
Setelah hampir tiga jam dikurung didalam kamar, semua para lelaki di rumah itu kecuali Abimanyu akhirnya bunda lepaskan.Mereka keluar kamar dengan wajah dongkol tapi tidak berani protes.
"Daddy kemana saja ?..aku habis renang sama mommy , Tante Kinan dan Aunty Ajeng..seru loh..ya kam mom ?" oceh Luna sambil menikmati susu hangat.
"Iya..seru Sayang " jawab Felisha yang tampak senang karena sudah menepati janjinya kepada Luna untuk berenang bersama memakai bikini.
"Lain kali kalau kalian berenang sebaiknya kita pergi jalan-jalan saja..daripada kita dikurung di kamar " gumam Bagas
"Setuju " jawab Dio dan Ezra .
"Awas saja kalau berani pergi " Felisha langsung melotot kearah Bagas.
"Becanda Sayang..mana berani aku pergi tanpa ijin kamu " ujar Bagas dengan wajah takut.
Dio dan Ezra tertawa terbahak-bahak melihat Bagas yang ketakutan melihat Felisha melotot. Apa jadinya jika semua karyawan Bagas tau jika Bos mereka yang biasa terlihat berwibawa pada kenyataannya begitu ketakutan mendapat pelototan dari istrinya.
"Puas tertawa nya ?" tanya Bagas tidak senang.
"Ya.." jawab Dio dan Ezra.
Setelah puas berenang, Luna yang mulai mengantuk mendekat kearah Bagas dan duduk dipangkuan Bagas.
"Daddy..aku mengantuk..ayok tidur " rengek Luna.
Melihat Luna yang mulai mengantuk Bagas pun pamit untuk menidurkan putri kecilnya yang manja itu di kamar.
Felisha mengikuti Bagas sambil membawa Abimanyu yang sudah masuk waktunya untuk tidur.
"Sudah renang makan bakso segar kali ya !" gumam Kinanti setelah Bagas dan Felisha pergi.
"Iya seger..aku juga jadi pengen " jawab Ajeng
"Sayaaang.." Kinanti menatap Dio dengan tatapan memohon.
Dio mengerti arti tatapan memohon Kinanti. Akhirnya mereka semua pergi mencari bakso meninggalkan Bagas dan Felisha yang sedang sibuk menidurkan kedua buah hatinya.
Bagas dan Felisha akhirnya tertidur bersama Luna dan Abimanyu yang berada diantara mereka.
*
Seminggu di Bali mereka habiskan dengan bersenang-senang. Mereka melewatkan satu hari khusus untuk berburu oleh-oleh. Dimalam terakhir mereka mengadakan pesta barbeque.
Dio dan Ezra sibuk didepan pembakaran, Sementara Bagas sibuk dengan simanja Luna yang selalu tidak mau jauh darinya.
Dimeja taman Nakula dan Sadewa lahap memakan ikan bakar bersama ayah dan bunda.
"Hati-hati durinya kak " bunda mengingatkan kedua cucunya.
"Iya Enin " jawab si kembar.
Felisha,Kinanti dan Ajeng kali ini bertugas sebagai penghibur. Mereka bergantian bernyanyi dengan diiringi organ yang dimainkan oleh Kinanti.
Melihat Mommy dan Auntynya bernyanyi,Luna pun turun dari pangkuan Bagas kemudian mengajak kedua kakaknya berjoget.
Luna dan sikembar yang asik berjoget membuat Dio dan Ezra meninggalkan pembakaran dan bergabung dengan ketiga keponakannya.
"Dasar mereka main tinggal saja..bagaimana kalau gosong " Ayah dan Bunda melanjutkan pekerjaan Dio dan Ezra membakar ikan.
__ADS_1
Bagas yang tidak terbiasa berjoget akhirnya bergabung karena Felisha menariknya. Bagas bergabung hanya untuk memberi saweran
"Sayaaang aku juga mau disawer dong " pinta Felisha yang tidak kebagian saweran.
"Nanti disawernya dikamar " jawab Bagas dengan senyum nakalnya.
"Oke..tapi yang banyak ya " pinta Felisha manja
"Iya.." janji Bagas.
Setelah lelah berjoget Luna dan sikembar sibuk menghitung jumlah lembaran merah hasil saweran dari Daddy nya.
"Yeeeey..uangnya banyakan aku..kakak kalah " Luna berjingkrak-jingkrak kegirangan sambil memegang uangnya. Semua tertawa melihat Luna dan si kembar.
Selesai berjoget Dio dan Ezra pun kembali ke pembakaran.Mereka melanjutkan membakar ikan dan sosis.
"Oom..aku mau sosis " pinta Luna kepada Dio dan Ezra.
"Oke..ini untuk luna " Dio memberikan sosis yang baru selesai dibakar kepada Luna.
"Terimakasih om " ucap Luna manis.
"Manis banget tu anak..pantas Bagas lumer sama dia " gumam Ezra sambil tertawa.
Ezra memang orang yang tau sejarah pernikahan Bagas dan Felisha.Bahkan dulu ia turut andil memisahkan mereka dengan memindahkan Felisha ke Bandung.
Dio meninggalkan pembakaran untuk memberikan ikan kepada Kinanti. Sendirian di depan pembakaran Ezra pun menarik Ajeng untuk membantunya.
Kinanti yang sudah jarang mual dan muntah tampak lahap makan ikan dengan disuapi oleh Dio.
"Mau tambah ?" tanya Dio setelah Kinanti menghabiskan satu ekor ikan.
Dio pun beranjak untuk mengambil sosis di tempat pembakaran.
"Kinanti lagi hamil..harus makan yang banyak " ujar Ezra sambil mengisi piring yang Dio bawa dengan ikan dan sosis.
Dio membawa piring yang penuh dengan ikan dan sosis kemudian melanjutkan menyuapi Kinanti makan.
"Kamu juga makan dong " Kinanti gantian menyuapi Dio. Mereka pun makan saling menyuapi.
"Mom..kami kembali ke kamar ya..ngantuk " Nakula dan Sadewa pamit kembali ke kamar mereka.
"Iya Sayang..kalian istirahat sekarang " Felisha menyentuh kepala kedua putranya.
Luna pun tidak jauh dari kedua kakaknya, bahkan ia sudah terkapar diatas kursi berbantalkan paha Bagas.
"Biar Luna tidur sama kami " Ayah mengangkat tubuh Luna untuk dipindahkan ke kamar Ayah dan bunda.
Menjelang tengah malam pesta barbeque pun selesai.Semua kembali ke kamar masing-masing.
Sebelum kembali ke kamarnya,Felisha menyempatkan diri ke kamar Nakula dan Sadewa.
Disaat kedua putranya tidur,Felisha membantu memasukan barang-barang si kembar kedalam koper.Felisha hanya menyisakan baju yang akan dipakai kedua putranya besok.Setelah semua beres Felisha pun kembali ke kamarnya.
"Darimana kamu tiba-tiba menghilang ?" tanya Bagas yang sudah rebahan diatas kasur empuknya.
"Paking barang anak-anak " jawab Felisha
__ADS_1
"Kenapa tidak biarkan mereka paking sendiri ?" tanya Bagas.
"Takutnya barang mereka ada yang tertinggal, namanya juga anak-anak " jawab Felisha sambil naik keatas kasur dan berbaring disebelah Bagas.
"Kamu terlalu memanjakan mereka " gumam Bagas.
"Mas juga terlalu memanjakan Luna " balas Felisha.
"Iya.. sekarang giliran mommy nya yang Mas manjakan " Bagas menarik pinggang Felisha agar tubuh mereka menjadi rapat.
"Sayaaang katanya aku mau disawer " Felisha mengingatkan janji Bagas pada saat pesta barbeque.
"Luna saja harus goyang dulu baru mas sawer " Bagas tersenyum licik.
"Kok gitu sih ?" Felisha protes
"Kalau nyanyi tadi kan sudah.. sekarang tinggal goyangnya baru Mas sawer "
"Tapi goyangnya disini " Bagas menunjukan perutnya.
"Sawerannya banyak tidak ?" tanya Felisha
"Banyak...kamu mau berapa ?" tantang Bagas
"Aku mau satu saja " jawab Felisha sambil duduk diatas tubuh Bagas.
"Cuma satu ?" Bagas melongo tidak percaya
"Ya satu saja..aku cuma mau satu yaitu hati kamu..boleh ?" tanya Felisha.
"Tentu Sayang...hati mas cuma buat kamu " jawab Bagas sambil bersiap digoyang oleh istri nakalnya.
*
Sepulang dari berlibur di Bali,Bagas sudah mulai kembali disibukan dengan urusan kantor. Felisha pun kembali larut dengan tugasnya sebagai istri dan ibu dari empat orang anak.
Selepas subuh Bagas dan Felisha terlihat sudah betada di dapur.Jika biasanya jam segini Felisha sibuk meladeni serangan fajar dari suaminya,pagi ini Felisha menemani Bagas membuat pasta untuk anak-anak.
Semalam Luna dan sikembar kompak ingin pasta buatan Daddy nya sebagai bekal mereka ke sekolah.
"Kamu itu niat bantu ga sih Sayang ?" tanya Bagas karena Felisha bukan membantunya tapi malah memeluknya dari belakang.
"Ya niat lah " jawab Felisha tanpa melepaskan belitan tangannya dari perut Bagas.
"Kalau begini bukan bantu..tapi ganggu " sungut Bagas.
"Biarin " Felisha semakin menenggelamkan wajahnya di punggung Bagas.
Akhirnya Bagas membiarkan Felisha melakukan keinginannya meskipun ruang gerak Bagas menjadi sedikit terganggu.
Felisha baru melepaskan belitan tangannya dari perut Bagas setelah pasta buatan Bagas matang.
"Hmmm..wangi " puji Felisha sambil memasukkan pasta buatan Bagas kedalam tiga kotak makan milik Luna dan si kembar.
"Anak-anak pasti senang bawa bekal buatan Daddy nya " ujar Felisha bangga.
"Masih ada waktu tiga puluh menit lagi..giliran kamu siapin bekal buat Mas " Bagas menggusur Felisha ke kamar mereka.
__ADS_1
"Masss..aku mau siapin baju anak-anak " Felisha mengelak.
"Siapa suruh tadi gangguin mas waktu masak " Bagas menggusur Felisha ke kamar tanpa ampun.