Om Buah Hatiku

Om Buah Hatiku
Tidak bisa jauh


__ADS_3

Hari kedua di Lombok Bagas dibuat panik ketika malamnya ia melakukan panggilan video dan melihat Luna yang sedang menangis.


"Luna kenapa sayang ?" tanya Bagas sambil menatap layar ponselnya


"Kenapa Daddy belum pulang juga ?" tanya Luna dengan berurai air mata.


"Kerjaan Daddy belum selesai sayang " jawab Bagas dengan wajah sedih.


"Kapan selesainya ?"


"Mungkin tiga hari lagi " jawab Bagas


Mendengar jawaban Bagas,Luna menjauhkan ponselnya.Tidak ingin melihat kearah Bagas.Hanya terdengar suara tangisannya saja yang membuat Bagas menjadi sedih.Ternyata putri kecilnya itu tidak bisa terlalu lama jauh darinya.


"Lagi datang manjanya saja mas...nanti juga lupa " hibur Felisha


"Mas usahain kerjaannya cepat selesai,biar bisa cepat pulang " ujar Bagas sebelum mengakhiri sambungan video.Felisha mengangguk.


Dihari kedua ini,Bagas menuntut semua anak buahnya kerja cepat dan akurat.Ia ingin dalam dua hari semua beres agar ia cepat kembali ke Jakarta.


Beruntung Bagas memiliki orang-orang yang dapat diandalkan sehingga semua pekerjaan dapat berjalan sesuai dengan keinginannya.


Dihari ketiga Bagas memutuskan untuk pulang ke Jakarta,karena semua urusannya di Lombok sudah ia percayakan kepada para stafnya yang masih tinggal disana untuk beberapa hari kedepan.


Bagas sengaja tidak mengabari rencana kepulangannya yang lebih cepat kepada Felisha, karena ia ingin memberi kejutan kepada istri dan anak-anaknya.


Begitu turun dari taksi online yang membawanya dari bandara,Bagas disambut oleh suara tangisan putri kecilnya dari dalam rumah.


"Kakak tidak mau..huwwaaaa..huwaaa... " terdengar suara Luna yang melengking sambil menangis.


"Makan sedikit saja ya sayang..sudah itu minum obat " bujuk Felisha


Mendengar kata obat,Bagas pun mempercepat langkahnya masuk melalui pintu samping rumah mertuanya yang kebetulan terbuka.


"Siapa yang sakit ?" tanya Bagas khawatir ketika sudah didalam.


"Daddy..." Luna yang sedang dibujuk untuk makan oleh Felisha langsung berlari menghambur kearah Bagas dengan tangis yang semakin kencang.


"Kakak sakit ?" tanya Bagas ketika merasakan suhu tubuh Luna yang lebih tinggi dari biasanya.


"Pas bangun tidur badannya demam,tapi ga mau makan dan minum obat " Jawab Felisha


"Kenapa kakak tidak mau makan dan minum obat ?" tanya Bagas sambil menatap lembut pada putrinya yang sudah berada dalam dekapannya.


"Tidak enak " jawab Luna sambil terisak.


"Obat kakak kan rasa strawberry..Kalau kakak tidak mau makan dan minum obat, nanti Daddy pergi lagi " ancam Bagas


"Jangaaan..iya kakak mau makan dan minum obat " Luna melingkarkan tangannya dileher Bagas sambil terisak.Tidak ingin Daddy nya pergi lagi.


"Sekarang kakak makan " Bagas membawa Luna duduk.Felisha pun mendekat untuk menyuapi Luna.


"Aku mau disuapi Daddy saja " pinta Luna manja.


Bagas pun mengambil piring dari tangan Felisha dan mulai menyuapi Luna.


Selagi Bagas menyuapi Luna, Felisha beranjak ke dapur membuatkan minum untuk Bagas.


"Kenapa tidak bilang-bilang mau pulang hari ini ? " tanya Felisha sambil menyimpan gelas berisi minuman di atas meja.


"Biar surprise " jawab Bagas sambil menyuapi Luna.


"Dari pagi tidak mau makan..giliran nak Bagas pulang baru mau makan " ujar bunda yang dari pagi ikut kerepotan membujuk Luna agar mau makan.

__ADS_1


"Anak Daddy banget ini " goda Kinanti sambil mencubit pipi Luna.


Tidak lama kemudian makanan dalam piring ditangan Bagas pun sudah berpindah ke perut Luna.


"Sekarang kakak minum obatnya " bujuk Bagas setelah ada jeda waktu beberapa menit.


"Kakak mau minum obatnya sama Daddy saja " Luna menolak ketika Felisha hendak menyuapi Syrup obat penurun demam.


"Iya sini sama Daddy saja " Bagas mengambil alih obat ditangan Felisha.


Meski lelah namun Bagas dengan telaten mengurusi Luna yang apa-apa selalu ingin dengannya.


"Kakak sama enin dulu ya.. Daddy nya suruh istirahat dulu kan baru pulang " bujuk bunda


Melihat Daddy nya yang tampak lelah, Luna pun turun dari pangkuan Bagas.Ia mengangkat tangannya minta digendong bunda.Luna pun berpindah kedalam gendongan bunda.


"haduh ini cucu enin manja banget sih " gumam bunda sambil mencium pipi Luna yang lebih hangat dari biasanya.


Setelah bunda berhasil membujuk Luna untuk turun dari pangkuan Bagas ,Bagas pun membawa kopernya ke kamar diikuti Felisha dibelakangnya.


"Aku siapin air hangat buat kamu ya mas " ujar Felisha sambil beranjak ke kamar mandi.. Felisha memasukan esensial oil kedalam bathtub dan mamastikan hangatnya pas untuk Bagas berendam.


"Airnya sudah siap mas " Felisha memberi tau Bagas.


"Temani mas mandi yuk !" ajak Bagas sambil menuntun Felisha ke kamar mandi.


Bagas membuka seluruh pakaiannya dan langsung berendam didalam bathtub. Felisha menyandarkan kepala Bagas dibibir bathtub,ia pun membantu mengeramasi rambut Bagas dan menggosok tubuhnya.


"Hhmmm..enak Yang " gumam Bagas dengan mata terpejam ketika jari-jari lentik Felisha mulai memijit kepalanya.


Bagas merasa benar-benar beruntung menikahi Felisha,wanita itu meski kadang suka membantah namun ia sangat memanjakan Bagas, terbukti wanita yang sedang hamil besar itu dengan telaten memandikannya dengan penuh sayang.Hal yang tidak pernah Bagas dapatkan dari pernikahan sebelumnya.


Jika saja Luna tidak sedang rewel karena demam, ingin sekali Bagas mengajak Felisha mandi bersama disana.Namun ia harus menahan semua hasratnya karena hatinya tidak tenang karena putri kecilnya sedang demam.


Setelah puas berendam,Bagas keluar dengan menggunakan bathrobe nya.Ia pun menghampiri Felisha yang baru selesai menyiapkan baju untuknya.


"Dari tadi mas belum lihat Nakula dan Sadewa, mereka kemana ?" tanya Bagas sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Mereka minta ijin pulang lebih sore,katanya ada pelajaran tambahan " jawab Felisha.


"Jam berapa mereka pulang ? biar mas yang jemput " ujar Bagas sambil membuka bathrobe dan mulai memakai bajunya dihadapan Felisha.


"Tadi katanya pulang mau dijemput kak Dio sekalian pulang dari kantor " jawab Felisha sambil mengambil bathrobe dan handuk bekas Bagas kemudian membawanya ke kamar mandi.


"Mas tidak enak sering merepotkan kakak kamu " ujar Bagas setelah berpakaian lengkap.


"Tidak apa-apa mas,kak Dio aslinya memang penyayang anak-anak " jawab Felisha.


Dio memang terlihat sangat perhatian kepada anak-anaknya,meski Nakula dan Sadewa hanya putra sambung Felisha,namun keluarga Felisha tidak membeda-bedakan dalam menyayangi Luna dengan si kembar. Dan Bagas sangat beruntung bisa menjadi bagian dari keluarga Felisha meski awalnya ia terpaksa.


Setelah berpakaian lengkap,mereka keluar dari kamar untuk mencari Luna.Ternyata Luna ada dihalaman belakang sambil memberi makan ikan-ikan didalam kolam dengan ditemani oleh bunda.


"Daddy kakak sudah tidak demam lagi " Luna meraih tangan Bagas untuk menyentuh keningnya.


"Iya sayang..makanya jangan susah minum obatnya ya " nasehat Bagas.


"Iya dad " jawab Luna sambil menggelendot dilengan Bagas.


"Baru tidak ketemu kamu beberapa hari saja sudah rewel " ujar bunda sambil tersenyum kearah menantunya.


"Iya Bun..tapi ibunya malah biasa-biasa saja " ujar Bagas sambil melirik Felisha menggoda.


"Tidak mungkin dong aku nangis-nangis karena rindu sama suami " kilah Felisha sambil ikut memberi makan ikan.

__ADS_1


Sorenya Nakula dan Sadewa pulang bersama Dio.Mereka tampak senang begitu melihat Daddy nya sudah pulang.


"Daddy kapan pulang ?" tanya Nakula dan Sadewa


"Belum lama " jawab Bagas, diacak nya rambut kedua putra tampannya gemas.


"Mandi gih..minta makan sama mommy " ujar Bagas


"Iya dad..kita juga lapar "


Kedua anak yang beranjak ABG itu berlari menuju kamar mereka.


"Maaf selalu merepotkan " ujar Bagas kepada Dio yang baru turun dari mobil sambil menenteng tas punggungnya.


"Tidak apa-apa..mereka anak-anak yang baik dan penurut " jawab Dio


"Kerjaan disana lancar ?" tanya Dio


"Lancar..ada staf yang hendel disana.Sekarang tidak bisa lama-lama jauh dari anak istri..ada yang nangisin " jawab Bagas sambil tertawa.


"Dari kemarin Luna rewel..nanyain kamu terus " ujar Dio sambil menyesap kopi yang dibuatkan Kinanti untuknya, sementara Bagas sudah lebih dulu menikmati secangkir kopi buatan Felisha.


"Biasanya memang anak perempuan cenderung lebih dekat dengan ayahnya " jawab Bagas bangga.


"Nakula dan Sadewa juga lebih dekat dengan Felisha daripada ayahnya " tambahnya sambil menyesap kopinya.


Obrolan kedua pria itu berlanjut ke ruang makan ketika bunda memanggil mereka untuk makan bersama.


Di ruang makan semua dibuat tersenyum karena Luna terus mendominasi Bagas,gadis kecil itu tidak memberi celah sedikit pun kepada Felisha untuk dekat-dekat dengan Bagas.


Bahkan ketika malam menjelang,Luna nyaris tidak mau turun dari gendongan Bagas.Ia mengabaikan bujukan Dio dan Kinanti yang mengajaknya jajan di minimarket depan rumah.


Setelah Luna tidur,barulah Bagas mempunyai kesempatan untuk melepas rindu dengan si kembar dan Felisha.


Bagas masuk ke kamarnya setelah hampir satu jam ia berada di kamar si kembar.


"Anak-anak sudah tidur mas ?" tanya Felisha sambil memainkan ponselnya


"Belum..mereka baru selesai belajar " jawab Bagas kemudian duduk di sebelah Felisha dan merampas ponsel ditangan Felisha.


"Maaaasss..ih lagi tanggung " Felisha merajuk


"Kamu tidak kangen sama suami ?..malah asik main game " omel Bagas.


"Kangen dong Sayang " jawab Felisha.Ia menggeser duduknya dan pindah ke pangkuan Bagas.Namun tubuh mereka kini tidak bisa rapat karena perut besar Felisha yang mengganjal.


"Dari siang susaah banget deketin kamu..ada yang punya takut ngamuk " Felisha melirik Luna yang tengah tidur sambil memeluk bonekanya.


"Tidak usah cemburu sama anak sendiri " Bagas mencolek ujung hidung Felisha.


"Tidak cemburu malah aku seneng " jawab Felisha dengan tangan yang mulai membelit leher Bagas manja.


"Bagaimana Luna tidak manja..ibunya saja manja begini " bisik Bagas,bibirnya mulai menyusuri leher Felisha.Hisapan dan gigitan kecil disana membuat satu ******* lolos dari bibir Felisha.


"Masshh..geli tau "


"Ssttt...jangan berisik nanti Luna bangun " bisik Bagas.


"kita di sofa Yuk !" ajak Bagas


Felisha mengangguk.Mereka tidak ingin Luna sampai terbangun karena gempa lokal yang mereka ciptakan.


"Daddy mau kemana ?" Luna merengek ketika menyadari Daddy nya turun dari ranjang.

__ADS_1


"Daddy ada sayang..kakak bobo lagi ya " Bagas pun menunda sejenak niat untuk mengeksekusi istrinya di sofa.Menunggu sampai Luna kembali tidur.


__ADS_2