
"Mutasi lagi pak.. apakah saya melakukan kesalahan? " tanya Felisha ketika Ezra mengutarakan niatnya untuk menarik kembali Felisha ke Jakarta.
"Tidak Fe.. kerja kamu Bagus. Justru itu saya sangat butuh kamu disini " jawab Ezra
"Tapi kenapa mendadak begini? " tanya Felisha
"Kamu punya waktu satu minggu untuk beres-beres disana " ujar Ezra
"Baik Pak " jawab Felisha
Felisha keluar dari ruangan Ezra, ia tidak mengerti kenapa Ezra tiba-tiba menarik kembali dirinya ke Jakarta. Meskipun Felisha tetap menduduki jabatan sebagai manager keuangan tapi ia merasa belum siap untuk pindah ke Jakarta secepat itu.
Felisha mengambil ponselnya dari dalam tas, sejak ia keluar dari ruangan Ezra ponselnya terus bergetar.
Beberapa panggilan tak terjawab dari daddy nya anak-anak . Felisha mengernyit.. Namun ketika melihat photo Bagas, Luna dan sikembar tengah tersenyum diatas kuda tunggang Felisha baru sadar siapa yang dari tadi menghubunginya itu.
Ponsel Felisha kembali bergetar. Satu pesan masuk dari Bagas
"Saya tunggu di parkiran "
Felisha berjalan menuju parkiran. Ia heran bagaimana Bagas bisa tau jika ia sudah keluar dari ruangan Ezra.
"Mas Bagas tidak ke kantor? " tanya Felisha ketika ia melihat tas kerja Bagas di jok belakang, seperti tidak bergeser sedikitpun dari tempatnya semenjak Felisha turun tadi.
"Tidak.. hari ini saya mau istirahat di rumah " jawab Bagas.
"Kalau masih sakit tidak usah menjemput .. saya bisa pulang sendiri " ujar Felisha sambil memasang seatbelt nya
Bagas tidak menjawab, ia mulai melajukan mobilnya meninggalkan halaman kantor Ezra.
"Ada masalah apa kamu dipanggil bos kamu? " tanya Bagas.
"Aku ditarik kembali ke Jakarta " jawab Felisha
Bagas diam.. akhirnya Ezra melakukan apa yang diinginkannya.
"Kamu setuju? " tanya Bagas
"Tidak ada pilihan lain " jawab Felisha pasrah
"Bagus kalau begitu... jadi saya tidak perlu repot-repot memindahkan sekolah Nakula dan Sadewa ke Bandung " ujar Bagas.
Felisha termangu. Ucapan Bagas ada benarnya juga. Jujur Felisha tidak tega ketika Nakula dan Sadewa merengek ingin pindah sekolah ke Bandung karena merasa lelah jika harus bolak-balik Jakarta Bandung setiap weekend.
"Kapan kamu mulai pindahan? " tanya Bagas
__ADS_1
" Mungkin besok " jawab Felisha
"Saya akan bantu kamu pindahan " ujar Bagas
"Tidak usah mas.. saya bisa dibantu orang kantor " Felisha menolak
"Tidak usah membantah! "
Felisha langsung terdiam. Bagas memang type orang yang tidak mau dibantah. Ia sudah hapal perangai Bagas sejak Felisha masih pacaran dengan Bagus. Dan Bagus sangat nurut semua ucapan kakaknya.
Bagas melirik sekilas kearah Felisha yang langsung terdiam. Ia sedikit menyesal telah berkata sedikit keras pada Felisha. Ia tidak ingin Felisha merasa semakin tidak nyaman padanya.
"Saya hanya ingin membantu istri saya.. apa itu salah? " tanya Bagas lirih. Felisha membuang muka.
"Tapi kan mas Bagas sedang sakit " jawab Felisha tanpa mau menatap kearah Bagas
"Tidak masalah.. toh nanti ada kamu yang merawat saya jika sakit " jawab Bagas.
"Kenapa mas Bagas bisa seyakin itu? " tanya Felisha
"Tentu saja.. disaat saya mengacuhkan kamu dan Luna pun kamu tulus mengasuh anak-anak saya seperti anak kamu sendiri " jawab Bagas
"Tentu saja saya tulus menyayangi Nakula dan Sadewa.. karena mereka tidak seperti mas Bagas " ujar Felisha tajam. Bagas langsung terdiam.
Melihat Bagas diam,kini Felisha yang merasa menyesal.
Felisha sadar meski Bagas selalu bersikap acuh padanya dan Luna, namun Bagas telah menyelamatkan dirinya dari aib karena hamil diluar nikah, dan Bagas telah memberikan status yang jelas untuk Luna sebagai putrinya meski hanya di atas kertas.
"Maaf saya tidak bermaksud... "
"Tidak apa-apa.. saya yang salah " pungkas Bagas.
Bagas dan Felisha saling diam. Bagas kembali membuka mulutnya ketika mobil Bagas memasuki halaman sebuah resto.
"Kita makan dulu " ajak Bagas. Felisha mengangguk
Bagas membawa Felisha ke sebuah meja yang ada di sudut ruangan. Mereka memesan dua porsi soto betawi dan dua es jeruk.
"Masih demam mas? " tanya Felisha
"Sedikit " jawab Bagas
"Kalau masih sakit sebaiknya kita ke dokter biar tidak keterusan " ujar Felisha
"Kamu malas ya ngurusin saya? " sindir Bagas
__ADS_1
"Mas Bagas pikir saya tidak mau ngurusin mas Bagas? kamu salah mas.. selama ini saya selalu berusaha menjadi ibu yang baik untuk Nakula dan Sadewa. Tapi mas Bagas tidak pernah memberi saya kesempatan untuk menjadi istri mas Bagas " Felisha tampak kesal dengan sindiran Bagas.
Bagas melongo, ia tidak menyangka Felisha akan semarah itu.
"Ya sudah habis makan antar saya ke dokter " ujar Bagas.
Bagas dan Felisha melanjutkan makan tanpa ada perdebatan lagi. Bagas memilih diam, ia takut salah bicara yang akan membuat Felisha kembali marah.
Setelah menyelesaikan makannya, mereka pergi ke sebuah klinik.Dokter yang memeriksa Bagas mengatakan jika Bagas terlalu kelelahan. Dokter menyarankan agar Bagas lebih banyak istirahat dan tidak stress. Selebihnya kondisi tubuh Bagas sangat sehat karena Bagas selalu menjaga pola makan yang sehat.
Setelah menebus resep yang diberikan dokter, mereka pun pulang. Sesampainya di rumah Felisha Bagas langsung masuk ke kamar Felisha untuk istirahat.
"kakak daddy kenapa? " tanya Nakula
"Daddy sakit " jawab Felisha
"Daddy nya kakak kembar sakit? " tanya Luna
"Iya sayang.. Luna dan kakak jangan ganggu daddy dulu ya.. biar daddy nya kakak kembar cepat sembuh " ujar Felisha
"Iya mommy.. Luna tidak akan ganggu daddy nya kakak " jawab Luna.
Karena Bagas sedang sakit, akhirnya Felisha terpaksa memundurkan jadwal kepindahannya.
Malam nya Luna dan si kembar tidur bersama ayah dan bundanya Felisha. Mereka memilih tidur dengan kakek dan neneknya karena tidak ingin mengganggu istirahat daddy nya yang sedang sakit.
"Anak-anak kemana Fe tumben sepi? " tanya Bagas.
"Tidur sama ayah dan bunda " jawab Felisha.
"Kamu jadi pindahan besok? " tanya Bagas sambil bersandar dikepala ranjang
"Tidak.. nunggu mas Bagas sembuh saja " jawab Felisha
"Iya..moga-moga besok saya bisa bantu kamu pindahan " jawab Bagas.Ia sedikit lega karena Felisha mulai nurut dan tidak keras kepala.
Ayah dan bunda senang mendengar Felisha dipindahkan lagi ke Jakarta. Dengan kepindahan Felisha kembali ke Jakarta mereka berharap hubungan Felisha dan Bagas menjadi lebih baik. Mereka melihat perubahan yang sangat besar pada diri menantu mereka. Bagas sekarang lebih perhatian kepada Felisha dan Luna.
"Kenapa Luna tidak boleh ikut pulang ke Bandung? " Luna menangis ketika Felisha dan Bagas akan pergi ke Bandung.
"Kan mommy sama daddy mau bawa semua mainan Luna ke Jakarta.. Luna sama mommy nanti tinggal sama-sama di rumah daddy sama kakak Nakula dan Sadewa " bujuk Bagas
"Nanti Luna tinggal di rumah daddy nya kakak? " mata Luna mengerjap
"ya.. daddy Kakak.. daddy Luna juga " jawab Bagas.
__ADS_1
"Daddy nya Luna sudah di surga oom " jawab Luna.
"Pelan-pelan.. Luna belum mengerti " ayah menepuk pundak Bagas. Bagas mengangguk.