Paginya satu koper kecil baju mereka sudah siap.Dari semalam sebetulnya Bagas ingin menceritakan semua tentang tujuan mereka ke Semarang namun Felisha tampak masih enggan berbicara padanya. Akhirnya Bagas memilih diam toh pada akhirnya nanti Felisha juga akan tau sendiri setelah mereka sampai di Semarang.
Sebelum pergi,mereka menjemput Ajeng terlebih dahulu di tempat kostnya.Sepanjang perjalanan anak-anak tampak anteng duduk dibelakang bersama Ajeng,termasuk Luna yang mulai akrab dengan Ajeng.Sementara Bagas dan Felisha lebih banyak diam.
Bagas beberapa kali harus menepikan mobilnya karena Felisha merasa pusing dan akhirnya muntah.Untung Luna tertidur dalam pangkuan Ajeng.
__ADS_1
"Mbak Feli lagi hamil ?" tanya Ajeng ketika melihat Felisha muntah-muntah
"Iya " jawab Bagas
"Syukurlah.. Luna juga sudah besar,sudah pantas untuk punya adik " ujar Ajeng.
"Sayang masih mual ?" tanya Bagas sambil mengusap tangan Felisha.
"Tidak " jawab Felisha dengan lesu.
"Maaf.. seharusnya mas tidak memaksa kamu ikut " ujar Bagas menyesal
"Iya.. seharusnya aku memang tidak ikut " ujar Felisha sinis.
Bagas memijit pelipisnya yang mendadak berdenyut.Sepertinya Felisha salah mengartikan ucapannya.
Akhirnya Bagas memilih diam,ia tidak mau berdebat dengan Felisha didepan mantan adik iparnya.
Sesampainya di Semarang, keluarga mantan mertua Bagas menyambut kedatangan mereka dengan hangat.
Mantan ayah mertua Bagas tampak menatap dalam kearah Felisha.
"Titip kedua cucu saya " ucap pria paruh baya itu lirih.
"Tolong sayangi mereka,karena mereka sudah ditinggalkan ibunya sejak kecil "
"Bapak tidak usah khawatir..mbak Feli sangat menyayangi Nakula dan Sadewa.Aku lihat sendiri bagaimana mbak Feli mengurus Nakula dan Sadewa " jawab Ajeng.
"Siapa namamu cah ayu ?" Pria itu menyapa Luna yang berada dalam pangkuan Bagas
"Mbah akung nanya namanya siapa ?" bisik Bagas kepada Luna
"Luna " jawab Luna dengan malu-malu sambil memeluk leher Bagas.
Melihat Felisha yang tampak lesu Ajeng dan istri Bayu menyuruh Felisha beristirahat di kamar yang sudah disiapkan, sementara Nakula dan Sadewa mendapat kamar disebelahnya.
Malamnya setelah menidurkan Luna,Bagas keluar dari kamar dan pergi entah kemana.
"Mbak Feli.." panggil Ajeng dari depan pintu kamar.
"Mbak..saya bawa air jahe hangat dicampur madu buat mbak Feli..untuk meredakan mual" ujar Ajeng sambil menyodorkan gelas air rebusan jahe kepada Feli.
"Terimakasih " ucap Felisha.
Felisha pun menyesap sedikit demi sedikit,rasa hangat langsung menjalar di perutnya.
"Lihat mas Bagas ?" tanya Felisha
"Dia sedang berbicara dengan bapak dan mas Bayu " jawab Ajeng
"Mereka sedang mengurus pengalihan aset bapak kepada Nakula dan Sadewa "
"Pengalihan aset ?" tanya Felisha
"Iya mba..bapak menyuruh mas Bagas ke Semarang untuk membicarakan harta warisan peninggalan mbak Kinara yang akan jatuh ke tangan si kembar " jawab Felisha.
"Katanya mumpung bapak masih ada " ujar Ajeng dengan wajah sendu.
"Dua hari yang lalu saya dan mas Bayu juga mas Bagas sudah membahas ini.Namun rupanya bapak ingin diurus secepatnya, makanya mas Bagas diminta ke Semarang "
Felisha termangu, sepertinya ia telah salah mencurigai suaminya selingkuh dengan mantan adik iparnya.Padahal Bagas pernah bilang jika Ajeng justru pernah pacaran dengan Bagus.
__ADS_1
Namun melihat kedekatan Bagas dengan Ajeng justru membuat Felisha sangat cemburu. Felisha merasa tidak terima jika Bagas dekat dengan wanita lain selain dirinya.
"Sejak menikah dengan mbak Felisha,aku lihat banyak yang berubah dari mas Bagas.Dia jadi lebih perhatian pada keluarga...Padahal dulu boro-boro.Aku saja sampai menjuluki mas Bagas kanebo kering " Ujar Ajeng
"Jadi kamu juga menjuluki mas Bagas kanebo kering ?..berarti kita sama " ujar Felisha terkekeh.
"Aku juga suka ledekin dia kanebo kering kalau lagi kesel sama dia " ucap Felisha
Ajeng dan Felisha pun tertawa.Ternyata Ajeng cukup menyenangkan batin Felisha. Ajeng baru keluar dari kamar Felisha ketika Bagas kembali ke kamar.
"Kalian habis ngapain ?" tanya Bagas curiga
"Hanya ngobrol " jawab Felisha singkat.
"Ngobrol ?...tumben " tanya Bagas menyelidik
"Ya ngobrol..tuan rumah ngobrol sama tamunya..wajar kan ?" jawab Felisha sambil menarik selimutnya menutupi tubuhnya sampai ke dada.
Melihat Felisha sudah mau tidur,Bagas pun berbaring disamping Felisha.Matanya menatap langit-langit kamar dengan satu tangan sebagai bantalnya.
Baru Bagas akan memejamkan matanya, tiba-tiba ia merasa ada tangan lembut yang memeluk tubuhnya erat.
"Kenapa..dingin ? tanya Bagas dengan senyum tipis disudut bibirnya.
"Sudah tidak marah lagi ?" sindir Bagas
Felisha tidak menjawab,ia dengan tidak malunya malah menyusupkan wajahnya didada Bagas, tentu saja yang punya dada senang bukan kepalang.Wanita hamil memang ajaib.
Bagas berusaha menjauhkan wajah Felisha dari dadanya agar ia bisa mengecap bibir yang selama tiga hari ini selalu mengerucut jika melihatnya.
Felisha mengangkat kepalanya dan membuka bibirnya sedikit ketika bibir Bagas mulai menyentuhnya, mengecap dan ********** dengan penuh hasrat.
"Jangan suka marah-marah sama mas " bisiknya dengan suara yang mulai serak.
"Tidak janji " jawab Felisha
"Mas tidak suka jika kamu abaikan " bisik Bagas sambil kembali ******* bibir Felisha.Tidak ada penolakan bahkan ketika bibir Bagas mulai merambat turun menuju leher jenjangnya pun Felisha tampak pasrah.
"Kamu harus mas hukum karena sudah mengabaikan mas beberapa hari ini " ujar Bagas langsung mengurung Felisha dibawah tubuhnya.
Dengan secepat kilat tangan Bagas telah berhasil meloloskan semua pakaian Felisha.
Bagas sejenak terpaku menatap dua bukit kembar Felisha yang padat berisi dengan puncak kemerahannya seolah menantang nya untuk segera ia lahap.
Tanpa menunggu lama Bagas pun langsung melahapnya dengan rakus,lidahnya menjilat dan memainkan puncaknya dan kemudian menghisapnya,sementara tangannya meremas yang satu lagi dan memainkan puncaknya dengan ibu jarinya.
"Maas.." panggil Felisha dengan suara yang berat karena mulai terbakar gairah.Tangan Felisha meluncur kebawah dan menyusup dibalik celana boxer Bagas.
"Sssayang aarrgghh..kamu nakal " erang Bagas ketika tangan nakal Felisha mulai bermain dibawah sana.
Tanpa menunggu lama,Bagas menuntun adik kecilnya untuk masuk ke sarangnya.Bagas melakukan penyatuan dengan lembut karena khawatir Luna terbangun.
Bagas dan Felisha saling berpelukan erat ketika mendapatkan pelepasan bersama.
Bagas langsung menggulingkan tubuhnya ketika Luna merengek memanggilnya
"Daddy.." panggilnya.
Sepertinya Aluna terganggu oleh aktivitas panas mommy dan Daddy nya.Untungnya Luna tidak sempat membuka matanya karena dengan cepat Bagas mengusap punggungnya agar kembali tertidur.
"Stt...Luna bobo lagi ya " bisiknya lembut.
__ADS_1
Felisha kembali memakai bajunya,ia tidak mau sampai Luna mengetahui jika Daddy nya telah menelanjangi mommy nya