
Pagi-pagi Bagas dan Felisha berjalan-jalan mengelilingi cluster tempat tinggal mereka. Beberapa tetangga yang kebetulan berpapasan menyapa mereka dengan ramah.
"Pantas dulu kamu sama Luna betah disini,tetangganya pada ramah " ujar Bagas sambil menyusuri jalan kembali ke rumah setelah mengelilingi taman.
"Iya..disini enak lingkungannya.Kalau saja kamu tidak menemukan aku sama Luna disini pasti aku selamanya jadi orang Bandung " jawab Felisha sambil tertawa
"Makanya jangan coba-coba lari..kemanapun kamu pergi mas akan menemukan kamu " ujar Bagas sambil memeluk bahu Felisha.
"Mana bisa lari mas..perut aku sudah berat begini " Seloroh Felisha sambil menunjuk perutnya. " Ditambah Luna yang sudah tidak bisa jauh dari kamu ..makin susah aku lepas dari kamu "
"Memangnya masih ada niat untuk melepaskan diri ?" tanya Bagas menggoda.Felisha menggeleng
"Pinter..baru ini istri Soleha " ujar Bagas
"Dari dulu juga aku ini istri Soleha..cuma kamu nya saja yang sableng " gumam Felisha
Bagas hanya tertawa dibilang sableng oleh Felisha.Tak ada alasan untuknya marah mendapat cacian seperti itu.Masih untung Felisha masih mau memberikan dirinya kesempatan untuk memperbaiki diri,sehingga kini kehidupannya berubah seratus delapan puluh derajat.
Sesampainya di rumah, ternyata anak-anak masih bergelung dibawah selimut tebal mereka .Luna berada ditengah diantara Nakula dan Sadewa tampak nyaman memeluk boneka kesayangan nya.
Sambil menunggu anak-anak bangun Felisha memilih membuat sarapan di dapur,sedangkan Bagas duduk diteras depan sambil menikmati secangkir kopi buatan Felisha dengan ditemani semilir angin pagi yang dingin.
Wangi harum masakan Felisha dari dapur menguar diindra penciuman anak-anak yang tidur di ruang keluarga.Satu persatu dari mereka pun membuka matanya.
"Hhmmm..mom masak apa wangi banget " tanya Nakula yang bangun lebih dulu,disusul oleh Sadewa.
"Ayam goreng tepung kak " jawab Felisha sambil menyusun masakan yang sudah matang dimeja makan.
"Daddy mana.." Luna yang paling terakhir bangun langsung merengek mencari Daddy nya
"Daddy sudah pulang duluan ke Jakarta..kita ditinggal disini " jawab Sadewa iseng menggoda adiknya.
"Daddy...huwaaa... Daddy.." tangis Luna pun langsung pecah.
Bagas yang sedang menyesap kopinya buru-buru masuk memburu Luna.
"Kakak kenapa menangis ?" tanya Bagas sambil mengangkat tubuh Luna kedalam gendongannya.
"Kakak Sadewa bilang Daddy sudah pulang ke Jakarta..katanya kita ditinggal disini..hiks..hiks " Luna terisak sambil memeluk leher Bagas erat-erat.
"Kakak jangan suka godain adik kamu ah " omel Bagas kepada Sadewa
"Iya maaf...maafin kakak ya dek " Sadewa bermaksud mencium pipi Luna tapi Luna menolak.
"Jangan cium-cium..kakak nakal " Luna tampak masih kesal kepada Sadewa.
"Iseng sih lu " ujar Nakula sambil melipat selimutnya,diikuti oleh Sadewa.Keduanya membereskan kembali bekas tidur mereka dan memasukan semua bantal dan selimut ke kamar termasuk kasur lipat.
"Kak..mandi sana abis mandi kita makan " perintah Felisha
"Cuci muka saja ya mom..dingiin "
"Mandi sana..pake air hangat " perintah Bagas
"Iya dad " si kembar pun pergi ke kamar mandi kamar mereka bergantian.
"Luna mandi sama Daddy ya " Bagas membawa Luna menuju kamar mandi yang ada didalam kamar Felisha
"Pake air hangat ya dad " pinta Luna
"Iya..pake air hangat " jawab Bagas
Setelah anak-anak selesai mandi,mereka pun berkumpul di ruang makan untuk sarapan.
Nakula dan Sadewa makan dengan sangat lahap.Mereka tidak menolak ketika Felisha mengisi piring mereka dengan ayam goreng tepung lagi.
__ADS_1
Diam-diam Bagas memperlihatkan kedua putranya yang tumbuh semakin besar dengan wajah tampan dan tubuh tinggi berisi. Meski tidak diurus oleh ibu kandung namun Felisha telah berhasil mengurus kedua putranya hingga tumbuh sehat seperti ini.
"Dad..Minggu depan kita menginap disini lagi ya " pinta si kembar
"Luna juga mau menginap disini lagi "
"Iya..Minggu depan kita kesini lagi " jawab Bagas
Entah mengapa sekarang ia seperti tidak punya kekuatan untuk menolak semua keinginan anak dan istrinya.Baginya keinginan anak dan istrinya adalah perintah tanpa berani ia bantah.
Setelah selesai sarapan anak-anak bermain ditaman yang berada tidak jauh dari rumah, sementara Bagas dan Felisha memilih bersantai sambil menonton tv.
"Sebaiknya kita cari orang untuk mengurus rumah ini, Minggu depan kan anak-anak ingin kesini lagi " ujar Bagas
"Iya nanti aku suruh istrinya mas Joko buat bersih-bersih..biasanya aku suka nyuruh dia buat bersih-bersih rumah kalau aku tidak ada " jawab Felisha sambil menyandarkan punggungnya disandaran kursi.
"Kenapa..pegal ?" tanya Bagas
"Iya..sudah mulai terasa berat jadi sering pegal" jawab Felisha
"Mau dipijit ga ?" tanya Bagas
"Sama kamu ?...engga ah.mas Bagas kalau mijit suka ga bener " Felisha menolak.
"Kan itu pijat plus-plus " jawab Bagas terkekeh
"Iya makanya dipijit kamu bukan hilang pegel-pegelnya malah semua tulang rasanya rontok semua " gerutu Felisha.
"Tapi kamu juga suka kan..buktinya suka minta nambah dan mata kamu sampai merem melek keenakan " ledek Bagas.
"Kamu juga sama " balas Felisha tidak mau kalah. " kamu suka meracau manggil-manggil nama aku,padahal aku ada dibawah kamu "
Bagas tertawa terbahak-bahak mendengar ocehan Felisha.Bagas tidak sadar jika ia seperti itu jika sedang bercinta dengan istrinya.
Obrolan keduanya terhenti ketika anak-anak pulang dari bermain ditaman.
"Daddy tadi ada anak perempuan yang minta kenalan sama kakak Nakula dan kakak Sadewa " oceh Luna
"Oh ya ?" mata Bagas membola.Ia melirik kedua putranya yang tampak cemberut
"Tapi kakak nya sombong dad..malah ngajak pulang " lanjut Luna " Padahal aku masih ingin main disana "
"Nakula sama Sadewa mirip kamu banget .. susah didekatin " ujar Felisha
"Ceweknya cantik tidak kak ?" tanya Bagas menggoda kedua putranya
"Cantik dad..rambutnya segini " Luna menyentuh bahunya sendiri.
"Cantik mana sama mommy ?" tanya Bagas
"Ya cantik mommy lah " jawab si kembar kompak.
Bagas dan Felisha tertawa, sepertinya kedua putranya belum memiliki ketertarikan secara khusus kepada lawan jenis.
Sorenya Bagas dan Felisha mulai berkemas,
mereka harus kembali ke Jakarta karena Senin pagi nya mereka sudah harus beraktifitas seperti biasa.Bagas harus kembali ngantor dan si kembar sekolah.Kecuali Felisha yang akan memulai aktifitas barunya di rumah karena ia sudah resmi resign dari perusahaan Ezra.
Senin pagi si kembar nyaris terlambat pergi ke sekolah karena Felisha bangun kesiangan.
Tidak bisa dipungkiri semalam mereka sempat terjebak macet di jalan tol dan sampai rumah hampir jam 10 malam.Mungkin karena lelah mereka tidur sangat nyenyak sehingga bangun kesiangan.
Ketika jemputan sikembar datang mereka langsung berlari dengan membawa bekal makan roti isi saja.
Setelah sikembar pergi,kini giliran Bagas yang akan pergi ke kantor. Felisha mengantarkan suaminya sampai teras depan.
__ADS_1
Mengawali hari tanpa pergi ke kantor seperti biasanya cukup membuat Felisha tidak terbiasa.
"Mommy kenapa tidak pergi ke kantor ?" Luna heran karena seharian ini mommy nya ada di rumah.
"Mommy sudah berhenti kerja sayang..mommy mau nemenin Luna saja di rumah " jawab Felisha
"Sungguh mommy ?" tanya Luna.Felisha mengangguk yakin.
"Kalau begitu mommy bisa nemenin Luna bermain ?" tanya Luna lagi.
"Iya sayang..kita bisa bermain sepuasnya " jawab Felisha.
Pada saat sikembar pulang sekolah,mereka menghampiri Felisha yang sedang menemani Luna mewarnai.
"Mom..kita ada tugas melukis besok.Kita membutuhkan cat minyak untuk dibawa ke sekolah besok " ucap Nakula
"Selesai mommy menyuapi Luna kita beli " jawab Felisha.
"Aku ikut ya mom " pinta Luna
"iya..kita semua pergi " jawab Felisha.
Setelah selesai menyuapi Luna, Felisha pun membawa anak-anak ke toko buku terlengkap yang menyediakan alat lukis untuk si kembar.
Selain membeli peralatan lukis,mereka juga membeli buku dan alat tulis untuk persediaan. Luna pun ikut-ikutan membeli buku dan alat tulis seperti kedua kakaknya.
"Aku kan ingin sekolah seperti kakak " ujar Luna sambil memasukan buku dan alat tulis pilihannya kedalam keranjang.
"Iya boleh sayang " ujar Felisha.
Selesai berbelanja keperluan sekolah sikembar dan Luna,mereka mampir ke sebuah restoran cepat saji.Sudah menjadi acara wajib jika mereka pergi belanja selalu diakhiri dengan makan.
Felisha tersenyum melihat anak-anak makan dengan lahap.Mereka makan sambil diselingi candaan.Luna beberapa kali nyaris menangis karena kedua kakaknya iseng menggodanya.
"Kalau kakak nakal nanti aku bilangin Daddy loh " ancam Luna setiap Nakula dan Sadewa menggodanya.
Selesai makan, Felisha menggiring anak-anak pulang.Ketika dalam perjalanan pulang tiba-tiba sikembar memberitau Felisha jika dibelakang ada mobil Bagas mengikuti mereka.
"Mom dibelakang ada mobil Daddy "
"Iya sayang " jawab Felisha sambil melirik spion dikanannya.
Mobil Bagas terlihat seperti sedang mengawal mobil yang Felisha kendarai bersama anak-anak.Mobil mereka pun beriringan masuk ke halaman rumah mereka.
Begitu Felisha turun,Bagas langsung menyambut mereka dengan Omelan.
"Mas sudah larang kamu bawa mobil sendiri,Kenapa bandel ?" omel Bagas
"Kakak ada tugas sekolah mas harus bawa cat minyak besok " bela Felisha
"Kamu kan bisa pake sopir,atau tunggu mas pulang "
'Ya ampun cuma pergi ke toko buku saja masa dilarang " Felisha menggerutu sambil masuk ke kamarnya.Bagas mengikuti Felisha dibelakangnya.
"Kamu itu lagi hamil sayang " ujar Bagas
"iya aku lagi hamil..bukan lagi sakit.Lagian waktu aku hamil Luna juga aku sudah terbiasa kemana-mana sendiri " Felisha protes karena Bagas terlalu mengekangnya.
Mendapat aksi protes dari Felisha Bagas langsung terdiam.
"Lain kali kalau mau keluar pake sopir ya,atau tunggu mas pulang " pinta Bagas dengan suara lebih lembut.
"Iya " jawab Felisha masih dengan wajah cemberut.
"Pinter " Bagas mengacak rambut Felisha.
__ADS_1
"Dasar kanebo kering " sungut Felisha
Bagas menanggapi sumpah serapah Felisha dengan senyuman.Baginya itu adalah panggilan sayang Felisha untuknya.