Om Buah Hatiku

Om Buah Hatiku
Jagoan lagi


__ADS_3

Setelah Luna kembali tertidur, perlahan Bagas turun dari ranjang dan menghampiri Felisha yang sudah menunggunya diatas sofa.


"Lama banget nidurin Luna nya " Felisha merajuk manja


"Sepertinya dia tau jika Daddy nya akan selingkuh sama mommy nya " jawab Bagas sambil terkekeh.


Tanpa berbasa-basi lagi Bagas pun langsung melakukan aksi penyerangan.Felisha yang sudah dalam mode siaga langsung mengimbangi serangan brutal dari suaminya.


"Mas kangen banget sama kamu " bisik Bagas dengan napas memburu karena hasrat yang sudah diubun-ubun.


"Aku juga...dedek diperut aku juga..kangen ditengokin Daddy nya " bisik Felisha


"Tunggu ya sayang..Daddy datang " Bagas mencium perut Felisha sebelum memposisikan tubuhnya diantara kedua paha Felisha.


Meski sudah diselimuti kabut gairah yang menggelora,namun Bagas tetap melakukannya dengan hati-hati agar bayi dalam kandungan istrinya yang tinggal hitungan hari akan segera lahir kedunia itu tetap aman.


******* dan erangan lolos dari bibir keduanya manakala gelombang kenikmatan menggulung raga mereka.Dan akhirnya keduanya terhempas dengan senyum kepuasan tersungging dibibir mereka.


Satu kecupan dibibir Felisha mengakhiri pergumulan panas mereka.Keduanyapun terkapar diatas sofa dengan napas terengah dan bermandikan peluh.


"Perut kamu baik-baik saja kan sayang ?" tanya Bagas sambil mengusap perut buncit Felisha.


Setiap setelah melakukan hubungan intim dengan istrinya Bagas selalu dilanda kekhawatiran akan keadaan bayi mereka didalam perut Felisha,meskipun dokter mengatakan aman.


"Tidak apa-apa sayang " jawab Felisha sambil mengusap peluh yang masih membasahi wajah Bagas.


"Kata dokter justru bagus buat membuka jalan lahir "


"Iya " jawab Bagas sedikit tenang.


Ketika malam semakin larut,Bagas dan Felisha pun kembali ke ranjang mereka bergabung dengan Luna yang tampak tidur nyenyak sambil memeluk boneka kesayangannya.


Bagas yang nyaris terlelap membuka matanya ketika Felisha menepuk-nepuk pipinya lembut.


"Hmm..ada apa sayang ?" tanya Bagas diantara kantuknya.


"Aku lapar " jawab Felisha,jarinya kini iseng memainkan bulu dada Bagas.


"Ayok mas temenin kamu makan " Bagas akhirnya bangun karena Felisha tidak akan berhenti mengganggunya sebelum keinginannya tercapai.


"Aku ingin pasta buatan kamu " pinta Felisha manja.


"Bahan-bahannya ada tidak ?" tanya Bagas


"Ada..tadi bunda sama kak Kinan belanja isi kulkas lengkap " jawab Felisha.


"Ya sudah mas bikinkan " Meski lelah dan ngantuk namun Bagas beranjak ke dapur untuk memenuhi keinginan istri tercintanya.


Di dapur Bagas berpapasan dengan Dio yang sedang membuat kopi untuk menemaninya lembur mengerjakan pekerjaan kantor.


"Mau kopi ?..biar dibikin sekalian " Dio menawarkan diri


"Tidak..aku mau bikin pasta.Feli ingin makan pasta " jawab Bagas sambil mencari bahan-bahan yang diperlukan didalam kulkas.


"Ya sudah ditinggal dulu..mau lembur " ujar Dio sambil berlalu dengan secangkir kopi ditangannya.


Sepeninggalan Dio,Bagas pun mulai berkutat dengan peralatan dapur dan bahan pembuat pasta.


"Hmm..sudah wangi " Bagas yang sedang mengaduk pasta terkejut ketika Felisha tiba-tiba datang dan memeluknya dari belakang.


"Sebentar lagi selesai " ujar Bagas sambil menoleh kearah Felisha dan mencium bibirnya sekilas.


"Kamu tunggu saja di meja makan " ujar Bagas.


"Tidak..aku mau disini saja sambil peluk kamu " jawab Felisha manja, enggan melepaskan belitan tangannya diperut Bagas.


"Ya sudah " akhirnya Bagas membiarkan Felisha memeluknya dari belakang meski ruang geraknya menjadi terbatas.


Tidak lama kemudian satu piring pasta buatan Bagas pun tersaji di meja dengan cantiknya.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama Felisha pun langsung menyantap pasta buatan suaminya dengan lahap.


"Kalau Nakula dan Sadewa belum tidur pasti mereka juga ingin dibuatkan " ujar Felisha sambil mengunyah makanannya.


"Soalnya pasta buatan kamu enak banget sayang " tambah Felisha


"Habiskan !" titah Bagas sambil mengacak rambut Felisha lembut.Ia senang melihat Felisha menyukai pasta buatannya.


"Mas juga makan dong !" Felisha menyuapi Bagas.


Bagas pun tidak bisa menolak ketika Felisha terus menyuapinya hingga sepiring pasta pun tandas dengan cepat.Acara makan malam berdua itu pun diakhiri dengan menikmati teh hangat.


"Sudah malam sebaiknya kita tidur " ajak Bagas sambil menuntun Felisha kembali ke kamar mereka.


Setelah sampai di ranjang mereka,Bagas yang tidak sanggup menahan kantuk akhirnya tertidur.Sementara Felisha masih terjaga karena tiba-tiba merasa perutnya tidak nyaman.


Felisha mencoba memejamkan matanya namun tidak berhasil.Sebagai wanita yang pernah melahirkan tentu Felisha paham jika waktu dirinya melahirkan sudah semakin dekat.


Menjelang dini hari Felisha merasa perutnya sakit,ia berusaha tenang karena rasa mulas yang ia rasa masih datang dan pergi,selain itu ia tidak tega untuk membangunkan Bagas yang tidur pulas karena lelah.


Namun akhirnya Felisha terpaksa membangunkan Bagas ketika rasa mulas semakin terasa dengan intensitas yang lebih sering.


"Sayang..bangun " Felisha menepuk-nepuk pipi Bagas.


"Ada apalagi sayang..mas ngantuk " Bagas merengkuh Felisha kedalam pelukannya tanpa membuka matanya.


"Massh..perut aku sakit " bisik Felisha


"Sakit ?" Bagas langsung membuka matanya. Felisha mengangguk.


"Kita ke rumah sakit sekarang " ajak Bagas ketika dilihatnya ada cairan bening yang mengucur disela-sela kaki mulus istrinya.


"Iya mas " jawab Felisha


Bagas buru-buru mengganti baju tidur Felisha sebelum ia keluar untuk memberi tahu mertuanya jika Felisha akan melahirkan.


Sambil mengemudi Bagas sesekali melirik Felisha yang tampak meringis menahan sakit.


"Nyetirnya tenang Gas !" bunda memperingatkan Bagas yang terlihat panik melihat keadaan Felisha yang kesakitan.


"Iya Bun " jawab Bagas


Dijalan Bagas masih sempat menyuruh pengasuh Luna untuk menyiapkan keperluan Felisha dan bayinya untuk dibawa ke rumah sakit.


Setelah sampai di rumah sakit,Felisha pun langsung dibawa ke ruang bersalin karena pembukaan nya hampir lengkap.


"Untung tidak melahirkan di jalan ini " ujar dokter yang kebetulan teman sekolah Bagas itu.


Bagas yang baru pertama kali menunggui istri yang akan melahirkan normal terlihat sangat tegang.Dulu pada saat Kinara akan melahirkan si kembar ia tidak setegang ini karena Kinara memilih melahirkan dengan cara Cesar.


Bagas tidak melihat Kinara kesakitan karena kontraksi, berbeda dengan Felisha yang tampak sangat kesakitan karena memilih melahirkan secara normal.


"Kalau tidak kuat mending nunggu diluar " ujar dokter yang akan membantu persalinan Felisha.


"Gue mau nemenin istri gue " jawab Bagas yakin.


Ketika pembukaan sudah lengkap,dokter dan beberapa perawat pun mulai bersiap membantu persalinan Felisha.


"Mas sakit " keluh Felisha sambil mencengkram kuat lengan Bagas.


"Yang kuat ya Sayang " bisik Bagas mencoba memberi semangat. " Demi anak kita "


Felisha mengangguk sambil mengatur napasnya agar lebih tenang.


Dokter memposisikan kedua kaki Felisha ditekuk dan terbuka lebar.Bagas yang berada didekat kepala Felisha tampak terlihat sangat tegang.


"Ambil napas dalam- dalam..lalu buang perlahan..kalau saya bilang mengejan ya mengejan !" dokter memberi arahan.


Felisha mulai mengikuti arahan dari dokter. Pada saat mengejan ia mencengkram tangan Bagas kuat-kuat.

__ADS_1


Bagas sama sekali tidak protes meski kuku lentik Felisha yang belum sempat dipotong menancap dikulit lengannya.


Satu kali mengejan belum berhasil membuat bayi dalam perut Felisha keluar.


"Sakiiiit banget masss !" keluh Felisha dengan berderai airmata


"Ayok sayang kamu pasti kuat " bisik Bagas sambil menyusut peluh bercampur airmata yang membasahi wajah Felisha ketika wanita itu mulai bersiap mengejan untuk yang kedua kalinya.


Felisha mulai mengambil napas dalam kemudian membuangnya perlahan,ia pun mulai mengejan kembali sesuai arahan dari dokter.


Meski belum berhasil membuat bayinya keluar,namun Felisha kembali berusaha.


Ketika ia merasakan satu dorongan yang kuat dari dalam tubuhnya yang ingin segera dikeluarkan, Felisha pun mengejan dengan sekuat Tanaga


"Oek..owek.." suara tangis bayi pun terdengar di ruangan bersalin itu.


"Jagoannya akhirnya keluar juga " ujar dokter


Felisha tampak tersenyum lega meski terlihat kelelahan kehabisan tenaga.


"Terimakasih sayang..kamu sudah berjuang untuk melahirkan putra kita " bisik Bagas.


Satu ciuman Bagas berikan dikening Felisha yang basah oleh peluh.Felisha tertegun menatap mata Bagas yang basah.


Melihat perjuangan istrinya untuk melahirkan buah hati mereka membuat Bagas tak kuasa menitikkan air mata.


"Kamu menangis sayang ?" Felisha mengusap mata Bagas yang basah.


"Mas bahagia banget " jawabnya lirih.


Kenyataannya selain bahagia,Bagas juga merasa sangat berdosa karena dulu telah membiarkan Felisha berjuang seorang diri pada saat melahirkan Luna.


"Maafkan mas ya..karena dulu tidak mendampingi kamu saat melahirkan Luna " ucap Bagas lirih.Terlihat ada kesedihan yang mendalam diwajah tampannya.Felisha mengangguk.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Luna langsung menangis kencang ketika pagi itu ia membuka matanya tidak menemukan Bagas disampingnya.


"Daddy.. huwwaaaa..huwaaa.. Daddy mana "


Dio dan Kinanti yang menunggui Luna setelah subuh itu Bagas dan bunda membawa Felisha ke rumah sakit langsung memburu Luna.


"Luna sudah bangun ?" Kinanti langsung menggendong Luna


"Daddy kemana Tante ?" tanya Luna sambil terisak


"Daddy mengantar mommy ke rumah sakit sayang.. sebentar lagi adiknya Luna lahir " jawab Kinanti.


"Adik Luna sebentar lagi lahir ?" mata Luna membulat dan tangisnya berhenti seketika


"Iya.. sebentar lagi adik Luna lahir " tambah Dio


Si kembar yang diberi tahu jika mommy mereka akan melahirkan akhirnya memutuskan untuk tidak sekolah.Dio pun mengabari wali kelas kedua keponakannya untuk meminta ijin agar kedua keponakannya tidak masuk sekolah.


Beberapa menit kemudian kabar bahagia pun terdengar, bunda mengirimkan sebuah video dimana Bagas sedang mengadzani putranya yang baru lahir itu.


"Itu dedek Luna ya om " tanya Luna


"Iya itu dedeknya Luna " jawab Dio sambil memegang ponselnya.


"Aku mau kesanaaa ooom " Luna mulai merengek sambil mengguncang-guncang tangan om nya.


"Iya nanti siang kita kesana " jawab Dio


Nakula dan Sadewa pun tak kalah senangnya ketika mendengar adik mereka telah lahir.


"Semoga kita menyusul seperti mereka..aku ingin dikamar kita ada suara bayi " bisik Dio sambil mengusap perut Kinanti.


"Aamiin " jawab Kinanti

__ADS_1


__ADS_2